ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 18


__ADS_3

" Mama minta kamu cari Reyhan, Fa." pinta mama Salma.


" Maksud mama?" tanya Syifa tidak mengerti.


" Temui Reyhan di Amerika, bawa dia pulang. Mama sangat merindukannya." ucap mama menghiba.


Syifa tampak terdiam memikirkan permintaan mamanya. Dia tidak bisa menolak namun juga sangat berat jika harus menurutinya.


" Fa, kamu mau kan mengabulkan permintaan mama kamu?" tanya papa Hendra.


" Iya, Pa. Syifa akan menyusul Reyhan ke Amerika. Mama tidak usah khawatir, Syifa pasti akan membawa Reyhan pulang."


" Terimakasih, sayang." ucap Papa dengan tersenyum.


" Kalau begitu, Syifa keluar dulu ya Pa,"


" Sebaiknya kau ke kantor saja, Fa. Banyak pekerjaan yang harus diselesaikan sebelum kamu berangkat ke Amerika."


" Tapi, Pa_..."


" Tidak apa - apa, ada papa disini."


Setelah berpamitan, Syifa keluar dari ruangan IGD menuju tempat parkir. Saat hendak masuk mobil, ada seseorang yang memanggilnya.


" Syifaa...!"


Ya, dia adalah Ardan yang baru keluar dari mobilnya. Dia sedikit berlari menghampiri Syifa dengan tersenyum.


" Ardan, kamu ada disini?" tanya Syifa.


" Iya, ada janji dengan Sony. Mau ikut?"


" Aku harus ke kantor, banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan."


" Sebentar, Fa. Sudah lama kita tidak kumpul bareng."


" Janji tidak akan lama?"


" Iya, aku janji hanya sebentar."


Syifa dan Ardan berjalan beriringan menuju ruangan Soni di lantai lima. Mereka hanya diam sepanjang perjalanan karena Syifa yang terlihat tidak fokus saat berjalan. Dia beberapa kali hampir menabrak orang jika saja Ardan tak menarik tubuhnya.


Sampai di ruangan Sony, Syifa langsung duduk seraya mengalihkan pandangannya ke aquarium di sudut ruangan yang di dalamnya ada sepasang ikan koi yang warnanya sangat indah.


" Fa, kamu disini juga?" tanya Sony.


" Iya, tadi ketemu Ardan di parkiran." jawab Syifa lesu.


" Memangnya kamu darimana?"


" Tadi antar mama kesini, saat aku mau berangkat ke kantor mama pingsan."


" Tante Salma sakit apa?" tanya Ardan.


" Belum tahu, nunggu hasil tes laboratorium dulu."


Sony melihat raut wajah Syifa yang terlihat tidak semangat. Gadis itu lebih sering murung dan seperti tak punya semangat.


" Fa, apa kamu sedang ada masalah?" selidik Sony.


" Tidak, kak. Hanya saja_..." Syifa ragu untuk mengatakan pada dua sahabatnya.

__ADS_1


" Katakan saja, Fa. Kami berdua akan selalu ada buat kamu." kata Ardan.


Syifa menatap dua sahabatnya secara bergantian lalu menghela nafas panjang. Dia masih ragu dengan keputusannya sendiri.


" Fa, kenapa diam?" ujar Sony.


" Mmm... Mama... Mama memintaku untuk menjemput Reyhan." ucar Syifa seraya merebahkan kepalanya ke meja.


" Menjemput Reyhan? Memangnya kamu tahu alamat rumah Reyhan di New York?"


" Tidak, aku hanya tahu alamat kantornya saja."


" Kapan kau berangkat?"


" Mungkin besok, aku akan mengatur ulang jadwal kantor hari ini."


" Apa tidak bisa di undur lusa? Besok aku ada meeting di Bali tidak bisa menemanimu, Fa." ucap Ardan.


" Iya, Fa. Besok aku juga seminar di Bandung tidak bisa ikut denganmu." imbuh Sony.


" Tidak apa - apa, aku bisa pergi sendiri." kata Syifa.


Sebenarnya Ardan dan Sony tidak mengijinkan Syifa pergi sendirian ke negara yang cukup jauh. Tapi mereka juga tidak bisa menemani Syifa karena pekerjaan masing - masing yang tidak bisa ditinggalkan.


" Fa, kamu hati - hati ya? Terus kabari kami apapun yang terjadi disana." pesan Ardan.


" Insya Allah, do'akan agar Reyhan mau pulang bersamaku."


" Reyhan pasti mau, dia sangat mencintai kamu." ucap Ardan.


" Kau sudah tahu, tapi masih saja mengejar Syifa!" ketus Sony.


" Aku juga sama seperti Reyhan, mencintai Syifa. Tapi aku kurang beruntung, cinta Reyhan ternyata sangatlah besar untuk Syifa." Ardan melirik Syifa yang terdiam dengan tersenyum.


