Anak Kembar Sang Mafia

Anak Kembar Sang Mafia
Kembar Genius!


__ADS_3

Saat sedang berada didalam perjalanan menuju kebandara terdekat selanjutnya, ponsel Rayden tiba-tiba berbunyi.


Dari layar ponselnya terlihat dengan jelas bahwa itu adalah panggilan dari nomor pribadi milik papahnya. Rayden pun terpaksa mengangkatnya dengan malas.


“Papah!” seru Lucia dengan kencangnya begitu Rayden mengangkat panggilan masuk teleponnya.


Rayden pun terpaksa harus sedikit menjauhkan ponselnya, karena merasa sedikit terkejut atas teriakan putrinya itu.


“Iya, sayang! Ada apa?” ujar Rayden yang terdengar tidak bersemangat sedikitpun.


“Papah sudah bertemu dengan mamah?” tanya Lucia dengan polosnya.


Rayden pun terdiam sembari menundukkan kepalanya dengan sedih mendengar pertanyaan dari Lucia.


Karena sampai sekarang dia masih saja belum menemukan petunjuk mengenai Zhia, pikirannya pun semakin kacau sampai dia melupakan tentang kedua anak kembarnya yang genius itu.


Saat rayden terdiam dari seberang telepon sepertinya Luca dan Lucia tengah berebut dan sedikit berdebat karena ponsel itu.


“Isshhh,…..Kau ini, Luci! Berikan ponselnya pada kakak, biar kakak saja yang bicara dengan papah!” ujar Luca yang sedikit kesal dengan tingkah adiknya itu, dia pun segera merebut ponselnya dari tangan Lucia.


“Kak Luca apaan ‘sih! Luci ‘kan masih ingin bicara dengan papah!”


Lucia pun merajuk pada Luca dengan wajah cemberutnya yang menggemaskan.


“Luci, bukan waktu kamu bersikap manja sekarang! Kita harus membantu papah untuk menemukan keberadaan mamah dan paman Evan.”


Jelas Luca yang memberikan sedikit kata untuk bisa membuat adik kembarnya itu sedikit mengerti. Lucia langsung terdiam, dia pun sadar bahwa perkataan kakaknya memang benar.


“Hallo, papah! Ini Luca, papah dimana sekarang?”


Luca pun bertanya tentang keberadaan papahnya sekarang.


“Papah sedang mencari mamah, sayang!” ujar Rayden yang tidak bisa membohongi kedua anaknya itu.


“Papah, Luca tahu paman Evan dan mamah dimana sekarang. Luca berhasil meretas ponsel paman Evan sepenuhnya, jadi Luca tahu keberadaan paman Evan melalui GPS yang tertanam diponselnya. Apa nama Email papah, Luca akan segera mengirimkan lokasi koordinatnya untuk membantu papah menemukan mamah secepatnya.”


Perkataan Luca seketika menyadarkan Rayden untuk berpikir jernih dan juga membangkitkan semangatnya untuk terus mencari keberadaan istrinya.


Rayden bahkan kembali teringat mengenai cincin pernikahannya yang dipasangkan di jari manis Zhia yang ternyata sejak awal cincin itu tertanam sebuah alat pelacak buatannya sendiri.


“Kau benar sekali, sayang! Terima kasih sudah membantu menyadarkan papahmu yang bodoh ini. Papah akan segera mengirimkan alamat Email dan bisakah Luca bantu papah lagi?” pinta Rayden nada bicaranya terdengar sedikit memohon.


“Apa itu, Pah?” ujar Luca yang akan menyetujuinya jika itu masih dalam bidang favoritnya.


“Papah akan kirimkan sebuah aplikasi pelacak baru buatan papah sendiri. Luca bantu papah menginstalnya dan aktifkan alat pelacaknya dengan cara meretasnya. Apa kau bisa melakukannya?”


Rayden pun menjelaskan caranya pada Luca, hingga Levi yang berada tetap duduk disampingnya merasa sangat takjub dengan percakapan antara ayah dan anak itu.


Membicarakan retas meretas seperti sedang membicarakan masalah sepele saja.

__ADS_1


“Astaga! Kedua Tuan-ku ini kalau sudah membahas dunia mereka yang lain seperti menumpang saja! Ouhya,…..Aku ‘kan memang sedang menumpang mobil Tuan muda, hampir saja lupa diri!” batin Levi yang sadar diri.


“Dimana papah meletakan alat pelacaknya, karena itu sedikit mempengaruhi hasilnya?” ujar Luca yang memang ahlinya dalam bidang ini.


“Papah menanamnya di cincin pernikahan yang dipakai mamah kalian. Sebenarnya begitu menginstal aplikasinya sistemnya akan langsung terhubung. Akan tetapi tidak bisa langsung diaktivkan, perlu sedkit virus untuk bisa melacaknya dengan aman.” Ujar Rayden yang kembali menjelaskan.


“Siap, Pah! Luca akan coba meretasnya dengan menggunakan virus buatan Luca sendiri. Papah tenang saja, Luca akan segera memberitahu papah jika hasilnya sudah didapatkan!”


Luca pun sangat percaya diri bisa melakukanya, sekalian dia juga ingin mencoba melakukan uji coba virus buatannya lagi.


“Terima kasih, sayang! Papah akan mengandalkan kalian berdua mulai sekarang!” ucap Rayden sebelum dia mengakhiri percakapan mereka.


“Kami juga percaya papah pasti akan segera menemukan mamah!” ujar Luca yang membuat hati papahnya sedikit merasa lega.


