Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Menghancurkan Markas Musuh


__ADS_3

“Levi beserta pasukannya sudah berada diposisi dan siap menyerang kapan saja, Tuan!”


Will juga melaporkannya, karena dia sempat membaca pesan yang dikirimkan oleh Levi saat sedang diperjalanan tadi.


“Bagus! Hancurkan semuanya tanpa tersisa sedikitpun. Aku ingin melihat, apakah orang itu akan muncul setelah aku menghancurkan markasnya.” ujar Rayden yang saat ini lebih terlihat seperti iblis dibandikan dengan manusia.


“Baik, Tuan! Akan saya sampaikan pada Levi.” Sahut Will yang mengetahui Tuannya sedang marah besar.


“Will!” Rayden kembali memanggil nama Will dengan nada dinginnya, firasat Will pun seketika berubah menjadi tidak enak.


“Iya, Tuan!” sahut Will dengan cepat.


“Temukan Grace secepatnya! Aku ingin kau membawanya hidup-hidup ataupun hanya mayatnya saja kehadapanku! Dan juga buat keluarga Adenthe bangkrut dalam semalam, aku ingin besok pagi harus sudah ada berita tentang kehancuran keluarga Adenthe.”


Akhirnya, Rayden memutuskan untuk bersikap tegas untuk menangani wanita yang berstatus sebagai mantan tunangannya itu.


Kesalahan satu orang, berarti kesalahan keluarganya juga. Karena tidak bisa mendidik anggota keluarganya dengan baik.


“Bagus, Cano! Itulah balasan yang sepadan untuk orang-orang serakah seperti keluarga Adenthe.” sahut Noland yang sangat menyetujui rencana dari putranya itu bahkan kalau perlu bantai saja seluruh keluarga Adenthe agar tidak ada garis keturunan yang akan mewarisi sifat serakah mereka itu.


“Tuan, kenapa tugas ini harus diserahkan padaku juga? Pekerjaanku sudah sangat menumpuk, tidak bisakah anda menyuruh orang lain saja?” ujar Will dengan tampang memelasnya , berharap Tuannya akan sedikit mempertimbangkan permintaannya itu.


“William Coopers, apa kau sudah mulai melawan perintahku sekarang!” ujar Rayden dengan melontarkan tatapan membunuhnya pada Will. Tentu saja, hal itu membuat nyali Will langsung menciut.


“Tidak, Tuan! Akan saya laksanakan perintah anda malam ini juga.”


Will pun segera meralat perkataannya yang sebelumnya, saat ini menyelamatkan nyawanya sendiri lebih penting dibandingkan dengan tugasnya yang sudah setinggi gunung Himalaya.


“Bagus! Kau boleh pergi sekarang.” ujar Rayden lagi yang terdengar seperti sedang mengusir Will setelah tidak dibutuhkan lagi.


“Baik, Tuan! Saya permisi sekarang.”


Will segera pamit mengundurkan untuk pergi dari ruang kerja itu, sebelum Tuannya menabahkan tugas lagi padanya.


Rayden pun menanggapinya dengan jentikan jarinya saja yang menyuruh Will untuk segera pergi dan melakukan tugasnya.


Will pun akhirnya sudah keluar dari sarang singa dan anaknya itu, dia langsung saja menggerutu dengan nada kesalnya “Aishh,…Sial sekali nasibku ini! Datang berharap mendapat pujian, malah pulang membawa tugas yang menumpuk! Terpaksa, begadang lagi! Begadang lagi! Kapan ‘yah aku punya waktu untuk mencari belahan jiwaku?”


Sakit tapi tidak berdarah, menangis tapi tidak mengeluarkan airmata. Itulah yang dirasakan Will pada saat itu, terbesit sebuah rasa iri kepada Levi yang hanya mendapat tugas untuk memusnahkan musuh saja dan menjadi pegawal dari si kembar.


Setelah itu, Will pun langsung pergi melakukan tugasnya. Meskipun kadang mengeluh, pada akhirnya Will akan menyelesaikan tugas yang diberikan Rayden dengan sempurna.


Sementara, Noland dan Rayden masih berada diruang kerja itu. Selepas kepergian Will tampak jelas diwajah Rayden bahwa dia sedang mempunyai banyak pikiran saat ini.


“Ada apa, Cano?” tanya Noland yang mengetahui bahwa putra itu sedang menghadapi banyak masalah.


“Ini tentang si kembar, Pah!” sahut Rayden yang ingin sedikit membagi bebannya kepada papahnya.


“Papah tahu! Menurut papah, biarkan saja mereka bergabung dalam klan,_...”


“Tapi, Pah!” sahut Rayden yang memotong perkataan Noland yang belum selesai itu.

__ADS_1


“Hanya untuk sementara waktu, Cano! Jika mereka menjelang remaja kita kirimkan saja mereka bersekolah diluar negeri. Pada saat itu, papah yakin mereka pasti akan menemukan sesuatu yang akan mereka sukai.” ujar Noland yang melanjutkan perkataannya.


Rayden pun terdiam memikirkan perkataan dari papahnya itu yang memang ada benarnya juga.


Disisi lain, Rayden juga takut Lucia tidak mau melepaskan keinginannya dalam bidang seni bela diri dan malah terjun kedunia mafia.


