Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
LUCA & LUCIA


__ADS_3

Matahari pagi yang menyelinap masuk lewat celah tirai menyilaukan manik mata Disya. Gadis itu mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan cahaya yang menerpa wajahnya, sebelum akhirnya kesadarannya mengumpul di dunia nyata.


Mata Disya hampir meloncat dari tempatnya saat kesadarannya sudah kembali. Matanya liar menyapu keseluruh ruangan dan itu bukan kamarnya.


"Hah! Apa yang terjadi!" gumam Disya dalam hati. Jantung gadis itu memompa dengan cepat begitu menyadari tubuhnya hanya berbalut selimut tebal yang membingkai ranjang besar.


Ia terpekik syok begitu meraba tubuhnya sendiri tidak ada sehelai benang pun yang menempel di tubuhnya dari balik selimut. Tubuh naked-nya langsung merinding mengingat kejadian semalam.


Tubuh gadis itu tiba-tiba gemetar setelah melihat seorang pria bertubuh kekar sedang terlelap damai tidur di sampingnya dengan bertelanjang dada.


"Oh, Shitt! Apa yang sudah aku lakukan," jerit Disya dalam hati. Disya menarik rambutnya frustrasi. Manik matanya memindai lantai yang berserakan bajunya dan baju pria asing itu.


Dengan hati-hati Disya menyibak selimutnya lalu turun dari ranjang. Disya meringis saat membungkuk, dengan perlahan ia merapalkan doa agar pergerakannya tidak sampai menyebabkan pria itu terbangun.


Disya memungut pakaiannya yang berserakan di atas lantai kemudian segera memakainya.


"Aawww ...." desis perempuan itu ketika merasakan sakit yang luar biasa di bawah perutnya, lebih tepatnya di bagian intinya. Gadis itu menghembuskan napas panjang sambil berjalan perlahan.


Mata gadis itu meneliti mencari sling bag yang semalam ia bawa. Saat hendak mengambil tas tersebut tiba-tiba handphone Disya bergetar, membuat gadis itu panik dan segera merogoh tasnya. Namun, karena termor panik membuat ia kesulitan akhirnya untuk menghemat waktu Disya langsung memuntahkan isi tasnya.


Layar ponselnya berkerlip menampilkan id caller Ocha salah satu sahabatnya. Disya langsung menekan tombol merah untuk menolak panggilan dan mematikan ponselnya. Pikirannya ambyar, satu hal yang pertama ia ingin lakukan adalah segera keluar dari ruangan itu yang entah rumah siapa.


Disya menghentikan langkahnya kembali ketika mendapati bajunya robek dan tak nampak layak dipakai. Ia pun membuka kembali bajunya dan segera menuju lemari pria itu untuk mengambil salah satu kemeja yang bisa dikenakan.


Pandangan Disya jatuh pada kemeja putih yang terlihat kebesaran pada tubuhnya. Namun, ia tak peduli tidak ada waktu baginya untuk memilih pakaian untuk saat ini.


Disya melirik sekilas pria yang masih terlelap itu, kemudian mengambil gambarnya dengan ponsel miliknya. Disya berharap tidak berbuntut panjang dan tidak akan pernah bertemu dengan pria itu lagi.


Disya hanya butuh menghafalkan wajahnya lebih detail barang sejenak, seandainya Disya tidak sengaja bertemu di suatu tempat atau mana pun, gadis itu bisa waspada dan menghindarinya. Disya berharap ini adalah yang pertama dan yang terakhir dirinya bertemu dengan pria itu yang entah siapa namanya.


Gadis itu berjalan tertatih keluar dari apartemen kemudian menuju apartemen milik kakaknya yang terletak tidak terlalu jauh. Disya baru menyadari karena pengaruh alkohol ia salah masuk apartemen orang lain.


Kejadian naas itu berawal dari dirinya yang menuju klub bersama teman-temannya karena sebuah undangan ulang tahun. Siang itu setelah kelas usai, Amel salah satu teman sekelas Disya mengumumkan bahwa dirinya sedang ulang tahun dan mengadakan pesta di sebuah klub dengan satu kelas mendapatkan undangan tersebut tanpa terkecuali Disya.


Disya baru pertama masuk ke klub apalagi minum alkoholnya, itu jelas di luar jangkauannya. Namun, karena keberangkatannya ramai-ramai membuat gadis itu mengiyakan untuk ikut.


