
" Sudah siap...?" bisik Syifa.
" Sayang, aku_..." ucap Reyhan gugup.
Reyhan tidak menyangka Syifa menyanggupi permintaan konyolnya. Reyhan melirik ke sekeliling pantai dan terlihat banyak sekali orang yang mungkin memperhatikan mereka berdua.
" Kenapa? Mas kok jadi gugup begitu? Mau yang mana?" bisik Syifa menggoda.
" Jangan disini, malu dilihat orang. Nanti saja di rumah ya, sayang?" ucap Reyhan.
" Malu...? Kenapa harus malu? Apa salahnya coba, kamu kan calon suamiku."
" Sayang, kamu nggak malu ngelakuin itu di tempat umum?"
" Tidak, Syifa kan tidak merugikan mereka."
Reyhan jadi salah tingkah dengan sikap Syifa yang sangat berani ingin menciumnya di depan umum. Padahal tadi dirinya hanya asal bicara saja karena tidak mungkin dia melakukan hal itu di tempat yang ramai. Jantung Reyhan berpacu sangat kencang.
" Sayang, kamu yakin mau_..."
Plaakkk!
Belum juga Reyhan selesai bicara, Syifa sudah memukul kepalanya dengan ponsel yang ia genggam sedari tadi.
" Jadi orang jangan suka berpikiran mesum!" bisik Syifa lalu menjauhkan tubuhnya dari Reyhan.
" Sayang, kok malah mukul kepala Mas sih?" ucap Reyhan kaget.
" Biar Mas nggak mikir yang aneh - aneh lagi!" sahut Syifa nyengir.
" Huhh... ternyata cuma PHP doang!" sungut Reyhan.
Reyhan kembali menatap lautan tak menghiraukan gadisnya yang sedari tadi menertawakannya. Reyhan sangat kesal dengan Syifa yang sudah mempermainkan perasaannya.
" Mas, kok diem sih? Foto yuk, mumpung pemandangannya lagi bagus." bujuk Syifa.
" Foto aja sendiri, Mas lagi malas." sahut Reyhan datar.
" Mas marah sama Syifa?"
" Pikir aja sendiri!"
" Ya udah, kalau gitu Syifa pulang aja. Percuma disini kalau cuma diabaikan."
Syifa berdiri lalu melangkahkan kakinya berusaha menuruni batu karang. Reyhan tak berniat menyusulnya karena dia masih kesal dengan gadis itu.
" Jangan berani turun dari batu ini!" seru Reyhan.
" Kenapa? Kau saja tidak peduli padaku!" ketus Syifa.
" Cepat kesini!" titah Reyhan.
Syifa hanya diam di tempat tidak beranjak sedikitpun dari tempatnya berdiri.
" Syifa... apa kau tak mendengarku!" teriak Reyhan.
" Ya Allah, kenapa air mata ini harus keluar hanya mendengar suaranya yang meninggi." keluh Syifa dalam hati.
" Kamu harus kuat Syifa, jangan menangis... tetap tenang... tidak ada yang perlu ditakutkan. Tenang... tegar... kuat..." gumam Syifa sambil memejamkan matanya.
Reyhan yang melihat Syifa hanya diam langsung menghampirinya. Dia terkejut saat melihat kekasihnya itu memejamkan matanya dengan airmata yang mengalir membasahi kedua pipinya.
" Sayang, kenapa kamu menangis?" ucap Rey khawatir.
" Ti... tidak, aku tidak menangis. Aku kuat... tenang... tidak apa - apa..." kata Syifa meracau.
" Sayang, ada apa denganmu?" tanya Reyhan panik.
" Jangan dekati aku... menjauhlah! Aku baik - baik saja." ucap Syifa sambil menuruni batu karang.
Syifa terus berjalan menyusuri pantai dengan racauannya yang tidak jelas. Reyhan mencoba untuk menghentikan langkah gadis itu namun sepertinya hanya sia - sia saja. Syifa terus saja berjalan tanpa tujuan. Mereka bahkan sampai di ujung pantai yang terlihat sepi dari pengunjung.