“Kau tenang saja! Papah yang akan mengurus mereka dengan baik, kau focus saja menyingkirkan para musuhmu yang sedang menargetkan Zhia dan juga si kembar.” Lanjut Noland yang menepuk bahu Rayden seolah sedang memberi sebuah semangat kepada putra satu-satunya itu.


Rayden pun hanya diam tak membantahnya lagi yang berarti dia menyetujui saran dari papahnya itu.


Setelah itu, Noland pun keluar dari ruang kerja Rayden dan kembali kekamar utama untuk melihat keadaan Zhia lagi.


Tak lama, kemudian Rayden pun juga keluar dari ruang kerja dan berjalan menemui istri beserta anak kembarnya yang berada dikamar utama.


...****************...


10.55 pm, Markas Klan Tiger Dark.


Levi telah mengerahkan semua pasukannya untuk mengepung sebuah gudang tua yang menjadi markas dari klan musuhnya. Dan tentunya mereka semua telah dilengkapi dengan senjata dan alat perlidungan masing-masing.


Markas klan Tiger Dark terdapat didalam hutan, jaraknya sangat jauh dari pemukiman warga.


Sehingga suara tembakkan ataupun ledakan hanya akan terdengar sebagai suara guntur saja oleh para warga disana.


Levi membagi anggotanya menjadi 4 pasukan yaitu pasukan pertama sebagai umpan, pasukan kedua sebagai pelindung umpan, pasukan ketiga sebagai pasukan pendukung dan pasukan keempat sebagai pengintai yang akan memberitahu mereka setiap gerak gerik lawannya.


Dan Levi tentu saja berada dipasukan pertama.


Pasukan pengintai telah siap memberi komando melalui earphone kecil yang dipasang pada telinga mereka.


“Jalan lurus, arah jarum jam pukul 1 ada sepuluh tikus yang sedang berjaga! Operasi dimulai!”


Salah satu anggota pasukan pengintai menginformasikan mengenai koordinat keberadaan musuh, sehingga membuat pasukan pertama bisa melakukan langkah pasti untuk menyerangnya.


Levi pun kembali memberikan isyarat melalui tangannya, pasukan pertama mengangguk menandakan mereka mengerti.


Dengan langkah kaki yang cepat pasukan pertama segera menerobos masuk kedalam markas musuh.


Doorr,…… Doorr,…… Doorr,…… Doorr,…… Doorr,……


Suara tembakan menandakan peperangan dimulai. Levi berhasil membunuh lima musuh sekaligus, sementara sisanya sudah dibereskan oleh anggotanya yang lain.


Akan tetapi, suara tembakan itu membuat anggota musuh yang lain langsung berlarian keluar untuk menghadang jalan mereka.


Doorr,…… Doorr,…… Duarrr,…….Booom,………..


Suara tembakan, ledakan dan juga teriakan orang-orang yang terkena peluru panas terus terdengar disana. Bau anyir darah segar juga mulai tercium, banyak mayat bergelimpangan ditempat.


Levi memberikan isyarat kepada pasukan kedua untuk maju, pertarungan pun semakin sengit. Semua pasukan telah Levi kerahkan, sekarang mereka sudah terbagi menjadi empat penjuru dan para pengintai pun telah bersiap diposisinya masing-masing.


Dengan adanya arahan dari pasukan pengintai, ketiga pasukan yang lainnya pun memusnahkan para musuhnya dengan mudah bahkan korban dari pihak mereka terhitung hanya beberapa orang saja.

__ADS_1


Akan tetapi, Levi merasa sangat aneh dengan keadaan ini.


Levi merasa kalau pihak lawan sepertinya sudah mengetahui bahwa markasnya akan diserang, sehingga hanya ada sekitar 100 orang saja yang menjaga markas itu.


Dalam waktu beberapa jam saja, pasukan Levi sudah berhasil membunuh semua musuh yang berada disana dan menguasai markas.


Setelah memastikan sudah tidak ada musuh yang tersisa didalam sana, Levi lalu menyuruh pasukannya untuk menempatkan mayat para anggota klan musuh dalam satu ruangan.


Karena dia akan membakar semua mayat itu, beserta gedungnya sekalian tanpa sisa.


Sementara Levi dan dibantu beberapa orang mencari data yang bisa memberikan mereka petunjuk mengenai siapa identitas ketua klan Tiger Dark yang baru sekarang.


Namun, setelah cukup lama mencari tidak ada satu pun data yang berhasil Levi dan anak buahnya temukan.


“Bagaimana kalian sudah menemukannya?” tanya Levi pada anak buahnya yang lain.


Tetapi mereka semua langsung menggelengkan kepalanya dengan wajah penuh kekecewaan.


“Haaah,…. Ya sudah! Kalian bereskan saja semua ini! Bakar semua mayat ini beserta bangunannya.”


Perintah Levi yang menghela nafasnya dengan berat, usahanya ternyata harus berakhir sia-sia.


“Baik, Tuan!” sahut salah satu anak buahnya yang sudah bersedia menyalakan korek apinya.


“Tunggu dulu!”


Namun, saat Levi hendak berbalik untuk meninggalkan tempat itu. Levi melihat sebuat Flashdisk yang keluar dari kantong celana salah satu dari mayat musuhnya itu.


Levi pun langsung mengambilnya dan mencoba membukanya disalah satu computer yang berada disana tapi sayangnya semua folder dipasang dengan kata sandi dan itu meretas bukanlah keahliannya.


Bersambung.........................


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2