
“Haaah,…Baiklah, tapi kita pergi ke prusahan papah kalian dulu untuk menjemput Grandpa agar bisa ikut dengan kita!”
Siapa yang akan bisa menolak permintaan si kembar Luca yang terlihat sangat menggemaskan dengan wajah memelas mereka yang penuh harap.
“Yeay,…Sayang Grandma!” seru Luca dan Lucia yang langsung menghamburkan tubuh mereka memeluk Grandma, karena merasa sangat senang permintaan mereka dikabulkan dengan mudahnya.
Pada akhirnya, rencana awal si kembar berhasil untuk membujuk Grandmanya mengunjungi rumah Evan.
Sekarang tinggal langkah selanjutnya, apakah paman Evannya itu menerima kedatangan mereka atau malah menolaknya karena sedang ada urusan.
Semua akan diputuskan setelah mereka menemui Grandpanya yang sedang menggantikan papah mereka memimpin perusahaan untuk sementara selama Rayden dan Zhia sedang pergi berbulan madu.
Sementara yang terjadi dipulau tempat Rayden dan Zhia berbulan madu tengah terjadi sesuatu yang tidak terduga.
Rayden memang menggunakan segala macam cara dan alasan untuk membuat Zhia tetap berada didalam kamar, tapi Zhia yang keras kepala tentu saja tidak mau menurut begitu saja.
Zhia yang yang sebelumnya sudah dijanjikan oleh Rayden akan berkeliling disekitar pulau itu pun memaksa Rayden untuk tetap keluar dan memenuhi janjinya.
Karena tidak bisa berkata yang sejujurnya pada Zhia dan juga tidak bisa menahannya untuk tetap berada didalam kamar, Rayden pun terpaksa ,mengikuti semua kemauan Zhia.
Saat ini mereka sedang menikmati pemandangan disekitar dengan menggunakan satu sepeda yang sama.
Terlihat Rayden dan Zhia sangat menikmati setiap waktu yang mereka berdua habiskan bersama. Tawa sepasang pengantin baru itu terlihat sangat lepas dan tanpa beban.
Padahal disisi lain, Rayden merasa sangat waspada jikalau ada beberapa musuhnya yang akan menyerang saat dia sedang bersama dengan Zhia seperti sekarang.
Namun, sebisa mungkin dia bersikap seoalah tidak ada yang sedang dia khawatirkan saat bersama dengan Zhia.
“Ray, aku tidak tahu kalau kau bisa juga menaiki sepeda seperti ini?” ujar Zhia yang membuka pembicaraan ditengah perjalanan meraka yang sepertinya masih cukup jauh, karena mereka berdua akan terus bersepeda mengelilingi taman sepuasnya.
“Why? Apa kau pikir aku hanya bisa menaikimu saja? Hahahaa,….” ujar Rayden yang sengaja ingin menggoda istrinya yang tukang ngambek itu.
“Apaan ‘sih, Ray! Bisa tidak isi pikiranmu itu jangan mesum terus?” ketus Zhia dengan raut wajahnya yang sudah terlihat ditekuk.
“Tidak bisa, Zhi! Apalagi kalau berada didekatmu, melihatmu saja otakku sudah traveling kemana-mana, tapi ujungnya diranjang juga ‘sih!” ujar Rayden dengan santainya, dia sebenarnya ingin tertawa lagi melihat raut wajah kesal istrinya itu, tapi sebisa mungkin dia menahannya.
“Kau ini ‘yah,_....”
“Aku kenapa, Zhi? Apa kau tidak menyukai aku yang seperti ini?”
Rayden pun memotong perkataan Zhia dan menghentikan laju sepedanya, menatap kedua bola mata istrinya dengan intens.
Terjadi saling menatap diantara kedua insan yang sedang dilanda mabuk cinta itu, Rayden dengan sabra menunggu jawaban dari Zhia.
Zhia tersenyum, tangannya membelai wajah Rayden dengan lembut sembari berkata “Tidak, Ray! Bagaimana pun dirimu, aku akan selalu mencintaimu! Meskipun kamu bukan yang pertama bertahta didalam hatiku, tapi aku ingin kau menjadi yang terakhir yang mengisi kekosongan didalam hatiku maupun hidupku, selamanya!”
“Aku juga sangat mencintaimu, Zhi! Kamu ‘lah yang pertama dan terakhir yang telah mengisi hati dan hidupku. Jadi, aku harap kau selalu berada disampingku. Siapapun aku dan bagaimanapun hidupku untuk kedepannya.”
__ADS_1
Rayden pun merasa sangat tersentuh dan juga bahagia mendengar pengakuan Zhia yang kini telah mencintainya, tanpa ada keraguan lagi yang terlihat didalam kedua bola matanya. Rayden pun mengecup kening Zhia dengan penuh cinta.
“Kenapa kau bicara seperti itu, Ray? Apa kau sedang menyembunyikan sesuatu dariku selama ini?”
Dengan perkataan Rayden, Zhia pun menyadari kalau ada sesuatu yang sedang mengganggu pikirian suaminya itu.
“Setiap orang pasti mempunyai rahasia, Zhi! Begitu juga dengan diriku, tapi aku belum bisa menceritakan rahasiaku ini padamu sekarang! Dapatkah kau mau mengerti?” ujar Rayden yang tidak membantahnya sedikitpun, tapi juga tidak memberitahu rahasianya pada Zhia.
