
[ " Hallo. Assalamu'alaikum..." ]
Terdengar suara yang tak asing di telinga Ardan. Dia terkejut mendengar suara itu.
" Wa'alaikumsalam tante, maaf Ardan ganggu malam - malam begini."
[ " Tidak apa - apa, memangnya ada perlu dengan Syifa?" ]
" Tidak usah, tante. Besok saja, urusan pekerjaan."
[ " Ya sudah, kalau begitu tante tutup telfonnya." ]
" Iya, tante. Maaf mengganggu, assalamu'alaikum."
[ " Wa'alaikumsalam." ]
Ardan menghela nafas pelan sambil merebahkan diri di samping Reyhan.
" Kok ponsel Syifa dibawa tante Salma, Rey?" tanya Ardan.
" Tidak tahu, parah sekali mama misahin aku sama Syifa." keluh Reyhan.
" Kenapa nggak ketemu di kantor aja sih, Rey?" ucap Sony.
" Takut papa ngadu nanti sama mama. Mereka itu sebelas dua belas, seneng sekali membuatku susah."
" Coba aja besok, kita akan bantu kalian bertemu." kata Ardan.
Karena malam semakin larut, mereka bertiga tidur di depan tv. Semuanya terlelap walaupun hanya beralaskan karpet tipis.
# # #
Reyhan datang pagi - pagi sekali ke kantor Syifa. Dia langsung menuju pantry untuk menunggu calon istrinya datang.
" Danang, nanti kalau Syifa datang suruh kesini tapi jangan sampai ada orang lain yang tahu." kata Reyhan.
" Baik, Tuan. Nanti saya sampaikan kepada nona Syifa."
" Jangan bilang sama Syifa kalau saya disini, cari alasan lain agar dia kesini."
" Iya, Tuan."
Danang sengaja menunggu Syifa di depan lift agar bisa langsung menghampirinya. Dia berpura - pura jalan mondar mandir ke kanan dan ke kiri. Tak lama yang ditunggu akhirnya datang juga.
" Nona Syifa," sapa Danang.
" Danang, kamu ngapain sendirian disini?" tanya Syifa.
" Saya mau minta tolong, non."
" Minta tolong apa?"
" Kita bicara di pantry aja, non."
" Ya udah, buat kamu apa sih yang nggak saya lakukan." Syifa tersenyum dengan manis.
Mereka berdua berjalan menuju pantry yang ada di ruangan paling ujung. Danang berharap takkan ada masalah kali ini. Dia tahu jika Syifa dan Reyhan tidak boleh bertemu di kantor karena perintah dari Deni.
" Nona masuk aja ke dalam, tapi jangan lama - lama." kata Danang.
" Maksud kamu apa, Nang?"
" Sudah, nona masuk aja. Keburu tuan Deni datang, saya bisa dipecat."
Dengan ragu - ragu, Syifa masuk ke dalam pantry. Danang menutupnya kembali dari luar dan berjaga disana agar tidak ada yang masuk.
Saat pintu tertutup, Syifa kaget karena ada seseorang yang memeluknya dari belakang dengan sangat erat.
" Auwww...! Lepas...!" teriak Syifa.
__ADS_1
" Ssttt... Sayang, jangan berteriak." bisik Reyhan.
" Mas, kok kamu ada disini?" tanya Syifa lebih terkejut lagi.
" Mas kangen, sayang. Rasanya tersiksa jauh dari kamu." lirih Reyhan dengan tatapan menghiba.
Kini mereka sedang duduk di sofa sudut ruangan. Reyhan menggenggam erat tangan Syifa sambil sesekali menciuminya.
" Mas, jangan seperti ini. Kalau mama tahu pasti marah besar."
" Mas tidak bisa menahan rindu ini lebih lama lagi."
" Syifa tahu, Syifa juga sangat merindukan Mas Reyhan. Sabar ya? Dua minggu lagi kita ketemu dan tidak akan berpisah lagi."
" Apa nomor Mas juga di blokir, sayang?"
" Itu mama yang blokir, Mas. Lagian kalau malam juga ponselnya dibawa sama mama. Kalau siang di tangan kak Deni." keluh Syifa.
" Ya udah, yang penting jangan pernah lepas kalung ini ya? Mas balik lagi ke kantor, sebentar lagi ada meeting."
" Iya, Mas. Hati - hati kerjanya, sayangku." bisik Syifa.
" Kau juga, sayang. Jangan terlalu lelah, Mas nggak nanti kamu kecapekan dan sakit. Jangan sampai malam pertama kita tertunda."
" Ish... Mas yang dipikirin itu aja sih!"
" Hehehee... ya udah, Mas pergi dulu."
Reyhan mencium kedua pipi Syifa lalu di keningnya cukup lama hingga ada ketukan pintu dari luar. Pasti itu kode dari Danang agar Syifa cepat keluar dari ruang pantry.
" Love you, Mas." Syifa mencuri ciuman di bibir kekasihnya lalu berlari keluar tanpa menoleh lagi. Reyhan tidak menyangka gadisnya seberani itu sekarang.
" Love you too, honey." gumam Reyhan.
