Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Tertangkap


__ADS_3

“Apa yang dibicarakan anak-anakku dengan Evan!” tanya Rayden lagi mencoba mengalihkan perasaannya dengan bertanya hal lain.


“Tidak banyak! Luca dan Luci hanya ingin bermain bersama lagi seperti dulu lagi. Mereka juga ingin mengunjungi rumah Evan yang berada disini. Karena dari dulu Luca dan Luci sangat sering bermain dirumah Evan bahkan Evan sampai membangun taman bermain dihalaman rumahnya khusus untuk mereka.”


Lagi dan lagi Zhia mengatakan dengan jujur, bagaimana posisi Rayden digantikan oleh Evan.


Entah Zhia orangnya yang tidak peka dengan perasaan Rayden atau dia memang wanita polos yang jujur dalam segala hal.


“Lagi-lagi kamu mengatakan hal yang membuat hatiku sakit ‘yah, Zhi!” ujar Rayden dengan tatapan sendunya.


“Haah,…Perkataanku yang mana yang membuatmu sakit hati, Ray? Aku hanya menjawab jujur apa yang kamu tanyakan tadi.” sahut Zhia yang semakin bingung kenapa ekspresi suaminya itu berubah lagi sekarang.


Zhia merasa sudah menjawab dengan sejujurnya apa yang Rayden tanyakan, apakah salah dia mengatakan yang sejujurnya. Lalu apa lagi yang membuat suaminya itu menjadi sakit hati.


“Kau tidak pernah menyukai Evan, Bukan?” ujar Rayden dengan tatapan penuh menyelidik pada Zhia.


“Hah? Kenapa pertanyaanmu aneh-aneh terus ‘sih, Ray?” sahut Zhia yang berusaha ingin mengalihkan perhatian Rayden dari pertanyaan yang menyudutkan dirinya.


Jujur saja, Zhia pernah menaruh rasa terhadap sosok Evan yang baikan malaikat penolong didalam hidupnya dan juga anak kembarnya itu.


Tapi itu dulu, sebelum Zhia bertemu dengan ayah dari anak kembarnya Rayden Cano Xavier yang perlahan masuk kedalam hatinya.


“Jawab saja! Kau pernah menyukai dia ’kan?” ujar Rayden yang semakin memaksa Zhia untuk menjawabnya.


“Tidak! Tidak pernah, apa sudah puas sekarang!” seru Zhia dengan kesal, dia pun akhirnya harus berbohong.


Lagian perasaan itu, sudah berada didalam masa lalunya. Tidak ada kaitannya lagi dengan perasaan dirinya yang sekarang.


“Kau yakin sedikitpun tidak ada?” Rayden masih saja ingin memastikannya.


“Iya, kami dekat hanya karena dia selalu membantuku saja! Tidak ada hal lain. Apa sekarang kau masih saja cemburu padanya? Lagian siapa suruh kau tidak pernah ada disaat aku selalu membutuhkanmu!” ujar Zhia dengan menunjukan raut wajah kesalnya pada Rayden.


“Perkataanmu barusan sudah membuat hatiku benar-benar sakit, Zhi! Karena itu kau harus dihukum sekarang!” ucap Rayden yang terdengar begitu sensual ditelinga Zhia, kini tatapan Rayden kembali berubah yang tadinya terlihat sendu sekarang sudah dipenuhi hasrat yang membara.


Rayden menatap mata Zhia dengan intens bahkan mengeluarkan senyuman yang penuh arti pada Zhia.


“Haah? Hukuman apa ‘sih? Memang aku salah bicara apa? Bukankah aku hanya menjawab apa yang kamu tanyakan saja? Kenapa aku harus dihukum segala?” ujar Zhia yang berusaha melepaskan diri dari Rayden, tetapi Rayden dengan cepat menahannya.


Rayden bahkan semakin mendekatkan wajahnya pada wajah Zhia yang terlihat merah merona karena malu.


Cupp,…..


Rayden mencium bibir Zhia sekilas sembari berkata “Kau harus dihukum, Zhi! Karena kau selalu memuji Evan dengan bibirmu ini dan aku sangat tidak suka mendengarnya!”