“Kenapa? Apakah rahasiamu itu akan menyakitiku diriku dan anak-anak?”
Zhia pun semakin dibuat penasaran dengan rahasia yang disimpan suaminya itu.
“Jika rahasiaku akan menyakiti kalian, apakah kau akan membawa anak-anak pergi dari sisiku bersamamu ketempat yang sangat jauh sampai aku tiddak akan menemukan kalian bahkan sampai aku mati?”
Lagi dan lagi, bukannya menjawabnya Rayden malah menanyakan kembali pada Zhia seakan sedang mengalihkan pembicaraan ketitik awal.
“Aku akan menanyakan penjelasan darimu terlebih dahulu, baru setelah itu aku memutuskannya! Menerima rahasiamu atau meninggalkan dirimu, karena setidaknya sekarang aku dan anak kembar kita sangat mempercayamu!”
Terlihat jelas kedua bola mata Rayden bergetar menahan linangan airmata agar tidak terjatuh.
Zhia pun membelai wajah tampan suaminya dengan lembut, Rayden hampir saja menangis dengan perlakuan lembut istrinya.
Meskipun dia sudah mengatakan bahwa dia memiliki sebuah rahasia yang mungkin akan membahayakan Zhia dan kedua anak kembarnya, tapi istrinya itu tidak langsung marah seperti biasanya.
“Kau pasti lelah! Ayo kita istirahat dibangku sana dulu!’ ujar Zhia yang segera mengalihkan pembicaraan sekaligus perhatian Rayden.
Kini Zhia pun telah duduk dibangku taman itu dengan santainya sembari menunggu Rayden selesai meletakkan sepedanya.
“Pemandangan dipulau ini sangat bagus ‘yah, Ray?” ujar Zhia yang tampak menikmati setiap pemandangan yang ada disekitarnya.
“Iya, tapi tidak seindah dirimu, Zhi!” sahut Ryden yang tak melepaskan pandangannya dari Zhia sedikitpun.
“Hahahaa,….Terima kasih atas pujiannya, sayang! Sepertinya dalam semalam aku sudah bisa terbiasa dengan semua kata-kata manismu!”
Zhia tertawa mendengar perkataan manis Rayden, biasanya dia akan merasa malu-malu tapi sepertinya dia cepat beradaptasi dengan Rayden beserta sikap manisnya.
Malah seakan berbalik, Rayden yang merasa malu dan juga terharu karena Zhia menyebutnya sayang.
“Ray, aku haus! Bisakah kau membelikanku minuman?” pinta Zhia dengan sedikit memohon.
“Baiklah, asalkan kau mau berjanji akan memanggilku dengan sebutan ‘Sayang’ terus untuk kedepannya. Bagaimana kau setuju?” ujar Rayden yang ingin menggoda Zhia dengan menggunakan trik lain.
Tapi sayangnya, Zhia tidak bersikap malu-malu lagi seperti sebelumnya, dia malah tersenyum dengan manisnya yang malahan membuat Rayden menjadi salah tingkah begitu melihatnya.
“Suamiku sayang, bisakah kau membelikanku minuman? Istrimu ini sangat kehausan, kumohon!”
Dengan raut wajah memelas yang terlihat sangat menggemaskan, hingga membuat Rayden tak berdaya untuk menolaknya.
__ADS_1
Melihat tingkah Zhia sekarang, mengingatkkan Rayden dengan tingkah kedua anak kembarnya yang sama persis menggemaskan dimatanya.
Rayden pun menciumi wajah Zhia dengan gemasnya seperti dia selalau mencium kedua ank kembarnya dan kemudian berkata “Tunggu disini! Jangan kemana-mana, aku akan segera kembali dengan minuman yang kau minta!”
“Sayang, ice cream juga yang rasa strawberry!” Zhia pun dengan cepat menambah satu lagi pesanannya.
“Baiklah, tunggu disini!” ujar Rayden yang segera berlari mencari toko terdekat yang berada disana.
Rayden bisa meninggalkan Zhia begitu saja, karena dia sudah menempatkan beberapa anak buahnya untuk mengawasi dan melindunginya jika ada bahaya yang mendekat. Benar saja , setelah kepergian Rayden ada seseorang yang dekati Zhia.
Namun, orang itu bukanlah orang yang mencurigakan melainkan seorang anak kecil yang seumuran dengan si kembar yang menghampiri Zhia yang sedang duduk sembari menikmati pemandangan yang ada didepannya.
“Hay, cantik ada apa kesini?” tanya Zhia yang memperlakukan anak kecil itu seperti dia memperlakukan Lucia dengan ramah dan lembut.
Namun, gadis kecil itu tidak mengatakan apapun dan hanya menyerahkan sebuah amplop coklat saja pada Zhia.
“Untukku?”
Zhia mencoba memastikan dan gadis kecil itun pun menganggukkan kepalanya pelan sembari tersenyum.
Setelah Zhia menerimanya, gadis kecil itu pun langsung pergi entah kemana menghilang begitu saja dari baik pepohonan rindang yang ada ditaman itu.
Zhia hanya menatap kepergian gadis kecil itu dengan perasaan heran dan penuh tanya, dia pun beralih menatap sebuah amplop coklat yang sudah berada ditangannya.
“Apa ini?” gumam Zhia sembari membuka amplop yang diberikan gadis kecil itu tanpa berkata apapun.
Bersambung.......
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Terima kasih All!😙😘😚
__ADS_1