
Jam sembilan pagi, Reyhan dan keluarga serta para sahabatnya sudah berada di gedung pasar yang akan segera diresmikan. Banyak sekali warga sekitar yang hadir dan para pedagang yang sudah menyewa kios di pasar itu.
" Sayang, apa kamu suka tempat ini?" bisik Reyhan.
" Iya, Mas. Tempatnya sangat bagus, nanti kalau kita menginap di rumah ayah, deket ke pasarnya." sahut Syifa.
" Sekalian aja kita tinggal di pasar ini, sayang."
" Tinggal disini? Mas pikir aku security, tidur disini?"
" Ya udah, kita masuk ke tempat acara sekarang. Kita duduk di sebelah panggung acara."
" Kok disana, Mas? Terus pemilik gedung pasar ini yang mana?"
" Mmm... nanti juga kamu tahu."
Reyhan menggandeng tangan Syifa menuju tempat yang sudah disediakan penyelenggara. Disana sudah banyak tamu yang hadir termasuk beberapa klien yang akan bekerjasama dengan Reyhan.
" Fa, kapan - kapan kita belanja disini yuk? Mama penasaran pengen lihat - lihat tempat ini." ucap mama Salma antusias.
" Iya, Ma. Syifa juga penasaran pengen keliling sampai atas."
" Kalau mama buka butik disini kira - kira laku nggak ya?"
" Tidak akan laku, Ma. Disini itu pasar rakyat gaya modern, walaupun tempatnya bagus, tapi harganya terjangkau oleh masyarakat menengah ke bawah." ucap Reyhan.
" Sok tahu kamu, Rey. Kayak yang bikin pasar ini kamu aja." cibir mama Salma.
" Rey bicara soal fakta, Ma. Coba ingat berapa harga pakaian di butik mama yang paling murah?"
" Mmm... sekitar lima belas jutaan sih."
" Maka dari itu, pengunjung disini mencari yang harganya dibawah seratus ribu."
" Kau ini hanya membual saja!" ketus mama Salma.
" Ma, jangan dengarkan mas Rey. Lebih baik kita tunggu saja acara dimulai." ucap Syifa.
" Sayang, kamu juga percaya sama, Mas?" keluh Reyhan.
" Udah, diem aja."
" Mas ada kejutan untuk kamu sebentar lagi." bisik Reyhan pada istrinya
Syifa mengabaikan suaminya dan fokus melihat pembawa acara yang mulai naik keatas panggung. Dia sangat penarasan, siapa pemilik gedung pasar ini.
Setelah sambutan dari pemerintah daerah dan juga perwakilan dari serikat dagang di pasar itu, kini mulailah pemilik gedung pasar di panggil untuk memberikan sambutan dan menjelaskan secara rinci mengenai pasar yang terdiri dari lima lantai itu.
" Acara selanjutnya adalah sambutan dari pengusaha muda pemilik gedung pasar ini Tuan Reyhan Aditama. Silahkan naik ke atas panggung." ucap pembawa acara.
Mendengar nama Reyhan disebut, Syifa menatap suaminya tidak percaya. Begitupun dengan mama Salma yang ikut terkejut.
" Mas, ini beneran kamu yang bangun?" tanya Syifa.
" Rey, kenapa kamu nggak pernah bilang ke mama?" cecar mama Salma.
Reyhan hanya tersenyum lalu naik ke atas panggung sambil menarik tangan sang istri agar ikut mendampinginya.
Setelah acara sambutan selesai, saatnya untuk pemotongan pita. Semua orang sudah menunggu moment ini dengan sangat antusias.
" Sayang, kamu yang potong pitanya." pinta Reyhan.
" Kok Syifa, Mas? Mas aja, ya?"
" Hei... ini semua mas lakukan untuk kamu. Ayo, semua orang sudah menunggu."
" Ayo, Fa. Mama sudah tidak sabar ingin berkeliling tempat ini." ujar mama antusias.
Papa Hendra hanya tersenyum melihat tingkah istrinya yang heboh sendiri. Tidak seperti biasanya, wanita paruh baya itu mengesampingkan image-nya.
" Bismillahirohmaanirrohiim..." ucap Syifa dalam hati seraya memotong pita di depannya.
Suara tepuk tangan dan teriakan para warga menambah suasana semakin ramai. Acara di tutup dengan do'a bersama lalu makan bersama. Reyhan sudah menyiapkan menu restoran yang akan menempati blok di lantai empat.
