Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Ancaman Menakutkan Si Kembar


__ADS_3

Selesai sarapan Rayden dan Will akan melanjutkan aktivitas rutin mereka yaitu berangkat bekerja kekantor.


Saat ini Rayden sedang berpamitan pada istri dan kedua anak kembarnya yang mengantar kepergiannya sampai didepan mobil.


“Sayang, papah berangkat kerja dulu ‘yah!” pamit Rayden pada kedua anak kembarnya, tidak lupa dia mencium pipi chubby Luca dan Lucia dengan gemasnya.


“Iya, papah! Hati-hati dijalan ‘yah!” sahut Lucia dengan wajah cerianya seperti biasa.


“Papah, kapan-kapan Luca boleh main lagi diperusahaan papah lagi ‘yah?” ujar Luca seakan sedang meminta ijin pada papahnya.


“Hmmm, akan papah pikirkan dulu!”


Kejadian tempo hari membuat Rayden sedikit segan untuk membaawa si kembar geniusnya ke perusahaan.


Akan tetapi, seperti apapun dia menyembunyikan rahasianya, si kembar pasti tetap akan menemukan caranya sendiri untuk mengetahuinya.


“Papah masih marah ‘yah soal waktu itu?” sahut Lucia dengan raut wajahnya yang berubah sedih.


“Ada apa, Ray? Apa mereka berbuat nakal dikantormu?” ujar Zhia dengan tatapan menyelidik pada Rayden mengenai apa yang sedang dimaksud oleh kedua anak kembarnya itu.


“Tidak apa-apa ‘kok, Zhi! Mereka hanya sedikit membuat sekertarisku kerepotan saja, tidak ada yang serius!” jelas Rayden yang tentu saja hanya sebuah kebohongan yang dikarangnya saja.


Karena tidak mungkin Rayden mengatakan bahwa si kembar telah meretas data yang berada dikomputer ruang kerjanya.


Dan kini sudah mengetahui bahwa papahnya adalah ketua mafia serta orang-orang yang berada disekitarnya seperti Levi dan Will adalah anak buahnya.


Namun, sayangnya Zhia masih tidak yakin dengan jawaban Rayden. Sehingga Zhia pun langsung bertanya pada anak kembarnya “Kalian berdua tidak berbuat nakal saat ikut papah kemarin ‘kan?”


Luca, Lucia dan papahnya saling menatap satu sama lain. Keringat dingin mulai keluar dari tubuh Rayden, dia benar-benar sangat takut jika anak kembarnya akan mengatakan yang sebenarnya pada Zhia.


“Zhi, kau tidak mempercayai perkataanku?” sahut Rayden mencoba mengaluhkan pembicaraan dan juga menghentikan si kembar mengatakan yang sebenarnya.


“Bukannya aku tidak percaya padamu, Ray! Tapi aku harus mendengar sendiri dari mulut anak-anakku!” ujar Zhia yang memang sudah menjadi kebiasaannya dalam mendidik Luca dan Lucia.


“Luca! Luci, jawab pertanyaan mamah!” Zhia kembali menegaskan pada kedua anak kembarnya.


“Seperti kata papah, Mah! Luca dan Luci merepotkan kak Nana untuk membeli pie apel yang berada diseberang kantor papah!”


Luca pun menjawabnya dengan kebohongan, sehingga Rayden bisa menarik nafasnya dengan lega.


“Iya, Mah! Maafkan Luci dan kak Luca ‘yah, Mah! Pah?”


Lucia pun membantu kebohongan kakak dan papahnya, karena mereka sudah berjanji untuk menyembunyikan identitas papahnya sebagai ketua mafia pada mamahnya.


Zhia pun tak mampu berkata apapun lagi, kedua anak kembarnya itu memang sedikit nakal apalagi kalau rasa ingin tahunya sudah muncul.


“Sudahlah, Zhi! Mereka sudah meminta maaf dan berjanji tidak akan mengulanginya lagi.” ujar Rayden yang ingin segera menghentikan pembicaraan yang membuatnya sampai berkeringat dingin itu.


“Tapi, Ray,_............”


“Kalian berdua boleh ‘kok sering-sering main kekantor papah!”

__ADS_1


Sebelum anak kembarnya menjadikan identitasnya sebagai ketua mafia sebagai bahan ancaman lagi.


Rayden harus segera menyetujui apapun permintaan mereka yang terpenting si kembar genius berada dipihaknya.


“Yeahh,……Makasih! Papah memang yang terbaik didunia.”


Luca langsung bersorak sorai, karena dia sekarang bisa bebas keluar masuk keruangan Ceo milik papahnya.


“Berarti Luci juga boleh menggunakan ruang latihan papah ‘dong! Luci ingin berlatih bela diri lagi sama kakak pengawal cantiknya mamah, boleh ‘kan Pah?” ujar Lucia yang memanfaatkan kesempatan baiknya itu.


“Terserah kalian berdua saja! Apapun yang papah miliki, itu milik kalian juga!” ujar Rayden yang tak mau lagi mendengar kata ancaman tidak langsung dari anak kembarnya sendiri.


“Horeee,…Sayang papah banyak-banyak!”


Seperti yang dilakukan kakaknya, Lucia pun bersorak sorai dengan gembira.


“Kau terlalu memanjakan mereka, Ray!” ujar Zhia mengingatkan Rayden.


“Tidak masalah, Zhi! Apapun akan aku lakukan asalkan kamu dan anak-anak kita bahagia.”


