Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Hasil Pemeriksaan!


__ADS_3

Malam harinya, ketika si kembar sudah tertidur Rayden dan Zhia menghubungi Noland dan Julia mengenai rencana mereka untuk memberikan kejutan ulang tahun pada Luca dan Lucia.


Dari Noland dan Julia ‘lah Zhia percaya bahwa ulang tahun Rayden sama dengan si kembar.


“Hallo, Mah!” sapa Zhia begitu sambungan video callnya tersambung satu sama lain.


“Hay, Zhi! Bagaimana kabar kalian disana? Mamah dan papah sudah kangen banget ‘nih ingin secepatnya bertemu kalian terutama cucu kembar kesayangan mamah itu. Dimana mereka, Zhi?”


Julia terlihat sangat bersemangat mendapat panggilan video dari orang yang sangat dia rindukan itu.


“Mereka baru saja tertidur, Mah! Mamah mau melihatnya?”


Zhia pun langsung beralih kamera belakang dan memperlihatkan dua malaikat kecilnya yang tengah tertidur dengan lelapnya.


Bahkan didalam tidurnya Luca dan Lucia masih saja tersenyum bahagia, sepertinya mereka tengah memimpikan sesuatu yang indah.


“Ya ampun, lelap sekali mereka tidurnya! Mereka pasti sedang bermimpi indah, lihatlah senyuman bahagianya itu,” ujar Julia yang juga ikutan tersenyum begitu melihatnya.


Setelah selesai menunjukan si kembar, Zhia mengalihkan kameranya lagi menjadi kamera depan agar memudahkan mereka untuk berbicara satu sama lain.


“Bagaimana kondisi Luca menurut Dr. Ian, Zhi? Traumanya sudah bisa diatasi, bukan?” tanya Noland yang masih saja merasa khawatir.


“Kami akan memeriksanya lagi besok, tapi menurut Dr. Ian katanya Luca sudah bisa mengatasi kenangan buruknya.” Zhia mencoba menjelaskan secara singkat dan jelas.


“Menurut Cano juga begitu, Pah! Apalagi kalau sedang memerintahku,” sahut Rayden.


“Baguslah kalau begitu. Jadi kalian akan kembali setelah hasil pemeriksaan besok keluar, bukan? Papah sudah sangat merindukan Luca dan Lucia, papah sudah tidak sabar ingin berduel lagi. Hahahaa,…” ujar Noland diiringi dengan tawanya.


“Kalau papah mengajari anak-anakku yang tidak-tidak lebih baik kami menetap disini saja selamanya,” sahut Rayden yang tentu saja hanya sebagai ancaman saja agar papahnya tidak mengajari putri bertarung lagi.


“Dasar kau ini bocah sialan!” umpat Noland dengan raut wajah kesalnya.


“Ray, sudahlah! Jangan seperti itu pada papahmu,” ujar Zhia memberi tatapan tajam pada Rayden agar menjaga sikapnya.


“Kalian ini seperti anak kecil saja, berantem terus kerjaannya.”


Hal yang sama pun terjadi pada Noland, dia mendapat omelan keras dari mamah Julia.


“Mah, Zhi ingin meminta tolong boleh?” ujar Zhia yang merasa ragu untuk mengatakannya.


“Ya ampun, Zhi! Kenapa kau harus memohon untuk meminta sesuatu dari mamahmu sendiri. Sekarang katakana, apa yang perlu mamah dan papahmu ini lakukan untukmu, hmmm?”


Julia menjadi gemas sendiri melihat menantu kesayangan yang malu-malu begitu hanya untuk memintanya melakukan sesuatu.


Kalau mereka sedang berhadapan secara langsung, mungkin Julia sudah mencubit kedua pipi Zhia saking gemasnya.


“Begini mah,_.....”


“Mah, Zhia ingin memberikan kejutan ulang tahun untuk si kembar begitu kami kembali. Zhia ingin meminta tolong papah dan mamah menyiapkan sebuah pesta yang sangat meriah untuk merayakannya dan juga untuk menyambut kedatangan kami kembali. Begitu yang diinginkan Zhia, Mah?”

__ADS_1


Belum sempat Zhia menyelesaikan perkataannya, Rayden langsung memotongnya begitu saja dan mengoceh semua yang ingin disampaikan oleh Zhia bahkan di besar-besarkan.


“Bu-bukan be,_....”


“Benarkah? Kapan ulang tahun si kembar? Waahhh,…. Kalau tidak salah tanggal 14 Desember ini kau juga berulang tahun ‘kan, Cano?”


Julia malah terlihat semakin antusias dibandingkan dengan sebelum, mendengar kata ulang tahun dia juga teringat dengan ulang tahun putranya itu.


Dan secara tidak langsung membenarkan perkataan Rayden mengenai tanggal ulang tahunnya.


Zhia pun langsung menatap suaminya yang tengah berbaring disampingnya dengan tatapan yang masih tidak percaya.


Rayden pun hanya menanggapinya dengan senyuman, mau percaya atau tidak memang itulah kenyataannya.


“Hay, kalian kenapa malah hanya saling menatap begitu? Mamah tanya kapan tepatnya tanggal ulang tahun cucu kesayangan mamah itu?”


Julia pun menjadi tidak sabaran kerena merasa Zhia dan Rayden malah asyik saling memandang sendiri dan mengabaikannya.


“Sama dengan ulang tahun Cano, Mah!” Rayden pun menjawab dengan santainya.


“Wahhh,… Benarkah? Kenapa anak-anak itu bisa begitu mirip dengan Cano ‘sih, Zhi? Kenapa mereka berdua tidak mirip denganmu saja?” ujar Julia yang sedikit kecewa saat mengetahuinya.