__ADS_1
" Syifa... hentikan ocehanmu!"
Reyhan menghentikan langkah Syifa dengan mendekap tubuh gadis itu sangat erat. Gadis itu seperti tanpa ekspresi, tak merespon ucapan Reyhan.
" Tenang... tegar... kuat..." gumam Syifa.
" Sayang, berhentilah bersandiwara!" teriak Reyhan.
Syifa yang mencoba untuk kuat nyatanya kini malah terisak dalam dekapan Reyhan. Tubuhnya terguncang akibat menahan tangis yang sebenarnya tak perlu terjadi.
" Sayang, kenapa begini? Maaf jika Mas sudah menyakiti hatimu." ucap Reyhan sedikit keras karena bertabrakan dengan deru ombak yang semakin besar.
" Pukul saja aku, kau boleh menyakiti ragaku... tapi jangan membentakku." lirih Syifa dengan terisak.
" Tidak, sayang. Mas tidak berniat membentakmu, maaf... Mas tidak akan pernah melakukannya lagi."
Reyhan menciumi seluruh wajah kekasihnya dengan lembut. Ada penyesalan dihatinya karena telah membuat gadisnya menangis. Seharusnya dia tidak membentak Syifa tadi karena akhirnya pasti akan seperti ini.
" Maaf ya, sayang. Lagi dan lagi aku telah membuatmu terluka." lirih Reyhan.
Syifa masih terisak kecil seraya melepaskan pelukan Reyhan. Gadis itu menatap lautan yang mulai gelap dengan ombak yang semakin besar.
" Ayah... Ibu... kalian terlalu memanjakanku. Kalian tidak pernah membentakku walaupun aku salah. Kini hatiku sangat lemah, hanya bentakan kecil dari orang yang kucintai saja hatiku sangat sakit. Seharusnya kalian mengajarkanku betapa kerasnya kehidupan." batin Syifa.
" Sayang, kita pulang yuk? Besok katanya mau ke Bali? Kita pulang sekarang dan istirahat." ucap Reyhan seraya memeluk Syifa dari belakang.
" Maafin Syifa ya, Mas. Syifa tidak sekuat gadis di luaran sana. Hati Syifa sangat lemah, tidak bisa menerima kerasnya kehidupan."
" Tidak, sayang. Kau adalah gadis yang kuat, tidak pernah menyerah dengan ujian seberat apapun. Kau lebih kuat dibandingkan aku. Yang pasti, hanya kamu satu - satunya wanita yang mampu membuatku jatuh cinta."
# # #
Pagi setelah sarapan, Reyhan mengantar Syifa ke kantor sedangkan papa Hendra bersama sopir pribadinya. Syifa nampak sibuk dengan laptopnya sehingga mengabaikan sang kekasih yang sedari tadi mengajaknya bicara.
" Sayang, kamu dengerin Mas nggak sih?" ucap Reyhan kesal.
" Hmm...? Mas bicara apa tadi?" tanya Syifa tanpa menoleh.
Merasa tak ada penolakan, Reyhan kembali menciumnya dengan lembut. Entah apa yang mereka pikirkan saat ini, tapi mereka berdua sangat menikmatinya. Syifa mendorong tubuh Reyhan setelah mulai kehabisan nafas.
" Mas mau bunuh Syifa?" sungut Syifa sambil memanyunkan bibirnya.
" Itu hukuman karena sudah mengabaikanku." sahut Reyhan santai.
" Lain kali jangan kasar, kalau bibir Syifa bengkak seperti waktu itu gimana? Kan malu dilihat orang lain."
" Iya, lain kali tidak akan kasar lagi."
" Mas masih lama kan di Indonesia?"
" Sepertinya begitu, sayang. Sampai dapat tempat yang cocok untuk membangun gedung baru S.A Properties. Oh iya, temanmu Rendi itu menurut kamu pintar nggak?"
" Memangnya kenapa, Mas?"
" Tidak apa - apa, Mas butuh orang yang bisa dipercaya untuk menjadi asisten di S.A Properties nanti. Tidak mungkin Steven aku bawa kesini."