"Sya, nanti lo ikut, 'kan?" tanya Hanum memastikan.


"Nggak tahu, males gue datang ke tempat gituan. Tapi kalau nggak datang nggak enak sama Amel," jawabnya diplomatis.


"Ya udahlah berangkat aja, have fun bareng juga rame," ucap Sinta teman sekelas mereka yang paling gaje.


"Kuy lah ikut, gue juga penasaran pestanya bakalan heboh kaya apa," timpal Bila.


"Gue izin doi dulu deh biar mantep," ujar Disya mantap.


"Uluh gaya lo sok patuh," cibir Ocha.


"Harus dong, kan gue calon istri solehah," jawabnya bangga.


"Sombong amad."


Tepat pukul tujuh Disya berangkat dari rumah setelah mendapat izin dari Rayyan. Rayyan adalah pacar Disya, dia seorang Dokter. Mereka pacaran sejak di bangku kuliah. Rayyan kakak tingkat yang jatuh cinta pada adik kelasnya sejak maba dengan dirinya yang menjadi cofas dalam ospek dulu. Rayyan tidak bisa mengantar karena ia ada tugas piket malam.


"Ma berangkat ya?" pamit Disya pada Mama Amy.


"Siap Ma." Disya hanya pamit untuk menghadiri ke acara ulang tahun temannya tanpa mengetahui bertempat di sebuah klub.


Disya berangkat bareng teman-temannya satu cs, mereka terbagi beberapa kelompok. Ada yang mengikuti mobil Alan ada juga mobil Bisma, sedang Faro membawa motor sendiri. Bagi cewe-cewe cukup numpang dan duduk manis.


Sesampainya di sebuah klub suasana sudah ramai. Klub di sini terkesan mewah dan tidak seperti diskotik pada umumnya, mungkin karena sebagiannya didekor untuk acara ulang tahun Amel jadi kesannya berbeda.


Rayyan sendiri mengijinkan ia pergi bersama teman-temanya karena ia tahu, Disya berangkat dengan sahabat-sahabatnya yang Rayyan sendiri sudah hafal.


"Eh ucapin selamat dulu yok buat Amel," ucap Sinta menginterupsi.


Mereka kompak menuju Amel yang sedang dikerubuti teman-teman yang menghadiri pestanya. Satu kata, ramai entah dari kalangan mana saja yang hadir, tetapi yang jelas mewah dan bertema anak muda banget.


"Selamat ulang tahun Amel," ucap Disya yang diikuti teman-teman yang lainya.

__ADS_1


"Thanks ya udah hadir, silahkan have fun. Santai saja nikmati pestanya," seloroh Amel senang.


Setelah acara tiup lilin dan potong kue, semua yang hadir bebas menikmati hidangan yang disuguhkan pihak tuan rumah. Mereka pun mulai membagi kelompok dengan mencari keasyikan masing-masing.


Kebetulan Disya cs memilih permainan dare or truth. Bagi siapa yang tidak bisa menjawab jujur maka ia akan diberikan tantangan oleh teman-temannya.


Faro mulai memutar botol bekas di meja bar dan ... botol pertama mengarah pada Sinta.


"Yeah Sinta, dare or truth?" koor mereka kompak.


"Truth dong?" jawab Sinta percaya dirinya.


"Kapan kamu melakukan ML saat pertama?" tanya Bisma tanpa filter.


"Gila pertanyaan lo, gue masih ting-ting kali!" jawab Sinta ngegas.


"Pengen tahu aja, siapa tahu lo bohong. Bisa dibuktikan nggak nih kebenarannya?"


"Lo mau coba?" tantang Sinta berani.


"Boleh kalau ditawari," jawab Bisma berbinar


"Halalin gue dulu baru buka-bukaan." Seketika pecah dengan gelak tawa dan keriuhan.


"Oke lagi." Botol diputar oleh Bisma dan kali ini mengarah pada Faro.


"Yeach ... Faro. Dare or Truth?" tanya mereka kompak.


"Sudah berapa kali lo kencan buta sama cewek?" tanya Bisma, seketika Faro terlihat berpikir.


"Mam pus lo!" sarkas Alan.


"Nggak tahu jawabannya, oke Faro tantangan ya?"


"Oke lah siap!" Faro ditantang minum alkohol berkadar rendah satu gelas.