" Rey, ini sangat luar biasa. Papa sangat bangga padamu." ucap papa Hendra.
" Terimakasih, Pa. Semua ini berkat kerja keras papa juga, Rey bisa membangun pasar ini." sahut Reyhan.
" Selamat ya, Rey. Ini sangat menakjubkan, darimana kamu dapat ide membangun pasar disini?" tanya Ardan.
" Sebenarnya hal ini sudah sangat lama aku rencanakan semenjak aku sering mengantar bu Aisyah ke pasar. Aku merasa warga sekitar sini terlalu jauh jika harus berbelanja di pasar lama. Karena mendapat dukungan dari ibu, aku mulai mengumpulkan modal untuk membangun pasar ini." jawab Reyhan.
" Kamu memang hebat, Rey. Selamat untuk kesuksesan kamu." ucap Sony.
Kini Reyhan mengajak mereka langsung ke lantai lima dimana itu adalah lantai paling atas yang digunakan untuk kantor dan gerai perhiasan serta gadget.
" Mas, design lantai ini sangat bagus." ucap Syifa kagum.
" Ada yang lebih indah lagi dari ini, sayang."
Reyhan memasuki ruang kerja pribadinya dimana tempat itu baru Rendi, Deni dan Ardan yang tahu. Shella dan Clarissa yang sedari tadi mengekor di belakang berdecak kagum dengan interior ruangan itu.
" Apa kalian sudah siap dengan kejutan selanjutnya?" kata Reyhan.
" Kejutan apalagi, Mas?" tanya Syifa.
" Ren, kita naik sekarang." titah Reyhan.
" Siap, boss."
Rendi berjalan ke arah ruangan kecil di belakang meja kerja Reyhan lalu tangannya dengan cekatan menyentuh dinding dengan gerakan jemarinya. Tak lama, sebuah pintu terbuka lebar dan terdapat sebuah tangga di depannya.
" Masya Allah..."
" Subhanallah..."
Semua orang berdecak kagum melihat tempat yang baru pertama kali ada di depan matanya. Reyhan berjalan lebih dulu sambil mempererat genggaman tangannya yang sedari tadi tak melepaskan istrinya. Mereka menaiki tangga menuju atap gedung pasar dengan jantung yang hampir copot karena melihat pemandangan diluar dugaan mereka.
__ADS_1
" Rey, kamu membangun rumah diatas pasar?" pekik mama Salma.
" Ish... mama norak, tidak pernah lihat rumah sultan, ya?" ledek Reyhan yang langsung mendapat cubitan dari istrinya.
" Auwww... sakit, sayang." rintih Reyhan.
" Makanya yang sopan kalau sama orangtua!" omel Syifa.
" Iya tuh, masa' mama dibilang norak." ketus mama Salma.
Reyhan menyuruh Rendi mengajak semuanya berkeliling di rumah barunya. Sedangkan dia sendiri mengajak sang istri masuk ke kamar pribadinya.
" Mas, kenapa nggak bilang kalau membuat pasar disini?" tanya Syifa.
" Kalau bilang namanya bukan kejutan, sayang." ucap Reyhan gemas.
Reyhan menarik tubuh Syifa hingga terjatuh ke dalam pangkuannya. Kecupan hangat mendarat di bibir sang istri dengan sangat lembut.
" Masss...!" Syifa berusaha menepis tangan suaminya yang nakal.
" Apa tidak ada hadiah untuk Mas hari ini?" kata Reyhan dengan suara tertahan.
" Apaan sih, Mas? Jangan macam - macam deh!"
" Cuma satu macam, minta ini." Reyhan menunjuk sesuatu yang membuat Syifa menatapnya tajam.
# # #
Malam hari, semua sudah pulang ke rumah masing - masing kecuali Reyhan dan Syifa. Mereka akan menempati rumah baru yang sangat mewah itu berdua saja.
" Sayang, apa kau suka rumah ini?" Reyhan mendekap tubuh istrinya.
" Suka, disini sangat nyaman. Tapi, apa kita akan tinggal disini?" tanya Syifa.
" Tidak, sayang. Ini hanyalah tempat persinggahan untuk melepas lelah dan mencari ketenangan."
" Jadi, kita tetap tinggal di rumah papa?"