“Haah,_.......Emphh,…mmphh”


Belum sempat Zhia ingin mengatakan sesuatu, bibir Rayden sudah membungkam bibirnya dengan lembut.


Memaksanya untuk semakin membalas dan memperdalam ciuman diantara mereka, hingga tanpa sadar Zhia yang tadinya ingin menolak malah semakin terbuai dengan permainan Rayden.


Harus di akui oleh Zhia bahwa suaminya itu sangat ahli dalam berciuman. Zhia jadi teringat mengenai malam pertama mereka dulu, Zhia memang yang memulainya tapi pada akhirnya Rayden yang menguasai permainan seperti sekarang ini.


Bibir mereka saling bertautan satu sama lain, menambah gairah Rayden yang selama ini telah dia tahan untuk menyentuh Zhia.


Tanpa menghentikan ciuman pada bibirnya, tangan Rayden mulai berjalan-jalan menyusup kedalam pakaian yang dikenakan Zhia.


Tangannya besar terasa hangat dan membuat tubuh Zhia terasa panas saat tangan itu mulai menyentuh tubuhnya dengan lembut.


Karena merasa terganggu dengan pakaian yang saat ini kenakan Zhia, Rayden pun membukanya dengan tidak sabar hingga membuat salah satu kancing bajunya terlepas. Rayden juga membuang bra yang menutupi pemandangan indah dihadapannya itu.


Cupp,…..


Rayden tanpa ragu mengecup bekas luka didada Zhia yang sudah semakin mengering itu dengan lembut.


Kemudian dia berkata “Jangan ada bagian tubuhmu yang lain sampai terluka lagi seperti ini, Zhi! Karena aku juga tidak menyukainya!”


Tidak berhenti disitu saja, Rayden juga melepaskan kemeja kerja serta celana yang dikenakannya dan membuangnya kesembarang tempat hingga menyisakan ****** ******** saja.


“Ray,…” Zhia menatap Rayden memintanya untuk berhenti.


“Tenanglah, sayang! aku akan melakukannya dengan lembut!” sahut Rayden dengan senyuman manisnya.


Kali ini Zhia tidak mampu menghentikannya lagi, bagaimana pun juga Rayden adalah suaminya.


Sudah sewajarnya bagi Rayden untuk meminta haknya sebagai suami Zhia dan sudah kewajiban bagi Zhia untuk melayani suaminya itu.


Rayden menatap mata Zhia dengan intens seakan sedang meminta ijin untuk melanjutkannya. Deru nafasnya sudah semakin memburu, menahan hasrat yang lama terpendam didalam dirinya.


Zhia hanya mengangguk dan tersenyum tipis sebagai jawaban bahwa dia telah mengijinkan Rayden untuk melakukan sesuka hatinya.


“Terima kasih, sayang!”


Rayden langsung mengecup puncak kepala Zhia, kelopak matanya, hidungnya, pipinya dan berakhir pada ******* bibirnya yang kembali saling bertautan satu sama lain.


Tokk,……Tokkk,…..


Suara ketukan pada pintu kamarnya terdengar saat Rayden akan mulai melakukan aksinya. Rayden pun berhenti sejenak menatap kearah pintu dan kemudian beralih menatap kearah Zhia yang berada dibawahnya.


“Jangan dihiraukan! Kita lanjutkan saja ‘yah, sayang!” ujar Rayden yang tidak bisa menahannya lagi.


“Ta-tapi,_.......Aaahh,….!”


Belum selesai Zhia mengatakan sesuatu, Rayden sudah mulai menggerakan juniornya didalam sana hingga Zhia tak mampu menahan desahannya.


Tokkk,…..Tokkk,……Tookkk,…..Tokkkkkk,……


Suara ketukan pintu semakin jelas terdengar dan disusul suara tangisan anak kecil yang mengiringi suara ketukan itu.


“Papah! Mamahh,….Buka pintunya! Huhuuuu,…….”

__ADS_1


Suara menangis jelas terdengar dari balik pintu bahkan memanggil mereka dengan sebutan mamah dan papah.


“Aahhh,…..Ray, berhenti! Diluar ada suara Luci yang sedang menangis!” pinta Zhia yang mencoba menghentikan Rayden yang sudah dikuasai oleh gairah itu.


