
“Bagaimana? Kau mendapatkanya?” tanya Rayden langsung, begitu dia sudah berada didepan Levi.
“Tidak ada petunjuk apapun di markas musuh, Tuan! Sepertinya serangan kita telah terbaca oleh musuh, didalam markas mereka hanya ada beberapa orang saja dan semua berkas sepertinya telah dihancurkan oleh mereka.” ujar Levi yang melaporkan semua yang terjadi dalam penyerangan yang dia pimpin itu.
“Sial! Sebenarnya siapa dia? Kenapa susah sekali mendapatkan informasi tentangnya?”
Rayden merasa frustasi, karena sekarang musuhnya benar-benar bergerak bahkan menargetkan istri dan anak kembarnya.
Sedangkan Rayden tidak tahu siapa musuh yang harus dihadapi, bahkan dia pernah mencoba meretas data musuh tapi tidak menghasilkan informasi apapun.
“Tuan! Kami memang tidak menemukan data apapun disana! Tapi kami menemukan flashdisk ini pada tubuh salah satu mayat anggota klan musuh. Saya sudah berusaha membukanya, tetapi terdapat kata sandi untuk bisa membukanya.”
Levi pun segera memberitahu mengenai flashdisk yang dia temukan itu, siapa tahu ada petunjuk didalamnya. Levi pun segera menyerahkan flashdisk itu pada Tuannya.
“Kerja bagus, Levi! Aku akan memeriksa malam ini!”
Puji Rayden yang akhirnya memiliki sebuah harapan untuk mendapatkan petunjuk mengenai siapa musuh yang sebenarnya harus dia hadapi.
“Kalau begitu, saya pamit undur diri, Tuan!” pamit Levi yang sudah tidak alasan lagi untuk tetap berada di manshion milik Tuannya itu.
“Tunggu dulu! Tugasmu sudah selesai, bukan?” tanya Rayden yang menghentikan niatan Levi untuk pergi dari sana.
“Iya, Tuan! Semua telah saya selesaikan dengan sempurna.” sahut Levi dengan penuh rasa bangga.
“Bagus, kalau begitu pergilah ketempat Will! Bantu dia!” ujar Rayden yang ternyata memberi Levi pekerjaan lain.
“Baik, Tuan!” sahut Levi yang tidak bisa menolak perintah itu.
“Kau boleh pergi sekarang!” Setelah tidak di butuhkan lagi, Rayden pun langsung mengusir Levi dengan santainya.
“Baik, Tuan!” sahut Levi yang segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan manshion Tuannya.
Rayden pun kembali masuk kedalam kamar pribadinya untuk memastikan Zhia dan kedua anaknya sudah tidur apa belum, sebelum dia pergi keruang kerjanya.
Ternyata Zhia juga sudah tertidur dengan lelapnya bersama si kembar.
Rayden pun berjalan mendekati Zhia, mencium kening dan bibir mungil Zhia sembari berkata “Maaf! Karena aku belum bisa menjagamu dengan baik, Zhi! Tapi aku janji, tidak akan ada kata kedua kalinya kau maupun si kembar terluka.”
Setelah itu, Rayden beralih mencium Luca dan Lucia. Rayden pun keluar dari kamarnya dan berjalan menuju keruang kerjanya sambil membawa dua buah flashdisk yang diberikan oleh Will dan Levi untuk memeriksanya.
Ternyata Zhia belum bisa tidur sama sekali, dia hanya pura-pura saat mendengar suara pintu terbuka yang dia Yakini bahwa itu Rayden yang datang.
Lagi-lagi Zhia terpesona dengan perkataan Rayden dan perlakuan manisnya.
Bagaimana Zhia bisa tidur dengan nyenyak, setelah mengalami yang namanya hampir mati hari ini. Kepalanya dipenuhi pertanyaan kenapa orang-orang itu menginginkan nyawanya.
Zhia bahkan tidak percaya bahwa Liam, pria yang pernah dia cinta berniat untuk membunuhnya.
Padahal Zhia tidak pernah melakukan apapun yang menyakitinya bahkan sebaliknya, Liam ‘lah yang telah menyakitinya.
Menghancurkan perasaan serta harga dirinya tanpa tersisa sedikitpun, hingga membuatnya tidak percaya akan adanya cinta lagi.
“Kenapa Liam ingin membunuhku? Seharusnya aku yang mempunyai keinginan seperti itu padanya. Karena dia, aku kehilangan akal sehatku dan menganggap Ray sebagai gigolo tapi kenapa Liam yang bersikap seolah dia korbannya disini?”
__ADS_1
“Bagaimana ini? Dia telah menargetkan nyawaku, apakah dia juga menargetkan kedua anak kembarku? Tapi apa alasanya dia melakukan ini? Aku tidak pernah mengganggu hidupnya lagi, setelah dia menghancurkan perasaanku?”
“Ray, bisakah aku mempercayaimu? Bolehkah aku bergantung padamu, setidaknya demi keselamatan anak kembar kita. Apa yang harus aku lakukan, Tuhan?”
“Aku hanya memiliki si kembar sekarang! Aku tidak ingin mereka dalam bahaya. Aku harus memberitahu soal Liam pada Ray! Mulai sekarang aku akan menggantungkan hidupku dan juga anak-anakku padanya.”
Pikiran Zhia benar-benar sangat kalut, dia tidak bisa membayangkan kalau anak kembarnya yang terluka.
Zhia pun menangis, menyesali kenapa dulu dia bisa jatuh cinta pada pria psikopat seperti Liam.
Tak lama kemudian akhirnya Zhia tertidur dengan sendirinya, mungkin karena efek obat yang diberikan perawat padanya tadi.
...----------------...
