ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 90


__ADS_3

Syifa sudah sampai di kota Jakarta. Mungkin jaraknya sekarang tinggal setengah jam lagi untuk sampai di rumah. Namun jalanan saat ini sedang macet parah. Mobil pick up yang ditumpangi Syifa tidak bisa bergerak sama sekali.


" Mang, sepertinya saya turun disini saja. Tidak keburu jika menunggu kemacetan ini." kata Syifa.


" Yakin Eneng mau turun disini?"


" Iya, Mang. Terimakasih ya?"


Syifa mengambil beberapa lembar uang seratus ribuan dan diberikan kepada sopir pick up itu.


" Tidak usah, Neng."


" Tidak apa - apa, Mang. Rejeki jangan ditolak."


" Terimakasih, Neng. Semoga sampai di rumah tepat waktu dan pernikahannya bisa terlaksana dengan lancar."


" Aamiin."


Setelah turun dari mobil pick up, Syifa berlari di trotoar agar bisa cepat sampai di perempatan jalan. Dengan nafas tersengal, Syifa terus berlari tak menghiraukan teriknya matahari yang membakar kulitnya.


Sampai di perempatan, Syifa mengambil jalan ke kiri untuk menuju kediaman Aditama. Acara pernikahan sebentar lagi dimulai dan pasti semua orang menunggu dirinya.


" Mas Reyhan, apa kau pulang?" gumam Syifa pelan.


Saat sedang berjalan, Syifa mulai kelelahan dan kehausan. Dia berjalan tertatih - tatih untuk bisa segera sampai di rumah.


" Nona Syifaaa...!" teriak seseorang yang sedang duduk diatas motornya.


Syifa menoleh ke arah sumber suara mencari orang yang memanggilnya.


" Danaannnggg...! Akhirnya bisa bertemu denganmu." Syifa hampir menangis karena lega.


" Non, kenapa disini? Bukannya sebentar lagi acara akad nikahnya dimulai?" tanya Danang.


" Ceritanya nanti aja, sekarang antar saya pulang."


" Cepat naik, Nona. Pasti di rumah kacau sekarang."


Danang melajukan motornya dengan kecepatan diatas rata - rata agar cepat sampai di rumah Syifa.


# # #


" Ma, Pa... maafin Reyhan. Pasti papa dan mama malu karena pernikahan Reyhan gagal." ucap Reyhan sendu.


" Rey, kamu harus tenang. Papa masih yakin jika Syifa pasti datang." kata papa Hendra tegas.


" Iya, Rey. Mama juga yakin Syifa pasti datang, sayang."


" Reyhan sudah pasrah, ini semua kesalahanku."


" Jangan menyalahkan dirimu Rey, Syifa tidak mungkin dengan sengaja meninggalkanmu di hari pernikahan." kata mama Salma.


Rendi masuk ke kamar Reyhan bersama dengan Steven dan Catherine.


" Boss, Steven dan Catherine ingin bertemu." ucap Rendi.


" Ya sudah, biar kami keluar dulu. Kalian temani Reyhan sebentar." kata papa Hendra.


" Baik, Tuan." jawab Rendi.


Catherine duduk di samping Reyhan dengan menatap iba. Reyhan terlihat lebih kacau daripada saat ingin melupakan Syifa dulu.


" Rey, are you okey?" ucap Cathy.


" Dia marah padaku, dia pergi meninggalkanku." lirih Reyhan.


" No, Syifa tidak mungkin melakukan itu. Syifa pasti kembali, Rey." Cathy menggenggam erat jemari Reyhan.


" Rey, bersiaplah dulu. Saat Syifa datang, kalian bisa langsung menikah." kata Steven.


Rendi merapikan pakaian Reyhan yang berantakan. Jas yang tadinya sudah terlepas dipakaikan lagi oleh Rendi.

__ADS_1


Tak lama, Ardan dan Sony masuk untuk menjemput Reyhan ke tempat akad nikah yang dilaksanakan di ruang tamu.


