
Sesuai yang dikatakannya, Jaydon pun langsung pergi kekantor polisi untuk menyerahkan dirinya.
Sesungguhnya Jayden bisa saja menyerhakan nyawanya sendiri kepada Rayden di kediaman Sam Joseph, tetapi dia sadar bahwa kematian itu terlalu mudah untuk orang seperti dirinya.
Penjara yang dingin dan gelap ‘lah yang pantas bagi orang seperti Jaydon, mengingat betapa menderitanya Rayna yang disiksa oleh adik dan teman-temannya.
Dan buruknya lagi Jaydon hanya bisa berdiam diri menyaksikannya, kini dia menyesali semuanya.
“Rayna! Maaf aku baru bisa menyampaikan pesan terakhirmu sekarang. Kuharap kau dapat mengerti bahwa aku butuh waktu untuk siap mempertanggung jawabkan semuanya!” ujar Jaydon seraya menatap ke langit malam seakan sedang berbicara langsung dengan Rayna.
Setelah itu, Jaydon melanjutkan perjalanannya untuk menyerahkan diri kepada polisi dan juga mengakui semua kesalahannya.
Disisi lain Julia masih menangis sesegukkan dengan posisi yang sama setelah kepergian Jaydon.
Beberapa pelayan disana berusaha untuk menenangkannya, hingga Julia pada akhirnya jatuh pingsan karena kondisi tubuhnya juga tidak stabil.
Suasana berbeda terasa di tempat pertarungan Rayden dan Evan. Jika dikediaman keluarga Xavier saat ini sedang bersedih, karena kedatangan Jaydon yang menyampaikan pesan terakhir Rayna, hingga membuat luka lama dihati Julia berdarah kembali.
Julia pun langsung dilarikan kerumah sakit, karena kondisinya yang semakin buruk.
Kesadarannya sudah sepenuhnya menghilang, deru nafasnya pun semakin cepat.
Sehingga membuat para pelayan yang berada disana menjadi sangat panik dan memutuskan untuk membawanya langsung kerumah sakit agar mendapat perawatan yang lebih baik.
...****************...
Di bekas kediaman Sam Joseph, ketegangan sungguh sangat terasa disana. Apalagi melihat Lucia yang sekarang dijadikan tawanan oleh Jayden.
Sehingga membuat Rayden menghentikan serangannya pada Evan, Noland pun tidak bisa berkutik karena nyawa Lucia menjadi taruhannya.
”Semua berhenti! Atau belati ini akan merobek lehernya!” teriak Jayden dengan sebuah belati yang di arahkan pada leher putih Lucia.
Lucia hanya diam berusaha menahan amarahnya, tapi didalam hatinya dia ingin segera memukul wajah Jayden sampai hancur tak berbentuk.
Berani-beraninya Jayden menjadikan seorang Lucia menjadi tawanan.
“LUCI!!!” seru Rayden, Zhia dan Luca yang terkejut bagaimana Lucia sekarang malah berada dibawah kendali Jayden.
Noland yang baru saja tiba pun ikut terkejut melihat cucu kesayangannya.
Zhia yang melihat Lucia berada dalam bahaya, dia berniat untuk keluar dariu tempat persembunyiannya bersama dengan Luca.
Dengan cara apapun Zhia ingin menyelamatkan putrinya, akan tetapi Luca segera menghentikan niat mamahnya itu.
“Luci,… Hikss,..Hikss,….” seru Zhia yang berniat ingin lari begitu saja menghampiri Lucia yang sedang dalam ancaman Jayden.
“Tidak, Mah! Jangan kesana, tetaplah disini! Percayakan ini pada Luca dan Lucia, berjanjilah mamah tetap bersembunyi disini. Luca akan menyelamatkan Luci, apapun yang terjadi mamah harus tetap disini. Percayalah bahwa Luca dan Luci adalah anak yang kuat, disana juga ada papah dan Grandma yang kan selalu melindungi kami.” ujar Luca yang sangat amat memohon kepada mamahnya agar mendengarkan dan percaya pada mereka.
__ADS_1
“Bagaimana mamah bisa tetap diam bersembunyi disini, sementara Luci sedang berada dalam bahaya disana Luca? Hikss,… Hiksss,…..”
Disaat seperti ini Zhia masih saja keras kepala dan tetap ingin menyelamatkan Lucia apapun resikonya.
“Mamah percaya pada kami, bukan? Mamah juga percaya bahwa papah dan Grandpa akan selalu melindungi kita, bukan? Mamah tahu tujuan kami datang kemari dengan memepetaruhkan segalanya, bukan? Semua yang kami lakukan untuk menyelamatkan mamah, jadi jangan buat perjuangan kami datang kesini menjadi sia-sia. Tetaplah disini, untuk kami?”
Luca dengan sabar berusaha membuat mamahnya mengerti. Sudah menjadi hal wajar sejak si kembar mulai tumbuh besar, disaat Zhia bersikap seperti anak kecil maka tugas si Luca ‘lah yang harus menyadarkan untuk kembali bersikap dewasa atau kadang Lucia tapi lebih sering Luca yang melakukannya.
Zhia langsung terdiam mendengar perkataan putranya, dia terasa sangat tertampar hingga membuatnya kembali sadar bahwa dia tidak boleh bersikap keras kepala disaat seperti ini.
