ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 56


__ADS_3

" Reyhan Aditamaaaa...!" teriak Syifa lantang.


Teriakan Syifa yang kencang membuat mang Tofa dan bi Saroh bergegas menghampiri dengan nafas tersengal karena berlari.


" Sayang, kenapa teriak sih?"


" Mas tuh..."


" Hahahaa... " Reyhan menarik tubuh ke dalam dekapannya.


" Lepasin...!"


Bi Saroh dan mang Tofa melihat keduanya sedang berpelukan. Mereka jadi tidak enak untuk menyapa. Reyhan yang melihatnya segera melepaskan pelukannya.


" Bi Saroh, kenalkan ini calon istri saya, Syifa." kata Reyhan.


" Eh... iya, Den. Kenapa kesini tidak mengabari kami dulu, jadi bibik bisa siapkan kamar dan juga bahan makanan." ucap bi Saroh.


" Tidak apa - apa, bik. Kami hanya menginap semalam, besok pagi harus kembali ke Jakarta."


" Iya, Den."


Sembari menunggu kamar dibersihkan, Reyhan mengajak Syifa untuk keliling Villa.


" Mas, mereka nanti malam juga menginap disini kan?"


" Mas tidak tahu, sayang. Kamu kenapa sih?"


" Tiba - tiba Syifa rindu ibu dan ayah. Besok pulang dari sini langsung ke makam mereka ya?"


" Iya, sayang. Mas tahu kamu lelah, jangan memikirkan apapun dulu." Reyhan membingkai wajah Syifa lalu mencium keningnya cukup lama.


# # #


Selepas maghrib, Syifa duduk di teras menikmati pemandangan di sekitar Villa. Sangat indah dan sunyi tanpa adanya kebisingan seperti di kota.


" Kau senang, sayangku?" bisik Reyhan lembut seraya memeluk Syifa erat dari belakang.


" Aakkhhh! Mas ngagetin Syifa sih?" sungut Syifa.


" Lagian sendirian disini bengong, nanti kalau kesurupan gimana?"


" Ihh... jangan nakutin!"


" Masuk yuk? Diluar dingin nanti sakit gimana?"


Syifa mengurai pelukan Reyhan lalu duduk di kursi dengan tatapannya yang kosong.


" Ada apa, sayang? Kalau ada masalah itu cerita." kata Reyhan lembut.


" Mas... seandainya Syifa sakit seperti istrinya pak Lukman tadi gimana?"


" Sayang, kenapa berpikir seperti itu sih?"


" Bagaimana jika Syifa tidak bisa memiliki anak nantinya?"


" Jangan bicara seperti itu dan jangan berpikir macam - macam!"


" Jika itu terjadi, apa Mas akan meninggalkan Syifa?"


" Jadi kau masih meragukan cintaku?"


" Tidak, bukan seperti itu Mas..."


" Kalau begitu jangan pernah bicara soal itu lagi. Mas tidak suka mendengarnya!"


" Maaf..." lirih Syifa.

__ADS_1


Reyhan menarik tubuh Syifa ke dalam pelukannya dan menghujani ciuman di seluruh wajah gadisnya itu.


" Apapun yang terjadi, kita akan tetap selalu bersama selamanya." bisik Reyhan yang kemudian mencium bibir Syifa dengan lembut.


" Mas... kalau ada yang lihat gimana?" Syifa mendorong tubuh Reyhan.


" Kalau tidak ada yang lihat tidak apa - apa, kan?" goda Reyhan.


" Maasss...!!!" Syifa menghindar saat Reyhan ingin menciumnya lagi.


Syifa berlari ke kamarnya yang ada di samping ruang tamu. Sedangkan kamar Reyhan di lantai atas.


" Sayang, kamu yakin berani tidur sendirian? Mas tidurnya diatas, bik Saroh dan mang Tofa tidak menginap karena anaknya sedang sakit." teriak Reyhan dari luar kamar.


" Syifa berani sendirian!" sahut Syifa dari dalam.


" Biasanya kalau malam listriknya suka padam, kamu yakin tidak apa - apa Mas tinggal keatas?"


Tak ada sahutan lagi, Reyhan berniat untuk naik ke kamarnya untuk mengambil ponsel.


" Tunggu...! Syifa ikut." teriak Syifa sembari membuka pintu dengan kasar.


Reyhan tersenyum penuh kemenangan saat gadisnya itu menggandeng lengannya dengan erat. Reyhan berpura - pura cuek dengan terus berjalan menaiki tangga.


" Mas, Syifa boleh ya tidur di kamar Mas?" rengek Syifa.


" Kamu nggak takut Mas khilaf?"


" Mmmm_...."


" Atau kamu memang menginginkannya, sayang?"


" Apa sih, Mas? Jangan bicara ngelantur deh...!"


" Kalau memang gadisku ini menginginkannya, Mas siap lahir batin memberikannya." lirih Reyhan.


Syifa kembali ke bawah dan masuk ke dalam kamarnya sendiri. Panggilan Reyhan tak lagi ia hiraukan.


" Sayang, jangan marah. Mas cuma bercanda...!" Reyhan mengetuk pintu kamar Syifa dengan pelan.


" Pergi! Syifa nggak mau...!"


" Sayang, makan dulu dong. Nanti kalau tengah malam lapar gimana?" bujuk Reyhan.