" Iya, sayang. Bukannya dulu kamu yang ingin menetap di rumah papa? Sebenarnya Mas pengen ajak kamu menetap di New York, tapi sepertinya kamu lebih senang disini."
" Kita hanya punya papa dan mama, mereka butuh kita Mas. Walaupun Syifa ingin sekali kesana, namun kita tidak boleh egois."
" Istriku memang yang terhebat, bisakah kita_..." lirih Reyhan.
" Ish... apa tidak bisa menunggu sebentar lagi? Syifa masih pengen diluar." sungut Syifa.
" Tidak bisa, sayang. Mas tidak sabar ingin membuat baby tumbuh disini." Reyhan mengusap pelan perut istrinya dengan lembut.
" Apakah Mas menginginkannya secepat ini?"
" Tentu saja, sayang. Mas ingin secepatnya memiliki anak darimu. Kita akan membuat yang banyak supaya rumah menjadi ramai."
" Banyak? Mas pikir gampang ngurusin anak banyak, situ enak bikin doang." sungut Syifa.
" Hahahaa... nanti Mas bantu urus anak - anak kita, sayang. Kita harus punya 12 anak."
" Hahh... Mas jahil deh! Kenapa anak kita harus dua belas?"
" Biar nanti bisa membuat tim sepak bola, sayang."
" Bukannya pemain sepak bola cuma sebelas orang?"
" Yang satu jadi pelatihnya... hahahaa..."
" Ish... kalau begitu mas aja yang hamil, sekalian bikin seratus anak!"
Reyhan merebahkan istrinya di tempat tidur untuk melewati malam panjang bersama.
# # #
Dua bulan kemudian,
Syifa yang sedang di kantor papanya tiba - tiba meminta suaminya untuk datang. Reyhan tidak bisa menolaknya karena beberapa hari ini sang istri selalu marah jika keinginannya tidak dituruti.
" Ren, saya harus pergi sekarang. Batalkan semua jadwal meeting hari ini." perintah Reyhan.
" Tapi, boss... klien yang dari Bali mengajak makan malam jam delapan." kata Rendi.
" Huhh... nanti aku pikirkan lagi, Syifa akhir - akhir ini bersikap aneh dan suka cemburuan." keluh Reyhan.
" Jangan - jangan lagi hamil, boss?"
" Hamil...? Tapi dia tidak pernah bilang padaku?"
" Coba aja cek ke dokter kandungan, mungkin Syifa juga tidak menyadarinya."
" Baiklah, saya pergi sekarang."
Reyhan bergegas menuju kantor papanya dan segera mengajak Syifa pergi dari sana. Sang istri heran dengan tingkah suaminya yang hanya diam sepanjang perjalanan.
" Mas, kita mau kemana? Ini masih jam kerja loh?"
" Sebentar saja, sayang. Nurut saja sama suamimu ini."
" Terserah, tapi nanti beli ice cream ya?"
" Iya, sayang. Kita beli apapun yang kamu mau."
Tak berselang lama, mereka sampai di rumah sakit milik Sony. Reyhan memang sudah membuat janji dengan Sony untuk mencarikan dokter specialis kandungan.
" Mas, kita mau ngapain kesini?"
" Ketemu Sony, ayo masuk. Apa mau mas gendong?"
" Tidak, malu dilihat banyak orang."
Sampai di ruangan Sony, ternyata ada Ardan juga disana. Reyhan dan Syifa segera masuk ke ruangan itu.
__ADS_1
" Assalamu'alaikum." ucap Syifa dan Reyhan.
" Wa'alaikumsalam." jawab Sony dan Ardan.
" Kakak, Abang..." teriak Syifa.
" Masya Allah, habis makan petasan ya?" sahut Ardan.
" Hhh... menyebalkan!" ketus Syifa.
Reyhan menyuruh istrinya untuk duduk di sofa lalu berbicara sebentar dengan Sony.
" Sebentar, Rey. Orangnya lagi jalan kesini." kata Sony.
" Ok." jawab Reyhan singkat.
Tak lama, seorang wanita cantik berusia tiga puluhan masuk ke ruangan Sony dengan pakaian putihnya. Dia adalah dokter kandungan yang direkomendasikan oleh Sony.
" Maaf, Dok. Apa periksanya disini atau ruangan saya?"
" Disini saja, dokter Rima. Dek, ayo cepat kesini." kata Sony.
