
“Luca? Kenapa kau berada disini?” tanya Rayden sembari mengatur detak jantungnya yang seperti habis lari marathon itu.
“Luca mencari papah! Tadi Luca tidak sengaja terbangun dan melihat papah tidak ada dikamar.”
Luca menjawab dengan menunjukkan wajah polosnya, sehingga Rayden tidak bisa berbuat apapun padanya kecuali mengelus dadanya sendiri.
“Seharusnya, kamu lanjutkan tidurmu saja! Tidak perlu mencari papah!” ujar Rayden pada putra kecilnya itu.
Rayden menyadari bahwa putranya sedang merasa sangat penasaran dengan apa yang sedang dia lakukan tengah malam diruang kerjanya ini.
“Luca sudah tidak bisa lanjut tidur lagi, Pah! Papah sedang apa?” tanya Luca yang semakin berjalan mendekati papahnya yang sedang duduk dengan layar computer yang masih menyala.
Rayden hanya bisa menghela nafas, dia tidak bisa menyembunyikan apapun lagi pada putra yang sangat genius itu.
Rayden hanya bisa mengatakan dengan jujur apa yang sedang dia lakukan tengah malam di ruang kerjanya.
Karena percuma saja dia berbohong, bisa-bisa putranya itu mencari tahu sendiri seperti yang terjadi tadi siang dikantor.
“Papah sedang mencari tahu siapa orang yang telah melukai mamah! Papah harus segera menangkap dan menghukumnya agar mamah tidak berada dalam bahaya lagi, begitu juga kamu dan adikmu!” jelas Rayden yang terpaksa harus berkata jujur.
“Apa sekarang papah sudah tahu siapa yang melukai mamah?”
Memang benar ‘deh, Luca anak kandung Rayden. Rasa ingin tahunya semakin besar, jika sudah diberitahu rahasianya. Sama persis dengan Rayden sewaktu dirinya seumuran dengan Luca.
“Sepertinya begitu, sekarang papah sedang berusaha untuk menangkapnya!” ujar Rayden seperti sedang bicara dengan rekan kerjanya sendiri.
“Mau Luca bantu, Pah?”
Tanpa Rayden duga, putra kecilnya itu menawarkan bantuan kepadanya. Tentu saja hal pertama yang dilakukan Rayden saat mendengar perkataan Luca adalah sangat terkejut.
Rayden terus menatap Luca dengan rasa tidak percaya sama sekali dengan apa yang baru saja didengarnya.
Namun, sedetik kemudian Rayden sadar bahwa putra itu sangat Luar biasa.
Tadi siang saja, tangan kecil putranya itu berhasil meretas data miliknya yang dipasangi kata sandi dengan tingkat kesulitannya sangat tinggi.
Mungkin Luca juga bisa membuka isi berkas yang ada didalam flashdisk yang diberikan oleh Levi.
“Apa Luca tidak mengantuk?” tanya Rayden mencoba memastikan, tapi Luca dengan cepat menggelengkan kepalanya.
“Kau yakin mau membantu papah?” tanya Rayden lagi dan Luca pun segera menganggukkan kepalanya seraya menunjukkan senyum manisnya.
“Kalau begitu, Kemarilah!” ujar Rayden dan Luca pun segera mendekati papahnya serta duduk dipangkuannya.
Rayden langsung membuka laci di meja kerjanya, dimana dia tadi menyimpan flashdisk yang diberikan oleh Levi.
__ADS_1
Kemudian Rayden langsung mencabut Flashdisk yang berisi rekaman cctv yang baru saja dia pasang dan menggantinya dengan Flashdisk yang baru saja diambilnya dari dalam laci.
Begitu Flashdisk yang didapat dari Levi dipasang langsung muncul sebuah notifikasi untuk memasukkan sandi agar bisa membuka isi didalamnya.
Luca terus focus memperhatikan layar computer yang berada didepannya.
Melihat hal itu, jiwa IT Luca langsung meronta-ronta. Didalam hatinya, Luca terus berharap bahwa papahnya akan memerintahkan dia untuk membuka folder itu.
“Kau lihat, bukan? Apa Luca bisa membukanya?” tanya Rayden pada putranya itu, Luca pun langsung mengangguk sembari tersenyum senang karena harapannya terwujud.
“Kau yakin?”
Rayden mencoba memastikan, apakah anak sekecil itu bisa menangani kata sandi yang pasti akan sangat sulit diretas itu.
“Papah tenang saja! Serahkan yang ini pada Luca!” sahut Luca dengan penuh percaya diri.
“Baiklah! Komputer ini, meja kerja ini dan kursi ini milikmu sekarang! Papah akan menggunakan laptop dan duduk disofa itu. Jika butuh bantuan panggil papah saja, Oke!” ujar Rayden yang beranjak dari kursi kerjanya dan mendudukkan Luca disana.
