Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Waktu Berdua Denganmu!


__ADS_3

Sesampainya diruangnya, Rayden langsung mendudukan tubuhnya dan meminta Will untuk segera menyerahkan berkas jawaban yang ditulis oleh calon kandidat pengawal untuk Zhia.


Rayden mulai membacanya satu persatu, dia hanya tersenyum sinis saat banyak kandidat yang menuliskan alasan mereka melamar pekerjaan itu hanya demi uang dan membanggakan kemampuan mereka adalah alasan untuk Rayden harus menerima mereka.


“Tuan, apakah tidak ada satu kandidat pun yang pantas untuk menjadi pengawal Nyonya muda?” tanya Will saat melihat Tuannya membuang satu persatu kertas jawaban dari calon kandidat itu.


Perasaan Will menjadi tidak enak, dia tidak mau harus memilih banyak orang lagi yang bisa dijadikan pengawal untuk Nyonya mudanya.


Dan itu artinya Will harus begadang lagi, meskipun dia pulang lebih awal. Karena para kandidat yang datang wawancara hari ini semuanya adalah yang terbaik.


“Sampai sekarang aku belum menemukan yang pantas, Will!” ujar Rayden yang terus saja membuang berkas jawaban itu.


“Will, apa kau tahu apa yang mereka tulis dikertas ini?”


Rayden tiba-tiba menghentikan aksinya dan menatap kearah Will yang masih berdiri disana. Rayden menanyakan isi jawaban yang sudah dia buang ke tong sampah seakan-akan menyuruhnya untuk menebaknya.


“Saya tidak tahu, Tuan!” sahut Will dengan cepat.


“Uang dan nama baik adalah tujuan utama mereka, sedangkan membanggakan kemampuan yang mereka miliki merupakan alasan untukku memlih mereka! Katakan padaku? Apakah orang-orang seperti ini pantas untuk melindungi istriku? Bahkan untuk melindungi rumahku mereka tidak pantas!” ujar Rayden seakan dia merasa sangat kecewa dengan jawaban para kandidat itu.


“Tapi Tuan! Bukankah sudah mereka mengharapkan uang sebagai upah dari kerja keras mereka? Dan bukankah sebagai seorang pengawal mereka harus membanggakan kemampuan mereka agar bisa melindungi majikan yang harus dilindunginya?”


Menurut Will jawaban mereka tidak salah, karena dirinya pun juga membutuhkan uang makanya dia bekerja dan membanggakan kemampuannya.


Kalau tidak memiliki kemampuan mungkin sekarang dia tidak bisa menjadi tangan kanan Tuannya.


“Iya, perkataanmu memang benar! Tapi dalam memilih orang yang akan melindungi kita atau orang yang kita cintai, bukan kedua alasan itu yang terpenting! Akan tetapi, yang paling utama adalah integritas mereka. Seperti kedua orang ini!”


Rayden memperlihatkan dua lembar kertas jawaban atas nama Alea Savanah dan Eva Reagan.


“Maksud, Tuan?”


Will masih tidak mengerti maksud dari perkataan dari Tuannya.


“Lihatlah, jawaban mereka!”


Rayden pun menyuruh Will untuk mendekat dan membacanya sendiri.


‘Semua orang pasti membutuhkan uang, tapi melindungi dan menjaga seseorang adalah tugasku sebagai pengawal hingga maut menjemput.’ Jawaban yang ditulis oleh Eva Reagan.


‘Sebuah integritas merupakan alasan yang tepat untuk menjawab pertanyaan anda, Tuan Xavier.” Jawaban tidak terduga dari Alea Savanah.


“Apakah artinya Tuan,_...”

__ADS_1


“Iya, kau benar! Aku sudah memutuskan untuk merekrut kedua orang ini!”


Belum selesai Will mengatakannya, Rayden segera memotongnya. Karena Rayden tahu apa yang akan dikatakan sekertaris andalannya itu.


“Baik, Tuan! Saya sudah mengerti sekarang. Saya akan menyelidiki ulang identitas kedua orang ini sebelum menghubunginya untuk mulai bekerja!” ujar Will yang langsung mengerti akan tugas selanjutnya.


“Bagus, Will! Jika tidak ada masalah dengan identitas mereka, suruh mereka mulai bekerja besok dan datang ke manshion sebelum kita pergi kekantor untuk memperkenalkan pada Zhia serta yang lainnya.” ujar Rayden mengingatkan Will, tidak lupa dia juga sedikit memuji sekertaris terbaiknya itu.


“Baik, Tuan!” sahut Will.


“Ouhya, Will! Apa kau ingat perkataanku waktu pertama kali aku merekrutmu dulu?” tanya Rayden yang entah kenapa tiba-tiba saja dia teringat tentang awal pertemuannya dengan Will.


“Saya pasti akan mengingatnya sampai kapan pun, Tuan! ‘Selalu bekerja keras, tepat waktu, jujur terhadap kelemahan diri sendiri, jangan pernah mengingkari janji, selalu mengakui kesalahan yang diperbuat, menyelesaikan konflik secara professional, memberikan contoh yang baik, selalu menjaga rahasia, membela hal yang benar dan selalu bertanggung jawab. Jika kau bisa memegang teguh semua itu, maka kau layak berada disisiku!’. Itulah perkataan Tuan yang akan selalu aku ingat sampai mati!”