"Kecil ini mah," jawab Faro enteng. Bagi Faro enteng jangankan satu gelas sepuluh gelas mungkin Faro sanggup.


7 TAHUN KEMUDIAN, International Airport negara A. Di terminal kedatangan terlihat seorang wanita cantik dan juga seksi sedang menarik kopernya yang besar.


Tak jauh dari wanita itu, ada anak kembar yang sangat cantik dan tampan yang baru berusia sekitar 6 Tahunan.


Yah, wanita itu adalah Arzhia Maverick dan juga anak kembarnya yang bernama Luca dan Lucia.


Ternyata kejadian malam itu membuat Zhia hamil sepasang anak kembar yang memiliki IQ yang sangat tinggi.


Zhia Kembali kenegara A sebagai perwakilan dari Qhelfin Group untuk memenangkan proyek terbesar IT didunia yang di adakan oleh BLOUSHZE Group.


Posisi yang Zhia dapatkan sampai saat ini, tak lain merupakan kerja keras dari putra Luca yang mengusai dunia IT melebihi kecerdasan diatas rata-rata yang dimiliki orang dewasa pada umumnya.


“Mah, apakah kita akan tinggal lama disini?” tanya Luca pada mamahnya.


“Kenapa? Apa kau sudah merindukan rumah sekarang?” tanya Zhia pada putranya itu.


“Tidak, sepertinya aku akan betah tinggal disini!” ujar Luca dengan senyum manisnya.


“Aku juga, mah!” sahut Lucia dengan cepat.


“Syukurlah, kalau kalian bisa betah disini. Mamah janji akan segera menyelesaikan pekerjaan yang disini agar kita bisa cepat pulang kerumah.” Janji Zhia yang ternyata tidak dipedulikan oleh anak kembarnya.


“Santai saja, mah! Kami lebih suka disini ‘kok!” ujar Lucia yang melihat kesekelilingnya dengan penuh antusias.


“Baiklah, besok mamah akan mendaftarkan kalian berdua kesekolah yang baru. Jadi ingat, jangan buat masalah disekolahan. Kalian berdua mengerti terutama Lucia?” ujar Zhia dengan penuh penegasan dan penekanan.


“Iya, Mah! Luca mengerti!” sahut Luca dengan malas.


“Akan Luci usahakan, Mah!” sahut Lucia dengan wajah cemberutnya yang terlihat sangat menggemaskan.


“Ayo, masuk mobil. Kita harus memeriksa rumah baru sekarang.” Ujar Zhia yang memang sudah meminta sebuah mobil dan juga rumah sebelum menyetujui tugas ini.

__ADS_1


Luca Maverick, Genius IT yang baru berusia 6 tahun. Wajahnya sangat tampan sangat mirip seperti ayahnya, layaknya Rayden versi kecil.


Luca mempunyai kemampuan IT yang sangat tinggi sehingga dapat mencuri data dari Nasa dan juga PBB, dia bahkan pernah menghack sebuah akun milik pemerintahan yang melakukan korupsi dan setelah ini dia menyebarkan semua buktinya kemasyarakat.


Sehingga membuat suasana didaerah itu menjadi kacau karena ulahnya. Beruntung Luca memang anak genius, dia langsung menghapus semua bukti perbuatannya dengan cepat.


Sehingga dia bisa dengan mudah keluar dari kejaran polisi yang mengincarnya, tapi sebagai hukuman dia disuruh membersihkan rumah selama satu tahun oleh mamahnya. Kemampuannya dalam bidang IT juga kerena diturunkan dari sang ayah.


Lucia Maverick, adik kembar dari Luca Maverick. Mereka hanya beda 15 menit saja saat dilahirkan, wajahnya sama persis dengan Luca meskipun begitu dia gadis kecil yang cantik dan manis layaknya Rayden versi perempuan.


Lucia sudah menguasai berbagai jenis seni bela diri semenjak usianya baru menginjak 3 tahun.


Lucia bahkan mampu menghabisi tujuh orang perampok sekaligus seorang diri tanpa bantuan siapapun, ketika sedang menginap dirumah temannya.


Lucia akan berdiri dibarisan paling depan saat ada orang yang ingin menyakiti mamah dan kakak kembarnya. Dan lagi-lagi gen ini diturunkan dari sang ayah yang merupakan ketua geng mafia.