" Aku tahu kau juga sangat mencintai Reyhan, kejarlah cintamu. Jangan sampai dia mendapatkan penggantimu."


" Aku tidak berharap Reyhan kembali padaku. Yang penting saat ini adalah membuat Reyhan kembali kepada keluarganya dan aku bisa pergi dari keluarga Aditama dengan tenang."


" Fa, kau yakin akan melakukan itu?" tanya Sony.


" Iya, kak. Aku ingin Reyhan kembali kepada keluarganya dan kalian bertiga bisa menjalin persahabatan seperti dulu lagi sebelum adanya diriku."


Ardan dan Sony menatap tak percaya pada Syifa yang sudah membuat keputusan tanpa memikirkan akibatnya. Mereka ingin mencegah, namun saat ini Syifa sedang tidak bisa berpikir dengan baik. Percuma saja, karena gadis itu pasti kekeh dengan keputusannya.


" Tidak perlu memikirkan hal itu dulu. Kau harus tenang dan berfikir positif, semua akan kembali seperti dulu dan kita berempat tidak akan pernah berpisah." ucap Ardan.


Mereka bertiga saling berpelukan sebelum Syifa berpamitan untuk segera pergi ke kantor. Pasti Deni sekarang kerja sendirian di kantor.


# # #


Sampai di kantor, Syifa langsung masuk ke ruangannya untuk merubah jadwalnya minggu ini. Dia tidak tahu sampai kapan berada di Amerika.


" Ya Allah, kuatkanlah aku menghadapi semua ini. Semoga aku bisa bertemu Reyhan dan membawanya kembali kepada keluarganya." gumam Syifa.


" Fa, kau sudah datang?" sapa Deni.


" Eh... iya, kak. Baru saja sampai kok." sahut Syifa sedikit terkejut.


" Pagi - pagi udah bengong, mikirin pacar ya?" ledek Deni.


" Oh iya, sampai lupa. Untung kak Deni mengingatkan."

__ADS_1


Syifa meraih telfon di depannya lalu menyuruh seseorang membawakan makanan dan minuman untuknya.


" Telfon siapa, Fa?"


" Pacar impian... hehehee."


" Pasti Danang... hahahaa,"


Tak lama orang yang mereka bicarakan datang dengan membawa pesanan Syifa. Dia hanya tersenyum malu saat Syifa menyapanya dengan tersenyum.


" Danang, terimakasih ya. Kamu baik sekali, nanti sore ikut denganku ya?" ucap Syifa.


" Mau kemana, Non?" tanya Danang tanpa menatap Syifa.


" Ikut saja, sekarang kamu kembali kerja sana."


" Baik, Non."


Setelah Danang pergi, Deni tertawa terpingkal - pingkal. Dia merasa tingkah Syifa lucu dan aneh.


" Kenapa kak Deni tertawa?" tanya Syifa sembari memakan sarapannya yang tertunda.


" Hahahaa... kamu mau ajak OB itu kencan?"


" Memangnya kenapa? Kurasa dia teman yang baik, dia sangat menghargai perempuan."


" Kalau dia beneran suka sama kamu gimana?"


" Danang tidak seperti itu, aku yakin dia hanya menganggapku teman saja. Sering kami berdua ngobrol dan dia ternyata sangat menyenangkan. Di balik sifat pemalunya, kata - katanya sungguh bijak."


" Astaga, jangan - jangan kau yang bucin sama Danang,"


" Ish... kakak ini, Syifa tidak mungkin menyukai dia. Dia lebih pastas jadi sahabat, dia selalu punya solusi saat Syifa sedang butuh teman ngobrol."


" Ya sudah, aku mau mempersiapkan berkas meeting dulu."


" Tunggu, kak!"


" Ada apa?"


Syifa ragu untuk meminta pendapat Deni soal dia akan menjemput Reyhan di Amerika.


" Mmm... Syifa mau menjemput Reyhan?"


" Reyhan pulang? Kapan?"


" Bukan, tapi mama meminta Syifa untuk menyusul Reyhan dan membawanya pulang. Mama sedang sakit sekarang, Syifa tidak bisa menolak permintaan mama."


" Kau mau ke Amerika? Tapi, Fa... apa kamu yakin akan menemui Reyhan? Bukankah dia pergi karena tidak mau lagi bertemu denganmu?"


" Aku tahu, kak. Tapi demi mama, Syifa akan melakukan apapun juga. Aku sudah tidak punya siapapun lagi, meskipun aku tiada takkan ada yang merasa kehilangan."


" Fa, kau tidak boleh bicara begitu. Banyak orang yang sayang padamu."


Syifa hanya tersenyum lalu membuka laptopnya untuk kembali bekerja. Deni merasa Syifa sangat berbeda dengan waktu pertama kali mereka bertemu. Semenjak bertemu dengan Reyhan, Syifa terlihat murung dan tak bersemangat. Tak ada lagi senyum ceria di wajah gadis itu.


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2