" Rendi kurasa bisa, dia tidak terlalu mengejar harta dan bekerja dengan profesional. Coba saja Mas tawarkan padanya, sayang aja ilmunya hanya dia gunakan untuk bekerja di perusahaan kecil."
" Dia tinggal di Bandung?"
" Iya, kan dia kerja disana."
" Besok suruh resign aja dan langsung ke Jakarta. Besok Mas akan survei lokasi pembangunan gedung."
" Memangnya nggak sekarang?"
" Tidak, Mas harus awasi cara kerja Clarissa di kantor. Mas tidak suka dengan orang yang kerjanya hanya cari muka saja."
" Ya sudah, tapi jangan terlalu dekat dengan dia. Jaga wibawamu sebagai seorang atasan."
" Iya, sayang. Tidak akan ada yang bisa membuat Mas tergoda selain dirimu."
__ADS_1
" Hhh... kebiasaan!"
Reyhan kembali melajukan mobilnya menuju kantor. Syifa tidak mau terlambat datang ke kantor. Gadis itu sangat disiplin waktu saat bekerja.
Saat sampai di lobby kantor, terlihat Ardan bersama seorang wanita cantik di sampingnya.
" Abang... pagi - pagi udah sampai disini aja? Kangen ya sama Syifa?" sapa Syifa nyengir.
" Iya, sayang. Kangen pengen jitak kamu." sahut Ardan dengan senyum manisnya.
" Ada apa, Bang?"
" Ini mau antar pesanan Reyhan." ucap Ardan asal.
" Sialan kau! Sini biar kuberi sarapan enak!" Reyhan meraih kerah baju Ardan.
" Mas, udah. Kenapa malah ribut sih? Malu dilihat banyak karyawan." seru Syifa.
Ardan membenahi bajunya yang sedikit berantakan. Diliriknya Clarissa yang sedari tadi diam dan menundukkan wajahnya.
" Fa, ini yang katanya mau melamar jadi sekretaris cadangan kamu." kata Ardan.
" Kamu Clarissa?" tanya Syifa.
" Iya, Nona. Nama saya Clarissa."
" Ikut saya, nanti akan ada sesi wawancara untukmu."
" Baik, Nona."
" Apa kau sudah mencari tempat tinggal baru?" tanya Reyhan.
" Sudah, Tuan. Kemarin Tuan Ardan yang mencarikannya, tidak jauh dari kantor ini." jawab Clarissa.
" Baiklah, bekerjalah dengan baik dan jangan menghianati kepercayaan saya."
" Baik, Tuan. Saya akan bekerja sebaik mungkin."
" Ayo ke atas sekarang, waktuku hanya satu jam untuk mengajarimu." kata Syifa.
Mereka bertiga keatas menuju ruangan Syifa, sedangkan Ardan kembali ke kantornya sendiri. Clarissa tidak menyangka bahwa calon istri Reyhan sangat ramah, berbeda dengan Reyhan yang terkesan dingin dan angkuh.
" Sayang, Mas ke ruangan papa dulu ya? Nanti kalau sudah mau berangkat ke Bandara beritahu Mas."
" Iya, Mas. Kak Deni juga belum datang kok."
" Jangan lupa hubungi Rendi, tawaranku tidak datang dua kali."
Reyhan masuk ke dalam ruangan presdir untuk menyelesaikan pekerjaannya sendiri. Dia duduk di sofa lalu membuka laptopnya yang seharian semarin tak ia sentuh sama sekali.
Sementara di ruangan Syifa, Clarissa menyerahkan surat lamaran kerjanya yang langsung dibaca oleh Syifa dengan teliti. Syifa ternyata juga sangat serius saat sedang bekerja.
" Berdirilah...!" perintah Syifa.
" Berdiri, Nona?" tanya Clarissa.
" Apa ucapan saya kurang keras?"
" Ma... maaf, Nona."
Clarissa takut dengan gadis yang kini menatapnya tajam dari atas sampai bawah. Dia tidak mengerti mengapa wanita yang tadi terlihat ramah itu sekarang sangat menakutkan.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1