Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Alat Pelacak!


__ADS_3

Brakkk,……..


Evan tiba-tiba saja datang dan langsung menendang pintu ruang bawah dimana Zhia sedang dikurung sampai pintu itu rusak.


Terlihat jelas Evan datang dengan keadaan marah besar, pria itu melangkah kakinya dengan lebar menghampiri Zhia yang masih duduk meringkuk dipojokkan.


Zhia pun langsung menghentikan tangisnya dan menatap kearah Evan dengan wajah pucat ketakutan dan tubuh yang semakin gemetar hebat. Firasatnya mengatakan akan terjadi hal buruk lagi padanya kali ini.


“Katakan padaku! Dimana kau menyembunyikan alat pelacaknya, Hah?” seru Evan yang langsung mencengkeram dengan keras leher Zhia dan memojokkannya ketembok dengan cukup keras.


“Akhhh,…A-apa lagi yang kau bicarakan, Evan?” ujar Zhia yang memang tidak mengerti maksud dari perkataan Evan itu.


Sebenarnya Zhia tengah menahan rintihan kesakitan atas perbuatan kasar dari Evan itu, karena dia tidak mau Evan semakin kejam menyiksanya seperti sebelumnya.


Mendengar jawaban Zhia, Evan pun semakin menambah kekuatan pada cengkramannya pada leher Zhia hingga memerah.


“Jangan membohongiku, Zhi! Kau tahu ‘kan, aku tidak akan segan lagi mencarinya sendiri. Jika kau tetap berpura-pura tidak tahu seperti ini dan aku pastikan kau akan menyesalinya!”


Evan terus menekankan Zhia untuk memberitahu keberadaan alat pelacak itu, dia bahkan tidak segan lagi mengancamnya dan serius akan melaksanakan anacaman itu.


Jika Zhia masih tetap bersikap tidak tahu apapun tentang alat pelacak itu.


“Me-meskipun kau membunuhku, aku tetap tidak tahu apapun yang kau bicarakan saat ini!”


Zhia yang memang tidak tahu mengenai alat pelacak itu, tetap mengatakan hal yang sama seperti tadi.


Namun sayangnya, Evan tidak mempercayainya sama sekali. Evan semakin mencekik Zhia sampai hampir mati karena kehabisan nafas.


“Aku tanya sekali lagi! Dimana alat pelacak itu kau sembunyikan? Mustahil kau tidak mengetahuinya, kau pasti sengaja menyembunyikan agar Cano bisa menemukanmu seperti sekarang!” bentak Evan yang mulai kehilangan kesabarannya terhadapa Zhia.


“Ray? Ray, ternyata kau selalu datang untuk menyelamatku?”


Zhia hanya bisa mengatakannya didalam hatinya, karena saat ini dia bahkan sangat sulit bernafas apalagi untuk bicara.


Hanya airmatanya saja yang dapat dia keluarkan untuk saat ini, dia berharap setidaknya bisa melihat Rayden untuk yang terakhir kalinya. Jika dia harus mati sekarang.


“Sialan! Kau dan suamimu bajinganmu itu sungguh sialan!” umpat Evan yang melemparkan tubuh Zhia dengan keras hingga membentur tembok yang ada disana.


“Akhhh,…..Uhukkk,….Uhukkk,…..”


Zhia hanya bisa menangis dan merintih kesakitan akibat benturan itu.


“Sesungguhnya kau ‘lah bajingannya disini, bukan?” ujar Zhia begitu dapat mengatur nafasnya kembali dnegan normal.


“Sebenarnya kau ‘lah yang memulai semuanya, bukan? Kau yang menyiksa dan membunuh adik kembar Ray yang bernama Rayna dengan sangat sadis serta membuang mayatnya begitu saja, bukan?”


Zhia akhirnya mengerti dengan semua akar masalahnya yang terjadi selama ini. Entah kenapa Zhia tiba-tiba saja teringat dengan adik kembar Rayden yang pernah diceritakan saat mereka sedang berbulan madu.

__ADS_1


“Kau bicara apa padaku barusan, Hah?” ujar Evan yang kembali menatap tajam kearah Zhia, bahkan ingin membunuhnya saat itu juga saat nama Rayna disebutkan.


“Semua bermula darimu! Kau yang bajingan, tapi kenapa kau malah menyalahkan orang lain atas kesalahanmu sendiri?” seru Zhia yang memberanikan diri untuk berdebat dengan Evan yang sudah bagaikan iblis itu.


“Wanita murahan sepertimu tahu apa tentang aku, Hah? Lebih baik kau diam dan beritahukan padaku dimana kau sembunyikan alat pelacaknya atau aku akan membunuhmu sekarang juga!”


Ancam Evan yang kembali mendekat pada Zhia dengan tatapan membunuhnya.


“Aku memang tidak tahu tentangmu, tapi setidaknya aku tahu bagaimana suamiku! Ray tidak akan melukai orang lain, kecuali orang itu melukainya terlebih dahulu. Karena itulah aku sangat yakin, bahwa kau ‘lah akar masalahnya, EVAN! Kau salah, tapi tidak pernah mau mengakui kesalahan yang kau perbuat sendiri. Itulah yang aku ketahui selama aku mengenalmu!” seru Zhia yang terus membela Rayden, meskipun dia tidak tahu pasti siapa yang sebenarnya yang bersalah dalam masalah itu.


