ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 40


__ADS_3

" Jangaannn...!" teriak Reyhan.


" Kenapa?" tanya Syifa heran.


" Sayang, kau keluarlah sebentar. Mas nggak pakai baju soalnya, kamu mau lihat tubuh Mas tanpa sehelai benang?"


" Ish... lagian kenapa sih Mas malah lepas baju disini! Kalau papa sama mama tahu bisa di gantung kita." sungut Syifa.


" Ya udah, calon istriku yang cantik keluar dulu sebentar biar Mas jalan dulu ke kamar mandi."


" Iya, cepat mandinya! Syifa ngantuk mau tidur."


" Kamu bisa langsung tidur kok saat Mas udah masuk ke kamar mandi. Tenang saja, Mas tidak akan berbuat macam - macam. Kau ibarat air yang harus dijaga kesuciannya."


" Jangan bersyair, Syifa nggak punya recehan."


" Hahahaa... Mas nggak suka recehan, yang besar dong buat penyair tampan."


" Udah ah, Syifa keluar dulu."


Reyhan tersenyum melihat wajah cantik gadisnya yang sangat natural karena tidak memakai make up. Kecantikannya sungguh sangat mempesona. Pantas saja dulu waktu masih sekolah banyak sekali pria yang mendekatinya. Namun dengan liciknya, Reyhan mengancam setiap pria yang mendekati Syifa dengan bogem mentahnya. Sungguh masa remaja yang sangat kacau dalam hidup Reyhan. Demi melindungi Syifa, ia rela sering baku hantam dengan teman sekolahnya sendiri.


Selesai mandi, Reyhan keluar dengan pakaian lengkap. Saat melihat kearah tempat tidur, dia tak mendapati Syifa disana.


" Katanya ngantuk tadi, kenapa sekarang malah tidak ada." gumam Reyhan.


Reyhan keluar dari kamar Syifa dan masuk ke kamarnya sendiri. Ternyata gadis itu sedang duduk bersama Ardan karena Sony masih di kamar mandi.


" Sayang, katanya mau tidur kok malah disini?" tanya Reyhan.


" Tadi ada pegawai hotel yang mengantarkan minuman ini, jadi aku bawa saja semuanya kesini. Baru aja Syifa mau panggil Mas tadi, eh udah nongol duluan." jawab Syifa.


Saat sedang asyik mengobrol, tiba - tiba Sony keluar hanya dengan handuk yang membuat Syifa kaget.


" Aakkhhh! Kak Sony...!" pekik Syifa.


Syifa langsung menutup matanya dan bersembunyi pada dada bidang Ardan yang duduk disampingnya. Gadis itu tanpa sadar memeluk Ardan yang kini malah diam membeku dengan jantung yang berdegup kencang.


" Sial...! Kenapa debaran ini masih tetap ada saat Syifa sedekat ini denganku." batin Ardan frustasi.


Reyhan yang melihatnya sangat geram dan segera menarik Syifa dari dekapan Ardan.


" Kau mau mencari kesempatan!" teriak Reyhan.


Sony yang merasa jadi sumber masalah, segera meraih bajunya diatas ranjang lalu segera masuk kembali ke kamar mandi.


" Jangan asal kalau ngomong! Syifa sendiri yang memelukku." sahut Ardan santai walau sebenarnya jantungnya masih berdetak sangat kencang.


" Udah, Mas. Syifa yang salah, tadi tak sengaja karena kak Sony." ucap Syifa.


" Kamu kan tadi Mas suruh tidur, kenapa malah kesini!" Reyhan tampak sangat marah.


" Sudah, Rey. Inikan hanya masalah kecil, tidak perlu kau memarahi Syifa." kata Ardan.


" Bukan urusanmu!"

__ADS_1


Melihat Reyhan yang emosi, Syifa hanya diam dan mencoba menahan air matanya. Dia tak ingin menambah amarah Reyhan semakin naik dengan membela diri.


" Maaf, ini salah Syifa." ucap Syifa pelan lalu beranjak keluar dari kamar itu.