" Rey, acaranya akan dimulai sebentar lagi. Ayo turun, udah banyak tamu yang datang. Sebentar lagi penghulunya juga datang." kata Ardan.


" Suruh mereka pulang saja semuanya, lagian pernikahannya juga sudah batal." sahut Reyhan datar.


" Rey, malu kalau sampai acara ini dibatalkan. Kamu nggak kasihan dengan Om Hendra dan tante Salma? Beliau pasti malu berhadapan dengan tamu undangan." ujar Sony.


" Bagaimana bisa dilanjutkan? Syifa sampai sekarang belum kembali."


" Paling tidak kamu temui para kolega bisnis yang datang, Rey. Apalagi nanti malam tamu undangan ada ribuan orang, Rey."


" Aku tidak peduli, lagian pengantin wanitanya juga tidak ada."


Ardan dan Sony tersenyum seperti mempunyai sebuah ide agar pernikahan ini tetap dilanjutkan. Ardan memberi kode pada Sony untuk mengutarakan usulannya.


" Rey, aku punya sebuah rencana. Tapi kau harus setuju demi kehormatan keluargamu." ujar Sony.


" Rencana apa?" tanya Reyhan.


" Bagaimana jika pakai pengantin pengganti saja? Nanti kita ajan bicara pada penghulu jika pernikahan ini hanya bohongan dan kita cari seorang gadis untuk duduk di samping kamu saat ijab qobul."


" Tidak, aku tidak mau Syifa salah paham padaku."


" Tidak, Rey. Nanti kamu tetap menyebutkan nama Syifa dalam ijab qobul." bujuk Sony.


" Memangnya bisa begitu?"


" Bisa, itu artinya mempelai wanitanya diwakilkan."


" Kalian hanya ingin menipuku, kan?"


" Ya Allah, Rey... kita ini berteman bukan sehari dua hari, sejak kapan kami menipumu." kata Ardan.


Tak berselang lama, Shella masuk tanpa permisi langsung duduk di samping Reyhan.


" Kakaakkk...! Shella kangen sama kak Rey." Shella bergelayut manja di lengan Reyhan.


" Semalam, kak. Kakak mau menikah kok nggak semangat gitu?"


Sony menatap Shella dengan tatapan tajamnya. Gadis kecil itu menempel manja tak menghiraukan tatapan orang - orang disekitarnya.


" Minggir, jangan gangguin calon pengantin!" Sony menarik lengan Shella lalu duduk diantara keduanya.


" Ish... kakak kenapa sih?" gerutu Shella kesal.


" Kau ini kenapa, Son? Bukannya udah biasa Shella seperti itu sama Reyhan?" tanya Ardan heran.


" Iya nih, kak Sony nggak lihat apa Shella masih kangen sama kakak tampan." sahut Shella.


" Hmm... jadi begitu?" kata Sony menatap tajam.


" Hehehee..." Shella hanya nyengir sambil bersandar di bahu Sony.


Ardan merasa heran dengan tatapan Sony terhadap adiknya. Tidak mungkinkan Sony cemburu pada Shella yang sangat dekat dengan Reyhan.


" Rey, pengantin wanitanya sudah siap. Ayo turun sekarang, penghulunya nanti keburu pergi lagi." kata Ardan.


" Kalian yakin aku harus melakukan ini semua?" ucap Reyhan ragu.


" Percaya, semua pasti berjalan lancar."


" Biar Shella yang mendampingi kak Reyhan," pinta Shella.


" Kalau Syifa tidak ada, kamu aja yang jadi pengantinku, Dek." kata Reyhan.


" Tidak boleh!" ketus Sony membuat semua orang kaget.


" Kenapa, Son?" tanya Ardan.


" Ya... Ya itu, nanti kalau Syifa pulang gimana?" jawab Sony gugup.

__ADS_1


" Tenang saja, aku masih setia nungguin Syifa." celetuk Ardan.


