
" Apa kau belum puas juga, honey?" kata pria itu dengan suara khas bangun tidur.
Malam sudah semakin larut, mungkin sudah menjelang pagi. Felicia terperanjat dengan tatapan yang sulit diartikan. Dia menatap tajam pada pria yang kini berada di hadapannya.
" Si... siapa... kau?" ucap Feli terbata.
" Apa maksudmu, honey? Semalam kau yang memaksaku melakukan ini bahkan di depan umum. Apa kau melupakan semua itu? Terimakasih kau sudah membuatku sangat puas malam ini." seringai pria itu.
" Tidak mungkin! Bukan kau yang bersamaku semalam!" teriak Feli marah.
" Memangnya siapa yang kau harapkan, sayang. Bahkan kau sangat bersemangat semalam saat benihku menyembur di rahimmu." ucap pria itu.
" Tidak! Kau pasti bohong, aku sedang bersama kekasihku disini!"
" Sudahlah, Nona. Saya tahu semalam kau datang sendiri ke tempat ini mencari kepuasan. Pasti obat yang kau konsumsi itu dosis tinggi sehingga kau kuat bertahan berjam - jam bergulat denganku." kata pria itu dengan tersenyum.
Bicara soal obat, Feli teringat dengan obat yang ingin dia berikan pada Reyhan di Cafe tadi. Mungkinkah pelayan tadi salah memberikan minumannya?
" Sial...! Jangan - jangan pelayan tadi salah memberikan obat itu padaku!" geram Feli dalam hati.
" Honey, kenapa diam? Ayo kita mulai lagi pertempuran kita, saya sangat menyukai tubuhmu." seringai pria itu lagi.
" Tidak, saya harus pergi sekarang!"
" Kau yakin? Saya tahu siapa dirimu, bagaimana jika semua video tentang permainan kita tadi tersebar? Bisnis ayahmu pasti akan hancur berkeping - keping." seringai pria itu.
" Kurang ajar! Berikan video itu padaku!" teriak Feli.
" Ambil saja jika kau bisa... hahahaa..."
Feli berusaha merebut ponsel itu, namun pria itu menjauhkannya ke belakang hingga tanpa sengaja tubuh Feli malah terjatuh ke atas dada pria itu.
" Rupanya kau sudah tidak sabar untuk bermain lagi denganku, Nona?"
Feli yang terkejut tidak menyadari bahwa pria itu kini berada diatas tubuhnya. Dia berusaha memberontak namun tenaganya sudah terkuras habis. Dia hanya bisa pasrah dengan apa yang dilakukan pria itu.
" Katakan jika ada nyawa di rahimmu, karena saya sangat membutuhkan anak itu. Saya akan selalu mengawasimu, jadi jangan berbuat macam - macam." ancam pria itu.
Feli sangat menyesali kejadian ini. Harusnya ia bersama Reyhan sekarang, bukan pria psychopat yang tidak dikenalnya.
# # #
Hari ini Reyhan sengaja tidak ke kantor karena ingin mengajak dua sahabatnya jalan - jalan menikmati waktu kebersamaan mereka yang hanya sedikit itu.
Semenjak SMP mereka memang sudah menjalani hari - hari bersama. Reyhan sering menginap di rumah Ardan ataupun Sony. Namun dia tidak mengijinkan kedua sahabatnya itu untuk datang ke rumahnya. Reyhan hanya mengajak mereka ke Apartemen yang dia tempati sejak kelas dua SMP itu.
" Rey, kita pergi kemana hari ini?" tanya Ardan.
" Tidak tahu, walaupun sudah lama disini tapi hidupku hanya ada di tiga tempat. Rumah, kampus dan kantor."
" Hidupmu monoton sekali, padahal banyak sekali keindahan di kota ini apalagi gadis - gadis bule itu." kata Ardan.
__ADS_1
" Gadis aja yang ada di pikiranmu! Kenapa tidak kau layani saja gadisnya Reyhan semalam." seloroh Sony.
" Shitt! Dia bukan gadisku!" umpat Reyhan.
" Kira - kira seperti apa nasib wanita itu sekarang?" kata Ardan.
" Pasti dia menghabiskan malam panjang bersama para pria di Club itu." sahut Sony.
" Sebenarnya aku tidak suka menyakiti orang lain, tapi dia yang memulainya jadi apa boleh buat."
" Bukannya kau selalu menindas orang yang mendekati Syifa." ledek Sony.
Ardan heran dengan ucapan Sony. Bahkan mereka berpisah setelah lulus SMA, kapan Reyhan bersama Syifa?
" Memangnya ada orang yang mendekati Syifa, Rey?" tanya Ardan.
" Banyak sekali yang suka sama Syifa masa sekolah dulu, tapi takut sama Reyhan." kata Sony.
Reyhan hanya tersenyum kecil mendengarkan ocehan dua sahabatnya. Memang benar, sejak SMA... Reyhan selalu mengancam lelaki yang ingin mendekati Syifa karena mereka tahu seperti apa sifat Reyhan sesungguhnya.
