
Empat pria sudah berkumpul di ruang cctv Cafe dimana Syifa menghilang. Mereka mengambil alih ruang keamanan untuk segera mendapatkan informasi tentang Syifa.
" Kak, kok bisa Syifa menghilang?" tanya Sony.
" Saya lalai menjaganya, tadi saat meeting hampir selesai... Syifa... Syifa bilang mau ke toilet. Sudah seperempat jam saya menunggu, namun Syifa tak juga kembali." jawab Deni.
" Apa mungkin Syifa diculik, kak?" tanya Ardan.
" Mungkin saja, tadi Reyhan sempat memperingatkan saya supaya lebih ketat menjaga Syifa. Dia mencurigai seseorang dan rencananya tadi mau mengadakan pertemuan virtual dengan kita semua untuk membahas ini."
" Ya sudah, kita periksa dulu rekaman cctv ini." kata Rendi.
Dibantu petugas keamanan, mereka memeriksa rekaman cctv saat kejadian berlangsung. Mereka mengamatinya secara detail setian detik rekamannya.
" Lihat! Ada seseorang yang mencurigakan di tempat parkir." kata Rendi.
" Perbesar gambarnya!" perintah Deni.
Benar saja, ada dua orang pria sedang menggandeng satu wanita dan dimasukkan ke dalam mobil. Deni sangat mengenal pakaian yang dipakai gadis itu.
" Syifaaa...!" teriak Deni.
" Apa ada pintu belakang di Cafe ini?" tanya Ardan.
" Ada, Tuan. Barang yang keluar masuk ke Cafe lewat pintu belakang." jawab petugas keamanan.
" Terimakasih atas bantuan Anda, pak. Kami permisi dulu." Deni mengajak yang lainnya untuk mengejar mobil yang membawa Syifa.
# # #
Sementara itu, Syifa kini tak sadarkan diri di dalam mobil yang melaju dengan kecepatan tinggi. Obat bius yang membekapnya membuat gadis itu pingsan sangat lama.
Flashback Syifa
Syifa meminta ijin kepada Deni untuk pergi ke toilet. Dia pergi sendirian karena merasa tempat itu aman. Usai dari toilet, Syifa bergegas untuk kembali menghampiri Deni. Namun saat baru berjalan beberapa langkah, ada seorang pria yang menyeretnya menuju belakang Cafe.
" Lepas...! Siapa kalian?" teriak Syifa.
" Diam...! Ikut dengan kami!" hardik pria itu.
" Tidak! Lepaskan aku!"
Syifa terus meronta namun tenaganya tak cukup kuat untuk melawan mereka. Kakinya masih belum sembuh total ditambah ia memakai dress pendek selutut.
Karena terus meronta, akhirnya kedua penjahat itu menyekap Syifa dengan obat bius. Setelah itu, mereka memapah Syifa masuk ke dalam mobil yang terparkir di halaman Cafe.
Mereka tidak menyadari bahwa di tempat parkir itu terpasang cctv yang bisa memperlihatkan siapa saja orang yang keluar masuk ke area Cafe itu.
Flashback off
Sony menghubungi Reyhan untuk menanyakan siapa orang yang saat ini tengah di curigai menculik Syifa.
__ADS_1
[ " Hallo... Assalamu'alaikum, Son. Ada apa?" ]
" Wa'alaikumsalam, Rey. Aku cuma mau tanya tentang orang yang kau curigai ingin mencelakakan Syifa."
[ " Memangnya kenapa? Disini sudah malam, besok saja kita bahas ini." ]
" Tidak bisa, Rey. Syifa menghilang, dia diculik tadi di Cafe."
[ " Apaaa? Bukannya tadi sama kak Deni?" ]
" Iya, Rey. Syifa diculik waktu di toilet Cafe. Jangan salahkan kak Deni, kami semua sedang berusaha mencari Syifa."
[ " Ya sudah, aku akan pulang malam ini juga. Kau cari tahu keberadaan Diana, dia pasti yang sudah menculik Syifa." ]
" Diana? Diana siapa, Rey?"
[ " Diana teman sekolah kita dulu yang selalu mengejarku dan juga sempat ingin mencelakakan Syifa waktu itu." ]
" Iya, aku ingat sekarang. Tapi, apa kamu punya hubungan sama dia?"
[ " Tentu saja tidak, beberapa minggu yang lalu saat aku dan Syifa di pantai... kami bertemu dengan Diana. Masih seperti yang dulu, dia mengejarku lagi walaupun aku sudah bilang jika aku tak pernah menyukainya." ]
" Ya sudah, kalau begitu kami juga akan mencari Diana."
[ " Tolong cari Syifa sampai dapat, Son. Aku tidak mau Syifa terluka lagi." ]
" Baiklah, kalau begitu kami akan mencari Syifa. Assalamu'alaikum,"
Sony segera menyuruh Deni untuk mempercepat laju kendaraannya. Seperti halnya dengan Reyhan, Sony juga sangat mengkhawatirkan keselamatan Syifa.