“Tapi, Zhi! Kita baru saja memulainya!” Rayden sungguh tidak mau berhenti ditengah jalan seperti ini.


“Dia putrimu, Ray! Dan dia sedang menangis sekarang! Luci pasti sedang membutuhkan kita berdua. Luci lebih penting sekarang, kita masih bisa melakukan ini dilain waktu ‘kan?” bujuk Zhia pada Rayden.


Karena suara tangisan Lucia terdengar semakin keras dan sepertinya putri kecilnya itu sedang ketakutan. Rayden terdiam sejenak, kemudian dia segera bangkit dan mengeluarkan juniornya dari sarangnya. Terpaksa malam panasnya harus gagal lagi, gagal lagi oleh anaknya sendiri.


“Aakhhh, kenapa masih ada saja yang menggagu ‘sih!” gerutu Rayden sembari mengacak-acak rambutnya sendiri dengan kesal.


Rayden kembali mengenakan celana boxernya yang baru saja dia lepaskan itu, dia pun membantu Zhia memungut kembali pakaian yang dia tanggalkan tadi.


Rayden meraih sebuah jubah mandi dan mengenakannya. Kemudian berjalan kearah pintu dan bersiap untuk membukanya.


Sementara Zhia dengan cepat mengenakan kembali baju tidurnya dan merapikan rambutnya yang sedikit acak-acak karena kegiatan mereka tadi. Meskipun kancing baju tidurnya ada satu yang terlepas tadi.


Setelah melihat Zhia selesai mengenakan pakaiannya kembali, Rayden pun segera membuka pintu kamarnya yang tadi terkunci.


Ceklekkk,….


“Papah! Huhuhuuu,…..”


Begitu pintu terbuka, Lucia segera memeluk papahnya sambil menangis sesegukkan. Rayden pun menjadi panik dan bingung kenapa putri kecilnya tiba-tiba menangis seperti ini ditengah malam.


Perasaan kesal yang tadi sempat dia rasakan karena kesenangannya diganggu disaat yang tidak tepat itu seketika lenyap tak tersisa begitu melihat wajah putrinya yang sedang menangis didalam dekapannya itu.


Zhia pun menatap khawatir pada putrinya itu, dia sebenarnya ingin langsung berlari mendekati dan memeluk Lucia.


Tapi Rayden segera menyuruhnya untuk tetap diam di ranjangnya, karena Rayden sendiri yang akan membawa Lucia padanya.


Bersambung...........


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚


“Sayang, ada apa? Kenapa putri kesayangan papah ini menangis?” tanya Rayden yang menggendong tubuh mungil Lucia dan kemudian memeluk dan menciumnya dengan lembut.


Rayden pun membawa putri kecilnya ke arah Zhia yang tengah menatap Lucia dengan khawatir.


“Papah, Luci takut sekali! Huhuuu,….” ujar Lucia dengan berlinang airmata.


“Luci tidak perlu takut lagi! ‘Kan sudah ada papah dan mamah disamping Luci sekarang!”


Rayden mencoba menenangkan Lucia yang masih menangis didalam pelukkannya. Kini dia dan Lucia sudah duduk disamping Zhia.


“Ya ampun putri kecil mamah! Luci tadi mimpi buruk ‘yah?” ujar Zhia yang meminta Rayden untuk menyerahkan Lucia padanya.


Rayden pun menurutinya, dia memindahkan Lucia ke pangkuan Zhia.


“Huwaaa,…Mamah! Huhuuu,….”


Bukannya berhenti, tangisan Lucia malah terdengar semakin kencang dan memeluk Zhia dengan eratnya.


“Sudah, sayang! Tidak apa-apa, itu hanya sebuah mimpi saja. Jangan takut ‘yah!” ujar Zhia yang masih dengan penuh kasih sayang menenagkan Lucia.


“Iya, Luci! Jangan menangis lagi ‘yah! Masa putri kecil papah yang sangat pemberani malah menangis hanya gara-gara sebuah mimpi.”


Rayden Kembali membujuk Lucia untuk berhenti menangis.