" Pantas saja Syifa tidak pernah punya teman selain kita, bahkan teman wanita saja hanya saat di sekolah saja." cibir Ardan.
" Sudah, tidak usah di bahas lagi. Kalian mau jalan - jalan atau aku berangkat ke kantor?" seru Reyhan.
" Ok, Boss! Kita berangkat sekarang." sahut Ardan cepat sebelum sahabatnya itu berubah pikiran.
Mereka bertiga keliling kota dengan mobil mewah milik Reyhan. Mereka mengunjungi tempat - tempat bersejarah di kota itu layaknya study tour.
" Apa dia ingin sekali datang kesini?" tanya Reyhan.
" Dulu, waktu masih sekolah. Syifa punya keinginan pengen lihat patung Liberty secara langsung. Keinginan yang mungkin hanya akan menjadi angan - angannya waktu itu. Tidak ada yang tahu seperti apa takdir di masa depan." kata Sony.
" Kenapa tidak bilang padaku? Aku bisa saja mengajaknya kesini kapanpun dia mau." ucap Reyhan.
" Dia wanita mandiri, Rey. Tidak mau bergantung pada orang lain. Bila nanti dia mampu melakukannya sendiri, dia pasti datang ke tempat ini." sahut Ardan.
" Aku tahu itu, dia sangat keras kepala." keluh Reyhan.
" Tapi kau suka, kan?" ledek Sony.
" Sebentar, aku mau kirim pesan dulu ke Nona Aditama. Takutnya dia nyariin kau nggak VC." kata Reyhan.
# # #
Malam harinya, Ardan dan Sony harus kembali ke Indonesia untuk melanjutkan aktifitasnya. Reyhan yang kemarin sudah chat Danang mengenai keinginan Syifa tak tak pernah ia ungkapkan kini dirinya ingin mewujudkan impian gadisnya itu.
" Dan, bisakah aku minta tolong padamu?" kata Reyhan sebelum berpisah.
" Minta tolong apa? Kita ini sudah seperti saudara, tidak perlu sungkan padaku." sahut Ardan.
" Iya, Rey. Kau tinggal katakan apa yang kau inginkan." timpal Sony.
__ADS_1
" Begini_..."
Reyhan menceritakan semua yang diinginkan oleh kekasihnya dan meminta pada Ardan dan Sony untuk mengurusnya. Reyhan percaya kedua sahabatnya itu mampu menjalankan rencana yang telah mereka sepakati bersama.
" Tapi, Rey... apa kita bisa mendapatkannya?" tanya Ardan.
" Berusahalah, kalian bisa membayarnya dua kali lipat dari harga yang dia beli. Pastikan kalian mendapatkannya sebelum hari ulang tahunnya nanti." ujar Reyhan.
" Oh iya, Syifa ulang tahun bulan depan ya." ucap Sony.
" Maka dari itu, aku ingin merayakan ulang tahunnya kali ini dengan kado special itu."
" Baiklah, kami akan berjuang demi kebahagiaan Syifa!" ucap Ardan lantang.
" Hah... kau semangat sekali, padahal ditolak..." ledek Sony.
" Ah... sialan kau!" teriak Ardan.
Sony dan Reyhan hanya bisa tertawa melihat raut wajah Ardan yang terlihat sangat kesal.
" Sudah, kalian jadi diantar ke Bandara atau mau menginap lagi disini?" ujar Reyhan.
" Kita mau pulanglah, senyaman - nyamannya di negeri orang tetap lebih nyaman di negeri Sendiri. I LOVE INDONESIA..." pekik Ardan.
" Haish... kebanyakan omong kau ini! Cepat kemasi barangmu dan pulang!" seru Sony.
Akhirnya mereka bertiga pergi ke Bandara. Sebenarnya mereka belum puas menikmati kebersamaan yang hanya sebentar itu. Namun karena tuntutan pekerjaan yang harus mereka jalani mengharuskan mereka berpisah.
Sampai Bandara, mereka bertiga saling berpelukan. Saling berjanji untuk saling menjaga walau jarang sekali bertemu. Komunikasi tidak boleh terputus diantara mereka.
" Jangan lupa berdo'a agar selamat di perjalanan." peringat Reyhan.
" Siap komandan!" sahut Sony dan Ardan kompak.
" Cepat pergi! Aku sudah muak melihat wajah kalian berdua." seru Reyhan.
" Kau memang saudara terbaik, Rey." ucap Ardan dan Sony serempak.
" Hahahaa... kalian berdua adalah yang terbaik." kata Reyhan.
Mereka bertiga kembali berpelukan sebelum akhirnya Ardan dan Sony masuk ke dalam pesawat. Seketika Reyhan merasa sangat kesepian setelah melihat pesawat yang ditumpangi dua sahabatnya lepas landas.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1