Tak lama kemudian, Zhia pun menganggukkan kepalanya bertanda bahwa dia akan mempercayai Rayden dan kedua anak kembarnya.
“Mamah tetaplah disini! Luca akan pergi kesana untuk membantu Luci melepaskan diri dari paman Jay!” ujar Luca yang bersedia untuk pergi mencari tempat yang strategis untuk membidik Jayden dengan menggunakan ketapel yang dibawanya.
“Berhati-hatilah, sayang!” pesan Zhia dengan deraian airmatanya.
“Tentu, Mah! Percayakan pada kami!” sahut Luca disertai dengan senyuman manis diwajah polosnya.
Sementara Luca mencari posisi yang bagus untuk menyerang dan melepaskan Lucia dari Jayden, Evan sedang merasa sedang berada diatas angin.
Karena berhasil membuat Rayden dan Noland tidak dapat menggila seperti sebelumnya, sebab nyawa Lucia berada ditangan Jayden.
Baik Jayden maupun Evan melupakan Luca yang tengah bersembunyi bersama dengan Zhia.
“Hahahaaa,….Bagus, Jay! Kau membuatku memudahkan untuk mengakhirinya disini!”
“Lepaskan cucuku! Seharusnya kau malu karena menjadikan wanita dan anak kecil sebagai tamengmu. Targetmu adalah aku dan Cano, jadi mari kita bertarung secara adil!” seru Noland yang mencoba untuk bernegosiasi agar Jayden dan Evan mau melepaskan Lucia.
Dengan santainya, Evan berjalan mengambil senjata apinya yang sempat dia lemparkan tadi.
Terlihat jelas bahwa Evan tidak peduli sama sekali dengan setiap perkataan Noland yang menghinanya.
“Melepaskannya? Jangan harap! Ada cara yang lebih mudah untuk melawan dan membunuh kalian berdua disini. Kenapa aku mencari mati dengan melepaskan kesempatan langka ini? Hahahaaa,…..” ujar Evan yang tidak mau melepaskan Lucia begitu saja.
“Tuan, jangan buang waktu lagi bicara dengannya. Lebih baik, kita bunuh mereka sekarang saja!” seru Jayden yang tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi.
Jayden sudah sangat lama menunggu sampai hari ini datang yaitu hari kematian Rayden dan Noland.
“Hahahahaa,…..Kau sepertinya sudah tidak sabar ingin melihat kematiannya ‘yah, Jayden! Baiklah, aku berikan tiga pilihan kepadamu Cano! Diantara kau, papahmu dan putrimu. Siapa yang harus aku bunuh terlebih dahulu?”
Evan pun langsung mengarahkan senjata apinya ke arah Noland, Rayden dan Lucia secara bergantian, senyuman jahatnya terus terukir melihat ketidak berdayaan Noland dan Rayden.
“Haruskah aku tetap berdiam diri disini? Sementara mereka tengah bertaruh nyawa untukku. Ray, apa yang harus aku lakukan sekarang untuk menyelamatkan kalian semua? Hikss,…. Hiksss,……” batin Zhia, pikiran dan hatinya terasa sangat kalut.
Zhia ingin sekali percaya dengan Rayden dan anak kembarnya yang tengah berjuang disana.
Tetapi disisi lain dia tidak bisa diam saja melihat Evan yang sudah membulatkan tekad ingin menembak suaminya, putrinya dan juga papah mertuanya.
__ADS_1
“Bukankah kematianku sudah cukup untukmu? Jadi biarkan mereka tetap hidup. Bukankah, kau hanya dendam kepadaku yang telah membunuh seluruh anggota keluargamu? Meskipun semua tragedi ini bermula karena ulahmu, tapi lihatlah pengorbanan mereka membiarkan dirimu dan teman-temanmu masih tetap hidup sampai sekarang!”
Rayden sebenarnya tidak takut akan kematian, tetapi dia hanya takut bahwa setelah dia mati Evan tetap tidak melepaskan Zhia dan juga kedua anak kembarnya.
Papahnya pun tidak bisa berbuat apapun, karena antara nyawa putranya dan cucunya menjadi taruhannya disini.
“Dan itu sangat membuatku semakin muak melihatmu!” lanjut Rayden dengan smirknya yang menatap Evan penuh hinaan dan juga meremehkan.
“Sialan! Matilah kau ditanganku!”
“Tidak, Ray! Tidak,…..”
Perkataan Rayden benar-benar menyulut kemarahan Evan, dia pun langsung mengarahkan senjata apinya tepat mengarahkan ke kepala Rayden.
Zhia tanpa sadar langsung berlari kearah Rayden dan menjadikan tubuhnya untuk melindungi pria yang paling dia cintai.
Dan detik berikutnya terdengar tembakkan yang begitu keras,……
Dorrr,………… Bruukk,…………
“MAMAHHH,…..!!!!”
“ZHIAAAAA,……!!!”
Lucia, Rayden dan Noland berteriak histeris melihat tubuh Zhia ambruk tepat didepan mata mereka selepas suara tembakkan itu terdengar.
Semua orang yang berada disana terpaku dan suasana seketika menjadi sangat hening.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
__ADS_1
Terima kasih All!😙😘😚