Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Tidak Sesuai!


__ADS_3

“Waahhh,….wahhh, kau benar-benar sudah bucin akut dengan Nona kecil rupanya ‘yah! Tapi aku sarankan lebih baik kau sudahi perasaanmu sebelum terlambat!” ujar Will yang merubah cara bicaranya menjadi sangat serius bahkan raut wajahnya pun menunjukkan keseriusannya.


“Aku tahu dan aku sadar bahwa duniaku sangat jauh berbeda dengannya, karena itulah aku memutuskan segala perasaan yang tidak perlu kepada Nona kecil.” Levi menyadari arah pembicaraan Will sekarang.


“Bukannya aku tidak mau mendukungmu, Lev! Tapi,_...............”


“Tidak perlu merasa bersalah padaku, Will! Aku pastikan setelah hari ini semuanya akan kembali seperti biasanya termasuk perasaanku.”


Levi tahu apa yang akan Will katakana kepadanya, karena itulah sebelum dia mendengarnya dia harus segera menghentikan Will bicara.


“Tolong, siapkan untukku satu buket bunga Daisy warna putih ini!”


Levi pun mengalihkan perhatian dan pembicaraan mereka. Will hanya bisa menatap diam dan bersimpati dengan apa yang dirasakan Levi sekarang.


“Baik, Tuan! Silahkan tunggu sebentar.”


Pelayan toko bunga itu pun segera menyahut dan mengerjakan apa yang dipesan oleh Levi.


“Haaah,….Aku tidak bisa membaca pikirannya saat ini, pastinya dia sedang berusaha menyembunyikan luka hatinya!” batin Will yang mentap Levi dengan perasaan simpati yang cukup besar seakan dia sedang mengkhawatirkan adik kecilnya yang sedang pertama kali jatuh cinta itu.


Selesai membeli bunga yang mereka mau, Levi dan Will pun segera berangkat menuju kerumah sakit dengan menggunakan mobil pribadi kesayangan Will.


Sepanjang perjalanan Levi tidak seperti biasanya, dia lebih banyak diam dan menatap keluar jendela mobil terus.


Will pun hanya bisa sesekali meliriknya dan memastikan bahwa Levi tidak menangis saja itu sudah cukup untuknya.


...****************...


Sementara itu dirumah sakit, Zhia perlahan mulai membuka matanya. Sesaat dia menatap kesekelilingnya dan menyadari bahwa sekarang dirinya sedang berada dirumah sakit yang artinya semuanya sudah berakhir sekarang.


Zhia terus memperhatikan sekelilingnya sembari mengingat yang telah terjadi sebelum dirinya tidak sadarkan diri, hingga matanya terpaku pada seorang pria tampan yang tengah menutupnya dan berbaring sembari memeluknya dengan hangat.


Senyuman bahagia pun terukir indah diwajah Zhia, dengan gerakan pelan dia mencoba melepas tabung oksigennya dan membelai lembut wajah pria tampan yang kini telah mengisi seluruh hati serta kehidupannya.


Merasakan ada sesuatu yang sedang menyentuh wajahnya, Rayden pun segera membuka matanya selebar mungkin.


Sehingga kini tatapan mata keduanya saling bertemu dan semakin dalam sampai tanpa sadar setetesan cairan bening jatuh begitu saja dari bola matanya keduanya.


“Ray,..”


“Zhi! Syukurlah kau kini sudah kembali membuka matamu.”


Rayden langsung saja meraih tubuh Zhia, memeluknya semakin erat. Mencium keningnya dengan lembut, kedua matanya, pipinya dan berakhir dengan mengecup bibir Zhia dengan dalam.


“Kenapa kau menangis? Rayden yang aku kenal selalu bersikap dingin, arrogant dan juga baru-baru ini aku mengetahuinya bahwa kau juga sangat kejam!” ujar Zhia sembari menghapus sisa airmata diwajah tampan suaminya itu.

__ADS_1


“Heeehh,…Kau juga menangis, Zhi!”


Rayden pun tidak mau kalah, dia juga menghapus sisa airmata yang ada diwajah istrinya.


“Aku menangis karena begitu membuka melihat wajah pria yang sangat tampan, apalagi pria memelukku dengan hangat!” ujar Zhia dengan senyuman yang terus mengembang diwajahnya.


“Pria tampan yang memelukmu itu adalah suamimu, Zhi!” sahut Rayden yang juga membalas senyuman manis istrinya.


“Apa yang terjadi, Ray? Bagaimana dengan Evan? Terakhir yang aku ingat, dia mengarahkan senjata apinya kepadamu.”


Pertanyaan yang dilontarkan Zhia seketika membuat senyuman Rayden langsung memudar dan diam seribu bahasa.


Zhia belum menyadari bahwa kedua anak kembarnya juga sedang dirawat diruangan yang sama dengan dirinya disana, karena tertutupi oleh tubuh kekar Rayden.


Rayden pun segera beranjak dan membiarkan Zhia melihat kedua anak kembar mereka secara langsung sebelum dia menjelaskan apa yang terjadi sebenarnya pada Zhia.


Tampak jelas Zhia sangat terkejut melihat keadaan anak kembarnya yang sama-sama sedang dirawat seperti dirinya.


“Luca! Luci!” seru Zhia dengan suara tercekat.


