
Seketika Rayden dan Zhia terdiam, mereka saling menatap satu sama lain begitu mendengar isi hati putri mereka itu.
Zhia pun kembali dihinggapi rasa bersalah, karena sempat berpikir ingin memisahkan kedua anak kembarnya dengan ayah mereka saat pertama kali mengetahui kebenarannya.
Sedangkan Rayden merasa bersalah karena tidak pernah berpikir Zhia akan mengandung anaknya setelah malam itu.
Sehingga Rayden tidak berniat sedikitpun untuk mencari tahu tentang wanita yang telah mengahbiskan malam pertamanya itu.
“Iya, papahmu ini ‘kan sangat hebat! Siapa dulu ‘dong, anaknya Grandpa! Hahaha,…” seru Noland yang memecah keheningan diantara Rayden dan Zhia.
“Apakah Grandpa dan Grandma juga ikut liburan bersama Luci?” tanya Lucia dengan tatapan mata polosnya.
“Tidak untuk kali ini! Ada beberapa pekerjaan yang Grandpa harus selesaikan disini dan Grandma harus menemani Grandpa disini, bukan?” jelas Noland yang memang harus mengurus perusahaan selama Rayden tidak ada, sedangkan Julia itu seperti Julietnya Noland.
Sehingga kemanapun dan dimanapun Noland berada pasti Julia akan selalu disampingnya.
“Iya, sayang! Mungkin lain kali, kita bisa berlibur bersama-sama ‘yah?” ujar Julia yang membantu menjelaskan.
“Janji ‘loh?” seru Lucia dengan menunjukan jari kelingkingnya, sebagai symbol bahwa mereka telah membuat janji.
“Janji, cucu tersayangku!” ujar Julia sembari mengaitkan jari kelingkingnya pada jari kelingking yang mungil milik Lucia.
“Kalau begitu Luci harus istirahat lagi seperti kak Luca supaya cepat sembuh ‘yah!” sambung Julia yang menidurkan Lucia kembali.
Lucia menjadi gadis kecil yang sangat penurut, dia segera menutup keduanya matanya berharap hari cepat berlalu dan liburannya cepat tiba.
“Zhi, kau juga masih perlu banyak istirahat! Kenapa kau berdiri terus dari tadi? Ayo, aku bantu kamu kembali berbaring,” ujar Rayden yang langsung saja menggendong tubuh Zhia dan membaringkannya diatas bangsal.
Mendapat perlakuan manis dari Rayden membuat Zhia menjadi salah tingkah sendiri. Bukan berarti Zhia tidak menyukainya, tetapi kenapa Rayden harus melakukan didepan mamah dan papah mereka seakan-akan Noland dan Julia dianggap tidak ada disana.
“Dasar anak jaman sekarang!” gumam Noland sebenarnya sedikit kesal pada putranya sendiri yang tidak menghormati keberadaan mamah dan papahnya disana.
...****************...
Disisi lain, Will akhirnya berhasil mengejar Alea tepat diparkiran rumah sakit. Ternyata benar apa yang dikatakan Alea, bahwa kedua orang tuanya sedang menunggunya. Will pun menjadi malu sendiri dengan sikapnya.
“Alea! Tunggu sebentar!” seru Will, sehingga Alea pun segera berbalik dan menghentikan langkahnya begitu juga dengan ayah dan ibunya.
“Tuan Will, Ada apa ‘yah?” ujar Alea dengan tatapan penuh tanya.
“Lea, jangan bersikap seperti itu pada atasanmu?” ucap Ibu Alea mengingatkan pda putrinya.
“Ouh,.. Tidak ada apa-apa! Aku hanya ingin memberikan bunga ini untukmu. Tadi aku sempat membeli bunga untuk Nyonya dan aku teringat denganmu yang juga dirawat dirumah sakit ini. Jadi aku sekalian membelikan bunga ini untukmu?” ujar Will dengan mengatakan sebuah alasan sembari memberikan sebuket bunga yang sudah ada ditangannya pada Alea.
“Untukku? Anda yakin tidak sedang salah orang?”
__ADS_1
Alea pun menjadi ragu-ragu untuk menerimanya, dia takut kalau Will sedang salah mengenali orang nanti malah menimbulkan kesalah pahaman diantara mereka berdua.
“Memangnya ada orang lain yang bernama Alea disini? Tentu saja ini untukmu, jadi terima ‘lah tanganku sudah pegal tahu!” ujar Will yang tersenyum dengan manisnya, meskipun nada bicara sedikit ingin meledek Alea yang masih kebingungan didepannya.
“Te-terima kasih!” ucap Alea yang menerimanya bunga itu masih dengan keraguan.
“Ya ampun, Tuan Will! Terima kasih banyak, karena anda begitu perhatian dengan putri saya ini. Apa anda punya waktu luang? Bagaimana kalau anda ikut bersama kami? Kami berniat membuat pesta penyambutan atas keluarnya Alea, putri kami dari rumah sakit hari ini,” ujar Sang ayah yang sepertinya juga menyukai Will untuk dijadikan menantunya.
Sebelum sebagai seorang ayah dari seorang putri, dia juga pernah menjadi seorang pria. Sehingga tanpa bertanya pun dia sudah tahu bahwa Will mempunyai rasa terhadap putrinya.
