
“Ada apalagi, Kak!” tanya Lucia dengan menunjukan wajah polosnya yang penuh tanya.
“Kita tidak bisa masuk begitu saja kesana! Terlalu berbahaya.” ujar Luca yang menyadari bahwa situasi sekarang tidak cocok untuk mereka yang masih kecil.
“Kenapa kakak takut? ‘Kan ada Luci! Luci pasti akan melindungi kakak apapun yang terjadi.” seru Lucia dengan penuh percaya diri akann kemampuan bela dirinya.
“Kakak tahu dan percaya padamu, tetapi llebih baik kita mebnggunakan cara lain untuk masuk kesana. Setidaknya kita bisa menghindari kejadian yang menyulitkan untuk kita nantinya. Biarkan papah dan yang lainnya mengurus itu, kita percayakan pada mereka untuk sekarang. Jika memang diperlukan kita baru ikut campur.”
Luca pun menjelaskan dengan sangat serius kepada Lucia agar adik kembarnya itu dapat mengertidengan maksud dari perkataannya barusan.
Dan benar saja, Lucia langsung mengerti apa yang diinginkan oleh Luca, mereka bisa membantu papahnya dan yang lainnya tanpa harus membebani mereka semua.
“Maksud kakak kita harus masuk secara diam-diam dan terus bersembunyi sembari mengamati keadaannya begitu?” ujar Lucia yang mencoba memastikan, apakah itu yang dimaksud oleh sang kakak.
“Iya, benar! Kita hanya akan membantu papah dan yang lainnya, jika keadaan mereka terdesak saja. Selain itu kita hanya perlu diam dan mengamati, sehingga meraka bisa bertaraung tanpa harus terbebani dengan keberadaan kita berdua disini!”
Luca membenarkan perkataan Lucia, dia juga menekankan pada sang adik kembarnya untuk tidak bertindak gegabah karena itu akan membuat papahnya dan yang lainnya menjadi terbebani jika mereka mereka mengetahu keberadaanya disana.
“Baiklah, Luci akan menurut apa kata kakak saja!”
Lucia pun langsung menyerah, sebenarnya dia juga berpikir bahwa apa yang dikatakan oleh Luca memang benar.
Meskipun dia mempunyai kemampuan bela diri yang sangat mumpuni, tetapi semua itu akan kalah karena fisiknya sebagai seorang anak kecil.
“Kita masuk sekarang!”
Kini Luca yang memimpin jalan, sebisa meungkin dia menghindari adanya kamera pengawas dan juga anak buah Evan yang sedang kewalahan menghadapi serangan anak buah Levi yang tertinggal.
Baru pertama kalinya, Luca dan Lucia melihat banyaknya mayat yang bergelimpangan dengan kedua bola mata mereka sendiri.
Terasa jelas kalau tubuh Luca sudah mulai gemetaran melihatnya, tetapi Lucia langsung menggenggam erat tangan sang kakak.
Memberinya tatapan semangat seolah dia berkata bahwa semuanya akan baik-baik saja dan ada dirinya yang akan menjadi pelindungnya.
Mendapat semangat dari Lucia, Luca pun memantapkan hati dan berusaha mengabaikan semua yang dilihatnya agar bisa melanjutkan perjalanan mereka.
...****************...
Dan kembali pada Will dan Levi yang hampir membalikkan keadaan, sekarang para nak buah Evan yang tersisa tidak terlalu banyak.
Will pun segera menyuruh Levi untuk meninggalkan tempat itu dan mebiarkan dia sendiri beserta pasukannya yang akan mengurus sisanya.
“Lev, pergilah menyusul Tuan saja! Biar aku yang mengurus sisanya yang disini.”
Perintah Will disela pertarungannya yang terlihat sangat sengit, sebab saat ini Will sedang dikeroyok oleh anak buah Evan.
Akan tetapi itu hanya masalah kecil untuk Will dan akan sangat mudah untuk mengawasinya.
“Kau yakin? Tapi aku belum puas menggila disini! Hahahaaa,…” sahut Levi yang terlihat menikmati pertarungannya yang sangat menantang bersama dengan Will.
“Ya, pergilah ssekarang! Aku yakin pasti kau bisa lebih menggila bila menyusul Tuan sekarang! Hehehee,…..”
__ADS_1
Will sudah sama gilanya dengan Levi, bagaimana bisa kedua orang itu masih saja tertawa dan tersenyum ketika sedang dikeroyok oleh beberapa orang sekaligus.
“Kau benar, pasti akan lebih menarik disana! Baiklah, berikan jalan untukku!” ujar Levi yang bersiap meninggalkan tempat pertarungan Will dan pergi sendiri menyusul Tuannya.
“Okay,…” sahut Will singkat, dia pun langsung focus memberi celah untuk Levi agar bisa keluar dari pertarungannya disana.
Kerjasama yang sangat bagus antara Will dan Levi, sehingga memudahkan Levi bisa keluar dari pertarungan dengan ssangat mudah.
Namun tidak jauh dari tempat bertarung Will, Levi sudah dihadang oleh beberapa orang musuhnya.
“Hay, bung! Kau mau kemana? Kenapa kau terlighat tergesa-gesa sekali? Hahahaa,…”
Salah satu anak buah Evan dengan percaya diri menertawakan Levi seakan dia sedang meremahkan kemampuannya, seakan meraka sudah pasti akan menang hanya karena jumlah mereka lebih banyak dan Levi seorang diri menghadapai meraka.
