ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 33


__ADS_3

Reyhan dan Syifa sampai di rumah pak RT bertepatan dengan waktu adzan maghrib. Saat Reyhan ingin mengetuk pintu, bertepatan dengan pak RT yang akan keluar dari rumahnya karena ingin sholat berjamaah di mushola.


" Assalamu'alaikum, pak RT." ucap Reyhan.


" Wa'alaikumsalam, Reyhan... kamu sama_... Masya Allah, Syifa. Kamu baik - baik saja, kan? Bapak senang bisa melihatmu dalam keadaan sangat baik seperti ini." kata pak RT sedikit terkejut dengan kedatangan Syifa.


" Iya, pak. Alhamdulillah, Syifa baik - baik saja. Maaf, selama ini Syifa tidak pernah mampir kesini." ucap Syifa.


" Ya sudah masuklah dulu ke dalam, bapak mau ke mushola dulu. Ayo Rey, kita berjamaah di mushola." kata pak RT.


" Iya, pak. Fa, aku tinggal sebentar ya?"


" Iya, kalau begitu Syifa masuk dulu cari ibu di dalam." sahut Syifa.


# # #


Kini semua berkumpul di ruang makan setelah sholat Isya'. Bu RT menyediakan makan malam sederhana namun rasanya sangat enak. Selesai makan, mereka mengobrol di teras.


" Fa, kenapa kamu tidak kesini lagi? Kamu bisa tinggal disini jika mau." ujar bu RT.


" Terimakasih, bu. Syifa punya pekerjaan, kalau tinggal disini jauh nanti tansportasinya." jawab Syifa.


" Oh iya, rumah kamu sekarang sudah ditempati orang lain. Katanya sudah dijual oleh pamanmu."


" Iya, bu. Mas Reyhan sudah cerita masalah ini. Biarkan saja, saya sudah ikhlas soal rumah itu."


" Kalian menginap saja disini, malam - malam begini susah cari taksi." ujar pak RT.


" Tidak usah, pak. Nanti Sony yang akan menjemput kami." kata Reyhan.


" Ya sudah, kalian sering - seringlah datang kesini jika berziarah ke makan orangtuanya Syifa."


" Insya Allah, pak."


Tak terasa mereka mengobrol hingga jam sembilan malam. Syifa terlihat sudah lelah namun masih bersemangat saat saling bertukar cerita dengan bu RT.


Tak lama Sony datang bersama dengan Ardan. Setelah basa - basi sebentar dengan pak RT, mereka segera pamit karena hari sudah semakin larut.


Dalam perjalanan, tampak Syifa sedang bersandar di bahu Reyhan. Ardan sedari tadi hanya bisa melirik saja dari spion depan. Reyhan tampak sangat perhatian pada Syifa.


" Mas, aku capek. Rebahan disini boleh ya?" bisik Syifa sambil menepuk pangkuan Reyhan.


" Boleh, sayang. Senyaman kamu saja, tidurlah." tutur Reyhan lembut.


Tak sampai lima menit, Syifa sudah terlelap dalam pangkuan Reyhan. Pria itu mengusap pelan puncak kepala gadisnya dengan sangat lembut. Ardan merasa tidak nyaman melihat kemesraan dua sahabatnya yang duduk di belakang. Walaupun sebelumnya Sony sudah menjelaskan tentang hubungan Syifa dan Reyhan, namun Ardan masih tidak rela jika gadis yang ia sayangi lebih memilih sahabatnya.


Di dalam mobil semuanya diam bak patung. Hanya suara deru mobil yang masuk ke telinga mereka. Ardan sesekali masih mencuri pandang ke arah Reyhan dan Syifa.


" Rey, kau akan menetap disini?" tanya Ardan.

__ADS_1


" Belum tahu, Dan. Syifa masih belum mau ditinggal, aku juga bingung. Gadisku ini semakin lama bertambah manja saja." keluh Reyhan.


" Kau beruntung bisa mendapatkan Syifa, dia gadis yang baik dari keluarga yang baik pula." sahut Ardan.


" Dia juga gadis yang keras kepala dan manja." timpal Sony.


Mereka bertiga tertawa bersama hingga tak terasa sudah sampai di kediaman Reyhan. Dengan lembut Reyhan membangunkan Syifa yang masih terlelap dalam pangkuannya.


Ardan membukakan pintu untuk Reyhan karena Dyifa tak juga bangun. Dengan pelan, Reyhan menggendong tubuh Syifa masuk ke rumah setelah mengucapkan terimakasih kepada dua sahabatnya yang sudah mengantarnya pulang.


Reyhan naik ke kamarnya dan merebahkan tubuh gadisnya diatas tempat tidur. Karena ingin jauh dari Syifa, Reyhan sengaja membawa gadis itu ke kamarnya. Setelah memakaikan selimut, Reyhan beranjak untuk tidur di sofa.