" Fa, tunggu!" teriak Reyhan.


Teriakan Reyhan diabaikan oleh Syifa, rasanya sakit sekali hatinya saat orang yang dia cintai tak mempercayainya. Syifa segera masuk ke dalam kamarnya dan seketika air matanya jatuh dengan derasnya.


" Aku pikir kau mencintaiku, Mas. Ternyata hanya sampai disitu kau percaya padaku. Aku lelah dengan semua ini, orangtuaku saja tidak pernah membentakku seperti itu." batin Syifa sambil memeluk guling yang kini mulai basah dengan air matanya.


# # #


Reyhan ingin mengejar Syifa namun ditahan oleh Sony. Sony tahu bagaimana keadaan Syifa saat ini. Dari kecil orangtuanya tak pernah sekalipun membentaknya. Mentalnya tidaklah sekuat itu untuk menerima hal - hal baru yang belum pernah dialaminya.


" Rey, jangan sekarang." ujar Sony.


" Kenapa?" sahut Reyhan angkuh.


" Kau belum mengenal dengan baik tentang Syifa."


" Jadi kau merasa lebih mengenal Syifa daripada aku!"


" Tentu saja, jika kau mengenal Syifa dengan baik kau tidak akan meninggikan suaramu padanya."


" Aku akan melakukannya jika dia bersalah!"


" Kau jangan egois, Rey! Aku menyesal melepas Syifa untukmu. Mulai sekarang aku akan merebutnya lagi darimu!" seru Ardan.


" Aku tidak akan membiarkan kau mendekati Syifa!" teriak Reyhan.


" Diam! Kalian berdua memang egois! Kalian tidak tahu apa yang dipikirkan Syifa sekarang, hah...!" bentak Sony.


" Fa, buka pintunya! Ini kakak, Fa!" Sony mengetuk perlahan pintu kamar Syifa.


Beberapa kali mengetuk, tetap tak ada jawaban dari dalam. Tak lama, Ardan dan Reyhan menyusulnya. Mereka ikut mengetuk namun Syifa tak juga membuka pintu.


" Mungkin Syifa sudah tidur, kita tinggalkan saja. Mudah - mudahan besok dia lebih baik." kata Sony.


" Tapi aku harus memastikan Syifa baik - baik saja," sahut Reyhan.


" Percuma, Rey. Jika kau masih belum bisa menekan emosimu, Syifa tidak akan pernah bisa menjadi milikmu." ujar Sony.


" Maksudnya?"


" Orangtuanya Syifa tidak pernah sekalipun membentaknya dan malam ini adalah pertama kalinya ia dibentak oleh orang yang sangat dekat dengannya. Aku yakin saat ini hatinya sedang terluka karena ucapanmu. Jika dia tidak terluka, itu artinya dia tidak mencintaimu." kata Sony datar.


Sony meninggalkan kamar Syifa dan masuk ke kamarnya sendiri untuk istirahat karena lelah seharian ini main di pantai. Ardan juga mengikuti Sony karena tidak ada yang bisa ia lakukan saat ini pada Syifa.


Berbeda dengan dua sahabatnya, Reyhan segera pergi ke resepsionis hotel tersebut untuk meminta kunci cadangan. Dengan berbagai alasan, akhirnya Reyhan mendapatkan kuncinya meskipun harus di dampingi pegawai hotel saat membuka kamar Syifa.


Ceklek!


Pintu terbuka, Reyhan masuk di temani pegawai hotel untuk memeriksa keberadaan Syifa. Namun Reyhan sangat terkejut saat tak mendapati kekasihnya di kamar itu.


" Syifa...! Apa kau di kamar mandi?" teriak Reyhan.

__ADS_1


Reyhan perlahan membuka pintu kamar mandi namun kosong. Kemudian ia ke balkon, namun hasilnya tetap nihil. Reyhan sudah mulai khawatir dengan kepergian Syifa karena sekarang sudah lewat tengah malam.