Sejenak Levi hanya diam dan menatap tajam kearah orang-orang itu, detik berikutnya siapa yang dapat menduganya dia akan tertawa terbahak-bahak seperti orang gila.
“Bwuhaahahaa,…Dasar cecunguk kamvret! Matilah kalian semua ditanganku!” ujar Levi yang dengan tatapan membunuhnya yang sangat menyeramkan.
Detik berikutnya, Levi langsung mengeluarkan belati dari balik balik punggungnya dan menyerang para musuh yang ada dihadapannya secara membabi buta.
Levi sang Dewa Kematian kembali menggila, dia menebas leher para musuhnya seakan sedang bekerja di tempat pemotongan ayam.
Asal menebas lehernya yang penting mati, meskipun secara perlahan.
Hanya membutuhkan waktu beberapa menit, Levi sudah bisa mengurus para cecunguk yang mengganggu perjalanannya itu.
Setelah beristirahat beberapa saat, Levi pun melanjutkan perjalanannya menyusul Rayden dan Noland.
Begitu tiba ditempat Rayden dan Noland sedang bertarung, Levi kembali tertawa dengan puasnya.
“Waahhh,….Hahahahaaa,…Tidak sia-sia aku mendengarkan ocehan Will! Ini baru yang dinamakan menggila. Hahahaaa,…” gumam Levi yang terus tertawa karena merasa sangat senang.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Levi pun langsung menggila dan bergabung didalam pertarungan yang sangat seru itu menurutnya. Levi membabat habis semua musuh yang menhalangi jalannya.
Dari awal, Levi sudah mengincar dua orang yang akan menjadi lawannya yaitu antara Jayden yang sedang melawan Noland atau orang berwajah dingin yang sedang melawan Rayden.
Bukan Levi namanya kalau tidak menggila didalam pertarungannya, tanpa diduga dia melihat kesempatan yang sangat langka.
Dengan cepat Levi menggunakan kesempatan itu, dia membokong Jayden yang sedang focus melawan Noland. Levi dengan sengaja melukai kedua lengan Jayden dengan belatinya.
“Oopss,…Maaf! Belatiku lari sendiri, lenganmu tidak apa-apa ‘kan?”
Dengan tampang tidak merasa bersalah, Levi bahkan bersikap sok polos dengan menanyakan keadaan Jayden yang sedang merintih kesakitan sambil memegangi kedua lengannya yang terluka.
“Dasar sialan! Berani kalian berdua mengeroyokku!”
Sudah pasti Jayden akan mengeluarkan kata-kata umpatan pada Levi.
Terlihat jelas dia sangat marah, apalagi melihat tampang Levi yang sok polos seolah dia memang benar-benar tidak sengaja melakukannya.
“Hahahhaaa,…Aku ‘kan sudah meminta maaf padamu tadi! Aku tidak tahu kenapa belatiku ini malah berlari kearahmu.” ujar Levi masih dengan tampang polosnya, dia bahkan masih sempat-sempatnya tertawa seolah tidak berdosa sedikitpun.
__ADS_1
“Hay, bocah gila! Bisakah kau jangan mengganggu pertarunganku dengannya. Karena aku berniat untuk membunuhnya sendiri dengan kedua tanganku ini.”
Noland pun angkat bicara, sebenarnya dia juga merasa kesal dengan perbuatan Levi yang membokong lawannya itu.
Tapi harus bagaimana lagi, Levi memang seperti itu menggila bukan pada tempatnya.
“Okay,…Aku tidak akan mengganggu kalian lagi. Silahkan dilanjutkan! Padahal aku ingin menggila dengannya!” ujar Levi yang harus melepaskan Jayden, karena Tuan besarnya yang memintanya.
“Hay, jika kau ingin menggila! Menggila 'lah dengan bocah yang sedang dilawan Cano saja. Bocah itu sepertinya terus menghalangi Cano untuk menyelamatkan Zhia.”
Noland yang tidak tega melihat Levi merasa kecewa, dia pun menyarankan untuk membantu Rayden saja dibandingkan dirinya.
“Hehehee,…Terima kasih, Tuan besar! Atas pengertiannya.”
Seketika wajahnya langsung terlihat gembira lagi, setelah mendapat ijin dari Tuannya untuk melawan target keduanya.
Dengan santainya Levi bergabung diantara pertarungan Rayden dengan Felix, hingga membuat Felix terkejut dan terpukul untuk mundur beberapa langkah.
“Tuan, pergilah ketempat Nyonya muda berada sekarang! Biar aku yang meberaskan orang ini.” ujar Levi yang menunjukan senyuman puasnya.
“Baiklah, aku percayakan padamu! Berhati-hatilah, dia bukan lawan yang mudah!” sahut Rayden yang mempercayakan Felix pada Levi.
Rayden pun langsung meninggalkan area itu dan tentu saja Felix tidak akan membiarkannya lolos begitu saja, tapi Levi segera menghadangnya agar tidak mengejar Rayden.
“Hay, bro! Mulai sekarang lawanmu adalah aku! Levi, sang Dewa Kematian. Hahahahaaa,…” ujar Levi yang malah memperkenalkan dirinya sendiri, lalu tertawa seperti orang gila.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
Ouhya,.....Sembari menunggu si Kembar! Kalian bisa coba baca novel-novel yang saya rekomendasikan dibawah ini.
Jangan Lupa! Beri dukungan kalian dan bijaklah dalm berkomentar👍👌😄
__ADS_1
Terima kasih All!😙😘😚