“Ayah,…” seru Alea yang merasa tidak enak hati sendiri dengan sikap ayahnya.
“Benarkah, saya boleh bergabung?” sahut Will yang malah terlihat sangat senang mendapatkan tawaran itu seolah dia sedang mendapat lampu hijau saja dari sang ayah mertua.
“Tentu saja, mari ikut dengan kami!” Bahkan Ibu Alea pun tampak menyambut keberadaan Will disana.
“Ibuu,… Kenapa ibu harus ikut-ikutan seperti Ayah?”
Alea pun tercengang, tenyata bukan ayahnya saja yang menyukai Will tapi ibunya juga. Bahkan kedua orang tuanya itu menunjukan rasa sukanya secara terang-terangan, hingga membuatnya frustasi sendiri.
Hingga sebuah suara yang terasa tidak asing membuat kesempatan emas Will untuk lebih dekat dengan Alea sirna sudah tanpa tersisa sedikitpun.
Benar saja, suara tidak asing memanggil Namanya dengan sangat lantang berasal dari Levi sibocah pengacau.
“Sepertinya anda masih mempunyai urusan yang lain! Lebih baik anda selesaikan saja urusan anda!” ujar Alea yang terlihat sedikit merasa lega.
“Aaahh,… Kau benar! Sepertinya saya tidak bisa bergabung dengan kelian hari ini! Tolong, maafkan saya!” ucap Will yang sebenarnya sangat menyayangkan kesempatan yang langka itu.
“Tidak apa-apa! Kita bisa melakukan makan bersama lain kali lagi,” ujar Ayah Alea yang bisa mengerti pekerjaan sibuk calon menantunya itu.
“Sekali lagi maafkan aku!” ucap Will seraya membungkukkan badannya memberi hormat pada orang tua Alea.
“Tidak apa! Pekerjaanmu lebih penting, kita bisa makan bersama kapanpun anda datang!” ujar Ibu Alea yang sebenarnya tidak rela membiarkan calon menantunya yang tampan itu membatalkan keikutsertaannya.
“Hay, Will! Sedang apa kau disana? Ayo, cepat kita harus pergi sekarang!”
Levi kembali berteriak karena Will terlalu lama membuatnya menunggu, tentu saja menurutnya sendiri.
“Astaga, bocah sialan itu!” gumam Will sembari menahan kekesalannya.
“Kalau begitu saya pamit dulu, Om, Tante dan Alea!” ucap Will, yang kemudian berjalan meninggalkan Alea dan keluarganya menuju kearah Levi dengan perasaan yang teramat kesal.
Sesampainya didekat Levi, Will pun langsung saja mengunci leher Levi dengan kuat sembari berkata “Dasar kau bocah sialan! Mengacau saja kerjaannya!”
“Auwh,… Auwhh,… Sakit sialan! Cepat lepaskan!” seru Levi yang berusaha melepaskan diri dari kuncian leher yang dilakukan oleh Will.
__ADS_1
“Aku lepaskan kau kali ini! Awas saja kalau kau mengacau lagi.”
Will pun dengan terpaksa melepaskan Levi yang telah mengacaukan kesempatannya untuk lebih bisa dekat dengan Alea.
“Jangan salahkan aku ‘dong! Ini ‘kan perintah Tuan yang menyuruh kita untuk berkumpul dimarkas besar!” gerutu Levi sembari sedikit memijat-mijat lehernya yang masih terasa sedikit sakit.
“Ada apa memangnya?” tanya Will yang penasaran dengan alasan pertemuan ini, pikirannya pun sama seperti yang dipikirkan oleh Levi dan Noland sebelumnya.
“Entahlah, kita kan tahu kalau berada disana, bukan? Ayo, kita pergi saja sekarang dan beritahu yang lainnya.” ujar Levi yang langsung saja masuk kedalam mobil, disusul oleh Will yang akan menyetir mobilnya.
Sepanjang jalan Levi mengirim sebuah pesan kepada ssemua anak buahnya yang ada kontak didalam ponselnya, sementara Will masih focus menyetir dan meredakan kekesalannya yang barusan.
Setibanya dimarkas besar, semua anggota klan BlackSky sudah berkumpul disana. Kini hanya tinggal menunggu Rayden datang dan menunggu perintah selanjutnya.
Tak lama kemudian, Rayden pun datang bersama Noland, mereka tentu saja menempatkan penjagaan yang sangat ketat dirumah sakit sebelum meninggalkan Zhia dan yang lainnya disana.
“Selamat datang, Tuan Muda! Selamat datang, Tuan besar!”
Semua anggota klan BlackSky segera membungkuk hormat untuk menyambut Rayden dan juga Noland, sang mantan ketua klan dan juga ketua klan yang sekarang.
Rayden hanya menggerakkan tangannya sedikit tapi sudah bisa membuat anggota klan langsung berdiri dan berbaris dengan sangat rapi didepannya, termasuk Will dan Levi tentunya.
“Will! Levi, kalian berdua berdirilah disampingku!”
Perintah Rayden pada dua orang kepercayaannya itu.
“Baik, Tuan!’ sahut Will dan Levi yang segera pindah tempat dan posisi.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Terima kasih All!😙😘😚
__ADS_1