
Setelah menempuh waktu yang cukup lama, akhirnya pesawat yang dinaiki Rayden beserta anak dan istrinya mendarat juga dipulau tujuan dengan selamat dan aman.
Begitu pintu pesawat terbuka, mereka sudah disambut oleh beberapa orang yang sudah dipersiapkan Will dan Levi sebelumnya.
Sebuah mobil Van mewah pun tersedia untuk mengantarkan mereka sampai di Villa yang akan mereka tempati.
Sementara Dr. Ian mendapat tempat tersendiri dengan rumah sakit dadakan dan tempat tinggal sementara waktu yang letaknya tidak jauh dari Villa utama yang ditinggali Rayden.
Sepanjang penjalanan Lucia tiada hentinya mengatakan bahwa pemandangan itu sangat indah dan sepertinya dia sudah tidak sabar ingin bermain pasiir dipantai.
Sementara Luca hanya diam saja, tapi dilihat dari raut wajahnya sepertinya dia juga sangat menyukai tempat itu.
“Woahh,…. Papah! Mamah! Kak Luca, lihatlah itu lautnya sangat biru. Lihatlah, bahkan ada banyak sekali pohon kelapa.”
Lucia terus berceloteh kagum dengan pemandangan yang ada dihadapannya. Dia terus saja menatap keluar jendela mobil yang kacanya dibuka sepenuhnya.
Sehingga rambut panjangnya yang terurai terlihat sedang melambai-lambai karena terpaan angin kencang.
Sementara Luca seperti juga tertarik ingin melihatnya, tetapi dia sebisa mungkin menahan kaingin tahuannya dengan apa yang dilihat oleh sang adik kembarnya itu.
Apalagi Lucia terlihat sangat berantusias saat menceritakan apa saja yang dilihatnya.
“Luci, jangan keluarkan tanganmu atau kepalamu ke luar jendela mobil ‘yah! Itu sangat berbahaya, sayang!” Zhia pun terus mengingatkan pada Lucia.
“Okay, Mom!” sahut Lucia yang tampak tidak begitu memperdulikan peringatan dar sang mamah.
“Papah, Luci ingin makan buah kelapa nanti papah petikkan untuk Luci ‘yah?” seru Lucia lagi dengan mata polosnya yang langsung berbinar jika menginginkan sesuatu.
“Hah? Kau ingin papah yang memetiknya sendiri?” seru Rayden yang tampak terkejut dengan permintaan dari putrinya itu.
“Ehmm,…. Papah harus memetiknya sendiri,” sahut Lucia dengan penuh kenyakinan.
“Astaga, ada-ada saja keinginan putrimu ini, Zhi! Saat itu kau mengidam apa ‘sih?” gumam Rayden yang merasa frustasi, karena sebenarnya dia kesulitan untuk memanjat pohon kelapa.
Lebih baik dia melompat dari Gedung ke Gedung lain lain atau memanjat tebing, daripada memanjat pohon kelapa.
“Kak Luca, lihatlah ada lumba-lumba meloncat dari dalam laut! Waahhh,… banyak sekali!”
Lucia berseru dengan penuh semangat, sehingga membuat Luca tidakdapat menahan lagi rasa kaingin tahuannya.
Luca pun segera melihat kearah luar jendela yang ditunjuk oleh Lucia barusan.
“Mana?” tanya Luca dengan singkat sembari memandingi sekelilingnya.
“Lihatlah disana, kak! Banyak sekali, bukan?” ujar Lucia yang terus tersenyum dengan manisnya.
“Iya, mereka sangat lucu!” kata Luca tanpa sadar dia perlahan mulai tersenyum, matanya terus terpaku melihat pemandangan yang menurutnya sangat menakjubkan itu.
“Ray?”
“Iya, Zhi! Luca pasti bisa mengatasinya, karena dia putra kita! Kita harus percaya padanya!” ujar Ryden yang meraih tubuh Zhia kedalam pelukkannya
Zhia menangis karena begitu terharu melihat perkembangan putranya yang begitu cepat.
__ADS_1
Dia tidak menyangka bahwa keputusan mereka membawa Luca ketempat dengan suasana yang baru seperti ini merupakan keputusan yang terbaik yang mereka buat selama ini.
Sepanjang perjalanan Luca dan Lucia terus berceloteh mengenai setiap yang dilihatnya sepanjang perjalan menuju ke Villa.
Sesampainya di Villa, mereka juga disambut oleh para pelayan yang akan melayani mereka selama berada ditempat itu.
“Selamat datang dipulau kami, Tuan! Nyonya serta Tuan dan Nona kecil!” sapa seorang wanita paruh baya yang akan menjadi pelayan utama di Villa yang ditempati oleh Rayden beserta keluarganya.
“Terima kasih! Apakah kau yang menjadi pelayan utama disini?” tanya Rayden untuk memastikan.
“Benar, Tuan! Perkenalkan nama saya Martha.”
Wanita paruh baya bernama Martha itu pun memperkenalkan dirinya dengan sangat sopan dan juga penuh etika yang sangat baik.
“Mohon bantuannya selama kami tinggal disini ‘yah, Bi! Bolehkah saya memanggil anda Bibi saja?”
Zhia pun juga bersikap sangat ramah, bahkan cara bicara Zhia membuat Martha merasa sangat tidak nyaman karena sangat formal untuk ukuran sebagai pelayan seperti dirinya.