Sesampainya dirumah, Zhia sedikit kecewa karena rumahnya sangat kecil dibandingkan dengan yang dijanjikan oleh atasan. Zhia pun langsung mencari keberadaan ponselnya didalam tasnya.


“Sial, apa-apaan ini! Kenapa rumahnya kecil sekali, aku harus bicara dengan Jay sekarang.” Ujar Zhia yang mencari nomor orang bertanggung jawab mengenai tempat tinggalnya itu.


“Mah, perlukah aku membantumu?” tanya Luca yang manawarkan bantuan pada mamahnya.


“Kalian tunggulah didalam saja, mamah akan menelpon kantor dulu!” Lanjut Zhia yang langsung keluar begitu orang yang ditelepon mengangkatnya.


Aksi salin cek cok melalui panggilan telepon pun tidak dapat terelakkan, apalagi Zhia dan Jay dikenal sebagai musuh bebuyutan di perusahaan mereka.


Lucia yang melihat mamahnya merasa frustasi karena ditipu oleh teman sekantornya sendiri, memunculkan sebuah ide didalam otak kecilnya.


“Kak, lebih baik kau bantu mamah ‘deh!” ujar Lucia pada Luca yang tengah asyik sendiri dengan laptopnya.


“Kenapa? Mamah ‘kan udah bilang tidak membutuhkan bantuanku.”


Luca yang tidak ingin ikut campur dengan urusan mamahnya pun lebih memilih mencari kesibukkannya sendiri.


“Kak bantu mamah pindah dari tempat ini, nanti aku kasih tahu siapa papah kita sebenarnya.” Ujar Lucia yang membuat Luca menjadi penasaran dibuatnya.


“Memangnya kau tahu siapa papah kita? Aku bahkan merasa yakin kalau mamah saja tidak mengetahui siapa ayah kita yang sebenarnya!”


Luca mengatakannya dengan sangat logis membuat Lucia menjadi sedikit down untuk melanjutkan penyelidikkannya.


“Aku tahu ‘kok!” ujar Lucia dengan wajah cemberutnya.


“Bilang saja kamu tidak mau tinggal dirumah kecil ini, bukan? Harusnya kamu bilang saja nanti kakak pasti akan langsung membantumu.”


Jelas Luca yang bersiap merentas situs resmi milik perusahaan mamahnya dan mengirimkan sedikit virus yang membuat sistemnya menjadi erros seketika.


“Woahh, kak Luca memang sangat keren.” Puji Lucia yang takjub dengan kepintarann kakaknya itu.


“Iya, keren tapi setelah ini mamah pasti akan menghukumku.” Gerutu Luca yang tak bisa berkutik jika dihadapkan dengan mamah dan adiknya yang sangat bertolak belakang itu.


“Untung aku hanya mengirim sedikit virus untuk mengancam mereka.” Sambung Luca yang masih focus menatap layer laptopnya.


“Kak, lihatlah ini!” Lucia pun menunjukkan sebuah foto seorang pria yang berada dilayar ponselnya.


“Bukankah itu kakak?” sahut Luca dengan santainya.


“Sudah kuduga kalian memang sangat mirip, jika rambutku pendek pun aku juga pasti akan terlihat mirip dengannya?” gumam Lucia yang terus mengamati foto itu dengan seksama.


“Tentu saja mirip, kamu ‘kan memang saudari kembarku!” celetuk Luca yang masih nampak tidak peduli dengan foto yang ditunjukkan oleh adiknya itu.


“Tapi yang difoto ini bukan kamu, kak!” seru Lucia yang membuat Luca langsung membulatkan kedua bola matanya.


“Kalau bukan aku, lalu ini foto siapa?” tanya Luca yang langsung saja merebut ponsel dari tangan adiknya dan Kembali mengamati foto itu dengan seksama.


“Itu adalah foto masa kecil milik Rayden Cano Xavier, Ceo BLOUSHZE Group tempat mamah akan bekerja sekarang.” Jelas Lucia yang mengungkapkan bagaimana cara dia mendapatkan foto itu.


“Benarkah? Tapi kenapa wajahnya sangat mirip denganku?” ujar Luca yang dikepalanya saat ini dipenuhi dengan berbagai pertanyaan.


“Kak, jangan-jangan dia ayah kandung kita!” seru Lucia yang membuat Luca Kembali membulatkan kedua bola matanya.

__ADS_1


Bersambung..........


__ADS_2