ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 35


__ADS_3

" Kalian sedang apa?" hardik Sony dengan tatapan tajamnya.


Syifa dan Reyhan saling pandang lalu Syifa menundukkan wajahnya.


" Memangnya apa? Sayang, bawa ponselku ke bawah ya? Biar Mas yang bawa tasnya." kata Reyhan mengabaikan Sony.


" Iya." jawab Syifa pelan.


" Ayo, kak. Kita sarapan dulu ya?" Syifa menggandeng lengan Sony untuk turun ke bawah.


Reyhan sudah jalan lebih dulu karena akan mengambil barang bawaan Syifa yang masih di kamar gadis itu.


" Kakak udah bilang jangan terlalu dekat, kalian ini masih pacaran." omel Sony.


" Iya, kak. Syifa cuma packing bajunya Mas Reyhan."


" Terus ngapain peluk - pelukan segala!"


" Tadi Syifa hampir jatuh lalu ditangkap sama Mas Reyhan." kilah Syifa.


" Banyak sekali alasanmu!" ketus Sony.


" Jangan marah, jelek."


" Kamu sudah beli ponsel?"


" Sudah, tapi belum sampai."


" Memangnya beli dimana?"


" Di New York, di beliin sama Mas Reyhan. Syifa nggak punya uang buat beli sendiri. Semuanya hilang di New York, belum selesai diurus."


Di meja makan sudah ada tiga keluarga yang berkumpul. Mereka tinggal menunggu Syifa dan Sony saja. Melihat keharmonisan semua keluarga itu membuat Syifa kembali mengingat kedua orangtuanya.


" Ayah, ibu... seandainya kalian masih ada, pasti Syifa bahagia seperti mereka." batin Syifa.


Syifa berusaha menahan air matanya agar tak keluar di depan semua orang. Dia tak ingin merusak kebahagiaan orang - orang di sekitarnya.


" Syifa, ayo sarapan. Duduklah, kita bisa kesiangan nanti." ujar mama Salma.


" Iya, Ma."


Syifa terlebih dahulu menyalami kedua orangtua Ardan dan Sony. Sudah lama semenjak lulus sekolah, Syifa tidak pernah lagi datang ke rumah Ardan maupun Sony.


" Syifa, kau kemana saja? Sudah lama tidak main ke rumah, walaupun Ardan tidak ada kau boleh kapan saja datang ke rumah," ujar tante Mila, ibunya Ardan.


" Iya, Syifa. Padahal kamu dan Sony itu sangat dekat seperti adik kakak tapi lima tahun ini kamu menghilang begitu saja," timpal tante Dina, ibunya Sony.


" Maaf, tante. Syifa sibuk kuliah dan kerja semenjak lulus sekolah." sahut Syifa seraya tersenyum.


" Sering - seringlah datang ke rumah, tante sangat senang karena Ardan bisa berubah setelah berteman denganmu." kata tante Mila.


" Tante bisa saja, justru Syifa yang beruntung punya teman seperti mereka bertiga."


Semua sarapan bersama dan terlihat sangat ramai. Syifa hanya bisa tersenyum melihat kebahagiaan mereka. Setelah selesai, Syifa membereskan meja makan membantu para pelayan.


" Sayang, kamu kenapa sih? Tadi semangat banget mau ke pantai?" tanya Reyhan.


Reyhan yang melihat perubahan sikap Syifa menyusulnya ke dapur. Gadis itu tampak sedang bersedih, seperti ada yang mengganggu pikirannya.


" Apa tadi Sony mengatakan sesuatu yang membuatmu tidak nyaman?"


" Tidak, Mas. Syifa baik - baik saja."


" Mas tanya langsung sama dia, beraninya dia membuatmu bersedih!" geram Reyhan.


" Jangan, Mas. Ini bukan karena kak Sony."


" Yakin? Hhh... sampai kapan kau seperti ini padaku." keluh Reyhan lalu meninggalkan Syifa yang masih di dapur.


# # #

__ADS_1


" Ayo berangkat, keburu siang." ujar papa Hendra.


" Iya, Om. Oh iya, gimana kalau kita bawa dua mobil saja. Para orangtua dalam satu mobil dan kami berempat juga satu mobil." usul Ardan.


" Boleh juga," kata Om Hidayat, papa Sony. Yang lainpun juga setuju.


Para orangtua sudah masuk dalam satu mobil dengan papanya Sony yang mengemudi. Sedangkan untuk pada anak muda, Ardan yang akan mengemudi. Sony sudah duduk di samping Ardan, kemudian di susul Reyhan di jok belakang.


" Syifa mana, Rey?" tanya Sony.


" Masih di dalam." jawab Reyhan datar.


" Apa kalian bertengkar?" tanya Ardan.


" Tidak," jawab Reyhan.


" Huft... kalian ini bukan anak kecil lagi, bersikaplah layaknya orang dewasa." tegur Ardan.


Tak lama Syifa keluar rumah lalu masuk ke dalam mobil milik Ardan. Tanpa memandang Reyhan, Syifa langsung duduk di sampingnya.


" Sudah siap semua?" tanya Ardan.


" Berangkat!" sahut Sony.


Dalam perjalanan, Syifa selalu diam dengan memandang ke arah luar mobil. Reyhan yang kesal dengan sikap gadisnya ikutan diam tak mau menyapanya terlebih dahulu.


Syifa menyandarkan tubuhnya sedikit miring membelakangi Reyhan. Namun tak lama, Syifa menepuk pundak Reyhan dan berteriak pada Ardan.


" Ardan, berhenti!" teriak Syifa.


Ciittt!!!


