
Setelah kepergian Luca dan Lucia, Evan pun berbincang dengan Noland mengenai proyek IT mereka.
Ini merupakan kesalahan terbesar Evan, karena mebiarkan si kembar yang genius dan malah mengawasi orang yang tidak mempunyai niat apapun kecuali menemani si kembar berkun jung ke rumahnya.
“Rumahmu cukup mewah juga!” ujar Julia yang mengamati setiap sudut rumah itu dengan seksama.
“Tentu saja sangat mewah, sayang! Tuan Evan ini ‘kan merupakan seorang Ceo hebat Qhelfin Group, perusahaan IT terbesar di negara B yang bisa dikatakan sebagai saingan bisnis terbesar Cano! Tapi syukurlah, dia malah memutuskan untuk bekerjasama dari pada bersaing dengan kita. Bukan begitu, Tuan Evan?” sahut Noland seakan sedang menyelidiki Evan melalui raut wajah yang ditunjukan oleh Evan.
“Tuan, bisa saja! Jika dibandingkan dengan perusahaan milik keluarga Xavier, perusahaan yang saya pimpin ini tidaklah ada apa-apanya!”
Tentu saja, Evan tidak akan mudah terpancing dengan perkataan Noland.
Disaat itu juga, Will mendapat panggilan masuk yang berasal dari Levi.
Will pun segera meminta ijin pada Tuan dan Nyonya besarnya untuk mengangkat panggilan masuk itu dan bergegas mencari tempat yang aman untuk berbicara.
“Maaf, Tuan besar! Saya minta ijin untuk mengangkat panggilan ini!” pinta Will yang berbisik pada Noland.
“Hmmm,….Pergilah!” sahut Noland yang mengijinkan.
Melihat hal itu, Evan pun memberi isyarat pada beberapa anak buahnya yang berjaga disana untuk mengawasi Will dari kejauhan.
Karena Evan sedikit merasa curiga bahwa Will akan menyelinap masuk kedalam rumahnya untuk mencari informasi.
Sebenarnya suasana disana sangatlah tegang.
Disatu sisi Noland dan Julia takut bahwa Evan menrencanakan sesuatu yang akan membahayakan mereka semua, karena mereka sedang berada didalam wilayah kekuasaan Evan.
Disisi lain, Evan yang merasa cemas karena bisa jadi kunjungan keluarga Xavier ini bertujuan untuk mencuri informasi didalam rumahnya.
Oleh karena itu, Evan sudah menyiapkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi setiap gerak gerik mereka.
...****************...
Sementara Luca dan Lucia sedang melancarkan aksi mereka. Luca memberikan flashdisk yang berisikan virus buatannya kepada Lucia yang akan menyelinap terlebih dahulu keruang kerja Evan dan memasangkannya pada komputer Evan yang ada disana.
Sedangkan Luca akan berjaga didekat toilet seakan sedang menunggu Lucia, padahal dia bertugas untuk mengalihkan para pelayan Evan dan menjaga keamanan Lucia.
“Luci, pasangkan ini pada komputer paman Evan!” bisik Luca yang memberikan flashdisknya pada Lucia.
“Baik, kak!” sahut Lucia yang mengambil flashdisk tersebut dan mulai menyelinap masuk keruang kerja Evan.
Benar saja, begitu Lucia berhasil meyelinap keruang kerja Evan.
Seorang pelayan mendatangi Luca dan menanyakan keberadaan Lucia,”Tuan kecil, ada yang bisa kami bantu?”
“Tidak ada, bibi! Luca sedang menunggu Luci yang sedang ada didalam toilet.” sahut Luca yang menunjuk ke arah toilet dengan wajah polosnya seakan Lucia memang benar-benar berada didalamnya.
“Kalau ada sesuatu yang bisa saya bantu, tolong katakana saja pada saya!” ujar pelayan itu lagi.
__ADS_1
“Baiklah, bibi yang baik hati!” sahut Luca yang tersenyum manis dan wajah polosnya.
Sehingga tidak membuat pelayan itu merasa tidak curiga dan langsung pergi meninggalkan dia tanpa ada pengawasan ketat.
Inilah kelebihan dari wajah polos dan menggemaskan Luca dan Lucia, bisa terhindar dari pengawasan karena dianggap sebagai anak kecil yang polos dan tidak mengerti apa-apa.
Didalam ruangan kerja Evan, Lucia langsung saja menyalakan computer yang berada diatas meja kerja.
Setelah komputernya telah menyala, Lucia pun langsung saja memasangkan flashdisk yang diberikan sang kakak padanya.
Saat Lucia berniat untuk langsung kembali, dia tidak sengaja melihat setumpuk dokumen yang terdapat informasi mengenai papahnya dan juga Grandpanya ada juga Will serta Levi.
“Apa ini? Apa paman Evan selama ini menyelidiki tentang grupnya papah atau paman Evan adalah musuh papah?” gumam Lucia yang penasaran dengan semua yang dilihatnya didalam ruangan kerja itu.
“Atau jangan-jangan mimpi buruk Luci bisa saja menjadi nyata! Paman Evan akan membunuh kami dan mamah?”
Lucia pun menjadi semakin penasaran, apakah semua yang dilahat didalam ruangan kerja Evan ada hubungannya dengan mimpi buruk yang beberapa hari ini mengganggu tidurnya.