Melihat Syifa sudah pergi, Danang langsung masuk menghampiri Reyhan. Anak dari pemilik perusahaan itu harus segera pergi sebelum kepergok Deni dan papanya
Dengan mengendap - endap, akhirnya Reyhan bisa sampai juga di lobby. Dia bisa bernafas lega bisa keluar dari tempat itu. Dia hendak masuk ke dalam mobil namun ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
Ternyata papa Hendra yang baru datang melihat gelagat aneh dari putranya yang mengendap - endap keluar dari lobby.
" Eh... Papa, Reyhan tadi... tadi cari papa tapi belum datang." ucap Reyhan gugup.
" Ada yang ingin dibicarakan?" tanya papa Hendra.
" Mmm... iya, Pa. Soal pernikahanku dengan Syifa."
" Ya udah, kita keatas saja."
" Baik, Pa."
Reyhan kembali masuk mengikuti papanya ke ruang Presdir. Dia melihat Syifa sedang sibuk dengan pekerjaannya. Namun bagi Reyhan, bisa melihat kekasihnya secara langsung saja sudah membuatnya bahagia.
" Sayang, ikut ke dalam sebentar yuk." ajak Reyhan pada Syifa.
" Mas masih disini?"
" Ketangkep sama papa di tempat parkir." bisik Reyhan.
" Rey, cepat masuk!" perintah papanya.
Clarissa yang duduk bersebelahan dengan Syifa hanya tersenyum kecil melihat tingkah keduanya.
" Ris, nanti kamu yang ikut kak Deni meeting ya?" pinta Syifa.
" Meeting dengan siapa, Fa?"
" Ada klien dari Surabaya, ini berkasnya udah aku siapkan."
" Baiklah, tapi sudah bilang sama kak Deni kan?"
__ADS_1
" Sudah."
Reyhan heran dengan Clarissa yang ikut - ikutan memanggil Deni dengan sebutan 'kakak'.
" Kenapa kamu panggil Deni dengan sebutan ' kakak'?" tanya Reyhan.
" Maaf, Tuan. Soalnya beliau tidak mau dianggap sudah tua, tidak mau dipanggil 'pak' atau 'tuan'." jawab Clarissa.
" Apa kau masih sering bertemu dengan Ardan?"
" Tidak sering juga, pak. Kemarin dia menjemput saya pulang kerja." ucap Clarissa tersenyum malu.
" Ayo, sayang. Keburu papa marah."
Reyhan meraih pinggang Syifa agar semakin mendekat padanya. Dia tidak ingin melewatkan kesempatan bersama kekasihnya.
Plaakkk!!!
Sebuah map mendarat di kepala Reyhan dengan keras. Dengan cepat Reyhan dan Syifa menoleh ke belakang dan terkejut melihat siapa yang ada di hadapannya.
" Mamaaa...!" pekik Reyhan.
" Kamu ngapain disini? Mama sudah larang kamu ketemu Syifa!"
" Ma, Rey bisa jelasin."
" Jelasin apa?"
" Kita masuk dulu ke dalam, papa udah nungguin dari tadi."
" Awas aja kau cari kesempatan lagi...!"
" Iya, Ma. Reyhan peluk mama aja deh."
Mereka bertiga masuk ke ruangan papa Hendra dengan Reyhan yang mengerucutkan bibirnya karena tidak boleh berdekatan dengan calon istrinya.
" Rey, apa yang ingin kau bicarakan?" tanya papa Hendra.
" Ini, Pa. Soal akad nikahnya nanti, siapa yang akan menjadi wali nikah Syifa?"
" Soal itu, kita harus tahu apakah Syifa masih punya keluarga dekat. Syifa, apa ayahmu punya saudara laki - laki?"
" Syifa tidak tahu, Pa. Dari kecil Syifa tidak pernah tahu jika ayah punya keluarga. Katanya dulu ayah berasal dari Surabaya namun seingat Syifa, kami tidak pernah mengunjungi keluarganya disana. Sama kakek dan nenek yang dari ayah saja Syifa tidak pernah tahu."
" Susah juga kalau begitu, kita tidak tahu ayahmu itu anak tunggal atau punya saudara."
" Kalau memang Syifa tidak punya saudara, kita bisa pakai wali dari KUA, Pa." kata mama Salma.
" Iya, Pa. Syifa tidak masalah seperti itu." ucap Syifa.
" Ya sudah, kalau memang sudah tidak ada lagi keluarga yang kamu miliki kita bisa pakai wali dari KUA saja." ujar papa Hendra.
" Masalahnya sudah selesai kan? Ayo, Rey. Antar mama ke butik sekarang." titah mama Salma.
" Bukannya mama bawa sopir?"
" Sudah mama suruh pulang, lagian ini juga untuk mengganti kerugian mama karena kamu sudah mencuri gaun pengantin di butik."
" Ok, Rey antar kemanapun mama inginkan."
Setelah berpamitan dengan papa Hendra, mama langsung menarik lengan Reyhan agar tak mendekati Syifa. Dia sudah tahu seperti apa tabiat putranya itu.
.
.
TBC
.
__ADS_1
.