
“Hahahahaa,….Lucu sekali kau ini, Evan!”
Rayden tiba-tiba saja tertawa dan buka suara, dia sudah tidak tahan lagi mendengar omong kosong yang dilontarkan oleh Evan sejak tadi.
“Hah? Apakah papah ketularan gilanya paman Evan? Orang dewasa memang aneh, tiba-tiba tertawa tidak lama kemudian hanya diam dan menatap tajam.” batin Lucia yang tidak mengerti dengan kelakuan kedua pria dewasa yang ada dihadapannya itu.
“Seharusnya aku berulang kali sudah mati ditanganmu, kalau memang kau punya kemampuan untuk melakukan itu! Tapi lihatlah, sampai sekarang aku masih hidup yang artinya dari tadi kau hanya bicara omong kosong!” lanjut Rayden lagi dengan tatapan menghina pada Evan.
“Dasar sialan! Beraninya kau meremehkan diriku!”
Mendengar perkataan Rayden kemarahan Evan pun semakin memuncak, tangannya sudah mengepal dengan erat dan tatapan matanya pun terlihat ingin membunuhnya secepat mungkin.
“Kau tidak ingin diremehkan, tetapi reaksimu sekarang menunjukkan kalau semua yang aku katakan itu memang benar! Kau hanya bisa omong kosong, karena ada Zhia yang masih dijadikan sandera olehmu. Akan tetapi sekarang lihatlah! Zhia sudah tidak berada dibawah kendalimu yang artinya sudah saatnya untukmu mati ditanganku, Revan Sam Joseph!”
Kali ini Rayden sudah tidak ingin bermain-main lagi, dia akan mengahabisi Evan dengan tangannya sendiri dan membakarnya dirumah itu juga.
Kali ini dia bukan hanya akan membakar rumah itu lagi, tetapi akan menhancurkannya tanpa tersisa sedikitpun.
“Sial! Dia bisa membaca situasi dengan sangat tepat, dia seakan tahu bahwa selama ini aku percaya diri karena ada Zhia yang akau jadikan sandera. Terlebih lagi lenganku juga terluka karena serangan dari bocah setan tadi! Aku harus mencari cara untuk bisa mengalahkannya dengan kekuatanku sendiri.” batin Evan yang sedang memikitkan cara untuk biisa selamat lagi dari amukan Rayden kali ini.
“Luci, bisakah kau menjauh dan jangan ikut campur untuk yang ini? Percayakan saja, pada papahmu yang hebat ini.” ujar Rayden pada putrinya yang secara tidak langsung memintanya untuk menjauh dari lokasi pertarungannya dengan Evan.
“Baiklah, Pah! Berhati-hatilah jangan sampai terluka lagi.” sahut Lucia yang menuruti permintaan papahnya, dia pun kemudian menjauh dari tempat itu dan hanya memperhatikannya saja.
Setelah memastikan bahwa Zhia, Luca dan Lucia berada dalam jangkauan yang sudah aman, Rayden pun langsung berubah menjadi mode perang.
Dia sedikit meregangkan otot tubuhnya sebelum memulai menyerang Evan tanpa ampun.
“Bersiaplah! Karena ini waktunya aku menggila untuk sekian lamanya! Hahahaaa,…..”
Dengan langkah yang penuh percaya diri, Rayden kembali menyerang Evan.
Setiap serangannya kali ini tidak membiarkan celah untuk Evan membalas serangannya, Evan hanya bisa menghindar atau menahan serangannya saja.
Menggilanya Rayden bahkan melebihi Levi, dia tidak peduli lagi dengan Zhia dan kedua anak kembarnya yang sedang melihatnya menggila seperti itu.
Menghajar Evan tanpa ampun dan belas kasihan sedikitpun. Saat ini tidak ada yang Rayden pedulikan lagi kecuali membunuh Evan.