“Ray, apa yang terjadi pada anak-anak kita? Kenapa Luca dan Lucia juga dirawat disini sepertiku? Apakah Evan berhasil melukai mereka berdua? Apa yang sebenarnya terjadi, Ray? Kenapa kau hanya diam, jelaskan semuanya padaku! Hiksss,…..”


Deretan pertanyaan Zhia lontarkan sdengan disertai airmatanya yang berjatuhan. Zhia pun tanpa memperdulikan kondisinya sendiri, memaksakan diri untuk beranjak dari tempat tidur dan ingin menghampiri kedua anak kembarnya itu.


“Zhi, tenanglah dulu! Aku akan menjelaskan semuanya yang telah terjadi dan anak-anak kita sebenarnya tidak terluka tapi,_…..”


Belum selesai Rayden mengatakan semuanya, Zhia begitu saja memotong ucapannya.


“Sebenarnya suara tembakkan yang kita dengar sebelum kau tidak sadarkan diri itu berasal dari Luca!” ujar Rayden yang harus mengatakan semuanya dengan jujur pada Zhia.


“Apa maksudmu?” seru Zhia yang masih tidak mengerti dengan maksud perkataan dari Rayden.


“Demi menyelamatkan kita berdua, Luca akhirnya terpaksa membunuh Evan! Dan menurut dokter ada kemungkinan Luca mengalami trauma yang cukup besar.”


Rayden pun menjelaskan apa yang terjadi pada Evan dan juga mengenai perkataan dokter tentang kemungkinan trauma yang dialami putranya itu.


Zhia seketika terdiam dengan deraian airmata yang terus mengalir dipipinya, dia turut bersedih atas kematian Evan tetapi yang membuatnya semakin sedih karena putra sendiri yang membunuhnya.


Didalam hatinya, Zhia terus menyalahkan dirinya sendiri. Pertama, karena dari awal dia tidak mau mendengarkan perkataan Rayden tentang Evan.


Kedua, dia terus saja melakukan keputusan yang gegabah dengan menemui Evan tanpa memberitahu siapapun.


Dan ketiga, karena dia tidak mendengarkan permintaan putranya untuk tetap bersembunyi yang mengakibatkan penyesalan untuk seumur hidupnya.


“Jangan salahkan dirimu sendiri, Zhi! Semuanya sudah terjadi, Dr. Ian pasti akan menemukan cara untuk menyembuhkan trauma kalian terutama Luca!” ujar Rayden yang berusaha ingin menenangkan Zhia dengan cara memeluknya, tetapi Zhia dengan cepat menolaknya.

__ADS_1


“Ray, bantu aku! Aku ingin melihat kedua anakku lebih dekat lagi,” pinta Zhia dengan raut wajah memohon pada Rayden.


“Baiklah, berpeganglah padaku!” ujar Rayden yang menurutinya.


Dengan sangat hati-hati, Rayden membantu Zhia berjalan untuk mendekati kedua nak kembar mereka yang tidak jauh dari bangsal yang digunakan oleh Zhia.


Begitu sudah berada disamping kedua anak kembarnya, Zhia pun membelai lembut wajah Luca dan Lucia lalu mencium kening keduanya secara bergantian.


“Mamah!”


Disaat Zhia tengah mencium kening Luca, secara kebetulan Luca mulai membuka matanya. Luca pun langsung menyebut mamahnya dengan suaranya yang terdengar sangat lirih.


“Luca! Kau sudah bangun, sayang?” ujar Zhia yang memang cukup terkejut saat melihat putranya itu tiba-tiba saja, tetapi dia berusaha menetralkan perasaannya seolah tidak mengetahui apapun.


Dengan hangatnya, Zhia kembali mencium kening dan kedua pipi Luca seperti biasanya.


“Luca?” gumam Rayden dengan perasaan yang sudah mulai was-was.


“Huahuhuhuu,….Mamah! Papah,….Hiksss,….Lu-luca tidak sengaja membunuh paman Evan,…Huhuuuu,….! Apakah Luca akan ditangkap sama polisi dan akan dipenjara seperti penjahat,…Huhuuu,… Lu-Luca tidak mau kehilangan mamah dan papah, karena itu,…Hiksss,…Karena itu,_”


“Sudah sayang! Hentikan, apa yang kau bicarakan? Luca melakukan itu untuk menyelamatkan mamah dan papah, jadi polisi akan mengerti dan tidak akan pernah menangkap Luca! Tidak akan pernah mamah biarkan siapapun memisahkan Luca dari mamah! Hikss,….”


Zhia segera memotong perkataan putranya dan langsung memeluk erat tubuh Luca dan menangis bersama dengan putranya itu.


Rayden pun ikut memeluk tubuh istri dan anaknya itu, sebisa mungkin dia menenangkan keduanya dengan mengatakan bahwa dia kan melindungi mereka apapun yang terjadi.


Tanpa disangka ternyata, Noland dan Julia sedang melihat adegan itu dari balik pintu yang sedikit terbuka, mereka melihat dan mendengarkan apa yang terjadi didalam dengan airmata yang ikut berjatuhan melihat adegan menyedihkan itu.


Sampai-sampai mereka berdua tidak sadar bahwa kelakuan keduanya diperhatikan orang-orang dan bahkan Dr. Ian yang ingin masuk kedalam sana.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚

__ADS_1


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2