Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Menagih Janji! Part. 2


__ADS_3

“Aku tahu dan aku selalu mengingat tentang itu. Karena itulah, besok aku akan bicara dengan mereka! Maaf ‘yah, kau pasti dibuat kerepotan dengan pertanyaan mereka!”


sambung Rayden yang sebenarnya merasa sangat bersalah dan kasihan dengan istrinya yang harus menghadapi tingkah kedua anak kembarnya.


“Tidak apa! Aku sudah terbiasa menghadapi sikap mereka yang seperti itu, maka dari itu aku tidak pernah menjanjikan sesuatu yang tidak dapat aku berikan pada mereka!” ujar Zhia yang secara tidak langsung menyindir rayden secara halus.


“Hahahahaa,…. Iya, aku mengaku salah! Sekarang kita saja, malam sudah semakin larut.” sahut Rayden yang hanya bisa mengakui kesalahannya saja.


Zhia pun mulai memejamkan matanya didalam dekapan hangat Rayden.


Entah kenapa malam itu tubuh suaminya sangat harum dengan wangi sabun yang membuatnya mabuk kepayang, padahal biasanya tidak sewangi ini.


“Ya Tuhan, semoga saja tubuhku sudah tidak berbau darah lagi. Bisa gawat kalau Zhia mencium bau darah dari tubuhku, bagaimana aku harus menjelaskan padanya. Masa Iya,.. aku harus memberitahunya bahwa aku telah membunuh mantan kekaksihnya dan mantan tunanganku sendiri!” batin Rayden yang merasa sangat cemas, karena Zhia semakin membenamkan kepalanya pada dada bidangnya.


“Sayang, tidak biasanya kamu sangat wangi hari ini!” ujar Zhia yang semakin mempererat pelukkannya.


“Syukurlah bau amis darahnya sudah hilang! Tentu saja harus hilang, karena aku sudah hampir mengahbiskan sebotol sabun milik Will tadi sebelum kembali!” batin Rayden yang akhirnya bisa bernafas dengan lega.


“Jangan menggodaku, sayang! Atau mala mini kau ingin membuat adik untuk si kembar lagi?” ujar Rayden yang bermaksud ingin menggoda Zhia lagi.


“Tidak, terima kasih! Aku sangat lelah hari ini, kita tidur saja!” sahut Zhia yang sudah mulai mengantuk.


“Baiklah untuk malam ini, aku tidak akan mengganggumu! Tidurlah yang nyenyak, istriku tercinta!”


Merasakan Zhia yang sudah mulai terlelap dalam dekapannya, Rayden pun juga ikut memejamkan matanya.


...****************...


Keesokan paginya, seperti biasanya Zhia bangun terlebih dahulu untuk menyiapkan sarapan bagi kedua anak kembarnya di tambah lagi suami serta mamah dan papahnya yang sekarang sudah menjadi bagian dalam kehidupannya.


Sementara suami dan kedua anak kembarnya masih tertidur dengan lelapnya. Zhia pun membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum menuju kedapur.


Tak lama setelah Zhia meninggalkan kamar, Luca dan Lucia mulai terbangun dari tidurnya.


Begitu membuka mata, Lucia langsung melihat papahnya yang masih tertidur sambil memeluknya.


Seketika wajah Lucia menjadi cemberut, karena papahnya telah menipunya dan juga kakak kembarnya.


Dengan sangat hati-hati, Lucia melepaskan dirinya dari pelukkan sang papah dan tentu saja dibantu oleh kakaknya.


Setelah berhasil melepaskan diri, Lucia mengajak Luca untuk sedikit mengerjai papahnya.


“Kak, Ayo kita beri papah sedikit pelajaran karena telah membohongi kita!” ajak Lucia pada sang kakak.


“Caranya?” sahut Luca yang tentu saja langsung menyetujui ajakan adik kembarnya itu.


“Kakak tunggu disini! Luci punya sebuah ide.”


Setelah mengatakan itu, Lucia pun segera beranjak dari atas Kasur dan berlari kecil menuju ke meja rias mamahnya.


Lucia pun mengambil lipstick milik mamahnya yang berwarna merah menyanya dan juga Eyeliner.


Kemudian berlari kembali menuju kearah kakaknya dan memberikan salah satu barang itu.


“Ini! Kakak gunakan yang ini, sedangkan Luci yang ini!”

__ADS_1


Lucia pun memberikan Eyelinernya pada Luca, sementara dia memegang lipstiknya.


Luca pun menerima, meskipun dia merasa sedikit bingung apa yang kan mereka lakukan dengan menggunakan kedua benda tersebut.


“Ini untuk apa?” tanya Luca yang ingin segera mengetahui rencana adik kembarnya itu.


“Melukis! Kita akan menggunakan ini untuk melukis wajah papah sepuasnya!” ujar Lucia yang menatap wajah papahnya dengan sekumpulan gambar yang ingin dia lukis mulai bermunculan dikepala kecilnya.


Lucia mengeluarkan senyuman nakal diwajah polosnya yang membuatnya terlihat semakin menggemaskan saja.


Luca pun mengerti arti dari senyuman adik kembarnya itu, dia pun ikut tersenyum membayangkan apa yang dia ingin lukis juga diwajah papahnya itu.


“Kita mulai?” ujar Luca yang sudah tidak sabar ingin memulai aksinya.


“Ayo!” sahut Lucia dengan penuh semangat.