Sony dan Deni menyisir jalanan kearah utara, sedangkan Ardan dan Rendi ke arah selatan. Mereka berpencar agar cepat menemukan Syifa. Sony sudah memberitahu Ardan tentang kecurigaan Reyhan kepada Diana, teman sekolah mereka dulu.
# # #
Sudah dua hari Syifa menghilang. Reyhan juga sudah sampai di Jakarta. Kali Reyhan tak bisa berdiam diri saja, dia harus segera menemukan keberadaan kekasihnya.
Reyhan masuk ke dalam kamar Syifa dan merebahkan diri diatas tempat tidur. Belum ada satu minggu Reyhan meninggalkannya, gadisnya sudah menghilang entah kemana.
" Sayang, Mas janji tidak akan meninggalkanmu lagi. Dulu, saat Mas ninggalin kamu untuk kuliah di Amerika... kamu menghilang selama lima tahun, kamu mengalami musibah setiap kali jauh dariku. Sekarang baru satu minggu ditinggal, kau hilang lagi." batin Reyhan.
Saat sedang memainkan ponselnya, tiba - tiba Reyhan melihat aplikasi GPS di layar ponselnya. Dia ingat, kalung yang ia belikan di Amerika itu dipasang alat pelacak oleh pemilik gerai perhiasan sebagai alat keamanan jika sewaktu - waktu hilang. Namun, sinyal alat pelacak itu hanya terjangkau dalam radius lima kilometer saja.
" Semoga saja Syifa masih memakai kalung itu." gumam Reyhan tampak kembali bersemangat.
Reyhan menghubungi teman - temannya untuk berkeliling menyusuri setiap sudut kota. Hingga malam semakin larut, Ardan dan Sony memutuskan untuk pulang karena besok ada pekerjaan yang tidak bisa ditinggalkan.
" Rey, aku dan Sony pulang dulu. Besok siang aku akan ikut mencari Syifa lagi." kata Ardan.
Kini mereka duduk di taman untuk beristirahat sejenak. Wajah - wajah mereka tampak sangat lelah karena seharian berkeliling kota tanpa hasil. Tak ada tanda sinyal yang terhubung antara ponsel Reyhan dan kalung Syifa.
" Iya, Rey. Kita sudak berkeliling di seluruh kota namun tak ada hasil. Bagaimana jika kita lanjutkan besok keluar kota, misalnya ke Bogor atau Bandung?" usul Sony.
__ADS_1
" Baiklah, apa kalian sudah menemukan jejak Diana?"
" Belum, Rey. Alamat rumahnya waktu sekolah dulu sekarang sudah ditempati orang lain. Rumah itu sudah dijual tiga tahun yang lalu dan Diana tinggal di Jepang bersama orangtuanya."
" Hah... kenapa jadi serumit ini!" keluh Reyhan.
# # #
Pagi hari, Syifa terbangun. Dia berada di sebuah rumah yang sangat sepi. Tangan dan kakinya diikat sehingga ia tidak bisa bergerak dengan bebas. Ruangan yang ditempatinya sangat gelap karena tak ada cahaya sama sekali. Sinar mentari tak bisa menembus jendela yang tertutup tirai warna hitam.
" Sial...! Siapa sebenarnya mereka, tiga hari disini tak ada bossnya yang kesini. Apa maksud mereka menyekapku." batin Syifa.
Syifa mencoba mencari celah untuk bisa kabur dari tempat itu namun penjagaan diluar sangat ketat. Jika mendengar suara - suara burung berkicauan diluar, Syifa menduga dirinya di perkampungan atau tengah hutan.
" Mas Reyhan, tolong aku. Aku tahu kau pasti datang menyelamatkanku." gumam Syifa.
Tak lama, seorang pria dengan memakai penutup wajah masuk untuk memberikan makanan untuk Syifa. Dia meletakkan piring berisi makanan itu di depan Syifa lalu melepaskan ikatan di tangan gadis itu.
" Makanlah! Sebentar lagi Boss akan datang." perintah penjahat itu.
" Siapa Bossmu? Kenapa dia menculikku?"
" Jangan banyak tanya! Cepat habiskan makananmu!"
Syifa tidak bisa berontak, dia memakan makanannya dengan cepat supaya tubuhnya tetap kuat saat bisa kabur nanti.
" Katakan padaku, siapa yang menyuruhmu menyekapku disini?"
" Nanti kau bisa melihatnya langsung, kau pasti mengenal boss kami."
" Kalian pasti salah orang, saya tidak pernah mempunyai masalah dengan orang lain."
" Itu bukan urusan kami, Nona. Yang penting kami adalah uang."
" Jadi kalian melakukan ini karena uang?"
" Tentu saja, kami akan melakukan apa saja demi uang!"
" Kalian pasti akan menyesal telah menyekapku!"
Syifa berdebat dengan pria itu hingga ada seseorang yang masuk ke ruangan itu bersama beberapa orang di belakangnya. Dengan wajah angkuhnya, orang itu mendekati Syifa.
" Aku tidak akan pernah menyesal menyekapmu, Syifa Azzahra!"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.