“Tapi Luci sangat takut, Pah!Hikss,…” sahut Lucia yang berusaha menahan tangisnya hingga kini hanya terdengar isakkannya saja.


“Memangnya Luci bermimpi apa ‘sih sampai ketakutan seperti ini?” tanya Rayden lagi yang menjadi penasaran dengan mimpi seperti apa yang sampai membuat Lucia si gadis pemberani itu ketakutan.


“Mamah! Luci ingin tidur sama mamah.”


Bukannya menjawab, Lucia malah mengalihkan pembicaraan sepertinya gadis kecil itu tidak mau menceritakan tentang mimpinya itu.


“Ya sudah! Luci tidur sama mamah dan papah saja malam ini! Ayo sini berbaring, biar mamah ceritakan sebuah dongeng seperti biasanya.”


Lucia pun menurut dengan perkataan mamahnya, tangan mungilnya masih memeluk mamahnya dengan sangat erat seakan takut mamahnya akan pergi dari sisinya.


Rayden hanya bisa menatap istri dan anaknya itu, karena dia masih memiliki misi terpenting untuk saat ini yaitu menenangkan juniornya yang sudah terlanjur menegang.


“Zhi, kalian tidurlah dulu! Aku mau membersihkan diri sebentar.” Ujar Rayden pada Zhia, setelah itu langsung menuju kedalam kamar mandi untuk menenagkan si juniornya.


Zhia hanya bisa menahan tawanya melihat Rayden yang begitu tersiksa karena belum juga berhasil mendapat jatahnya malam ini.


Namun, sebelum melakukan aktivitas mandinya Rayden melihat layar ponselnya yang menyala karena ada panggilan masuk dari Will.


Rayden pun segera meraih ponselnya dan mengangkat panggilan telepon itu, kemudian bertanya dengan kesalnya “Ada apa?”

__ADS_1


“Maaf, Tuan! Apakah saya mengganggu?” ujar Will yang menyadari bahwa Tuannya sedang merasa kesal saat ini hanya dengan mendengar nada bicaranya saja.


“Iya, kamu mengganggu tapi ada yang lebih mengganggu dari pada kamu! Jadi, cepat katakan ada apa?” seru Rayden yang masih dengan nada bicara yang terdengar dingin dan semakin merasa kesal.


“Baik, Tuan! Saya dan Levi sudah berhasil menangkap mata-matanya. Sekarang kami sedang berada dimarkas, apakah Tuan akan datang?”


Will pun langsung melaporkan pada apa yang akan dilaporkan, dia tidak ingin menjadi pelampiasan kekesalan Tuannya seperti sebelumnya.


“Mudah sekali kalian menangkapnya?” sahut Rayden yang sedikit merasa tidak percaya.


“Iya , Tuan! Kami memasang jebakan dengan menggunakan informasi palsu dan dia langsung memakannya.” Ujar Will yang menjelaskan secara singkat, padat dan jelas saja.


“Baguslah! Kalian urus sendiri saja. Aku tidak bisa datang kesana malam ini. Lakukan seperti biasanya saja, kalau mau kalian bisa lebih kejam dari biasanya karena aku sudah mulai muak dengan permainan ini.”


Perintah Rayden yang sepertinya sudah menyusun rencana untuk menyelesaikan semua musuhnya.


“Baik, Tuan!” sahut Will yang langsung mengerti apa yang harus dia lakukan selanjutnya tanpa harus bertanya lebih jauh lagi.


Seperti biasanya Rayden langsung memutus sambungan teleponnya secara sepihak, kali ini setelah mendengar jawaban Will terlebih dahulu.


Rayden pun teringat penjelasan Zhia yang mengatakan bahwa si kembar meminta berkunjung kerumah Evan, sepertinya Rayden menyadari rencana si kembar ini.


“Sebenarnya apa rencana kalian, Luca dan Luci! Setidaknya beritahu papah juga agar kita bisa saling bekerjasama.” gumam Rayden sembari menenangkan Juniornya dibawah guyuran air shower.


“Evan! Evan! Akhh,….Sudahlah aku akan mengawasi saja dulu si Evan dan kedua anak kembarku ini untuk sementara!"