# # #


" Mas, bangun! Udah pagi, sholat shubuh dulu." ucap Syifa.


" Astaghfirullah, udah pagi ya sayang." ucap Reyhan dengan suara serak khas orang bangun tidur.


" Udah jam lima, Mas."


" Hmm... kamu udah sholat?"


" Sudah, Mas. Ini mau ke dapur bikin sarapan."


" Yang enak ya? Mas kangen sama nasi goreng buatan kamu." bisik Reyhan lalu beranjak ke kamar mandi.


" Eh... kok bengong? Itu telurnya gosong." tegur mama Salma yang kini berdiri di sampingnya.


Syifa yang kaget buru - buru mematikan kompornya dan mengangkat telur yang warnanya telah berubah menjadi hitam.


" Astaghfirullah... maaf ya, Ma. Syifa tidak sengaja membuat telurnya gosong." ucap Syifa merasa bersalah.


" Hahahaaa... jangan minta maaf sama mama, tapi sama telur yang gosong itu. Sekarang telurnya nggak cantik lagi seperti yang goreng. Atau kamu sengaja ya biar telur itu tidak menyaingi kecantikan kamu," goda Reyhan yang melihat Syifa merasa bersalah.


" Kamu ini, Rey. Jangan godain Syifa!" tegur mama Salma.


" Pasti lagi mikirin aku ya?" bisik Reyhan.


"Pergi sana! Nanti telur cantik ini special buat mas Reyhan." sungut Syifa.


" Syukurin tuh! Makan tuh telur cantik." cibir mama dengan tersenyum mengejek.


" Reyhan sukanya yang putih mulus, Ma. Bukan yang hitam dan kasar. Iya kan, sayang?" goda Reyhan seraya meraih lengan Syifa.


" Apaan sih, Mas! Pergi sana, ganggu aja kerjaannya!" usir Syifa.


Bukannya pergi, Reyhan malah memeluk Syifa dari belakang sehingga gadis itu berteriak kencang.


" Maassss! Lepasin!" teriak Syifa.

__ADS_1


Syifa sangat malu dengan kelakuan Reyhan apalagi di depan orangtuanya. Syifa benar - benar marah sehingga terus meronta. Setelah puas menggoda calon istrinya, Reyhan melepaskan pelukannya.


Syifa menatap Reyhan penuh amarah lalu berlari meninggalkan dapur begitu saja menuju ke kamarnya di lantai atas. Tak berselang lama gadis itu kembali turun dengan pakaian kerja yang rapi.


" Pa, Ma... Syifa berangkat duluan ya?" pamit Syifa dengan mencium punggung tangan kedua orangtuanya seraya bergantian.


" Fa, kamu tidak sarapan dulu? Ini masih pagi loh?" tanya mama Salma.


" Syifa belum siapin berkas buat meeting nanti siang, Ma. Nanti sarapan di kantor saja." jawab Syifa.


" Sayang, Mas antar ya?" kata Reyhan.


" Assalamu'alaikum," ucap Syifa mengabaikan Reyhan.


" Wa'alaikumsalam." jawab papa dan mama saling pandang.


Reyhan tahu Syifa pasti masih marah padanya karena kejadian di dapur tadi. Dia segera beranjak untuk mengejar Syifa yang sudah berada di luar rumah.


" Sayang, tunggu!" seru Reyhan.


Syifa sama sekali tak mengindahkan panggilan Reyhan hingga pria itu dengan cepat meraih lengan gadis itu agar berhenti.


" Kamu marah?" tanya Reyhan.


Syifa tetap diam dan memalingkan wajahnya dari tatapan Reyhan. Dia tak ingin berdebat sepagi ini karena akan membuat moodnya hancur seharian ini.


Syifa hendak masuk ke mobilnya namun terhalang oleh tubuh Reyhan yang bersandar di pintu mobil.


" Kau boleh marah padaku, tapi jangan diam seperti ini. Katakan apa yang kau inginkan, jujur aku tidak pernah tahu apa yang ada di dalam hatimu. Selama ini aku selalu menantikan kau bisa membagi sedikit saja beban yang ada di hatimu. Mau sampai kapan kau diam? Apapun yang aku lakukan tidak akan ada gunanya jika kau sendiri tidak mau menerimanya." ucap Reyhan serius.


" Aku butuh waktu sendiri, Mas. Malam ini aku tidak akan pulang." kata Syifa.


" Tidak pulang? Apa maksudmu?" sahut Reyhan tidak mengerti.


" Aku ingin mencari tahu apa yang sebenarnya aku inginkan supaya bisa menjawab semua pertanyaan darimu." ucap Syifa.


" Tidak perlu pergi, malam ini aku akan kembali ke New York."


" Malam ini? Tapi, Mas... aku_..."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2