Lucia memeriksa semua yang ada disana dan betapa terkejutnya dia saat melihat foto Jaydon bersama dengan Evan dan Jayden, sedangkan Lucia tahu bahwa Jaydon merupakan musuh papahnya.
“Paman Evan! Paman Jay, tapi kenapa mereka melakukan semua ini pada kami dan mamah? Luci yakin paman Evan dan paman Jay selama ini tulus pada kami?”
Lucia tidak habis piker lagi dengan ssemua yang terjadi, dia mengembalikan semua dokumen yang diambilnya seperti semula. Karena dia harus segera kembali agar Luca bisa menyelesaikan sisanya.
“Tidak, Luci harus segera kembali! Nanti saja, Luci akan membahasnya dengan kak Luca!”
Setelah mengembalikan semua dokumen itu ketempatnya, Lucia pun segera meninggalkan ruang kerja itu dan membiarkan flashdisk itu untuk sementara. Karena setelah ini Luca yang akan melakukan aksinya.
“Kak Luca!” bisik Lucia begitu berada tepat dibelakang sang kakak.
“Luci, kau dari mana saja? Kenapa lama sekali?” ujar Luca dengan berbisik agar tidak diperhatiakan lagi oleh pelayang yang tadi.
“Hehehee,…Maaf, kak! Nanti Luci ceritakan saat kita sudah dirumah saja! Sekarang giliran kakak sana!” ujar Lucia yang malah tersenyum melihat Luca yang cemas dengan dirinya.
“Ya sudah, kau tunggu disini sampai kakak kembali!” ujar Luca pada Lucia.
“Siap, kak!” sahut Lucia.
Setelah itu giliran Luca yang menyelinap masuk kedalam ruang kerja Evan, tugasnya hanya mengambil flashdisk yang tadi dipasangkan oleh Lucia pada computer Evan dan menghapus rekaman cctv yang terdapat gambar mereka.
Selesai dengan tugasnya, sebenarnya Luca juga tertarik dengan setumpuk dokumen seperti yang dialami oleh Lucia.
Tapi Luca sadar bahwa mereka sudah terlalu lama mereka ijin untuk pergi ketoilet, dari pada membuat Evan dan yang lainnya curiga lebih baik dia pergi secepatnya dari dalam ruangan itu.
Karena Luca sudah berhasil dengan rencananya, dia tidak perlu berlama-lama diruangan itu.
Karena setelah ini, Luca akan dengan mudah meretas semua data yang disimpan didalam komputer Evan yang artinya dia akan menemukan semua kebenaran mengenai paman Evan dan Paman Jay nya itu.
“Luci!” seru Luca yang sudah berdiri dibelakang adiknya.
__ADS_1
“Bagaimana, Kak? Sudah selesai?” ujar Lucia yang btampak bersemangat.
“Sudah, Ayo kita kembali ke Grandma sekarang!” ujar Luca yang mengajak Lucia untuk segera kembali.
Disisi lain, Will tengah membicarakan sesuatu yang sangat penting dengan Levi yang pasti sedang di awasi juga oleh anak buah Evan disana.
“Hay, ada apa?” tanya Will begitu mengangkat panggilan telepon dari Levi.
“Kudengar kau sudah kembali! Datanglah kemarkas besar, aku membutuhkan bantuanmu. Kalau bisa bawaTuan besar sekalian bersamamu!” seru Levi tanpa berbasa-basi bahkan suaranya sangat keras sampai membuat pendengaran Will berdengung.
“Aishh,….Bisakah kau bicara dengan pelan-pelan! Gendang telingaku hampir pecah karena suaramu itu!” Will pun berteriak balik pada Levi.
“Heheee,..Maaf, soalnya aku sedikit terdesak disini! Pengganti si baygon itu, ternyata lebih licik dan ahli daripada yang aku bayangkan. Bisakah kalian datang kemarkas ada sesuatu yang ingin aku bicarakan, ini sangat penting!” ujar Levi sedikit merendahkan suaranya agar tidak kena omel dari Will lagi.
“Aku akan bicarakan pada Tuan besar terlebih dahulu, nanti aku hubungi lagi!” ujar Will yang meminta Levi untuk menunggu kabar darinya lagi.
“Kenapa tidak sekarang saja? Bukankah kau sekarang sedang bersama dengan Tuan besar?” ujar Levi yang tidak sabaran.
“Tidak bisa, saat ini kami sedang berada didalam rumah Evan! Sekarang saja aku sedang diawasi oleh pengawalnya, dia sepertinya sedang menyembunyikan sesuatu!” ujar Will dengan berbisik agar tidak kedengaran oleh orang lainbhakan sampai Levi pun samar-samar mendengarnya.
“Hah? Kau bilang apa?” seru Levi dengan polosnya.
“Iisshh,…Telingamu ditaruh dimana ‘sih?” Will berbalik berseru pada Levi dengan kesalnya.
“Paman Will!”
“Astaga Naga!!”
Sebuah suara mengagetkan Will hingga membuatnya terkejut dan ternyata suara itu berasal dari Luca dan Lucia yang baru saja keluar dari dalam rumah Evan.
Bersambung.......
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
__ADS_1
Terima kasih All!😙😘😚