Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Kecurigaan Si kembar pada papahnya?


__ADS_3

“Tentu Kak Nana tahu! Memangnya kenapa?” ujar Nana yang tentu saja mengetahui letak ruangan tempat kerja milik boss besarnya itu.


“Kami sedikit merasa Lelah! Bolehkah kami istirahat disana saja, Kak?”


Luca mencoba meminta ijin untuk masuk keruang kerja milik papahnya itu, seakan dia sedang mempunyai rencana didalam otak kecilnya.


Nana tampak bingung dengan permintaan Luca dan Lucia, pasalnya tidak ada seorang pun yang diijinkan masuk keruangan Ceo kecuali dengan ijin pemiliknya terlebih dahulu.


“Bolehkan, Kak! Papah pasti tidak akan marah ‘kok!”


Lucia membantu Luca membujuk Nana untuk mengijinkan mereka berdua masuk keruang Ceo.


“Iya, Kak! Papah ‘kan sangat menyayangi kami berdua. Bukankah kak Nana tadi sudah melihatnya sendiri.”


Luca kembali membujuk dan menyakinkan Nana dengan kata-kata yang terdengar begitu menyakinkan.


“Baiklah, Ayo kak Nana antar kalian keruangan Ceo Tuan Xavier!”


Nana pun akhirnya termakan bujuk rayu kedua bocah kembar itu, dia pun segera membawa Luca dan Lucia masuk kedalam ruangan Ceo.


Dimana Rayden menghabiskan waktunya untuk bekerja disana sepanjang hari.


Sesampainya Luca dan Lucia diruangan khusus milik papahnya, mata Luca langsung tertuju pada sebuah computer yang berada diatas meja kerja papahnya.


Luca pun memberi isyarat pada Lucia agar membuat Nana pergi dari ruangan itu secepatnya.


“Kak Nana, Luci haus?” ujar Lucia dengan wajah menggemaskannya.


“Hmmm,…. Haus? Kalian mau minum apa?” tanya Nana tanpa ada rasa curiga sedikitpun pada kedua anak kembar itu.


“Luci ingin minum boba, kak!” seru Lucia dengan wajah yang berbinar.


“Luca juga! Luca juga ingin makan pie apel yang dijual didepan sana!”


Luca pun menunjuk keluar jendela dimana dari sana terlihat sebuah toko Kue yang cukup banyak pelanggannya.


“Oke, Tunggu sebentar ‘yah! Kak Nana akan menyuruh seseorang untuk membelikannya.” ujar Nana yang langsung mengambil ponselnya yang berada di saku jas yang sedang dia kenakan saat ini.


“Tidak mau! Kami ingin kak Nana sendiri yang membelikanya.” seru Luca dan Lucia secara bersamaan, hingga membuat Nana sedikit merasa terkejut dengan kekompakan kedua anak kembar bossnya itu.


“Ta-tapi,_....”


“Tenang saja, Kak Nana! Kami tidak akan kemana-mana ‘kok! Kami akan duduk manis di sofa itu.”


Belum selesai Nana dengan ucapannya, Luca langsung memotongnya.


Luca berusaha menyakinkan Nana bahwa dirinya dan juga Lucia akan duduk tenang menunggu camilannya datang semabri duduk di sofa yang ada diruang kerja papahnya itu.


“Iya, kami janji kak!” sahut Lucia yang segera membantu sang kakak untuk menyakinkan Nana.


l


“Baiklah, tapi kalian janji tidak akan kemana-mana! Mengerti?” ujar Nana yang kembali menekankan bahwa anak kembar itu tidak boleh keluar dari ruangan Ceo sebelum dirinya kembali.


“Siap, Kak!” sahut Luca dan Lucia seraya memberi hormat pada Nana dengan raut wajah mereka yang dibuat seimut mungkin.


“Iiiihhh,…Gemesnya! Tunggu kak Nana kembali ‘yah! Kakak pergi sekarang.” ujar Nana yang sedikit mencubit pipi chubby si kembar karena saking gemasnya melihat kedua bocah kembar itu.

__ADS_1


Setelah itu, Nana pun langsung keluar dari ruang Ceo dan berlari dengan kencang menuju kesebuah toko kue dan juga minuman yang ada didepan perusahaan sesuai yang diminta oleh si kembar.


Dan untungnya Nana harus mengantri cukup lama untuk mendapatkan makanan dan minuman yang diminta oleh si kembar.


Sehingga menjadi kesempatan untuk si kembar untuk menemukan data yang ingin mereka cari mengenai papahnya.


Selepas memastikan keberadaan Nana sudah tidak terlihat lagi di sekitar ruangan Ceo. Luca dan Lucia pun segera membagi tugasnya masing-masing.


Luca langsung menyalakan computer yang berada diatas meja kerja papahnya, sementara Lucia memastikan tidak ada satu orang pun yang masuk kedalam ruangan itu.


Luca dan Lucia berniat untuk mencari lebih tepatnya meretas data pribadi milik papahnya.


Kejadian penyerangan malam itu, terasa janggal bagi mereka yang memang memiliki insting yang lebih tinggi daripada mamahnya.


Meskipun papahnya telah menjelaskan bahwa itu adalah saingan bisnisnya. Akan tetapi penyerangan itu terlalu serius, jika dikatakan dari orang yang berasal dari dunia bisnis.


Serangan itu seperti berasal dari gangster ataupun dunia mafia, dimana kegiatan saling serang dan membunuh adalah hal yang wajar untuk setiap anggotanya.


