
Tok! Tok! Tookkk!!!
Pintu diketuk dengan keras dari luar. Reyhan sangat kesal karena ada saja yang mengganggu kesenangannya.
" Mas, ada yang mengetuk pintu." lirih Syifa.
" Biarkan saja."
Reyhan bukannya berhenti malah semakin memperdalam ciumannya seraya tangannya masuk ke dalam piyama istrinya.
Tok! Tokk! Tookkk!!!
Suara ketukan terdengar lebih keras dibanding sebelumnya. Syifa langsung mendorong tubuh suaminya karena sudah tak nyaman dengan keadaan ini.
" Buka aja, Mas!" sungut Syifa.
" Iya, sayang."
Dengan hati yang sangat kesal Reyhan beranjak dari tempat tidur menuju pintu. Ingin rasanya ia menghajar orang yang sudah mengganggu malam pertamanya.
" Ada apa?!" ketus Reyhan tanpa melihat siapa yang mengetuk.
" Huaaaa...."
Cathy yang berdiri di depan Reyhan malah menangis semakin kencang lalu memeluk pria itu secara tiba - tiba.
" Hey... what are you doing?" tanya Reyhan kaget.
" Siapa, Mas?" Syifa menghampiri Reyhan karena penasaran.
" Ini Cathy tiba - tiba nangis, pakai peluk - peluk lagi. Sayang, tolong lepasin, risih di peluk kayak gini." keluh Reyhan.
Cathy terus terisak dan semakin mempererat pelukannya. Reyhan sampai sesak menahan tubuh gadis bule yang tak berhenti menangis.
" Cathy, listen to me!" kata Reyhan.
" No, dia jahat. Aku membencinya, Rey." isak Cathy.
" Ok, sekarang masuk dulu kita bicara di dalam." ujar Reyhan.
Syifa mencoba melepas tangan Cathy dari tubuh suaminya dengan sangat pelan.
" Cath, kita masuk dulu. Kamu harus tenang, Ok?"
Bukannya diam, Cathy malah beralih memeluk Syifa dengan tangisan yang semakin histeris. Jika saja Reyhan tidak menahan punggung istrinya dengan cepat, pasti dua wanita itu sudah tersungkur di lantai.
" Ayo masuk," kata Reyhan.
Syifa memapah Cathy untuk masuk ke dalam kamarnya. Namun baru saja beberapa langkah, Cathy berlari ke tempat tidur dan masuk ke dalam selimut sambil menangis.
" Mas, Cathy kenapa?" bisik Syifa.
" Nggak tahu, ganggu aja!" kesal Reyhan.
" Ish... jangan begitu, mungkin dia sedang ada masalah."
" Tapi kenapa harus kesini? Dia punya kamar sendiri, sayang."
" Mungkin Cathy butuh teman untuk menyelesaikan masalahnya."
" Huft... sial sekali malam ini." gerutu Reyhan.
" Biar Syifa bujuk dia dulu untuk bicara, Mas tidur aja di sofa kalau ngantuk."
" Hah...! Yang bener aja, sayang. Masa' malam pertama tidur di sofa." sungut Reyhan.
" Nanti kalau Cathy sudah tenang pasti kembali ke kamarnya lagi." bujuk Syifa.
" Baiklah."
__ADS_1
Reyhan memeluk dan mencium istrinya sekilas sebelum merebahkan tubuhnya di sofa.
" Cath, bisakah kamu cerita padaku tentang apa yang terjadi padamu?" ucap Syifa pelan sambil berbaring di samping Cathy.
" David jahat, dia selingkuh." isak Cathy.
" Darimana kamu tahu kekasihmu selingkuh?"
" Huaaa.... aku lelah."
" Ya sudah, sekarang kamu istirahat. Aku antar ke kamarmu, ya?"
" Tidak, aku tidak mau sendirian. Boleh ya, Fa... aku tidur bersamamu disini?"
Syifa bingung harus menjawab apa. Di satu sisi dia tidak tega melihat Cathy yang sedang menangis, namun di sisi lain ada suami sedari tadi tak nyaman tidur di sofa yang sempit.
" Mmm... ya sudah, malam ini kamu tidur disini denganku. Sekarang tidurlah, besok kalau sudah tenang baru cerita tentang masalahmu."
" Terimakasih, Fa."
" Tidurlah, selamat malam."
Syifa membenahi selimut untuk Cathy dan dirinya. Kurang dari setengah jam saja, Cathy sudah tidur dengan lelap. Syifa tidak menyangka Cathy bisa tidur secepat itu setelah menangis histeris.
Syifa turun dari tempat tidur lalu menghampiri Reyhan yang sudah tidur di sofa. Syifa menghubungi pegawai hotel untuk membawakan dua selimut ke kamarnya.
" Terimakasih," kata Syifa pelan kepada pegawai hotel agar tidak membangunkan Cathy dan Reyhan.