“Iya, Mah! Zhi, juga bingung sendiri kenapa mereka begitu mirip dengannya,” sahut Zhia sembari memanyunkan bibirnya dengan kesal.


“Ya wajar ‘lah mereka mirip, Cano kan memang papah kandung si kembar. Seperti Cano yang mirip dengan papah!”


Dengan penuh percaya diri Noland membanggakan dirinya sendiri karena memiliki anak seperti Rayden.


“Mah, kalau bisa hindari adanya balon atau benda apapun yang bisa menghasilkan suara seperti senjata api. Karena Dr. Ian menyarankan seperti itu agar tidak memancing kembali ingatan buruk Luca!”


Sebagai seorang ayah, Rayden harus memprioritaskan kondisi anak-anaknya terlebih dahulu dibandingkan dengan hal lain.


Apalagi dokter sudah memperingatinya sampai seperti iti, jadi dia harus berhati-hati dengan itu.


“Baiklah, papah dan mamah akan mengingatnya dengan baik untuk itu. Sekarang sudah semakin larut, kalian berdua juga istirahatlah sekarang!”


Julia pun mengakhiri panggilan video itu agar Zhia dan Rayden bisa beristirahat.


...****************...


Keesokkan harinya, Rayden dan Zhia pun membawa si kembar ketempat Dr. Ian sesuai janji yang telah mereka sepakati.


Luca, Lucia, Zhia dan bahkan Rayden sekalian pun mengikuti pemeriksaan kesehatan demi kebaikan mereka sendiri.


Dan sesuai dengan dugaan Dr. Ian, semua hasil pemeriksaan semuanya baik-baik saja kecuali Luca.


Memang sekarang traumanya sedah bisa diatasi, tetapi berbeda lagi ceritanya kalau dia kembali mendapat pemicu atas sumber traumanya.


Maka pada saat itu juga traumanya bisa muncul lagi, karena itulah Dr. Ian menyarankan untuk menjauhkan Luca dari segala sesuatu yang dapat memicu ingatan buruknya.

__ADS_1


“Bagaimana dengan hasil pemeriksaannya, Dok?” tanya Rayden dengan raut wajah cemasnya.


“Seperti yang aku takutkan kemarin. Untuk Zhia, Lucia dan juga dirimu hasilnya sangat baik tapi untuk Luca ada sedikit menjadi masalah,” ujar Dr. Ian yang menjelaskan dengan sangat hati-hati.


“Maksud Dokter?” seru Zhia yang meminta penjelasan lebih.


“Memang Luca sekarang memang baik-baik saja, tapi jika dia mendapatkan pemicu mengenai sumber dari traumanya. Maka traumanya itu bisa muncul kembali. Karena itulah kalian harus sedikit lebih perhatian lagi dengan sesuatu yang berada disekitar Luca agar tidak memicu ingatan buruknya kembali lagi.”


Dr. Ian pun menjelaskan apa yang menjadi masalah Luca saat ini tanpa harus membuat Rayden dan Zhia merasa khawatir.


“Tenanglah, dia anak yang kuat! Seiring berjalannya waktu Luca pasti bisa melaluinya dengan baik,” lanjut Dr. Ian seraya tersenyum dan secara tidak langsung menyampaikan bahwa semuanya akan baik-baik saja.


“Papah! Manah, Apakah kalian sudah selesai diperiksa? Ayo, kita pergi main lagi! Luca masih ingin bermain istana pasir. Ayo, bantu Luca membangunnya, Pah!” seru Luca yang tiba-tiba saja masuk kedalam ruangan pribadi Dr. Ian hanya untuk meminta papah dan mamahnya segera menemaninya bermain ditepi pantai lagi.


“Iya, sayang! Papah dan mamah sudah selesai. Ayo, kita pergi bermain sekarang,” sahut Rayden yang langsung beranjak dari tempat duduknya.


“Kalau begitu kami pamit dulu, Dok!” pamit Zhia yang hendak mengikuti Rayden dan Luca.


“Nyonya Zhia, tunggu sebentar!” pinta Dr. Ian yang segera menghentikan Zhia.


“Ada apa lagi, Dok?” tanya Rayden dengan eksperi yang dipenuhi pertanyaan dan juga sedikit cemas.


“Tidak apa-apa. Saya hanya ingin memastikan sesuatu pada istrimu ini, bolehkan dia menjalani beberapa tes lagi? Ini sama sekali tidak berbahaya ‘kok, cuma sesuatu mengganggu pikiranku saja. Jadi saya harus memastikannya sebelum terlambat, bukan?”


Dr. Ian pun menjelaskan maksudnya menghentikan Zhia seperti itu, dia hanya ingin memastikan sesuatu saja tanpa ada niat buruk sedikitpun.


“Papah, Ayo!”


Luca yang tidak sabaran terus saja menarik tangan Rayden untuk segera pergi mengikutinya.


“Tidak apa, Ray! Kau temani anak-anak saja, ini bukan masalah besar ‘kan, Dok! Jadi aku bisa megurusnya sendiri,” ujar Zhia yang meminta Rayden agar tidak terlalu mengkhawatirkannya.


“Baiklah, kalau ada sesuatu segera beritahu aku!” sahut Rayden yang sebenarnya tidak tega meninggalkan Zhia seorang diri.


Zhia hanya menganggukkan kepalanya seraya tersenyum manis. Setelah itu, Rayden langsung mengikuti Luca sementara Zhia melakukan beberapa tes seperti yang diminta oleh Dr. Ian barusan.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄

__ADS_1


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2