ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 29


__ADS_3

" Mmm... baiklah, itu lebih baik." ucap Reyhan dengan tersenyum.


Reyhan mengecup kening Syifa dengan lembut lalu beranjak keluar kamar untuk mencari koki di dapur untuk membuatkannya makanan.


" Son, memangnya Ardan mau menikah dengan siapa?" tanya Reyhan.


Kini Reyhan sedang duduk di sofa bersama Sony sambil menunggu makanan yang di buat koki di dapur.


" Tidak tahu, mungkin karma buat dia karena sering mempermainkan wanita. Katanya calon istrinya itu hamil dan meminta pertanggungjawaban padanya." kata Sony.


" Aku pikir Ardan hanya main luarnya aja, ternyata sejauh itu."


" Ardan juga tidak yakin melakukan itu dengan wanita itu. Katanya malam itu mereka bertemu di sebuah cafe, setelahnya Ardan mengantarnya pulang ke Apartemen. Saat itu dia diberi minuman hingga Ardan tidak sadar. Dia tertidur hingga pagi hari di Apartemen itu tanpa tahu apa yang terjadi."


" Dasar bodoh! Seharusnya dia selidiki dulu bukannya langsung bertanggungjawab,"


" Benar juga, dia terlalu sibuk dengan pekerjaan sehingga tidak sempat memikirkan hal lain."


" Kau juga seorang dokter, cari tahu perempuan itu sudah hamil berapa bulan!"


" Apa kita masih punya waktu untuk menyelidiki masalah Ardan?"


" Kita pikirkan setelah sampai di Jakarta saja, kapan akad nikahnya dilaksanakan?"


" Katanya jam satu siang."


" Ya sudah, kita langsung ke rumah Ardan nanti dari Bandara."


" Syifa gimana?"


" Biar dia pulang duluan."


Setengah jam menunggu, makanan sudah siap di meja makan. Reyhan segera kembali ke kamar untuk mengajak Syifa makan.


" Hmmm... katanya lapar tapi malah tidur." gumam Reyhan.


" Sayang, bangun. Makanannya sudah siap, makan diluar apa dibawa kesini?" ujar Reyhan lembut.


" Ngantuk, Rey." gumam Syifa.


" Kamu manggil aku apa tadi?" Reyhan langsung berbaring di samping Syifa dan memeluk gadis itu dari belakang.


" Panggil sekali lagi seperti itu aku akan berbuat lebih dari ini!" ancam Reyhan.


" Iy... iya Mas Reyhan, Syifa lupa." rengek Syifa.


" Ya sudah, ayo makan. Sony udah nungguin di luar."


Reyhan segera beranjak meninggalkan Syifa yang masih berbalut selimut tebal.


Syifa masuk ke kamar mandi untuk membasuh mukanya yang kusut karena ketiduran lalu menyusul Reyhan dan Sony di ruang makan.


" Kamu sakit, Fa. Kusut banget mukanya? Apa Reyhan_..."


" Ah, tidak kak Sony. Syifa tadi ketiduran kok, Mas Reyhan tidak_..." Syifa menutup mulutnya malu.


" Mas? Sejak kapan kau memanggilnya seperti itu?" cecar Sony.


" Memangnya kenapa? Dia calon istriku." sahut Reyhan.


" Fa,_..." ujar Sony.

__ADS_1


" Iya, kak. Syifa belum sempat aja cerita sama kakak." ucap Syifa sendu takut Sony marah.


" Kau tidak terpaksa, kan?" selidik Sony.


" Sudah, makan dulu sini. Katanya tadi lapar, Sayang?" sahut Reyhan seraya menarik lengan Syifa agar duduk di sampingnya.


Mereka bertiga makan dengan tenang. Tak ada satupun yang berbicara pada saat makan. Syifa merasa tatapan Sony padanya sedikit berbeda dari biasanya. Usai makan, Sony mengajak Syifa untuk bicara berdua saja dan Reyhan harus menjauh.


" Apa kak Sony tidak setuju kalau Syifa menerima cinta Reyhan?" ucap Syifa pelan.


" Apa kakak pernah bilang begitu? Kakak hanya tidak ingin kamu terlalu dekat dengan dia sekarang. Apalagi cuma berdua saja di dalam kamar."


" Iya, Syifa minta maaf."


" Aku tidak butuh kata maaf, kakak hanya ingin kamu menjaga diri dan kehormatanmu sebagai seorang gadis. Kalian belum menikah, kakak tidak mau menanggung dosa karena membiarkanmu melanggar batasan."


" Iya, kak. Syifa janji tidak akan melanggar batasan. Reyhan juga tidak akan melakukan itu. Percayalah pada kami."


" Semoga saja, aku tidak mau kejadian yang menimpa Ardan terjadi juga pada kalian."


Syifa terkejut mendengar nama Ardan disebut. Selama ini Ardan tidak pernah cerita apapun padanya. Syifa sangat penasaran tentang Ardan saat ini yang tiba - tiba akan menikah tanpa sepengetahuan dia.


" Memangnya Ardan kenapa, kak?"