Syifa kembali menutup pintu lalu menghampiri suaminya dan memakaikan selimut agar tidak kedinginan. Setelah itu, Syifa menggeser meja di depan sofa lalu memasang selimut untuk dia tidur disana. Syifa tidak ingin Reyhan merasa diabaikan jika dirinya tidur di ranjang bersama Cathy.
# # #
Jam setengah lima pagi Reyhan terbangun seperti biasanya. Dia meregangkan tubuhnya sambil duduk. Saat kakinya hampir menyentuh lantai, Reyhan terkejut karena menginjak sesuatu.
" Astaghfirullah!" pekik Reyhan.
Reyhan melihat ke arah ranjang dan hanya ada satu orang yang tidur disana. Setelah memastikan siapa yang tidur di ranjang, Reyhan terkejut dan bergegas menghampiri orang yang tidur di lantai.
" Ya Allah, Syifa!" lirih Reyhan.
" Sayang, bangun! Kenapa tidur disini?" Reyhan mengguncang tubuh Syifa dengan keras.
Seperti kepompong, Syifa bergerak - gerak di dalam selimut. Dia sulit untuk melepaskan diri dari selimutnya karena Reyhan mendekapnya dengan erat.
" Mmmpphhh...!"
" Sayang, kau tidak apa - apa?"
" Mmmppphhhh...!"
Reyhan berusaha melepas selimut yang membalut istrinya dengan menggulingkannya ke samping. Setelah tiga kali putaran, barulah selimut itu terlepas dari tubuh Syifa.
" Sayang, kenapa kau seperti ini?"
" Hhhh... kenapa Mas malah peluk - peluk sih! Syifa jadi tidak bisa bernafas." sungut Syifa.
" Maaf, sayang. Mas panik tadi, nggak tahu harus melakukan apa."
" Huhh... alasan saja, minggir sana... aku mau ke kamar mandi."
" Sayang, bareng yuk? Habis itu kita sholat shubuh berjama'ah."
" Jangan macam - macam, ada Cathy disitu."
" Hmm... tapi Mas nggak mau berdua aja disini sama Cathy." rayu Reyhan.
" Ya udah, kalau begitu Mas keluar dulu selama Syifa di kamar mandi." sahut Syifa.
" Sayang, Mas kayak orang hilang dong diluar sendirian."
__ADS_1
" Cuma sebentar, Mas. Setelah sholat shubuh kita pulang ke Apartemen."
" Terus, itu si Cathy gimana?"
" Bukankah dia kesini bersama kakaknya, Mas?"
" Iya juga, tapi sebenarnya dia kenapa sih sayang?"
" Semalam dia bilang kekasihnya selingkuh, Mas."
" Masa' sih? Sepertinya David itu sayang banget sama Cathy, nggak mungkin dia selingkuh."
" Mas kenal sama kekasihnya Cathy?"
" Iya, siapapun yang berhubungan dengan Stev dan Cathy Mas harus tahu. Jadi ini semua pasti hanya salah paham."
" Ya udah, kita bicarakan lagi nanti. Syifa mandi duluan, ya?c
" Hmmm..."
Reyhan mencium sekilas bibir istrinya sebelum keluar dari kamar. Sebenarnya dia masih kepikiran dengan istrinya yang tidur di lantai. Apa yang sebenarnya dilakukan wanita yang kini menyandang status sebagai istrinya itu.
# # #
Usai sholat shubuh, Syifa dan Reyhan mengetuk pintu kamar Steven. Mereka akan membicarakan masalah Cathy sebelum pulang ke Apartemen.
" Stev, buka pintunya! Ini saya Reyhan." Reyhan mengetuk pintu beberapa kali.
Tak lama pintu terbuka dan terlihat Steven sudah berpakaian rapi. Sepertinya dia mau pergi ke suatu tempat.
" Rey, ada apa?"
" Ada hal penting yang harus kita bicarakan, Stev."
" Soal pekerjaan?"
" Bukan, ini tentang Cathy dan David."
" Why? What happen?"
" I don't know, Cathy bilang David selingkuh."
" Astaga, itu tidak mungkin. Kita sudah lama mengenal David dan dia bukan pria brengs*k."
" Ya sudah, kau urus adikmu. Saya dan Syifa juga mau pergi ke suatu tempat."
" Dimana Cathy sekarang?"
" Dari semalam dia di kamarku, sekarang masih tidur."
" Maaf, ya? Adikku sudah merepotkan kalian."
" It's OK. Saya pergi dulu," pamit Reyhan.
" Silahkan, Boss."
Reyhan segera mencari taksi di depan hotel untuk pulang ke Apartemen. Setelah mendapatkan taksi, keduanya masuk dan menyuruh sopir taksi segera jalan.
Reyhan sudah tidak sabar untuk sampai di Apartemen. Merindukan pelukan hangat gadis cantik yang sekarang telah sah menjadi kekasih halalnya.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1