ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 21


__ADS_3

" Reyhaannn...!" teriak Syifa lagi sambil berlari mengejar mobil Reyhan.


Syifa mengejar Reyhan sampai ke jalan raya namun mobil itu tak berhenti juga. Apakah harus menangis? Sepertinya memang sudah menjadi takdirnya selalu sendiri.


" Ya Allah, apakah aku akan menjadi gembel beneran?" Syifa menyeka airmatanya yang mulai mengalir.


Syifa tidak tahu harus kemana lagi, uang tidak punya identitaspun menghilang. Apa dia harus tidur di jalanan jika Reyhan menolak kedatangannya.


Syifa duduk di tepi jalan memikirkan nasibnya ke depan. Ingin masuk ke kantor Reyhan, pasti akan sangat sulit karena dia tidak memiliki kartu identitas.


# # #


Reyhan masih berbicara dengan kliennya lewat telfon saat Cathy memanggilnya. Steven juga merasa heran dengan adiknya yang mengganggu presdirnya.


" Rey... Reyhaannn!" pekik Syifa.


Reyhan memasukkan ponselnya ke dalam saku jasnya setelah selesai menelfon kliennya.


" Ada apa, Cath? Kau berisik sekali...!" tegur Reyhan.


" Itu... Rey... tadi itu... dia..."


" Ngomong apa kamu, yang jelas kalau ngomong!" seru Steven.


" Tadi sepertinya aku melihat Syifa di depan kantor."


Ciittt...!!!


Steven segera mengerem mendadak hingga Reyhan terpental. Cathy juga kepentok jidatnya hingga memar.


" Auwww...!" rintih Cathy dan Reyhan.


" Cath, apa yang kau katakan?" seru Reyhan.


" Iya, Rey. Aku yakin itu tadi Syifa."


" Tidak mungkin dia kesini, pasti kau salah lihat."


" Terserah kau mau percaya atau tidak,"


" Jalan lagi, Stev! Sebentar lagi meetingnya di mulai." perintah Reyhan.


Reyhan menatap kearah luar mobil dan bersandar di tempat duduknya. Dia tidak percaya jika ada Syifa di depan kantornya. Cathy pasti salah orang, dia belum pernah bertemu dengan Syifa sebelumnya. Hanya foto di ponsel Reyhan yang pernah dilihatnya beberapa kali.


" Rey_..."


" Sudah, Cath! Aku sudah berusaha untuk melupakan dia jangan mengingatkanku kembali."


" Tapi, Rey... aku yakin sekali itu Syifa. Dia juga berteriak memanggil namamu."


" Aku tidak mau membahas dia lagi. Meskipun benar itu dia, aku tidak akan menemuinya!" tegas Reyhan.


Cathy menyerah meyakinkan Reyhan bahwa yang dilihatnya memang benar Syifa. Mereka kembali melanjutkan perjalanan menuju ruang meeting.


Siang berganti dengan malam, Syifa masih menunggu Reyhan di depan gerbang gedung S.A Properties. Dia sudah berusaha minta ijin kepada security agar diperbolehkan menunggu di dalam, namun dia diusir dengan kasar karena tidak bisa menunjukkan kartu identitasnya.


Tubuh Syifa semakin lemah karena dari dia menginjakkan kakinya di kota itu dia belum makan apapun. Karena malam semakin larut, Syifa melangkahkan kakinya tak tentu arah mencari tempat berteduh. Hingga setengah jam berjalan, tidak ada tempat yang bisa ia jadikan tempat beristirahat.


" Ya Allah, apa yang harus aku lakukan sekarang. Aku sudah pasrah jika hidupku berakhir disini." gumam Syifa lirih.

__ADS_1


Syifa duduk di tepi jalan untuk beristirahat sejenak untuk memulihkan tenaganya yang terkuras habis. Tubuhnya semakin melemah dan tiba - tiba ambruk tak sadarkan diri ketika melewati sebuah gerbang yang entah tempat apa itu.


# # #


Reyhan sekarang sedang berada di kamarnya. Setelah selesai meeting tadi siang dirinya tidak kembali lagi ke kantor. Ucapan Cathy tadi siang membuat mood nya menjadi buruk. Seharian ini pikirannya hanya pada Syifa. Mimpinya tentang Syifa akhir - akhir ini sungguh sangat menyiksa batinnya.


" Ya Allah, kenapa perasaanku tidak tenang akhir - akhir ini memikirkan Syifa. Apakah terjadi sesuatu yang buruk kepadanya?" gumam Reyhan cemas.


Sebenarnya Reyhan juga merasakan sesuatu yang aneh saat keluar dari kantor tadi siang. Tiba - tiba bayangan Syifa muncul dalam benaknya. Reyhan merasakan sesuatu yang buruk sedang menimpa Syifa sekarang ini.


" Sebaiknya aku telfon papa saja untuk bertanya keadaan Syifa sekarang." gumam Reyhan.


Reyhan menghubungi papanya yang mungkin sekarang ada di kantor karena di Indonesia sudah pagi menjelang siang.


[ " Hallo... Assalamu'alaikum, Rey." ]


" Wa'alaikumsalam, Pa. Gimana kabar papa dan mama?"


[ " Rey, pulanglah. Mama kamu sakit karena memikirkanmu terus. Papa mohon kamu pulanglah, sebentar saja untuk menjenguknya. Papa tahu kamu masih marah karena kami tidak memberikan kasih sayang yang cukup kepadamu. Maafkanlah kami, Nak. Hanya itu yang papa dan mama inginkan, mungkin ini adalah satu - satunya permintaan papa dan mama." ]


" Mama sakit apa, Pa?"