Sony langsung menarik Reyhan keluar dari kamarnya diikuti yang lainnya. Walaupun masih ragu, Reyhan hanya pasrah mengikuti saran para sahabatnya. Sampai di bawah, semua tamu undangan sudah duduk di tempat yang telah tersedia.


Penghulu juga sudah duduk di tempatnya bersama papa Hendra dan para saksi. Reyhan dengan ragu duduk berhadapan dengan penghulu.


" Apa semuanya sudah siap?" tanya pak penghulu.


" Sudah, pak. Kita mulai sekarang saja." kata papa Hendra.


" Mas Reyhan sudah siap?"


" Su... Sudah, pak." jawab Reyhan ragu.


" Kita mulai sekarang."


Ikrar ijab qobul berjalan lancar dengan kata 'SAH' dari para saksi. Semua tersenyum bahagia kecuali Reyhan yang terdiam tanpa ekspresi.


" Sebentar ya? Mama bawa pengantin wanitanya ke bawah." kata mama Salma.


Mama Salma ditemani Shella, Catherine dan Clarissa naik ke lantai atas menjemput mempelai wanita. Mama Salma membuka pintu kamar Syifa dan melihat seorang wanita dengan gaun panjang berwarna putih terlihat sangat cantik dan anggun.


" Apa sudah siap? Kita turun sekarang, semua orang sudah menunggu mempelai wanitanya." kata mama Salma.


" Tante, tunggu sebentar ya? Sepertinya masih ada yang kurang?" sahut Shella.


" Apanya yang kurang, Shella?"


" Sebentar, pengantin wanita harus pakai cadarnya dulu biar para tamu undangan tidak langsung memandang wajahnya sebelum suaminya." kata Shella.


" Nyonya, apa Tuan Reyhan tahu tentang semua ini?" tanya Clarissa.


" Tidak, kita lihat saja nanti di bawah seperti apa reaksi Reyhan jika tahu pengantin wanitanya adalah_..."


" Ayo, tante. Semua orang sudah menunggu."


Sang pengantin wanita hanya diam saja pasrah dengan rencara yang dibuat oleh keluarga Aditama. Dia hanya berharap Reyhan tak marah padanya nanti.


Pengantin wanita menuruni tangga satu demi satu dengan perlahan. Semua tamu berdecak kagum dengan keanggunan mempelai wanita yang terlihat sangat cantik walaupun wajahnya tertutup cadar.


Reyhan menatap tajam wanita yang kini berjalan ke arahnya secara perlahan. Sang mempelai wanita selalu menundukkan wajahnya sehingga Reyhan tak dapat mengenalinya.


Kini mereka hanya berjarak dua langkah saja. Pak penghulu menyuruh sang mempelai wanita untuk mencium tangan suaminya begitu pula sang mempelai pria mencium kening sang istri.


Dengan ragu Reyhan mengulurkan tangannya yang langsung disambut sang mempelai wanita. Namun saat ia harus mencium kening wanita itu, Reyhan tidak tahu harus melakukan apa.


" Ayo, Rey. Acaranya tidak akan selesai jika kau diam saja." bisik papa Hendra.


" Tapi, Pa... Rey tidak bisa melakukan ini." tolak Reyhan.


" Coba kau buka dulu cadarnya." titah papa Hendra.


Reyhan menghembuskan nafasnya dengan kasar lalu dengan ragu meminta ijin kepada wanita di depannya.


" Maaf ya, saya harus membuka cadar yang kau pakai." ucap Reyhan pelan yang hanya diangguki olehnya.


Dengan perlahan Reyhan melepas cadar itu sambil memejamkan matanya tak ingin melihat kenyataan pahit.


" Buka matamu bodoh!" bisik papa Hendra saat cadar sudah terbuka.


Reyhan membuka matanya perlahan dan terkejut melihat wanita di hadapannya itu tersenyum padanya.


" Kau_...!"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2