" Dia di gerebek di sebuah Apartemen seorang wanita yang baru beberapa hari di kenalnya. Sekarang dia harus bertanggung jawab pada wanita itu."


" Astaghfirullah, Ardan tidak mungkin melakukan itu."


" Sudahlah, sekarang kamu istirahat sana. Inget! Jangan satu kamar dengan Reyhan!"


" Iya, kak. Syifa tidak akan sekamar dengan Reyhan."


" Cepat masuk kamar dan kunci pintunya!"


Sony mengantar Syifa sampai masuk ke dalam kamar dan mengingatkan untuk menguncinya. Tidak boleh ada seorangpun yang masuk ke kamarnya. ( Kak Sony jadi over protektif 😤 ).


Sudah satu jam Reyhan menunggu Syifa, namun gadis itu tidak kembali juga ke kamar. Karena lelah menunggun Reyhan keluar mencari keberadaan Syifa.


" Son, Syifa mana?" tanya Reyhan yang melihat Sony sedang bermain game di laptopnya.


" Sudah tidur, mau apa cari Syifa?" jawab Sony tetap fokus pada layar laptopnya.


" Tidak, aku kira dia belum tidur. Soalnya dari tadi belum kembali ke kamar."


" Jadi kamu berharap mau tidur sekamar dengan Syifa?" hardik Sony.


Reyhan kaget melihat Sony tiba - tiba marah padanya. Padahal Reyhan tidak merasa berbuat salah padanya. Kesurupan apa pria itu tiba - tiba bersikap sinis padanya.


" Kenapa tiba - tiba marah?" tanya Reyhan.


" Rey, aku ingin bicara serius denganmu. Bukan sebagai teman, tapi sebagai kakaknya Syifa." Sony menutup laptopnya dan menatap serius pada Reyhan.


" Bicara soal apa?"


" Sebelum kau dan Syifa menikah, kalian tidak boleh tinggal satu rumah. Jadi, untuk sementara Syifa harus tinggal denganku."


" Kenapa harus tinggal di rumahmu? Di rumahku ada mama dan papa, kami juga tidak sekamar." tolak Reyhan.


" Rey, ini demi kebaikan kalian juga. Jika memang kau serius ingin menikahi Syifa, nikahi dia secepatnya."


" Son, aku juga tidak lama di Indonesia. Kau tahu sendiri pekerjaanku di New York sangat banyak. Aku janji akan menjaga Syifa dengan baik. Kita berteman tidak hanya sehari dua hari, percayalah padaku."

__ADS_1


" Aku harap kau bisa memegang janjimu itu."


" Terimakasih, kau adalah teman terbaikku. Aku tidak akan mengecewakanmu."


Mereka berdua ngobrol sampai larut malam hingga akhirnya memutuskan untuk tidur di kamar masing - masing.


# # #


Setelah belasan jam di dalam pesawat, akhirnya Syifa mendarat juga di Bandara Soetta. Perjalanan yang sangat melelahkan untuk Syifa, Reyhan dan Sony.


Di ruang tunggu, Deni sudah menunggu kedatangan mereka. Syifa yang melihat Deni duduk langsung berlari menghampirinya.


" Assalamu'alaikum, kak Deni." sapa Syifa.


" Wa'alaikumsalam, Fa." jawab Deni.


" Sendirian, kak?"


" Iya, memangnya mau sama siapa lagi?"


" Kakak nggak bilang sama Danang kalau hari ini Syifa pulang?"


" Astaghfirullah, kakak lupa. Soalnya kemarin kerjaan kantor banyak sekali, Fa. Nggak sempat ketemu sama Danang. Reyhan juga bilang mendadak minta jemput."


" Assalamu'alaikum, kak." sapa Reyhan dan Sony.


" Wa'alaikumsalam, ayo langsung pulang saja." kata Deni.


" Kak Deni antar Syifa pulang duluan, saya dan Sony ada urusan sebentar." kata Reyhan.


" Baik, Tuan Muda."


" Mau kemana, Mas?" tanya Syifa.


" Mau ke rumah Ardan sebentar, kamu pulang sama kak Deni ya?"


" Nggak boleh ikut?" rengek Syifa.


" Kamu pasti lelah, istirahatlah dulu baru nanti siang ke rumah Ardan." bujuk Reyhan.


" Ayo, Rey. Kita tidak punya banyak waktu!" seru Sony.


Reyhan membujuk Syifa agar mau pulang dengan Deni. Baru kali ini Syifa terlihat sangat manja padanya. Reyhan mengusap lembut puncak kepala Syifa dan menuntunnya masuk ke dalam mobil.


" Mas segera pulang, jangan cemberut seperti itu." bujuk Reyhan.


" Ya udah, pokoknya tidak boleh lama - lama!"


" Iya, sayang. Cepatlah masuk, I love you..." bisik Reyhan.


" Hmm..." jawab Syifa singkat.


Setelah mobil yang ditumpangi Syifa pergi, Reyhan dan Sony segera mencari taksi yang akan mengantar mereka ke rumah Ardan.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2