Syifa baru teringat jika dirinya belum makan. Jika dirinya kelaparan tengah malam siapa yang akan menemaninya ke dapur? Syifa segera beranjak untuk keluar kamar.


Syifa mengedarkan pandangannya se segala penjuru ruangan seperti sedang mencari sesuatu disana.


" Cari apa, sayang?" tanya Reyhan yang duduk di sofa ruang tamu.


" Syifa mau makan..." ucap Syifa.


Reyhan tersenyum lalu mendekati Syifa dan mengajaknya ke ruang makan. Disana sudah tersedia berbagai macam makanan yang sangat enak.


" Mau dihangatkan lagi atau begini saja?" tanya Reyhan.


" Begini saja, tidak apa - apa." ucap Syifa tak bersemangat.


" Ayolah, jangan cemberut begitu. Nanti tidurnya diatas sama Mas, seperti biasa Mas akan tidur di sofa."


" Janji...?"


" Iya, sayang. Mas janji tidak akan mengusik tidurmu."


" Baiklah."


Mereka makan dalam diam, Syifa bahkan tak ada selera makan sama sekali. Reyhan sudah membujuknya dari tadi namun gadis itu selalu begitu jika sedang sedih.

__ADS_1


" Sayang, Mas tahu kamu merindukan ayah dan ibu. Mereka pasti juga sangat merindukanmu. Hal yang bisa menghubungkan diantara kalian sekarang hanya ada satu cara dan itu adalah dengan do'a. Jika kamu merindukan mereka, berdo'alah agar mereka tenang di alam sana." ujar Reyhan.


" Iya, Mas. Tidak tahu kenapa, malam ini aku sangat merindukan mereka. Mungkin karena tempat ini sepi, hanya ada kita berdua. Biasanya di rumah selalu ada papa dan mama, banyak para pekerja juga."


Reyhan menyuapi Syifa dengan perlahan sambil bercerita tentang ayah dan ibu di masa lalu. Hingga tak terasa, isi di piring Syifa habis tak berbekas.


" Bagus, pinter sekali makannya bisa habis." puji Reyhan seperti habis menyuapi anaknya.


" Ish... kenapa jadi seperti ayah." desis Syifa.


" Ya udah, Mas beresin bekas makan kita dulu."


" Syifa aja, Mas..."


" Tidak usah, sayang."


# # #


Malam ini Syifa sangat susah sekali untuk tidur, walaupun sudah ada Reyhan yang tidur di sofa menemaninya tetap saja Syifa susah untuk memejamkan mata fi tempat yang baru dan sepi.


" Mas...!" panggil Syifa.


" Kenapa, sayang? Kok belum tidur sih?"


" Syifa nggak bisa tidur, Mas."


" Mau Mas temenin disitu?"


" Hmm..."


Syifa hanya menyahut singkat saja tawaran Reyhan sebagai pertanda ia setuju dengan ucapan kekasihnya.


Reyhan yang sebenarnya sudah ngantuk terpaksa bangun lagi dan menghampiri Syifa di ranjang.


" Mikirin apa sih, sayang? Kalau ada masalah itu bisa cerita sama Mas, biar kita bisa cari solusinya sama - sama."


" Syifa juga tidak tahu, setiap kali Mas mau pergi jauh pasti aku merasa sangat sedih."


" Mas juga begitu, sayang. Rasanya berat untuk berpisah denganmu. Tapi kita harus bisa sabar untuk bisa menghadapinya bersama - sama."


Reyhan menceritakan pekerjaannya diluar negeri dan juga saat masih kuliah dulu. Bagaikan sebuah dongeng, Syifa semakin lama semakin nyaman dan terlelap dengan belaian lembut di kepalanya.


Reyhan segera bangkit dari tempat tidur lalu menyelimuti tubuh Syifa sampai ke lehernya. Setelah mengecup kening gadis itu sekilas, Reyhan kembali ke sofa dan juga langsung terlelap dalam tidurnya.


Keesokan harinya, Syifa terbangun lebih dulu dan melihat Reyhan yang masih terlelap. Dia tersenyum sendiri melihat wajah tampan kekasihnya yang begitu teduh dan tenang. Ingin rasanya ia menyentuh wajah itu, namun dia takut mengganggu tidurnya.


" Mau sampai kapan memandangku seperti itu?" ucap Reyhan tersenyum sambil membuka matanya.


Syifa sangat terkejut dan bingung harus menjawab apa. Dirinya sangat malu tertangkap basah memandang wajah tampan pria di hadapannya.


" Mmm... itu... Syifa... Syifa hanya... hanya ingin membangunkan Mas saja. See... sekarang sudah waktunya shubuh, Syifa mau ajak sholat berjama'ah." ucap Syifa gugup.


" Baiklah, kamu ambil wudlu dulu nanti Mas ambil sajadah di kamar sebelah untuk kita berjamaah." kata Reyhan.


Reyhan sangat tahu gadisnya itu sedang gugup dan juga malu ketahuan memandangi wajahnya sedari tadi. Namun Reyhan tak ingin menggodanya kali ini takut gadisnya jadi badmood, fia sendiri nanti yang repot.


Setelah keduanya siap, mereka sholat berjama'ah dengan khusyuk. Seandainya mereka sudah suami istri, mungkin hal terindah yang akan terjadi adalah Syifa akan mencium punggung tangan Reyhan dengan lembut lalu dibalas kecupan hangat di keningnya.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2