“Papah! Papah hati-hati ‘yah?” seru Lucia yang secara tidak langsung memberitahukan pada papahnya agar tidak terluka.


“Iya, sayang! Papah akan hati-hati!” sahut Rayden yang menunjukan sedikit senyumannya.


“Dahhh,…… Papah! Kami akan tutup teleponnya sekarang!”


“Daahhh,….Sayang!”


Setelah itu, sambungan telepon antara keduanya pun terputus. Rayden pun segera mengirimkan alamat Emailnya melalui pesan singkat dan tak lama kemudian, dia mendapat tautan untuk melacak lokasi Evan yang terdapat sinyal GPS diponsel yang berhasil diretas oleh Luca.


Rayden juga mengirimkan sebuah aplikasi pelacak buatannya sendiriyang belum pernah dia coba sebelumnya.


“Levi, ke bandara X sekarang juga!”


“Baik, Tuan!” sahut Levi tanpa berniat ingin banyak bertanya lagi.


Levi pun langsung tancam gas dan mempercepat laju mobilnya menuju kebandara X dimana alat pelacak itu. Tenang saja sudah menjadi keahlian Levi, ugal-ugalan dijalanan yang sepi maupun keramaian.


...****************...


Disisi lain, Luca mulai menginstal aplikasi yang tadi dikirimkan oleh papahnya.


Tidak perlu waktu lama untuk menginstal aplikasi itu, tetapi membutuhkan banyak waktu untuk Luca bisa mengaktifkannya.


Luca harus memasukan beberapa virus buatannya dulu agar bisa mengaktifkan system pelacakan yang ada dicincin mamahnya.


“Kakak! Apa kakak belum bisa mengaktifkannya juga?” tanya Lucia yang sedikit bosan menunggu, sementara Luca terlalu focus dengan layar komputernya.


“Sebentar lagi! Entah kenapa papah membuat aplikasi sesulit ini!” ujar Luca yang masih berkutik pada computer kesayangannya untuk mencari cara mudah mengaktifkannya.


Lucia hanya diam mendengar perkataan dari Luca.


“Kak Luca!” Suara Lucia terdengar sangat sedih.


“Hmmm,……” sahut Luca sekenanya, karena dia terlalu focus dengan layar komputernya.

__ADS_1


“Apa mamah baik-baik saja sekarang? Kenapa kakak, papah dan semua orang terlihat seperti tidak memperdulikan mamah sama sekali? Padahal Luci sangat takut terjadi sesuatu kepada mamah. Luci juga sedih, kenapa paman Evan harus sejahat itu pada mamah!”


Mata Lucia sudah memerah karena maenahan tangisnya, gadis polos itu sangat mengkahawatirkan mamahnya yang sekarang entah berada dimana.


Akan tetapi, dimata Lucia orang terlihat baik-baik saja. Luca yang sepertinya sangat serius dengan dunia IT tanpa menunjukkan rasa khawatirnya sedikit pun.


Grandma dan Grandpanya pun terlihat sangat tenang, setelah mendengar tentang kabar penculikkan mamahnya.


Papahnya juga begitu, Levi, Will dan semua orang seakan tidak merasakan khawatir seperti yang dialami oleh gadis kecil yang masih sangat polos itu.


“Luci, apa yang kau bicarakan barusan? Kakak tidak mengerti dari mana kamu mempunyai pikiran sebodoh itu?” ujar Luca yang menghentikan aksinya dan mengahampiri sang adik kembarnya untuk menghiburnya.


“Luci sangat takut, kak! Luci sangat takut kehilangan mamah!” seru Lucia dengan genangan airmata yang sudah berada dipelupuk mata gadis kecil itu.


“Kakak juga takut, Luci! Semua orang juga takut kehilangan mamah, karena itulah kami sedang bekerja keras untuk menemukan mamah itu lebih baik dibandingkan dengan kita hanya menangis dan meratapinya!” ujar Luca yang membelai lembut wajah adik kembarnya yang terlihat sangat sedih dan sepertinya ingin sekali menangis.


“Ta-tapi semua orang terlihat baik-baik saja, termasuk kakak! Sedangkan Luci dari tadi ingin sekali menangis, tapi tidak bisa! Luci sangat takut, kak Luca. Boleh Luci menangis?”


Setetes airmata dimata cantic Lucia pun mulai terjatuh membasahi pipi chubby yang menggemaskan.


“Kalau Luci mau menangis! Menangis saja. Luci! Jangan menahannya, karena melihat semua orang tidak menangis! Sesungguhnya Grandpa, Grandma, papah dan semua orang juga menangis tapi mereka menangis ditempat kita tidak bisa melihatnya.” ujar Luca yang membuat Lucia langsung menangis terisak.


“Huhuhuuu,…..Kakak, Luci tidak bisa menahan airmata Luci lagi! Luci ingin mamah, kapan mamah pulang?”


“Kakak juga ingin mamah segera pulang, Luci!”


Lucia menangis didalam dekapan Luca yang tanpa terasa juga meneteskan airmatanya.


Bersikap dewasa memang baik, tapi tidak bisa dipungkiri oleh siapapun bahwa Luca dan Lucia hanya seorang anak kecil.


Sudah menjadi hal wajar mereka berdua menangis disaat seperti ini, tapi mereka berusaha tegar dengan kenyakinan dan kepercayaan pada sang papah yang akan segera membawa mamahnya kembali pulang.


Bersambung.............


Note :


Hay, kak!😄😄😄


Jangan Lupa guys!


Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk semntara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢


Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄


Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄


Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄


Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚

__ADS_1


Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌


Terima kasih All!😙😘😚


__ADS_2