Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Menggila Saja!


__ADS_3

“Bicara apa ‘sih kamu, Luci?” ujar Luca yang menatap kearah adik kembarnya dengan kesal.


“Habis kakak terlihat serius banget ‘sih! Ouhya,….Tadi Luci sudah mencari Grandpa, tapi kata kepala pelayan Grandpa pergi bersama paman Will pagi-pagi sekali.”


Lucia hanya tersenyum dalam menanggapi kekesalan dari sang kakak. Tapi Luca hanya melirik sebentar kearah sang adik kembar, kemudian dia kembali focus dengan layar komputernya.


“Kakak sedang ngapain ‘sih?” tanya Lucia lagi yang mulai penasaran dengan apa yang sedang dilakukan oleh Luca.


“Mencari tahu keberadaan papah!” sahut Luca dengan singkat.


“Papah?” seru Lucia.


“Iya, papah sudah kembali sekitar 3 jam yang lalu. Kakak melihatnya direkaman cctv yang ada dibandara, seharusnya papah sudah sampai kerumah satu jam lalu tapi sampai sekarang papah belum juga datang kerumah. Itu artinya papah sedang mencari keberadaan mamah disini dan kakak yakin Grandpa sekarang sedang bersama dengan paman Will dan Kak Levi disuatu tempat!”


Luca menjelaskan semuanya tanpa mengalihkan sedikitpun fokusnya pada layar computer dan juga kerja jari jemari kecilnya.


“Benarkah mamah juga berada disini sekarang, Kak?”


Lucia tampak sangat terkejut begitu mengetahui bahwa keberadaan mamahnya sekarang sangat dekat dengan mereka.


“Nah,….Ketemu!” seru Luca yang berhasil menemukan lokasi papahnya saat ini.


Lucia pun segera mendekat ke layar computer sang kakak agar dapat melihatnya secara langsung.


“Dimana kak?” ujar Lucia yang memang sudah melihatnya, tapi dia tidak mengerti cara membaca denahnya.


“Sepertinya ini daerah yang cukup jauh dari pemukiman, tapi kenapa sepertinya ada sebuah rumah yang cukup besar ditengahnya?”


Jari jemari kecil Luca mulai melakukan tugasnya, dia membuka maps yang merupakan titik keberadaan sang papah.


“Tidak perlu, kak! Kita sekarang saja kesana.”


Lucia langsung saja menarik tangan sang kakak, hingga membuat Luca menatap penuh tanya ke arah adik kembarnya itu tapi tidak bergeming sedikitpun dari tempat duduknya.


“Kemana?” ujar Luca yang masih tidak bergeming dari tempat duduknya.


“Ke tempat papah dan Grandpa berada sekarang!” seru Lucia dengan polosnya.


“Itu terlalu berbahaya, Luci! Kalau papah dan Grandpa sampai tahu, mereka bisa marah besar. Apalagi sebelum ini kakak sudah membuat masalah dengan melaporkan tentang kasus kematian Tante Rayna.” ujar Luca yang merasa ragu untuk mengikuti rencana Lucia.


“Kakak tahu ‘kan kalau papah sudah berusaha menangkap paman Evan didua pulau yang berbeda. Dan disetiap pulau ada saja anak buah papah yang terjebak disana, apalagi pulau terakhir. Sudah pasti papah membutuhkan bantuan kita sekarang, Kak!” jelas Lucia yang menbuat Luca kembali memikirkan keputusannya untuk bergabung denfan rencana Lucia atau tidak.


“Sudah ayo, kak! Jangan buang waktu lagi, kita pergi sekarang juga!”


Tanpa menunggu jawaban dari Luca, Lucia langsung saja menarik paksa sang kakak untuk segera mengikutinya.


Sebelum pergi Lucia mengajak Luca masuk kedalam kamarnya terlebih dahulu, dia mengambil beberapa barang yang kemungkinan bisa mereka gunakan disana.


Luca hanya melihat kelakuan adik kembarnya yang sedang sibuk memasukan beberapa barang ke dalam tas ranselnya tanpa berniat untuk memberikan komentar sedikitpun.

__ADS_1


Ada pemukul baseball, ketapel dan beberapa barang lain yang bisa digunakan untuk menyerang lawannya.


Lucia membawa banyak barang, tapi Luca hanya membawa ponsel milik Grandpanya agar bisa mengikuti keberadaan papahnya melalui alat pelacak yang sudah berhasil diretasnya barusan.


“Ayo, kita pergi sekarang kak!” ujar Lucia setelah memasukan barang terakhirnya dan menutup dan ranselnya yang sudah dipenuhi berbagai barang itu.


“Sudah selesai dengan persiapannya?” tanya Luca yang mencoba memastikannya lagi.


“Eeehhh,….Tunggu sebentar, kak! Hampir kelupaan benda yang paling penting ini.”


Lucia pun langsung berbalik dan membuka laci yang ada disamping tempat tidurnya, kemudian dia mengambil sebuah kantong berwarna pink kesukaannya.


“Apalagi itu?”


Luca yang penasaran isi didalam kantong berwarna pink itu tanpa ragu pun langsung bertanya.


“Ini uang simpanan Luci, kak! Kita butuh uang untuk bisa sampai ke tempat itu, bukan?” ujar Lucia yang mebuat Luca langsung tersadar dengan pertanyaan bodohnya sendiri itu.