Evan berusaha menemukan kembali pisaunya yang tadi sempat terlempar entah kemana karena serangan Lucia, setidaknya dengan adanya senjata tajam perbedaan kemampuan mereka tidak terlalu merugikan pihak Evan.
Namun sayangnya, dia tidak dapat menemukannya juga sehingga dia hanya bisa bertahan dari amukan Rayden.
...****************...
Disisi lain, Jayden masih berusaha mencari celah untuk melarikan diri dari serangan Noland dan menuju ketempat Evan sekarang berada.
__ADS_1
Jayden juga sedang kewalahan menghadapi Noland yang menggila, sedangkan pertarungan Levi dan Felix masih terlihat seimbang bahkan beberapa kali Levi yang sedikit terdesak dengan serangan Felix yang tidak terduga.
Akhirnya kesempatan yang dicari Jayden selama bertahan dari serangan Noland muncul juga, Felix berhasil mendesak Levi untuk mundur.
Meskipun hanya sesaat, Jayden memerintahkan Felix untuk menghadang Noland sementara dirinya akan melarikan diri dari sana.
Jayden berniat mencari keberadaan Si kembar didalam rumah itu untuk dijadikan tawanan upaya bertahan hidup terakhirnya, sekaligus melihat keadaan Evan yang sekarang sedang bertarung dengan Rayden.
“Felix, hadang dia untukku! Aku harus melindungi Tuan didalam!” perintah Jayden begitu melihat Levi terpukul mundur.
Tanpa menjawab, Felix langsung melakukan apa yang diperintahkan Jayden barusan. Noland yang terkejut karena Felix tiba-tiba menjadi lawannya, akhirnnya dia juga terpukul mundur.
“Sial! Dasar sampah, bagaimana bisa kau begitu pada sampah sepertinya!” umpat Noland yang terlihat sangat kesal karena mangsanya berhasil melarikan diri disaat dia hampir bisa membunuhnya.
“Maaf, Tuan! Karena diriku, dia jadi memanfaatkan celah yang ada untuk melarikan diri!”
Levi pun kembali bangkit dengan susah payah, dia dari awala sudah kehabisan tenaga ditambah lagi lawannya sekarang adalah Felix yang kekuatannya setara jika dia tidak dalam keadaan kelelahan seperti sekarang.
“Tidak apa! Levi, beri aku jalan! Biar aku menyusulnya, sudah seharusnya malaikat maut yang mendatanginya. Mungkin dia tidak ingin mati sendirian, karena itulah dia pergi menuju ketuannya.” ujar Noland yang mengeluarkan senyuman sinisnya.
“Baik, Tuan! Serahkan yang disini padaku!” sahut Levi, meskipun sudah sangat kelelahan dia orangnya memang pantang menyerah sampai akhir.
“Kalian berdua tidak bisa pergi kemanapun tanpa melaluiku terlebih dahulu!” seru Felix yang langsung menghadang Noland dan Levi, tetapi kali ini prioritasnya sepertinya untuk menghalau Noland pergi memburu Jayden yang telah melarikan diri itu.
“Hahahaa,…Benarkah? Apa boleh kucoba!” sahut Levi yang kembali menyerang Felix tanpa ampun, hingga membuatnya sedikit terpukul mundur.
“Sial! Apakah kita harus melawannya bersama-sama, baru aku diperbolehkan lewat?” gumam Noland yang sebenaranya merasa sangat kesal sekarang.
Noland dan Levi pun mencoba cara itu, mereka menyerang Felix secara bersamaan tapi pria tetap tidak membiarkan Noland melewatinya meskipun semakin terdesak.
Felix benar-benar lawan yang patut diperhitungkan dibandingkan dengan Jayden dan yang lainnya, kemampuan menyerangnya sangat cepat dan tepat pertahanannya pun sangat kuat.
Tanpa diduga bantuan datang pada mereka, seperti Rayden yang mendapat bantuan Si kembar disaat yang sangat tepat.