Will akan selalu mengingatnya sampai kapan pun.


“Hmmm, kau benar! Karena itulah kau selalu berada disampingku sampai sekarang dan aku berharap akan selamanya seperti ini.” ujar Rayden, meskipun dia selalu merepotkan Will dalam berbagai hal.


Didalam lubuk hatinya, Rayden sudah menganggap Will seperti saudara kandungnya sendiri dan Levi sudah layaknya adik sendiri.


“Pasti, Tuan! Aku tidak akan pernah berpaling darimu.” sahut Will yang merasa canggung dengan situasinya, jadi dia memutuskan untuk sedikit bercanda untuk memecahkan suasana.


“Apa katamu?” sahut Rayden dengan tatapan tajamnya ke arah Will.


Will harus segera pergi dari ruangan itu sebelum Tuannya berubah menjadi banteng yang kapan saja bisa menyerangnya.


“Dasar orang itu!” gerutu Rayden menatap kepergian Will dengan kesal.


Setelah Will keluar dari ruangannya, Rayden pun melanjutkan pekerjaannya. Dia memeriksa satu persatu berkas dengan sangat teliti, membumbuhkan tanda tangannya jika dibutuhkan.


Mengikuti rapat, jika Will sudah memanggilnya dan terus seperti itu sampai jadwal yang sudah ditentukan oleh sekertarisnya diselesaikan.


Sampai akhirnya pekerjaan kantor yang sangat melelahkan dan sangat memusingkan selesai juga. Sekarang Rayden sedang dalam perjalanan pulang menuju ke manshion pribadinya.


Ternyata menyelesaikan jadwalnya yang padat baru bisa pulang saat malam. Karena itulah Rayden menyuruh Will untuk langsung pulang kerumahnya agar bisa istiraha lebih awal, sementara Rayden pulang bersama sopir pribadinya.


Sesampainya di manshion, seperti biasa kedatangannya langsung disambut oleh para pelayannya. Rayden yang sudah merasa sangat lelah dan mengantuk, langsung menuju kedalam kamar pribadinya.


Rayden melempar jas dan tas kerjanya ke sembarangan tempat, karena dia tahu besok pasti ada pelayan yang akan membereskan kamarnya.


Rayden sedikit terkejut saat melihat hanya ada Zhia saja yang sedang duduk sambil bersandar pada kepala ranjang didalam kamarnya, dia pun berjalan menghampiri Zhia dengan wajah bingungnya.


“Dimana anak-anak? Kenapa kau sendirian disini, biasanya mereka sedang berbuat rusuh denganmu?” tanya Rayden sembari duduk disamping Zhia dengan santainya.

__ADS_1


“Katanya mulai malam ini mereka akan tidur sendiri di kamar masing-masing! Kau pasti sangat senang sekarang?” ujar Zhia dengan wajah cemberutnya.


“Tentu saja aku sangat senang! Karena akhirnya aku memiliki waktu berdua saja denganmu. Tapi sayangnya kamu sedang terluka dan aku juga sedang merasa sangat lelah sekarang.” ujar Rayden yang kini memeluk tubuh Zhia lebih tepatnya bagian perutnya , dengan matanya yang mulai tertutup rapat. Rayden sudah benar-benar mengatuk saat ini


“Apakah pekerjaanmu sangat banyak dikantor hari ini?” tanya Zhia yang baru pertama kali melihat seorang Rayden kelelahan seperti ini.


“Hmmm, banyak sekali! Begitu juga untuk besok, jadi biarkan aku tidur seperti ini sebentar saja!” sahut Rayden yang lebih terdengar seperti sedang bergumam. Mungkin Rayden sudah mulai memasuki alam mimpinya.


“Ya sudah, tidurlah kalau kau sudah mengantuk. Padahal aku ingin menanyakan soal Liam, apakah polisi sudah menangkapnya apa belum?” ujar Zhia yang membuat Rayden kembali membuka matanya lebar-lebar.


“Mulai sekarang jangan menyebut namanya lagi seperti itu!” ujar Rayden dengan tatapan penuh penekanan pada Zhia.


“Kenapa? Aku,_...”


“Karena aku tidak suka mendengarnya!”


Sebelum Zhia membatahnya, Rayden segera memotongnya dengan perkataan yang terdengar posesif.


“Okay, aku mengerti! Aku tidak akan menyebut namanya lagi. Bukankah kau sangat mengantuk tidurlah lagi, aku tidak akan bertanya lagi!”


Zhia tampak salah tingkah dengan perkataan dan tatapan dari Rayden. Entah itu perasaan apa, tetapi Zhia tidak mampu melawannya. Bahkan kini tangannya tanpa sadar membelai kepala Rayden dengan lembutnya.


Bersambung...........


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Dan akan update 1 Bab/hari.😄😄😉


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚

__ADS_1


__ADS_2