“Ouhyayya,….Bagaimana kakak menanyakan hal yang sudah pasti seperti itu ‘yah!” gumam Luca yang masih saja memikirkan pertanyaan bodohnya itu.


“Sudahlah, ayo kita harus cepat kesana!”


Lucia kembali menarik Luca untuk pergi secara diam-diam dari mansion tapa diketahui siapapun terutama para pengawal yang berjaga disana.


Luca dan Lucia kembali bekerja sama untuk mengelabuhi para pengawal yang berjaga didepan gerbang masuk dan keluar dengan mengatasnamakan Grandmanya.


Dengan kepintaran dan acting memukau si kembar yang berwajah polos tapi penuh jebakan, para pengawal itu pun meninggalkan pos jaganya.


...****************...


Disisi lain, Rayden dan Levi sudah berkumpul dengan Noland serta Will dan anak buah mereka yang tersisa disana.


Begitu Rayden dan Levi sampai ditempat yang berjarak 1 km dari kediaman Sam Joseph, Noland dan Will pun langsung menceritakan mengenai situasinya selama beberapa hari mengintai diwilayah itu.


“Pah, bagaimana? Apakah benar Evan membawa Zhi ketempat ini?” ujar Rayden begitu bertemu dengan sang papah setelah hampir dua minggu tidak bertemu karena misi pengejarannya terhadapa Evan.


“Benar, Cano! Zhia ada didalam rumah itu, karena itulah penjagaannya sangat ketat bahkan dalam radius 1 km dari tempat kita sekarang dipenuhi oleh anak buah Evan!” jelas Noland yang tidak bisa mengatakan bahwa situasi saat ini masih berada didalam kendali mereka.


“Bisa dikatakan kita sekarang kalah jumlah, apalagi Evan sengaja meninggalkan foto-foto ini untuk membuat kita bertindak gegabah!” sahut Will sembari memberikan foto-foto Zhia yang terluka dan sepertinya masih tidak sadarkan diri dari pingsan.


“Dasar Sialan! Sampah memang selamanya akan menjadi sampah. Bagaimana bisa dia menyakiti Zhia sampai seperti ini!”


Terlihat jelas bahwa Rayden sudah tidak dapat menahan emosinya lagi, apalagi melihat keadaan Zhia yang dipenuhi luka lebam disekujur tubuhnya.


Semua luka-luka itu seketika mengingatkan Rayden dan Noland tentang luka yang sama persis dengan luka Rayna saat ditemukan dulu dalam keadaan tidak bernyawa lagi.


“Zhi, maafkan aku! Kau terluka seperti ini karena diriku!” gumam Rayden yang tak mampu menahan airmatanya agar tidak terjatuh saat melihat foto wanita yang sangat dicintainya itu.


“Pah, Cano sudah tidak bisa menahannya lagi sekarang! Kita tidak punya banyak waktu untuk menunggu anak buah kita yang lainnya. Apapun yang terjadi aku akan menerobos masuk dan menyelamatkan Zhia hari ini juga!” ujar Rayden yang telah membulatkan tekad untuk segera bertindak menyelamatkan Zhia.

__ADS_1


“Tapi Tuan kita kalah jumlah! Pertarungan ini akan berat sebelah dan pihak yang paling dirugikan adala pihak kita nantinya.”


Will pun segera menyampaikan pendapatnya, karena jika mereka bertindak gegabah banyak nyawa yang kan melayang.


“Kita memang kalah jumlah, tapi tidak dengan strategi! Sebab dengan strategi yang bagus, kita bisa saja membalikkan keadaan hingga bisa membuat keuntungan pada pihak kita. Bukan begitu, Tuan?” ujar Levi yang membuat semua mata langsung tertuju padanya.


Levi memang tidak pandai dalam pelajaran apapun, tapi untuk masalah strategi perang dia ‘lah ahlinya.


“Kau benar sekali, Levi!” sahut Rayden yang menyetujui pendapat Levi yang sangat cemerlang itu.


“Wahhh,…Kau memang ahlinya!”


Puji Noland yang juga sependapat dengan Rayden dan Levi.


“Apa kau punya rencana sekarang?” ujar Will yang langsung menanyakan pada intinya dan malah membuat Levi terpojok.


Karena dari awal Levi tidak punya rencana apapun, dia hanya asal bicara saja.


“Untuk apa memikirkan rencana, kita langsung serang saja mereka tanpa ampun!” sahut Levi dengan santainya.


Levi pun langsung mendapat tatapan tajam oleh kedua Tuannya itu. Bagai harapkan pagar, pagar makan tanaman.


Sudah sangat berharap Levi mempunyai sebuah strategi yang bagus, ternyata sebenarnya Levi tidak memiliki rencana apapun.


“Memang tidak bisa diharapkan bocah gila yang satu ini.” gumam Will sembari mengeleng-gelengkan kepalanya menatap pada Levi dengan ras tidak percaya.


“Benarkan? Apa salahnya dengan perkataanku barusan? Langsung menyerang adalah pilihan terbaik untuk kita sekarang ini. Bukan hanya menyerang tapi menggila saja disana!”


Levi pun tidak merasa bersalah sedikitpun setelah memberikan harapan palsu pada mereka semua.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌

__ADS_1


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2