Will pun datang dan langsung membantu Noland membuka jalan untuk mengejar Jayden. Begitu sampai disana, Will langsung ikut menyerang Felix hingga tidak bisa berkutik lagi saat Noland melewatinya.
“Maaf aku sedikit terlambat, Tuan!” ujar Will.
“Tidak, kau datang disaat yang tepat! Kalian urus dia dengan baik ‘yah! Aku pergi berburu lagi.” sahut Noland yang segera pergi begitu saja.
Noland pun masuk kedalam rumah itu dan mencoba mengejar Jayden secepat mengkin, tetapi banyaknya ruangan tertutup yang dia lalui membuatnya sedikit terkecoh. Dia pun mengecek satu persatu isi ruangan didalamnya.
“Haahh,…Sebenarnya aku sangat lelah! Aku jadi merindukan ruangan kerjaku dikantor.” gumam Will yang sebenarnya tidak mau melanjutkan bertarung dan membiarkan Levi yang mengurusnya saja.
Disaat seperti ini, Will malah merindukan suasana kantor yang lebih tenang dibdantikan dengan bertarung, meskipun pekerjaannya dikantor tiap hari kian menumpuk.
__ADS_1
Menurutnya itu lebih baik dibandingkan dengan bertarung seperti ini.
...****************...
Jayden pun memanfaatkan kesempatan itu untuk melarikan diri dan masuk kedalam rumah itu, begitu masuk dia langsung menuju ke ruang utama dimana terdengar sedang ada pertarungan disana.
Belum sampai Jayden diruangan utama dari kejauhan dia melihat Lucia yang berdiri sendiri sedang memperhatikan pertarungan Rayden dan Evan.
Terlihat jelas bahwa Evan seedang terdesak oleh serangan yang dilontarkan oleh Rayden yang tengah menggila seperti papahnya itu.
Jayden pun mengeluarkan belatinya dan berjalan pelan mendekati Lucia yang masih belum menyadari keberadaannya itu.
Karena terlalu focus memperhatikan pertarungan sang papah, Lucia pun terlambat menyadari kedatangan Jayden disana.
Begitu Lucia berniat untuk melawan, Jayden sudah mengarahkan belatinya tepat dileher Lucia dan kemuadian berteriak dengan kencang.
”Semua berhenti! Atau belati ini akan merobek lehernya!”
Rayden dan Evan pun langsung menghentikan pertarungan mereka dan menatap kearah Jayden, begitu juga dengan Luca dan Zhia.
Seketika mata Rayden, Zhia dan Luca terbelalak melihat Lucia yang kini sudah berada ditangan Jayden bahkan dengan belati tajam di dekat lehernya.
Suara Jayden terdengar begitu keras, hingga membuat Noland mendengarnya dari kejauhan.
Noland pun segera berlari kearah sumber suara dan begitu sampai disana betapa terkejutnya dia melihat Lucia sedang menjadi tawanan Jayden.
Bersambung.............
Note :
Hay, kak!😄😄😄
Jangan Lupa guys!
Novel ini masih On Going 'yah! Maaf untuk sementara waktu updatenya tidak menentu🙏🙏🙏😢
Jadi, mohon untuk dukungannya 'yah!🙏🙏😄
Jangan Lupa tinggalkan Like, Coment, Vote dan kasih bintang 5 juga 'yah!😉😉😄
Novel ini hanya ada dan update di Aplikasi Noveltoon/Mangatoon saja. Yang ada ditempat lain itu semua plagiat. Jadi, mohon selalu dukung novel Orisinilku ini 'yah!😉😄😄
Jangan lupa berikan ❤💕💖 untuk Author tersayang kalian ini 'yah!😉😙😘😚
Tambahkan juga ke rak favorit novel kalian 'yah! Supaya tidak ketinggalan kisah serunya Double L, Papah Rayden dan juga Mamah Zhia!😉👌
__ADS_1
Terima kasih All!😙😘😚