Reyhan tidak tahu lagi harus mencari kemana, saat ini hanya do'a yang selalu terucap dalam hatinya. Reyhan menyuruh pegawai itu kembali karena dia sendiri akan mencari ke pantai.


Waktu sudah menunjukkan jam satu dini hari, Reyhan menyusuri sepanjang pantai dengan langkah yang tak lagi bertenaga. Dirinya sangat lelah dengan menuruti semua permintaan gadisnya seharian ini. Dia tak mengeluh sedikitpun demi gadis yang sangat dicintainya itu. Kini, hanya dengan satu kalimatnya saja sang kekasih sangat terluka. Reyhan harus bertanggung jawab dengan perbuatannya.


Angin malam tak menyurutkan semangatnya untuk mencari sang kekasih. Ia yang hanya memakai kaos putih pendek itu tak menghiraukan tubuhnya yang kini seakan membeku karena dinginnya malam yang seakan ingin meruntuhkan setiap sendi - sendi tulangnya.


" Sayang, kau dimana? Mas udah cari kamu hingga jauh dari hotel." gumam Reyhan.


Reyhan terus berjalan dari ujung pantai sampai ke ujung yang satunya, namun gadis itu tetap saja tidak ditemukan. Lelah dan frustasi membuat Reyhan mulai hilang arah.


Reyhan naik ke batu karang berharap gadis itu akan kembali ke tempat itu. Namun, kekecewaan yang begitu dalam kembali dirasakan Reyhan saat sang kekasih ternyata tak ada disana.


Tiga jam lebih Reyhan berkeliling pantai mencari Syifa tanpa menghiraukan dirinya yang sangat kacau. Sudah berkali - kali ia bolak - balik menyusuri pantai hingga sayup - sayup terdengar suara adzan shubuh.


Sejenak Reyhan berhenti lalu bergegas mencari mushola terdekat untuk sholat shubuh. Untung saja tak jauh dari pantai itu ada mushola yang memang disediakan sebagai fasilitas tempat wisata.


Reyhan bergegas membersihkan diri dengan air dingin di kamar mandi mushola lalu berwudlu dan segera menjalankan kewajibannya.


Usai sholat, Reyhan bersandar sebentar pada dinding mushola untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis semalam penuh. Tanpa terasa, Reyhan malah tertidur disana dengan tubuh yang sudah tersungkur ke lantai tanpa dia sadari.


Sementara itu, Sony yang lebih dulu bangun tak mendapati Reyhan disampingnya. Hanya Ardan yang masih terlelap dengan selimut yang menutupi seluruh tubuhnya


" Kemana Reyhan?" batin Sony.


Setelah ambil air wudlu, Sony segera membangunkan Ardan untuk sholat berjamaah. Ardan yang masih mengantuk, dengan langkah yang dipaksakan segera masuk kamar mandi untuk ambil wudlu.


Usai sholat, Sony kembali merebahkan tubuhnya di tempat tidur diikuti Ardan. Mereka berkutat sendiri dengan pikiran masing - masing.


" Dan, apa Reyhan semalam nggak balik ke kamar?" tanya Sony.


" Tidak tahu, Son. Semalam aku langsung tidur saat masuk kamar. Reyhan masih ada di luar di depan kamar Syifa." jawab Ardan.


" Kita cari yuk? Siapa tahu semalam sudah bertemu dengan Syifa dan tidur di kamarnya." ajak Sony.


" Ayo, akan kuhajar dia jika sampai menyakiti Syifa!" geram Ardan.


" Kau belum ikhlas melepas Syifa pada Reyhan?"


" Aku tidak akan rela jika dia menyakiti Syifa."


" Di antara kau dan dia, kurasa saat ini belum ada yang pantas untuk Syifa. Kalian masih mengandalkan nafsu dan keegoisan."


Sony keluar kamar diikuti Ardan di belakangnya berniat mencari Reyhan dan Syifa. Mereka pikir, sepasang kekasih itu sedang bersama.


Saat melintasi kamar Syifa, tiba - tiba pintunya terbuka sehingga membuat mereka berdua terkejut.


" Astaghfirullah...!"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2