Begitu komputernya menyala, tangan kecil Luca langsung memeriksa folder yang terdapat didalamnya.


Banyak sekali data yang ada didalamnya, sehingga membuat Luca mengalami kesulitan untuk mencari data pribadi milik papahnya.


Hingga akhirnya Luca menemukan sebuah folder tersembunyi yang diberikan akses sandi yang cukup sulit untuk bisa membukanya. Bukan Luca namanya kalau dia menyerah begitu saja, apalagi ini masih dibidang keahliannya.


“Kak, apa kau sudah menemukannya?” ujar Lucia dengan raut wajahnya yang terlihat sangat khawatir karena dia melihat Nana sudah hampir mendapatkan makanan yang tadi diam mau.


“Aku hampir berhasil tinggal memecahkan kata sandi ini untuk membuka folder ini!” sahut Luca gerakan jari tangannya semakin dipercepat, dia sedang berpacu dengan waktu.


“Cepatlah, kak! Kak Nana sudah akan kembali kesini.” seru Lucia yang terus saja memperhatikan Nana dari kaca jendela yang ada diruangan itu.


Saat ini posisi Nana sedang menyeberang jalan dan berjalan masuk kedalam perusahaan.


Disisi lain, Rayden juga sedang mulai menutup rapatnya yang ternyata berlangsung lebih lama dari dugaannya.


“Will, bagaimana dengan si kembar? Mereka aman ‘kan?” bisik Rayden ditengah rapatnya yang hampir selesai.


“Mereka baik-baik saja, Tuan! Dan sekarang mereka sedang beristirahat diruangan anda!”


Will pun menjawabnya juga dengan berbisik.


“Percepat rapatnya! Perintahkan saja mereka untuk memberikan laporan secara singkat padaku, aku akan memeriksanya sendiri!” perintah Rayden pada Will selaku sekertaris utamanya.


“Baik, Tuan!” sahut Will, dia pun langsung mengerti apa yang harus dia lakukan sekarang.


Will segera mengambil alih rapat dan meminta semua karyawan beserta para dewan yang telibat dalam rapat untuk mengumpulkan semua laopran mereka padanya.


Sementara, Rayden akan menunggu semua laporannya sudah berada ditangan Will baru dia akan menutup rapatnya.


Disisi lain, Luca semakin terdesak dengan waktu. Apalagi Lucia terus memberitahu keberadaan Nana hingga membuat konsentrasinya sedikit terkecoh.


“Kak, sudah apa belum? Kak Nana Sudah hampir sampai di Lobi.” Ujar Lucia wajahanya semakin terlihat cemas.


“Sebentar lagi! Kau hubungi saja Resepsionist untuk menyampaikan pada kak Nana kalau kita juga ingin ice cream.” sahut Luca tanpa melirik sedikitpun pada adiknya, jari tangannya terus saja mengetikkan sesuatu dengan cepat pada computer milik papahnya.


Karena tidak ada pilihan lain, Lucia pun segera mengambil telepon kantor dan menghubungi Resepsionist.


Tepat sekali, Lucia menelpon disaat Nana baru saja tiba dan hendak melewati Resepsionist.

__ADS_1


Tuttt,….Tuttt,.....


“Hallo, selamat siang! Dengan BLOUSHZE Group ada yang bisa saya bantu!” sapa Resepsionist itu setelah mengangkat sambungan teleponnya.


“Hallo, ini aku Luci! Anaknya papah Xavier.” ujar Lucia dengan suara mungilnya yang terdengar sangat manis dan menggemaskan.


“Ouhya, Nona kecil! Ada yang bisa saya bantu?”


Resepsionist itu pun berbicara dengan nada bicara yang terdengar semakin ramah begitu mengetahui bahwa yang menghubunginya adalah anak dari sang pimpinannya sendiri.


“Tolong, kalau kakak cantik melihat kak Nana beritahu dia kalau aku ingin makan ice cream juga.”


Terpaksa Lucia harus berbohong seperti yang dikatakan oleh kakaknya.


“Baik, Nona kecil! Akan saya sampaikan padanya.” sahut Resepsionist itu.


Setelah mendapat jawaban yang Lucia inginkan, gadis kecil itu langsung saja memutuskan sambungan teleponnya.


Jatungnya berdegup kencang, karena takut papahnya akan marah.


“Nana, Nona kecil tadi menghubungiku! Katanya dia juga ingin makan ice cream.” ujar Resepsionist itu pada Nana yang baru beberapa langkah melewati tempat kerjanya.


“Haah, masih ada lagi?” sahut Nana dengan tatapan tidak percaya.


Resepsionist itu hanya menganggukan kepalanya, Nana pun terpaksa harus pergi ke toko minuman yang tadi untuk membeli ice cream sesuai permintaan anak dari bossnya itu.


Lucia segera memberitahu Luca bahwa rencana berhasil. Nana kembali ketoko minuman, sehingga Luca mempunyai sedikit lama lagi untuk membuka folder tersebut.


Pikiran Luca kembali tenang, dia pun mulai membuka kata sandi pada folder tersebut dan detik berikutnya,_


“Done?!!” seru Luca sembari mengangkat kedua tangannya menandakan dirinya telah berhasil membuka folder yang sedari tadi membuatnya kesulitan.


Bersambung...........


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Maaf 'yah kemarin gk bisa up🙏🙏🙏


Sebagai permintaan maaf, aku udh up 3 bab sekaligus!😅


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2