Ardan mengerem mendadak hingga mereka semua terhuyung ke depan. Reyhan juga kaget karena Syifa menepuk pundaknya dengan kencang.


" Sayang, ada apa?" tanya Reyhan bingung.


" Mas, Syifa pengen itu!" rengek Syifa menunjuk ke belakang.


" Yang mana?"


" Itu, Mas. Syifa pengen kembang gula itu."


" Masya Allah, Fa. Cuma kayak gitu saja bikin heboh." kata Ardan.


" Bukannya dulu kamu yang mau beliin? Mana, udah sejak masuk SMA sampai sekarang lulus kuliah tidak juga dibeliin.c cibir Syifa.


" Oh itu, Sorry. Aku pikir kamu cuma bercanda waktu itu." kilah Ardan.


Syifa mencebikkan bibirnya seraya menatap sinis pada Ardan yang tersenyum kepadanya.


" Ya udah, kamu tunggu disini biar Mas belikan." ujar Reyhan.


" Jangan, Rey. Biar aku saja yang beli, aku tidak mau ditagih sampai nanti di akhirat." kata Ardan lalu keluar dari mobil.


" Ardan, beli dua ya!" teriak Syifa.


Tak butuh waktu lama, Ardan sudah kembali ke dalam mobil dan menyerahkan jajanan itu kepada Syifa.


" Terimakasih, Ardan." Syifa tersenyum bahagia hanya karena jajanan pinggir jalan itu.


" Kau curang, Fa!" kata Ardan.


" Curang kenapa?" tanya Syifa sambil meminta Reyhan untuk membukakan jajanan itu.


" Sony dipanggil kakak, Reyhan dipanggil Mas, terus kenapa aku cuma dipanggil nama saja?" sungut Ardan membuat ketiga temannya malah tertawa.


" Memangnya mau dipanggil apa? Uda atau Aa...?" ucap Syifa cekikikan.


" Uda? Aku bukan orang Padang."


" Kalau Aa...?"

__ADS_1


" Aku asli Jakarta, bukan Sunda!"


" Ya udah, Abang saja seperti adikmu, Shella."


" Hmm... harusnya panggil sayang, honey, hubby atau yang lain masih banyak." sahut Ardan pasrah.


" Tidak boleh, Syifa hanya boleh memanggil sayang padaku!" seru Reyhan.


Syifa tak lagi memperdulikan perdebatan Ardan dan Reyhan yang seing berantem itu. Syifa fokus dengan jajanannya dan sesekali menyuapi Sony yang ada di depannya.


" Mas, udah belum berantemnya? Syifa ngantuk pengen tidur sebentar." ucap Syifa menatap Reyhan.


" Tidurlah, perjalanan masih satu jam lagi." ujar Reyhan.


" Bang Ardan jangan ngebut ya? Terus jangan berisik juga!" seru Syifa.


" Iya, tidurlah." Ardan memperlambat laju mobilnya.


Syifa merebahkan kepalanya ke pangkuan Reyhan lalu tidur dengan sangat lelap. Reyhan mengusap kepalanya pelan supaya gadis itu lebih nyaman.


# # #


" Sayang, bangun!" ucap Reyhan pelan.


" Mmmm..." gumam Syifa tanpa membuka matanya.


" Masya Allah, sini Rey biar aku ceburin saja ke laut!" geram Ardan.


Semenjak tahu jika Syifa sudah menerima cinta Reyhan, perlahan perasaan Ardan mulai berubah dan menganggap Syifa hanya sebatas sahabat.


" Fa, bangun! Sudah sampai, mau sampai kapan kau tidur!" seru Sony.


" Ihh... berisik banget! Iya, ini juga bangun kok." ketus Syifa.


Syifa menggerakkan tubuhnya lalu duduk dan menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan.


" Kalian merusak mimpiku saja!" gerutu Syifa.


" Ish... yang ngajak liburan siapa coba? Mana Syifa yang dulu selalu bersemangat?" cibir Sony.


" Apaan sih, kak. Syifa itu lagi sedih." sungut Syifa.


" Sedih kenapa? Reyhan tidak mau menikahi kamu ya? Tenang saja, nanti aku yang lamar kamu." goda Ardan.


" Diam kau! Jangan sampai aku menabur bunga ditengah laut atas namamu!" geram Reyhan.


" Ish... kalian berantem lagi." keluh Syifa.


" Tidak, kami cuma bercanda. Iya, kan Rey?" kata Ardan.


" Iya sayang, kalau ada masalah kamu bisa cerita dengan kami bertiga." ujar Reyhan.


" Kita jalan - jalan dulu, nanti aja ceritanya." Syifa membuka pintu mobil dan keluar mendahului ketiga pria yang bersamanya.


Mereka bertiga juga keluar dan mencari keberadaan orangtua mereka. Setelah semua berkumpul, Reyhan mengajak mereka untuk mencari hotel untuk menginap karena mereka akan di Anyer sampai besok siang.


" Cuacanya sangat panas, papa sama mama mau istirahat di kamar saja Rey. Kalian terserah mau kemana." kata papa Hendra.


" Iya, Pa. Reyhan cek in dulu, mau sewa berapa kamar?" tanya Reyhan.


" Lima kamar saja, tiga untuk para orang tua, satu untuk Syifa dan satunya untuk kalian bertiga." ujar papa Hendra.


Tanpa mereka sadari, Syifa sudah tidak ada bersama mereka. Padahal saat di parkiran, Syifa masih ada dan menggandeng lengan Sony.


" Eh, ini Syifa kemana?"


.


.


TBC

__ADS_1


.


.


__ADS_2