"Aishh,…..kenapa kamu tidak tenang-tenang si john, aku sudah kedinginan ini!” lanjut Rayden yang akhirnya harus membutuhkan waktu lama untuk menenangkan si juniornya sampai dia kedinginan dibawah guyuran air shower.


Hanya dua orang saja yang masuk kedalam jebakan yang disiapkan oleh Levi, kemungkinan besar masih ada beberapa mata-mata lagi diantara mereka.


Karena itulah bukan hanya satu jebakan yang dipasang oleh Levi, tapi masih ada beberapa lagi yang hanya Levi sendiri yang mengetahuinya, dalam hal menjebak dan memusnakan orang, Levi ‘lah jagoan paling nomor satu didunia.


“Hay, kalian berdua! Apa benar ketua klan kalian adalah Jaydon Carson?” tanya Levi tanpa perlu basa- basi lagi.


“Ba-bagaimana anda mengetahuinya?” sahut salah satu dari kedua orang itu.


Dilihat dari ekspresi wajahnya sepertinya orang itu tidak tahu apapun mengenai Jaydon kecuali namanya saja.


Berbeda dengan yang satunya sepertinya dia lebih banyak memiliki informasi yang sedang mereka cari.


“Ouh,… Itu mudah saja untukku!” ujar Levi dengan santainya.


“Hay, Lev! Kau niat tidak ‘sih melakukan interogasi ini?” tanya Will yang sedikit kesal melihat Levi yang sangat santai itu.


“Memang mudah ‘kan aku mendapatkannya. Tinggal bunuh dan hancurkan markas mereka, lalu ketemu ‘lah informasinya!”


Levi masih bisa menjawab dengan gaya santainya. Padahal kedua mata-mata itu sudah gemetar ketakutan begitu mendengar jawabannya itu.


“Dasar kau ini tidak berubah sama sekali! Hanya tahu membunuh dan menghancurkan saja!” ujar Will yang tak mampu berkata apapun lagi menyikapi kelakuan Levi.


“Yah mau bagaimana lagi. Itulah hobi dan pekerjaanku selama ini, harap dimaklumilah!” sahut Levi yang benar-benar sangat menikmati dirinya yang sekarang.


“Terserah kau saja ‘lah!” Will benar-benar pasrah dalam menghadapi si bocah psikopat ini.


“Hay, you listen to me! Dimana keberadaan si Jay-Jay itu sekarang?”


Levi tidak mempedulikan perkataan Will lagi, dia kembali pada kedua mainan barunya ini.


“Sa-sa-saya tidak tahu, Tuan! Sungguh, bahkan wajahnya saja saya tidak pernah melihatnya sama sekali! Jadi, tolong ampuni saya, Tuan!”


Orang itu kembali memohon dengan cepat, apalagi nyawanya saat ini sedang berada diujung tanduk.


Wajahnya yang terlihat sudah tua membuat Levi merasa sedikit kasihan jika dia mau menyiksanya, terlihat seperti bukan orang jahat.


Berbeda dengan yang satu, rasanya Levi ingin segera membunuhnya saat itu juga.


“Bagaimana ini, Will?” tanya Levi yang meminta pendapat pada Will yang masih berdiri disana.


“Lakukan sesukamu! Tuan sudah menyerahkannya pada kita!” sahut Will yang terlihat masa bodo, dia sedang sibuk memeriksa lokasi tempat tinggal Evan dan si Jayden yang baru saja tiba dinegara A hari ini.


“Will, aku merasa tidak tega dengan pak tua ini! Bolehkah aku melepaskannya?” pinta Levi lagi tidak seperti biasanya.


Hingga membuat Will langsung menatapnya penuh tanya “Apa aku tidak salah dengar? Kau yakin dengan apa yang kau katakan barusan?”


“Iya, aku sangat yakin! Kenapa? Aku akan bermain-main dengan yang satunya saja sepertinya akan lebih seru!” sahut Levi yang terlihat sangat yakin dengan keputusannya.


“Kau serius mau melepaskan mangsamu begitu saja?” tanya Will kembali memastikan, karena dia masih tidak percaya dengan keputusan Levi.


Bersambung................


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2