Perkataan dan perlakuan Rayden lagi-lagi membuat luluh hati Zhia. Rayden mengecup kening Zhia seperti biasanya seakan kini sudah menjadi agenda wajib baginya sebelum berangkat kekantor.


“Kalau begitu aku berangkat dulu, Zhi! Jaga dirimu dan juga anak-anak dengan baik.” pamit Rayden sembari memeluk Zhia sejenak, kemudian dia pun berjalan masuk kedalam mobil yang sudah siap berangkat.


“Dah, sayangnya papah!” ujar Rayden pada kedua anak kembarnya.


“Dadah, papah! Hati-hati dijalan, Pah!” seru Luca dan Lucia yang melambaikan tangannya sambil tersenyum bahagia.


Setelah itu, si kembar langsung meminta ijin pada mamahnya untuk mengajak kedua pengawal baru itu agar mengajari mereka latihan bela diri.


“Mamah, Luci ingin belajar bela diri dari kedua kakak cantik ini. Boleh ‘kan, Mah?” ujar Lucia yang meminta ijin pada mamahnya untuk membawa Eva dan Alea ketempat latihan beladiri milik papahnya.


“Tentu saja, sayang! Tapi mamah tidak bisa menemani kalian berlatih ‘yah!” ujar Zhia yang tanpa berpikiran apapun langsung memberikan ijinnya.


“Makasih, mamah!” uca Lucia yang langsung memeluk dan mencium mamahnya.


“Eva! Alea, tolong bantuannya ‘yah mengajari anak-anakku bela diri! Terutama putriku ini, dia sangat menyukai seni bela diri sejak kecil.”


Zhia pun mempercayakan kedua anak kembarnya papa pengawal barunya. Tentu saja Zhia mempercayai kedua pengawal barunya itu, kerena dia juga percaya bahwa Rayden pasti memilih mereka dengan pertimbangan yang sangat matang.


Sudah pasti bahwa kedua pengawal barunya itu tidak akan berbahaya bagi dirinya dan juga anak kembarnya.


“Tentu, Nyonya! Dengan senang hati kami akan membimbingnya!” sahut Eva dan Alea dengan penuh kenyakinan.


Padahal mereka tidak tahu siapa Lucia yang sebenarnya, bahkan Noland yang merupakan mantan ketua klan BlackSky pun sudah pernah dikalahkan oleh gadis kecil itu.


Dan tujuan Lucia membawa kedua pengawal baru mamahnya bukanlah untuk belajar, melainkan melakukan uji coba apakah mereka layak ditugaskan untuk menjaga dan melindungi mamahnya.


“Kakak cantik! Ayo, ikuti kami.” ujar Lucia yang langsung saja menggandeng tangan Luca dan menyuruh kedua pengawal baru mamahnya untuk mengikutinya ketempat latihan.


“Kami permisi, Nyonya!” pamit Eva dan Alea sebelum mengikuti kedua bocah kembar itu dan meninggalkan Zhia.

__ADS_1


Zhia hanya menganggukan kepalanya sembari tersenyum menandakan bahwa dia telah mengijinkannya.


Kemudian, Zhia pun ikut masuk kedalam untuk menemui papah dan mamah Rayden yang menyuruhnya untuk menemui mereka diruang tamu setelah mengantar Rayden.


Mungkin ada pembicaraan yang serius, sehingga Noland dan Julia memintanya berbicara.


...****************...


Disisi lain, Kini si kembar dan kedua pengawal baru mamahnya sudah berada diruang latihan. Baik Eva maupun Alea sama-sama tercengang melihat isi ruangan itu yang dipenuhi berbagai peralatan bela diri bahkan sampai ada arena bertarungnya masing-masing.


“Luci, apa kau yakin akan melakukan ini?” ujar Luca yang memastikan Kembali keputusan adiknya itu.


“Harus ‘dong, kak! Karena ini menyangkut keamanan mamah.” sahut Lucia dengan penuh kenyakinan.


“Ya sudah, kalau kamu sudah seyakin itu! Kakak akan mencari tahu identitas mereka.” ujar Luca yang juga harus melakukan tugasnya yaitu meretas data informasi mengenai kedua pengawal baru mamahnya agar kedepannya tidak membahayakan mamahnya.


Sebelum masuk kedalam ruang Latihan, Luca sudah meminta pada salah satu penjaga untuk mencarikan sebuah laptop dengan alasan bahwa dirinya ingin bermain game.


Padahal ingin digunakan untuk meretas data kedua pengawal baru mamahnya. Tentu saja, penjaga itu segera memberikan laptop yang diminta majikan kecilnya.


Luca dan Lucia melakukan percakapan mereka dengan cara saling berbisik satu sama lain. Sehingga membuat Eva dan Alea manatapnya dengan heran.


Lucia berjalan menuju tempat berbagai jenis katana disana dan saat dia akan mengambilnya, Luca langsung berseru “Jangan gunakan yang itu! Pakai yang kayu saja, itu berbahaya Luci!”


“Baiklah, kak!” sahut Lucia yang beralih mengambil tiga buah tongkat kayu yang tidak jauh dari tempat penyimpanan katana yang tadi hampir diambilnya.


Kemudian, Lucia memberikan tongkat itu satu-satu pada Eva dan Alea. Sehingga kedua wanita itu saling menatap satu sama lain penuh tanya.


Sebenarnya apa yang ingin dilakukan oleh kedua majikan kecilnya itu diruang latihan bela diri.


Bersambung........................


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2