“Silahkan anda panggil saya senyamannya anda saja, Nyonya! Sudah menjadi tugas saya melayani anda semuanya selama berada disini, semoga anda nyaman selama dengan pelayanan kami yang masih banyak kekurangan ini,” ujar Bi Martha dengan penuh kelembutan disetiap kata yang diucapkannya.
“Papah, Luci ingin berkeliling! Ayo, kita jalan-jalan dulu sebentar ‘yah?”
Lucia pun mulai merengek pada papahnya, sebab dia sudah tidak sabar untuk berjalan ditepian pantai yyang indah itu.
“Sekarang?” tanya Rayden yang sebenarnya merasa lelah karena perjalanan panjang mereka.
“Iya, sekarang!” sahut Lucia dengan sedikit memaksa.
“Silahkan anda sekalian menikmati pemandangannya, kami akan membawa barang-barang anda ke kamar yang sudah disiapkan! Selagi anda menikmati pemandangan kami juga akan menyiapkan makan siangnya,” ucap Bi Martha lagi.
“Ya sudah, tolong atur semuanya selama kami disini!” ujar Rayden yang pada akhirnya mempercayakan barang-barangnya pada Bi Martha.
“Baik, Tuan!” sahut Bi Martha sembari membunggkukkan badannya memberi hormat.
“Ayo, kita jalan-jalan sekarang! Yeaayy,…”
Lucia berseru penuh kemenangan, sementara Luca hanya berdiam diri ditempatnya. Hal tersebut membuat Rayden dan Zhia menjadi berkecil hati lagi, karena pada akhirnya Luca kembali ke semula diam dan hanya diam.
“Sayang, kamu kenapa? Luca tidak mau pergi jalan-jalan seperti Luci?” tanya Zhia sembari membelai lembut wajah putranya itu, tapi sayangnya Luca hanya menggelengkan kepalanya saja sebagai jawaban.
“Lalu, kenapa sayang?” tanya Zhia lagi.
“Luca ingin digendong papah.”
Luca pun menjawabnya meskipun dengan suaranya yang terdengar sangat lirih.
“Ya ampun, anak mamah ini!” Zhia pun menjadi gemas sendiri dengan tingkah putra itu.
“Papahnya Luca dan Luci! Kemari sebentar!”
Zhia pun memanggil Rayden dengan sedikit berteriak, karena Rayden dan Lucia memang sudah berjalan cukup jauh didepan sana.
Mendengar panggilan dari Zhia, Rayden pun tersenyum dan segera berbalik dan langsung menghampirinya bersama dengan Lucia yang setia digandengnya.
__ADS_1
“Ada apa, sayang? Kenapa kau memanggilku seperti itu ‘sih?” tanya Rayden yang merasa malu sendiri karena Zhia tiba-tiba saja menggodanya dengan memanggilnya seperti itu.
“Putramu yang tampan ini ingin sekali berada digendonganmu! Cepat gendong!”
Zhia pun menjawabnya dengan sedikit memerintah, tapi disertai senyuman manisnya.
“Hay, Boy! Ayo, cepat naik kepundak papah.”
Rayden pun langsung mengerti arti perkataan Zhia, dia segera berjongkok didepan Luca dan menyuruhnya untuk naik kepundaknya. Tanpa menunggu lama lagi, Luca pun segera naik dibantu oleh mamahnya.
“Sudah? Ayo, kita mulai jalan-jalannya.”
Keluarga kecil Rayden pun mulai menikmati pemandangan pesisir pantai yang indah dibawah teriknya sinar matahari.
Terlihat dari kejauhan bahwa mereka sangat bahagia, bahkan tanpa bantuan Dr. Ian, Luca akan sembuh dengan sendiri.
Karena yang dibutuhkan pasien seperti Luca hanyalah sebuah perhatian dan kasih sayang yang tulus dari orang-orang didekatnya.
“Sepertinya kedatanganku kesini hanya sia-sia saja! Atau anggap saja ini liburan untukku. Hahahaa,…” gumam Dr. Ian yang melihat dari, setelah itu malah tertawa sendiri.
Pemandangan indah pun juga terlihat didalam ruangan Ceo, dimana Will dan Noland baru saja masuk kedalamnya setelah mengantar kepergian Rayden dan Zhia.
Sungguh indah pemandangan yang disajikan untuk Noland dan juga Will, beberapa tumpuk pekerjaan yang sudah seperti gunung Himalaya sudah menanti untuk mereka selesaikan.
“Wow,…”
Kata itu yang keluar pertama kali dari mulut Noland dan Will secara bersamaan begitu melihat pemandangan indah beberapa gunung Himalaya itu.
Bahkan Will sampai mengucek-ucek matanya beberapa kali untuk memastikan bahwa beberapa dari tumpukkan kertas itu merupakan bayangan yang disebelahnya.
“Will, bagaimana menurutmu? Berapa hari kita harus lembur untuk menyelesaikan pekerjaan ini?” tanya Noland yang sudah merasa pusing terlebih dahulu hanya karena membayangkannya saja.
“No Coment, Sir!” sahut Will yang tak mampu berkata-kata lagi.
“Bagaimana menurutmu, Will! Sebelah mana dulu yang harus kita bereskan?” tanya Noland lagi yang semakin pusing saja memikirkannya.
“Tuan, anda harus menaikkan gaji saya bulan ini dan lima bulan kedepannya! Saya tidak mau tahu, kalau tidak saya tidak akan pernah menjawab pertanyaan dari anda ini!”
Will hanya ingin mendapat kenaikan gaji melihat semua pemandangan indah yang membuatnya merasa sakit kepala begitu melihatnya.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
__ADS_1
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Terima kasih All!😙😘😚