
“Ini adalah hasil pemeriksaan gelombang otak milik Zhia!” ujar Dr. Ian yang meletakkannya tepat didepan Noland dan Rayden.
“Ini milik Lucia!” Dr. Ian kembali meletakkan hasilnya disampingnya.
“Dan ini milik Luca!”
Dan kemudian meletakan milik Luca dibagian paling atas diantara keduanya. Noland dan Rayden pun menatap setiap lembar itu dengan penuh tanya.
Bukan bidang mereka bisa membaca, hasil pemeriksaan dari Lab yang hanya dapat dimengerti oleh para dokter ahli.
“Apa maksudnya dengan hasil pemeriksaan ini?” ujar Rayden yang tidak sabar ingin segera mengetahuinya.
“Trauma! Ada kemungkinan mereka bertiga akan mengalami trauma psikologis yang artinya membuat hidup mereka tidak bisa normal seperti dulu lagi!”
Pernyataan dari Dr. Ian serasa terkena sambaran petir disiang hari. Baik Noland maupun Rayden hanya bisa membulatkan mata dan diam seribu Bahasa tanpa bisa berucap sedikitpun.
“Dari hasil pemeriksaan ini ada kemungkinan mereka mengalami Trauma psikologis yang cukup berat. Untuk Zhia dan Lucia mungkin bisa cepat untuk disembuhkan melihat statistic gelombang otaknya yang tidak terlalu tinggi, tapi berbeda dengan Luca! Sepertinya akan cukup sulit untuk dia bisa mengatasinya.”
Dr. Ian dengan raut wajah sendunya harus mengatakan kemungkinan buruk yang akan dialami oleh ketiga pasiennya itu.
Detik berikutnya dia kembali melontarkan tatapan tajamnya pada Noland dan juga Raden yang tepat duduk dihadapannya.
“Sebenarnya apa yang kalian lakukan’sih, Hah?”
Dr. Ian tiba-tiba saja membentak Noland dan Rayden sebagai luapan emosinya, dia bahkan tanpa sadar menggebrak cukup keras meja kesayangan milik sang Direktur utama.
Untung saja, tidak sampai terbelah menjadi dua bagian dan alhasil dia mendapat tatapan tajam dari Direktur utamanya itu.
“Sial, aku selalu saja terbawa emosi kalau berhubunggan dengan anak kecil seperti ini.”
Dr. Ian kembali bergumam atau lebih tepatnya disebut dengan mengumpat.
Meskipun Dr. Ian membentak Noland dan Rayden dengan sangat keras, tapi mereka berdua tidak marah sedikitpun dan malah menundukkan kepala mereka seakan sedang menahan tangisnya.
“Aku tidak peduli apa yang kalian berdua lakukan atau kerjakan! Tapi mereka masih anak kecil, Cano! Dan Zhia hanya ‘lah wanita biasa dengan hati yang baik dan sangat hangat. Bagaimana biasa kau melibatkan mereka dalam situasi yang bisa menyebabkan mereka menjadi seperti ini, Hah!”
Belum puas membentakkanya dengan begitu keras, Dr. Ian masih saja mengomeli Noland dan Rayden sekan tiada habisnya layaknya anak kecil yang melakukan kesalahan saja.
Sang Direktur utama rumah sakitpun sampai kagum melihat keberanian Dr. Ian yang membentak serta terus mengomeli Rayden dan Noland seperti itu.
Bahkan dia yang posisinya cukup tinggi dirumah sakit tidak berani sedikitpun menyinggung salah satu keluarga Xavier, Kini Dr. Ian malah memarahi kedua Tuan Xavier yang paling berpengaruh.
Tetapi Dr. Ian hanya semakin menekankan kata-katanya itu kepada Rayden dibandingkan dengan Noland.
__ADS_1
Karena pada dasaranya, Zhia dan si kembar memang berada dibawah perlindungan Rayden sebagai seorang suami dari Zhia dan ayah kandung si kembar.
“Apa tidak ada yang bisa kau lakukan untuk menghindari hal itu menimpa pada mereka?” ujar Rayden dengan kepala terus menunduk dan nada bicaranya yang terdengar sangat putus asa.
“Haaah,….Cano, kau sungguh membuatku gila! Ini tidak seperti kasus yang sebelum yang hanya menyebabkan shock sesaat dan juga demam tinggi saja! Akan tetapi, ini bisa berefek berkepanjangan. Bukan hanya bisa sembuh dengan pengobatan satu dua hari saja tapi bisa sampai bertahun-tahun atau berita buruknya bisa sampai seumur hidupnya.”
Bukan hanya Rayden dan Noland saja yang terpuruk disini, Dr. Ian pun merasakan hal yang sama.
Dia tidak bisa hanya melihat si kembar yang menggemaskan, sealau ceria dengan ide genius mereka berubah menjadi anak pendiam dan ketakutan pada sesuatu.
“Luka psikis lebih sulit disembuhkan dibandingkan dengan luka fisik! Penyakit ini menyangkut hati dan pikiran seseorang, tidak akan selesai dengan melakukan operasi ataupun obat-obatan! Apa kau mengerti, Hah?” seru Dr. Ian dengan penuh penekanan.