Dirumah Will, suara pintu rumahnya terbuka membuat Will yang tadi sedang sangat serius menatap layar komputernya harus teralihkan.
Will segera mengambil senjata apinya untuk berjaga-jaga jika rumahnya sedang kedatangan musuh.
“Siapa kau?” seru Will sembari menyodorkan senjata apinya tepat dikepala orang yang baru saja memasuki rumahnya itu.
Ruangan yang gelap membuat Will tidak bisa melihat wajah orang itu dengan jelas, sehingga kewaspadaannya bertambah tiga kali lipatnya.
“Ini aku, Levi! Singkirkan senjatamu ini, nanti kepala geniusku bisa meledak.” sahut Levi dengan santainya sembari menepis senjata yang ditodongkan Will padanya.
“Ternyata kau rupanya! Ada apa larut malam kemari? Kau sudah menyelesaikan tugasmu?”
Will pun kembali meletakkan senjatanya begitu mengetahui bahwa orang itu adalah Levi. Kemudian, dia mencecar Levi dengan beberapa pertanyaan.
“Kau pikir siapa yang datang? Kekasihmu?” sahut Levi yang bukannya menjawab malah balik bertanya, dia pun duduk dengan santainya disofa milik Will.
Hidupnya yang terlalu super sibuk membuat Will sampai lupa untuk mencari belahan jiwanya sendiri.
“Untung aku tidak berada diposisimu, sehingga bisa menikmati yang namanya surga dunia diclub malam. Hahahaa,….” sahut Levi yang tertawa diatas penderitaan seorang Will.
Meskipun usianya masih sangat muda, tapi Levi memang sangat sering bermain di club malam dengan beberapa wanita sekaligus.
Bisa dikatakan kalau Levi seorang playboy kelas kakap yang ahli menaklukkan hati wanita.
“Bagimana dengan tugasmu? Selesai?” tanya Will lagi yang kembali ke topik, dia tidak memperdulikan sindiran Levi itu.
“Bisa dikatakan sukses, tapi sepertinya dari awal pihak musuh sudah mengetahui bahwa kita akan menyerang markas mereka. Tidak ada satu pun data yang aku temukan di markas mereka dan hanya ada beberapa orang saja yang menjaga markas itu. Jadi pembasmiannya kurang seru!”
Jelas Levi yang tampak sedikit kecewa karena musuhny tidak terlalu menantang dan bisa ditaklukkan dengan mudah.
“Sepertinya memang begitu bahkan Nona Grace juga mendapat dukungan dari klan Tiger Dark!” sahut Will sepertinya tidak merasa terkejut sama sekali dengan informasi yang dikatakan Levi.
“Maksudmu?”
Levi pun menjadi sangat penasaran sebenarnya apa saja yang sudah Will temukan selama dirinya berperang.
“Rekaman cctv di tempat kejadian penyerangan terhadap Nyonya Zhia menangkap gambar Nona Grace yang juga berada disana, dia melihat penyerangan itu dari kejauhan! Karena itulah sekarang aku harus begadang lagi!”
Will pun menjelaskan secara singkat derita yang harus dialaminya mala mini.
__ADS_1
“Pantas saja, aku juga harus ikut begadang menemanimu!” gumam Levi yang akhirnya mengerti alasan dia disuruh membantu Will.
“Jadi, Tuan yang menyuruhmu datang kemari untuk membantuku! Bagus sekali, aku memang sedang sangat membutuhkan bantuanmu!”
Wajah Will langsung terlihat cerah karena ada orang yang akan menemaninya begadang dan menyelesaikan tugasnya.
“Katakan apa yang bisa aku lakukan?” ujar Levi yang sebenarnya sangat malas untuk melakukannya.
“Kau pergilah kekediaman keluarga Adenthe. Curi semua dokumen penting ataupun transaksi yang bisa menghancurkan keluarga itu dalam satu malam. Sisanya aku sendiri yang akan mengurusnya.” ujar Will yang memberitahu tugas yang harus Levi kerjakan.
“Baiklah, tapi bagaimana kalau aku ketahuan dan mereka melawan?” tanya Levi yang memberitahu kemungkinan yang akan terjadi.
“Bunuh saja! Tuan pasti tidak akan mempersalahkannya. Bukankah itu juga hobimu?” sahut Will dengan santainya.
“Baiklah, aku pergi sekarang! Siapa tahu aku bisa menemui kesenangan saat dijalan, Dahh,……”
Levi pun kembali pergi untuk mencari data yang dibutuhkan oleh Will.
Sementara Will kembali focus kelayar komputernya, dia sedang mencari keberadaan Grace melalui sinyal ponsel yang wanita itu gunakan. Namun sayangnya, sepertinya Grace telah membuang ponsel lamanya.
Karena tidak bisa melacak keberadaan Grace untuk sekarang, Will pun beralih memeriksa data pengawal yang diminta oleh Tuannya untuk melindungi Zhia sembari menunggu data dari Levi. Tidak lupa, Will juga harus mengatur jadwal ulang pekerjaan Tuannya dikantor.
...----------------...
Disisi lain, Rayden sedang memeriksa satu persatu rekaman cctv yang diberikan oleh Will.
Sementara Flashdisk yang berikan Levi, dia simpan dulu karena akan membutuhkan waktu yang cukup lama untuk membuka kata sandinya.
Jadi untuk menghemat waktu, Rayden memutuskan untuk melihat rekaman cctv itu dulu.
“Pah!”
Baru saja mau membuka rekaman cctv yang pertama, Rayden dikejutkan suara seseorang yang tiba-tiba masuk kedalam ruang kerjanya tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
Bahkan jantung Rayden hampir berhenti mendetak karena suara itu.
Bersambung............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
__ADS_1
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