[ " Belum tahu, Rey. Mama kamu susah sekali disuruh makan. Dia terus memanggil nama kamu." ]


" Ya sudah, Pa. Rey pulang sekarang juga. Assalamu'alaikum,"


[ " Wa'alaikumsalam." ]


Reyhan bergegas menghubungi Steven untuk menyiapkan privat jet miliknya untuk penerbangan ke Indonesia. Karena panik memikirkan ibunya, Reyhan lupa menanyakan tentang Syifa.


Reyhan segera berkemas karena dua jam lagi dia akan terbang ke Indonesia. Dia menghubungi Cathy untuk mengatur ulang jadwalnya di kantor.


# # #


Papa Hendra memuji dalam hati atas keberhasilan Syifa membujuk Reyhan sehingga putranya itu bersedia pulang dengan segera.


" Deni, saya pulang dulu. Ada urusan penting di rumah." kata papa Hendra.


" Meetingnya bagaimana, Tuan?" tanya Deni heran.


" Kau urus saja sendiri, saya tidak akan kembali ke kantor hari ini. Saya mau ke butik menemui istri saya."


" Baik, Tuan."


Papa Hendra bergegas menuju butik milik istrinya. Disana ternyata sangat ramai pengunjung saat papa Hendra datang. Setelah menyapa istrinya dengan kode, papa Hendra langsung naik ke lantai atas.


" Papa tumben kesini jam segini? Apa ada masalah di kantor?"


" Tidak, Ma. Papa cuma mau menyampaikan kabar gembira untuk mama,"


" Kabar gembira apa, Pa?"


" Hari ini juga, Reyhan pulang ke Indonesia."


" Benarkah? Papa serius?"


" Iya, Ma. Barusan Reyhan hubungi papa dan tanya keadaan mama. Setelah papa jelasin, dia langsung bersiap - siap untuk pulang."


" Tapi, Pa... kok ponsel Syifa tidak aktif ya? Mama jadi khawatir terjadi apa - apa dengannya. Ini pertama kalinya dia pergi sangat jauh, Pa?"

__ADS_1


" Sudahlah, pasti sekarang Syifa bersama Reyhan. Mama tidak usah mengkhawatirkan anak - anak."


" Tapi, Pa... perasaan mama ada yang mengganjal. Tiba - tiba saja memikirkan Syifa."


" Tidak apa - apa, besok juga mereka sampai di rumah."


# # #


Reyhan sudah bersiap di dalam privat jet miliknya. Sebentar lagi dia akan terbang ke Indonesia. Tapi anehnya, ia bukannya memikirkan ibunya yang sakit tapi malah mencemaskan keadaan Syifa.


" Ya Allah, seharusnya aku lebih mencemaskan mama yang sedang sakit, bukan memikirkan Syifa yang seharusnya aku lupakan," gumam Reyhan.


Reyhan berusaha untuk tidur agar bisa mengistirahatkan tubuh dan pikirannya. Namun, bayangan Syifa dalam mimpinya terasa semakin nyata.


" Ish... kenapa isi kepalaku hanya ada Syifa saja! Bagaimana aku bisa melupakannya kalau seperti ini terus." desis Reyhan.


Lelah memikirkan pikiran dan perasaannya, Reyhan akhirnya tertidur juga. Beberapa kali ia bangun karena mimpi melihat Syifa lagi di depan kantor miliknya.


Tak terasa, sudah belasan jam ia terbang di atas awan hingga akhirnya sampai di Bandara Soekarno - Hatta. Keluar dari Bandara, Reyhan bergegas mencari taksi untuk mengantarnya pulang.


" Alhamdulillah, akhirnya sampai juga di tanah kelahiran." batin Reyhan sedikit tersenyum.


" Fa, egoiskah aku bila masih mengharapkan cintamu? Mungkin rasa ini memang salah, tapi aku tak bisa mencegahnya." gumam Reyhan sembari mengusap pelan foto Syifa di ponselnya.


Pagi - pagi sekali Reyhan sudah sampai di kediaman orangtuanya. Rumah yang jarang sekali ia tempati semenjak sekolah SMA. Dulu Reyhan lebih memilih tinggal di Apartemen daripada di rumah karena orangtuanya juga jarang berada di rumah.


Taksi yang di tumpangi Reyhan berhenti di depan gerbang dan iapun segera turun. Sampai di depan gerbang masih sepi, Reyhan menekan bel sehingga security yang masih tertidur itu langsung bangun dan membukakan gerbang.


" Tuan Muda?" ucap security itu kaget.


" Assalamu'alaikum, pak"


" Wa'alaikumsalam, Tuan. Silahkan masuk, kok tidak minta dijemput, Tuan?"


" Ini masih terlalu pagi, saya bisa pulang naik taksi."


Security itu sedari tadi menatap keluar gerbang seperti mencari seseorang.


" Bapak cari siapa?" tanya Reyhan.


" Mmm... tidak, Tuan."


Reyhan segera masuk ke dalam rumah dan melihat kedua orangtuanya yang berjalan ke taman belakang rumah.


" Assalamu'alaikum..." sapa Reyhan dengan tersenyum.


" Wa'alaikumsalam, Masya Allah Rey... akhirnya kamu pulang juga." mama memeluk Reyhan sambil menangis.


" Maafkan Reyhan, Ma."


" Rey, Syifa mana...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2