Setetes cairan bening pun meluncur jatuh melalui pipi Rayden, dia benar-benar tidak menyangka akan terjadi hal buruk yang menimpa pada putranya.
Noland yang berada disamping Rayden hanya bisa mengatakan untuk tetap kuat dan semangat, karena dia juga akan selalu membantu Rayden.
“Sudahlah, akan aku pikirkan dan diskusikan pada dokter yang lain mengenai kondisi Luca! Kau tenang saja, aku akan lakukan yang terbaik untuk menyembuhkan mereka!” ujar Dr. Ian lagi yang kemudian langsung beranjak dari ruangan itu dengan sedikit kesal.
Noland dan Rayden pun memilih untuk lebih lama lagi berada disana, sampai Rayden merasa cukup tenang untuk kembali dan menemui istri serta anak kembarnya.
Noland dan Direktur utama rumah sakit itu pun mencoba menghiburnya dengan mengatakan sesuatu yang baik akan segera datang dan menghilangkan segala keseduihan yang sedang mereka alami sekarang. Ibarat badai pasti akan berlalu.
...****************...
Situasi sangat berbeda dikediaman Sam Joseph, dimana Will dan Levi sedang menyelesaikan sisanya disana bersama dengan pihak yang berwajib.
“Kau sudah mengurus semuanya?” ujar Levi pada Will yang hanya ingin memastikan tidak akan ada celah yang akan membuat mereka kesulitan dimasa mendatang.
“Tentu saja! Siapa dulu ‘dong yang langsung turun tangan, William Coopers gitu. Hahahaa,….”
Will pun dengan cepat membanggakan dirinya sendiri dihadapan Levi.
“Baguslah!”sahut Levi yang tampak tidak bersemangat.
“Hay, kau kenapa? Apa terjadi hal buruk pada Nyonya muda, Tuan dan Nona kecil ‘yah?”
Will pun mencoba menebaknya dengan cara memperhatikan wajah lesu Levi dangn seksama, tapi sepertinya tebakkannya tidak benar.
“Aku tidak tahu! Aku kembali kesini setelah mereka sedang ditangani oleh para dokter!” sahut Levi dengan malasnya.
“Kalau bukan itu, lalu apa? Apa ada kaitannya dengan Nona kecil?”
Will pun semakin penasaran dengan alasan si bocah psikopat it uterus terlihat murung, dia pun mencoba untuk menebaknya lagi siapa tahu kali ini benar.
__ADS_1
“Tidak juga! Aku hanya sedang menyayangkan sesuatu saja!” ujar Levi yang membuat Will semakin merasa sangat penasaran dengannya.
“Menyayanggkan sesuatu? Apa itu?” seru Will yang sedang bersiap mendengarkan dengan seksama.
“Ehmmm,….Menyayangkan kematian Evan dan juga Jayden yang terlalu mudah. Kenapa juga mereka harus mati semudah itu, benarkan?” ujar Levi yang ternyata sangat serius memikirkan mengenai kematian Evan dan Jayden.
“Iya, kau benar! Apalagi kalau aku teingat dengan mendiang Nona Rayna. Seharusnya mereka itu disiksa terlebih dahulu, disiram dengan minyyak mendidik, lalu kemudian satu kaki kanannya dipotong untuk diberikan kepada anjing, kaki kirinya sebagai pakan hyena. Jangan lupa tangannya untuk dijadikan pakan ikan piranha, tubuhnya dikasih keharimau dan kepalanya buat main sepak bola para babi. Hahahaa,…Membayangkan saja sudah membuatku merasa sangat bahagia.”
Will pun sependapat dengan Levi, dia bahkan menceritakan apa yang dia bayangkan cara untuk menghabisi Evan dan Jayden dengan sangat antuasias. Bahkan hanya membayangkannya saja Will sudah merasa sangat puas.
“Bwuahahaaa,….Memangnya babi hobi main bola ‘yah? Ada-ada saja kau ini, Will! Will!”
Levi pun tidak dapat menahan tawanya mendengar perkataan konyol diakhir kalimat Will.
“Iya ada, babi jadi-jadian! Bwuahahaaa,….” sahut Will yang tertawa terbahak-bahak.
“Kalau aku akan memukuli wajah tidak tahu malunya itu terlebih dahulu sampai habis-habisan hingga tak berbentuk lagi. Baru setelah itu aku akan kuliti tubuhnya, menyiramnya dengan saos pasta dan mencincangnya sampai tak tersisa tulangnya. Setelah itu baru dijadikan pakan buaya. Bwuahahahaa,…..”
Levi pun ikut menceritakan khayalannya cara memusnahkan Evan dan Jayden, dia juga merasa puas walau hanya sebatas khayalanya saja.
“Bwuahahahaa,….Mana ada buaya yang suka saos pasta! Ouhya,….Kamu ‘kan juga buaya yang suka pasta ‘yah, Lev! Aku hampir saja melupakan keberadaan spesies buaya darat sepertimu. Hahahaa,….” Sahut Will yang masih saja mencari kesempatan untuk terus menggoda Levi.
“Sialan kau!” umpat Levi dengan wajah kesalnya.
“Sayang sekali! Dua cecunguk itu mati dengan sangat mudah!” ujar Will dan Levi tanpa sadar mengucapkannya secara bersamaan.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
__ADS_1
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