Akan tetapi, Zhia ssangat yakin bahwa Rayden bukanlah orang seperti itu selama ini dia mengenalnya. Berbeda dengan Evan yang ternyata selama ini kebaikannya hanyalah sebuah topeng belaka.


“Aku hanya membunuh adiknya, tapi dia membunuh keluargaku dan menghancurkan segala yang aku punya. Suami bajinganmu itu ‘lah akar masalahnya!” teriak Evan bagaikan orang gila.


“Tidak! Kau yang bajingan tidak tahu diri, Evan! Aku sangat yakin, Ray pasti sudah memberimu waktu untuk menyerahkan diri dan mengakui kejahatanmu. Tapi apa yang kau lakukan, aku sangat yakin bahwa kau pasti melarikan diri seperti pecundang! Lihatlah dirimu sekarang! Sekali pecundang selamanya akan tetap menjadi pencundang yang hanya bisa melarikan diri.”


Setelah mengetahui kebenarannya, Zhia semakin berani melawan setiap perkataan Evan.


Evan terlihat sangat marah mendengar perkataan hinaan dari Zhia, hingga tanpa segan dia langsung menampar Zhia dengan kerasnya.


Plakk,……….


“Dasar wanita ******! Kalau kau tidak mau memberitahukannya, aku yang akan mencarinya sendiri dengan caraku!” ujar Evan setelah menampar Zhia tanpa perasaan.


Setelah itu, Evan mencari alat pelacaknya dengan paksa pda tubuh Zhia. Evan tanpa segan merobek semua baju yang saat itu sedang dikenalkan Zhia sampai tidak tersisa satu helai pun.


Zhia hanya bisa menangis dan menangis sembari memohon agar Evan tidak melakukan hal menjijikan itu pada dirinya.


Jika sampai Evan menyentuhnya, Zhia pasti akan langsung mengakhiri hidupnya saat itu juga.


Beruntung perlakuan buruk Evan itu tidak sampai melakukan pelecehan seksual kepada Zhia.


Evan hanya memukuli dan dan sedikit menyiksa Zhia agar mau mengatakan dimana alat pelacaknya disembunyikan, sampai dia melihat cincin berlian yang dikenakan oleh Zhia.


Evan langsung melepaskan cincin berlian yang tersemat dijari manis Zhia dengan paksa. Evan kemudian membuang berlian itu dan benar saja, ada alat pelacak dengan versi sangat mini didalam cincin itu.


“Jadi dari awal Cano sudah memperkiraan hal buruk akan terjadi padamu, sehingga dia diam-diam memasang alat pelacak pada cincin pernikahan kalian!” ujar Evan yang tersenyum begitu menemukan alat pelacak itu, sementara Zhia masih terisak sembari berusaha menutupi bagian tubuh sensitifnya.


“Tuan, helikopternya sudah siap! Kita harus berangkat sekarang, karena kapal musuh sudah semakin mendekat!”


Tiba-tiba Jayden muncul untuk melaporkan situasi yang semakin memanas.


“Benarkah? Kau dengar itu! Suami datang, tapi sayangnya kau harus ikut aku pergi dari pulau ini lagi.” ujar Evan yang tersenyum sinis pada Zhia yang masih meringkuk ketakutan.


“Tuan, apa yang terjadi? Apakah anda melakukan itu padanya?” tanya Jayden yang penasaran kenapa Zhia telanjang sekarang dan ada Evan juga disana.


“Jangan konyol! Aku hanya mencari ini.”

__ADS_1


Evan pun menunjukan cincin yang ada alat pelacaknya itu pada Jayden agar berhenti memikirkan hal yang tidak-tidak terus.


“Ouh, kupikir kau habis bersenang-senang dengannya!” sahut Jayden yang menyudahi pikiran mesumnya.


“Aku tidak suka bekas dari musuhku! Hay, kau yang disana!” ujar Evan yang memanggil salah satu anak buahnya yang sedang berjaga tidak jauh dari tempatnya sekarang.


“Saya Tuan!” sahut anak buah itu yang segera menghampiri Evan.


“Lepaskan semua pakaianmu sekarang! Cepat!”


Perintah Evan tanpa ada bantahan sedikitpun.


“Baik, Tuan!”


Orang itu pun langsung melepaskan pakaiannya kecuali celana boxernya saja.


“Bagus, kau boleh pergi sekarang!”


Perintah Evan lagi setelah mendapatkan pakaian dari anak buahnya itu, sedangkan anak buahnya itu langsung pergi untuk mencari pakaiannya yang lain.


“Cepat pakai ini! Atau kau lebih suka telanjang seperti itu? Aku ‘sih tidak masalah melihat, hanya saja kita akan mengucapkan selamat tinggal pada suami itu sebelum meninggalkan pulau ini! 5 MENIT! Itu batas waktumu.”


Evan pun langsung melempar pakaian itu pada Zhia, dia hanya memberi waktu 5 menit saja pada Zhia untuk memakai pakaian itu.


Selebihnya dia akan menarik paksa Zhia keluar dari sana, karena dia tidak bisa menunggu terlalu lama.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2