" Mau ngapain, kak? Syifa nggak sakit kok." ucap Syifa.
" Ayo, sayang. Cuma sebentar," bujuk Reyhan.
Syifa hanya bisa pasrah saat Reyhan mengangkat tubuhnya ke brankar di sudut ruangan. Dokter Rita segera memeriksa Syifa dan menyuruh untuk mencoba alat tes kehamilan untuk memastikan.
Setelah selesai semua pemeriksaannya, Syifa segera turun dari brankar dan duduk di pangkuan suaminya tanpa rasa malu sedikitpun dihadapan semua orang.
" Mas, ayo cepat pulang." rengek Syifa.
" Iya, sayang. Sebentar ya, tunggu hasil pemeriksaannya dulu." ujar Reyhan lembut.
" Bagaimana dokter Rita?" tanya Sony.
" Selamat ya, Tuan dan nyonya... Nyonya sedang hamil sekarang. Usia kandungannya menginjak enam minggu." kata doktedr Rita.
" Dokter tidak bohong, kan? Alhamdulillah..."
Semua mengucap syukur dengan kehamilan Syifa. Reyhan sampai mencium istrinya berkali - kali karena rasa bahagianya. Syifa menangis haru dalam dekapan suaminya.
" Terimakasih, sayang. I love you..." lirih Reyhan.
Tak ada kata yang mampu Syifa ucapkan atas anugerah terindah yang ia dapatkan saat ini. Hanya rasa syukur dalam hati yang bisa ia panjatkan kepada Sang Pencipta seluruh makhluk.
# # #
Sembilan bulan kemudian,
Syifa sedang berada di rumah sakit karena dari pagi sudah mengalami kontraksi dan sebentar lagi akan melahirkan. Reyhan dengan setia menemaninya sampai ke ruang persalinan.
" Sayang, kamu harus kuat demi anak kita. Mas akan selalu menemani kamu disini." lirih Reyhan.
" Mas jangan khawatir, Syifa baik - baik saja. Mas tunggu aja diluar, biar mama yang temani Syifa."
" Tidak, sayang. Mas tidak akan meninggalkanmu."
" Mas, Syifa mohon... Syifa ingin ditemani mama sebagai pengganti ibu."
" Baiklah, Mas panggil mama dulu." Reyhan mengecup kening istrinya cukup lama sebelum keluar dari ruang persalinan.
" Rey, kenapa kamu keluar?" tanya mama Salma.
" Syifa pengen ditemani mama, Reyhan diusir." jawab Reyhan sendu.
" Ya sudah, mama masuk dulu."
Hampir satu jam di ruang persalinan, akhirnya Syifa bisa melahirkan secara normal. Keluarga menyambut bayi laki - laki itu dengan penuh haru.
Satu minggu setelah kelahiran putra Reyhan dan Syifa,
Bayi mungil itu sekarang sedang berada di pangkuan Syifa di taman depan rumah. Arkhan Putra Aditama, nama bayi tampan itu yang diberikan oleh kakeknya Hendra Aditama.
" Sayangnya ayah lagi berjemur ya sama Bunda," Reyhan mencium pipi anak dan istrinya bergantian.
" Ayah modus terus, cium bunda sama Arkhan." cibir Syifa.
" Ayah, kan sayang sama bunda dan Arkhan." sahut Reyhan.
Reyhan mengambil putra kecilnya dari pangkuan sang istri lalu mendekapnya dengan penuh kasih sayang.
" Terimakasih, sayang. Kamu sudah memberikan kebahagiaan di keluarga ini. Kehadiran Arkhan telah melengkapi kehidupan rumah tangga kita."
" Syifa juga bahagia bisa hidup bersama mas Reyhan. Walaupun banyak rintangan yang kita lewati, semua itu tak menyurutkan cinta kita berdua."
Reyhan memeluk istrinya sambil satu tangannya mendekap bayi mungilnya. Rasa syukur tak terhingga ia panjatkan kepada Sang Khaliq.
.
.
THE END
.
.
Terimakasih untuk para readers yang sudah berkenan membaca karya Author. Semoga dapat menjadi hiburan bagi reader di waktu luang.
Jangan lupa baca karya Author yang baru " Mengejar Cinta Gadis Brutal ".
Author tunggu dukungan para readers di karya yang lain. Bisa cek di profil Author untuk karya sebelumnya.
.
.
__ADS_1