Luca dan Lucia pun memulai aksi mereka. Luca membuat sebuah lingkaran dengan menggunakan eyeliner milik mamahnya pada sebelah mata papanya yang masih tertutup rapat itu, sedangkan Lucia menggambar lingkaran dimata yang satunya dengan menggunakan lipstick.


Selesai pada bagian mata, Luca pun beralih menggambar wajah babi didahi papahnya dan Lucia menggambar sebuah pedang dipipi sebelah kanan papahnya.


Mereka terus saja menggambar diwajah papahnya sampai wajah papahnya itu penuh dnegan semua coretan mereka.


“Good job, Sister!” ujar Luca yang memuji gambar milik adiknya sambil tersenyum puas melihat karya kolaborasi diantara mereka.


“Good job too, Brother!”


Lucia pun membalas memuji sang kakak, dia bahkan meminta mereka berdua untuk melakukan tos sebagai perayaan.


Sekarang tinggal menunggu sampai papahnya membuka mata, disaat itu mereka menyerang kembali papahnya dengan berbagai pertanyaan dan menagih janjinya.


Namun sudah cukup lama mereka menunggu, papahnya belum juga memperlihatkan tanda-tanda akan bangun.


“Sepertinya memang begitu!” sahut Lucia yang juga merasakan hal yang sama dengan sang kakak.


“Apa kita melakukan hal itu saja?” ujar Luca lagi.


“Haruskah?” sahut Lucia.


“Kita lakukan saja!” ujar Luca yang sudah tidak mau menunggu lagi sampai papahnya bangun dari tidurnya.


“Okay, Luci akan menghitungnya sampai tiga! Setelah itu kita lakukan bersama.” ujar Lucia yang menyetujuinya.


‘Satu,…… Dua,…… Tigaaa,………!!!!’


“PAPAH CEPAT BANGUNNN!!!!?!!!!” teriak Luca dan Lucia sekencang-kencangnya tepat ditelinga Rayden, hingga membuat Rayden langsung terbangun sampai latah karena sangat terkejut mendengarnya.


“ASTAGA GAGA! Why? Ada apa?” ujar Rayden yang terlihat sangat kebingungan dan nyawanya belum kumpul sepenuhnya.


“Papah mana 6 baby boy-nya, Luci!” seru Lucia yang langsung menagih janjinya.


“Iya, papah tidak sengaja menghindari kami dari kemarin ‘kan?”


Luca pun ikut menuntut janji papahnya dan bahkan mengatakkan kecurigaannya pada sang papah.


“Astaga, sayang! Bisakah kita membahas ini nanti? Papah masih ngantuk banget ‘nih!” ujar Rayden dengan mata yang perlahan mulai kembali menutup karena masih sangat mengantuk.

__ADS_1


“Papah pasti hanya ingin menghindari kami, bukan?” ujar Lucia dengan wajahnya yang tertunduk sedih.


“Papah dari awal pasti hanya berbohong pada kami ‘kan tentang adik kami?”


Luca pun membantu adiknya untuk semakin memojokkan sang papah agar mengatakan yang sebenarnya.


“Sayang, bukan seperti itu! Papah akan jelasin semuanya pada kalian,….”


“Apalagi yang akan papah jelaskan kalau semua hanya kebohongan saja. Papah jahat! Luci sangat kecewa sama papah,….Huhuhuuu,……”


Lucia pun langsung berlari sambil menangis menuju kekamarnya sendiri.


“Sungguh papah memberikan contoh yang tidak baik pada kami. Luca juga sangat kecewa dengan papah!” ujar Luca yang langsung mengikuti adik kembarnya.


“Ya Tuhan! Kalau tahu jadi begini aku tidak akan pernah mengatakan itu pada mereka.” gumam Rayden yang sangat menyesalinya.


“Sayang, dengarkan papah dulu!” lanjut Rayden yang segera menyusul kedua anak kembarnya kekamar mereka.


Begitu keluar dari kamarnya, semua pelayan dan pengawalnya langsung menatapnya dengan aneh dan ada beberapa yang seperti sedang menahan tawanya.


Namun, Rayden tidak mau mengambil pusing semua itu.


Karena ada yang lebih membuatnya sangat pusing pagi-pagi begini yaitu kemarahan kedua anak kembarnya.


“Luca! Lucia, tolong buka pintunya. Papah ingin bicara dan menjelaskan semuanya pada kalian! Tolong buka pintunya ‘yah, sayang!” pinta Rayden yang memelas dan memohon didepan kamar Lucia, dimana kedua anaknya berada.


Namun, tidak ada tanggapan apapun dari Luca dan Lucia. Mereka masih mengunci kamarnya dari dalam, tanpa peduli lagi dengan perkataan papahnya.


Tak lama kemudian sebuah suara memanggilnya, “Sayang, ada apa?”


“Sayang, bantu aku membujuk mereka! Aku tidak menyangka mereka akan sangat marah padaku seperti ini!” ujar Rayden yang meminta bantuan pada Zhia.


Ternyata Zhia sudah tahu akan menjadi seperti ini, maka dari itu dia datang menemui suaminya yang sedang berusaha membujuk kedua anak kembar mereka itu.


“Bwuaahahahaa,….. Sa-sayang, wajahmu itu,… Hahahahaa,….”


Zhia pun tertawa terpingkal-pingkal begitu melihat wajah Rayden yang dipenuhi dengan gambar dan dia yakin bahwa itu pasti perbuatan dari Luca dan Lucia.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚

__ADS_1


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2