
" Ma, pria itu adalah pegawai showroom tempat papa beli mobil untuk Syifa." kata papa Hendra.
" Pegawai showroom?" ucap Reyhan dan mama Salma serempak.
" Memangnya kalian pikir siapa?"
" Tuh anak kamu, tadi udah marah - marah karena cemburu." ucap mama Salma.
" Siapa yang cemburu sih, Ma? Reyhan biasa aja, mama tuh yang heboh sendiri." kilah Reyhan.
Papa Hendra hanya tersenyum melihat tingkah putranya. Ini pertama kalinya Reyhan sangat dekat dengan seorang gadis. Dulu, walaupun mereka jarang bertemu, tetapi papa Hendra selalu memantau Reyhan secara diam - diam.
" Yakin tidak cemburu, Rey?" ledek papa Hendra.
" Apaan sih, Pa!" sungut Reyhan.
" Oh iya, gimana tawaran papa waktu itu? Jadi nggak? Sebelum diambil orang."
" Nanti Reyhan survei dulu, Pa. Mungkin lusa atau kapanlah kalau sudah ada waktu."
" Memangnya kamu sibuk apa, Rey?" tanya mama Salma.
" Sebenarnya bukan sibuk, Ma. Tapi calon menantu mama itu tidak akan membiarkan Reyhan pergi tanpa dia." jawab Reyhan sambil tersenyum.
" Ya udah, mama masuk dulu... panas banget diluar."
Setelah mamanya masuk rumah, Reyhan kembali bicara tentang pekerjaan dengan papanya. Reyhan sudah memutuskan untuk memindahkan kantor pusat S.A Properties ke Jakarta. Sementara yang di New York akan dijadikan kantor cabang dan akan diurus Steven dengan Catherine.
" Pa, Reyhan maunya searah dengan kantor papa saja. Jadinya nanti tidak ribet jika harus antar jemput Syifa." ucap Reyhan.
" Ya sudah, kalau begitu kamu cari orang dulu saja yang bisa kamu percaya untuk jadi asisten kamu. Biar nggak ribet ngurus sendiri."
" Iya, Pa. Tapi Reyhan tidak banyak punya kenalan disini, mungkin nanti tanya Syifa dulu."
" Kau ini, memangnya tidak ada teman - teman sekolahmu dulu?"
" Tidak ada, Pa. Yang Rey kenal dekat itu ya cuma Syifa, Ardan dan Sony."
" Hahahaa... makanya jangan suka menutup diri dengan dunia luar." ledek papa Hendra.
" Rey hanya tidak suka dengan orang yang menjadikan pertemanan sebagai kedok untuk memanfaatkan seseorang."
Tak lama, mobil yang dikendarai Syifa memasuki gerbang. Setelah mobil berhenti, Syifa langsung keluar dan berlari menghampiri papa Hendra.
" Gimana, Fa? Apa semuanya sudah sesuai dengan yang kamu inginkan?"
" Sudah, Pa. Walaupun ini terlalu berlebihan, tapi Syifa sangat menghargai pemberian papa. Terimakasih."
" Semua ini juga hasil kerja kerasmu di kantor, jadi tidak perlu sungkan menerimanya." ujar papa Hendra.
Setelah semua surat - surat kendaraan lengkap dan sudah ada tanda terima, pegawai showroom itu berpamitan karena harus kembali lagi ke tempat kerja.
" Sayang, kok Mas nggak diajak cobain mobilnya?" sungut Reyhan.
__ADS_1
" Hehehee... Ada Mas Reyhan juga disini? Kirain papa sendirian." sahut Syifa nyengir.
" Hmmm... baru juga mobil, yang lain sudah dilupain."
" Sudah, masukkan ke garasi kita makan siang sekarang." ujar papa Hendra.
Syifa memberikan kunci mobilnya kepada Reyhan untuk memasukkannya ke garasi. Setelahnya, mereka makan siang bersama lalu istirahat di kamar masing - masing.
" Sayang, Mas boleh masuk nggak?" Reyhan berdiri di depan pintu kamar Syifa yang setengah terbuka.
" Masuk aja, Mas. Ada apa? Biasanya juga nyelonong aja masuk kamar." sahut Syifa.
Reyhan duduk di samping Syifa yang sedang serius menatap laptopnya.
" Kamu lagi ngapain, sayang?"
" Cuma memeriksa beberapa berkas untuk meeting di Bali lusa. Tidak apa - apa kan Syifa pergi? Syifa tidak menginap, sorenya pulang lagi."
" Sama siapa?"
" Kak Deni, jadi untuk wanita yang mau jadi sekretaris papa itu Mas yang urus dulu ya?"
" Tapi Mas nggak mau kamu cemburu lagi."