“Oke, Pah!” sahut Luca sambil tersenyum penuh percaya diri.
Rayden pun mengelus rambut putranya itu dengan gemasnya, dia tidak percaya bahwa dia dan anaknya juga akan bekerjasama dalam bidang ini, Dunia IT dan mafia. Luca hanya tersenyum menatap papahnya.
Rayden kemudian berjalan menuju sofa dan duduk disana. Diatas meja sudah ada satu buah laptop yang sering dia gunakan.
Rayden pun langsung menyalakannya dan menghubungkan dengan flasdisk yang berisi rekaman cctv tadi.
Suara ketikan pada keybord sedikit membuat konsentrasi Rayden, dia pun langsung menatap kearah putarnya itu.
Dari raut wajahnya dapat terlihat jelas bahwa Rayden sangat kagum dan bangga dengan kegeniusan putra.
Tanpa sadar, Rayden terus memperhatikan Luca yang sangat serius menatap layar computer yang berada didepannya.
“Luca!” panggil Rayden yang masih menatap putranya itu.
“Iya, Pah?” sahut Luca tanpa menoleh sedikitpun, karena matanya harus focus pada layar komputernya.
“Apa kau tidak kecewa atau marah saat mengetahui kalau papah adalah anggota mafia?”
Akhirnya pertanyaan yang sangat mengganggu hati dan pikirannya itu pun keluar juga dari mulut Rayden.
“Bukan anggota, Pah! Tapi ketua mafia.”
Bukannya menjawab pertanyaan papahnya, Luca malah membenarkan pertanyaan dari papahnya.
“Iya, maksud papah itu!” ujar Rayden dengan nada sedikit kesal, lagi-lagi anaknya mempermainkan dirinya.
__ADS_1
“Luca dan Luci tidak akan marah ataupun kecewa tentang papah yang sebagai ketua mafia. Kami hanya merasa marah dan kecewa karena papah membohongi kami.”sahut Luca yang masih focus dengan komputernya.
“Kenapa? Kenapa kalian tidak marah? Kenapa kalian tidak merasa kecewa? Bukankah mafia adalah dunia yang sangat buruk?” ujar Rayden yang tidak mengerti kedua anak kembarnya itu malah tidak taku sama sekali dengan identitasnya yang sebagai ketua mafia.
“Karena dimata kami papah adalah papah yang paling hebat dan paling terbaik didunia. Apalagi dimata Luci, papah sudah seperti idola favoritnya yang nomor satu!”
Luca pun menjawab sesuai dengan apa yang dia pikirkan dan juga adiknya. Rayden merasa sangat terharu saat mendengar jawaban dari putra kecilnya itu, bahkan dia sampai menitikkan airmatanya tanpa sadar.
“Tapi itu menurut kami, Pah! Kalau mamah sampai tahu papah adalah ketua mafia, ketua para penjahat. Sudah pasti mamah akan langsung membawa kami pergi jauh dari papah untuk selamanya. Karena mamah adalah mamah terbaik didunia ini, mamah bagaikan ibu peri untuk aku dan Luci!”
Luca kembali melanjutkan perkataannya yang membuat papahnya merasa takut dan cemas.
Memang benar yang dikatakan putra itu, Zhia sedari awal bertemu adalah wanita yang sangat baik apalagi untuk Rayden. Jadi, sangat wajar bagi Zhia untuk menolak identitas Rayden sebagai mafia.
Meskipun diluar Zhia tampak kuat dan bar-bar, tapi sebenarnya hatinya sangat rapuh. Satu pengkhianatan saja, sudah bisa membuat Zhia menghilang selamanya dari orang itu.
“Papah kenapa diam?” ujar Luca yang menyadarkan Rayden dari lamunannya yang terus saja membayangkan reaksi Zhia aat mengetahui identitasnya sebagai ketua mafia.
Bahkan hanya membayangkannya saja sudah membuat Rayden menjadai sangat ketakutan.
“Papah sedang memikirkan tentang mamah ‘yah?” ujar Luca lagi mencoba menebaknya.
“Iya, papah takut mamah kalian tidak bisa menerimanya dan memutuskan pergi dari papah lagi!” sahut Rayden yang malah curcol dengan putranya sendiri.
“Papah tenang saja! ‘Kan ada Luca dengan Luci! Selama kami berada dipihak papah, mamah pasti akan ada. Kata papah, kami ‘kan satu paket!” seru Luca dengan penuh semangat, dia bahkan sampai lupa mengenai data yang sedang diretasnya itu.
Bersambung..............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
__ADS_1
Terima kasih All!😙😘😚