" Tidak, Syifa percaya sama mas Rey."
" Sayang, nanti malam jalan yuk? Nyobain mobil baru dari papa." rengek Reyhan.
" Sayang, Mas jauh - jauh pulang dari New York kok malah dicuekin sih?"
Reyhan berbaring di tempat tidur Syifa sambil memanyunkan bibirnya. Dia sangat kesal pada gadisnya yang tidak peka, padahal Reyhan sangat merindukannya dan ingin menghabiskan waktu berdua.
Karena kelamaan menunggu Syifa yang masih fokus dengan laptopnya, Reyhan tertidur di ranjang Syifa. Walaupun sangat lelah, Reyhan tak pernah mengeluh. Apalagi jika sedang bersama kekasihnya.
" Mas, Syifa boleh nanya nggak?" ucap Syifa tanpa menoleh.
" Mas...!"
Beberapa kali dipanggil, Reyhan tak jua menyahut. Syifa langsung mematikan laptopnya dan beranjak menghampiri Reyhan yang berbaring membelakanginya.
" Mas... Mas marah ya? Maaf ya kalau Syifa salah, bukannya Syifa tidak mau pergi tapi Syifa maunya kita di rumah dulu. Syifa tahu Mas lelah, jadi jangan terlalu memaksakan diri. Syifa tidak mau Mas sakit." ucap Syifa.
Reyhan tetap diam walaupun Syifa sudah minta maaf. Syifa menyesal sudah menolak ajakan Reyhan. Sekarang kekasihnya itu marah dan tidak mau bicara dengannya.
" Maasss..." Syifa menyandarkan kepalanya di pundak Reyhan.
" Mmm... sayang, ada apa?"
Reyhan mengubah tubuhnya jadi telentang sehingga membuat Syifa terjerembab ke dada Reyhan. Saat Syifa ingin bangkit, Reyhan malah mendekap erat tubuh gadis itu hingga sulit untuk bergerak.
" Mas tidur?"
" Hmm... memangnya kenapa? Mau ikut tidur ya?" Reyhan menyunggingkan senyumnya walau matanya masih terpejam.
__ADS_1
" Ish... lepas! Syifa mau bangun."
" Sebentar lagi, Mas masih ngantuk."
Reyhan menjatuhkan tubuh Syifa ke sampingnya tanpa melepaskan pelukannya. Dia malah kembali terlelap seperti mendapat kenyamanan yang membuatnya begitu tenang.
" Mas, lepasin Syifa. Nanti kalau papa dan mama kesini gimana?" ucap Syifa panik.
Reyhan yang sudah terlelap tak mendengar rengekan Syifa. Dia semakin mengeratkan pelukannya, mungkin sekarang dirinya sedang mimpi indah.
Karena lelah memberontak, akhirnya Syifa ikut terlelap. Dia butuh banyak istirahat supaya tubuhnya kembali bugar saat kembali bekerja nanti.
# # #
Keesokan harinya, Syifa bangun sebelum shubuh dan membangunkan Reyhan yang tidur di kamar sebelah. Semalam papa Hendra mengajak Reyhan untuk sholat shubuh berjamaah di masjid komplek.
" Mas, bangun! Sebentar lagi shubuh, udah ditungguin papa di bawah." ucap Syifa sambil mengguncang bahu Reyhan.
" Hmm... kamu siapa? Kok sepagi ini ada bidadari di kamarku." sahut Reyhan seraya tersenyum.
" Apaan sih, Mas! Pagi - pagi ngelantur ngomongnya, salah minum obat ya!" seru Syifa.
" Hehehee... Sayangku ini pagi - pagi sudah bikin heboh saja, memangnya nggak bisa diundur lima menit lagi?"
" Memangnya beli kacang, tawar - menawar segala!"
" Jangan marah - marah, nanti anak kita takut sama bundanya."
" Masya Allah, Syifa hitung sampai tiga. Jika tidak bangun juga, Syifa guyur pakai air seember!"
" Iya, sayang. Jangan galak - galak, udah kayak emak tiri aja." sungut Reyhan.
Reyhan langsung beranjak dari tempat tidurnya dan menuju kamar mandi untuk ambil wudlu.
" Sayang, ambilkan baju sama sarung Mas. Taruh saja di ranjang, Mas mau ke kamar mandi dulu." kata Reyhan.
" Iya, Mas. Cepetan sana sebelum adzan shubuh berkumandang." sahut Syifa.
" Iya, calon istriku yang cantik." goda Reyhan.
Dasar jahil, Reyhan mencuri kesempatan mencium pipi Syifa sebelum berlari ke kamar mandi. Gadis itu pasti akan mengomelinya sepanjang waktu.
" Mas Reyhaannn...!"
.
.
TBC
.
.
__ADS_1