
Reyhan pulang menggunakan taksi. Mobil Ardan dibawa oleh Sony karena Reyhan tak mau ribet harus kembali ke rumah Ardan.
" Assalamu'alaikum," sapa Reyhan saat melihat mamanya dan Syifa di ruang keluarga.
" Wa'alaikumsalam."
" Kamu darimana, Rey? Pergi nggak bilang - bilang, kebiasaan." tegur mama Salma.
" Tadi Rey sudah pamit sama Syifa, Ma." sahut Reyhan.
" Pamit apaan, cuma bilang ada urusan sebentar tapi sampai siang." gerutu Syifa.
" Maaf, sayang. Soalnya ada urusan yang sangat penting." Reyhan menggeser duduknya mendekati Syifa.
" Stop! Jangan dekat - dekat, aku masih marah padamu!" seru Syifa.
Reyhan menghela nafasnya perlahan lalu berpindah duduk di samping ibunya. Dia ingin lebih dekat dengan ibunya agar bisa membujuk Syifa untuk ditinggal sementara kembali ke Amerika.
" Kok mama jadi agak kurusan sih? Mama diet ya?" Reyhan menimang - nimang tangan ibunya.
" Masa' sih? Mama nggak diet, cuma mikirin kamu yang menghilang. Dasar anak nakal," mama Salma mengacak - acak rambut Reyhan.
" Maaf, Ma. Reyhan sedang fokus dengan karir, kalau Reyhan menghubungi mama pasti disuruh pulang terus. Reyhan tidak akan bisa menolak jika mama yang meminta, jadi lebih baik Reyhan telfon papa saja."
" Kau ini banyak sekali alasannya."
Syifa yang merasa diabaikan langsung beranjak pergi ke kamarnya di lantai atas. Dia merasa sangat kesal karena Reyhan tak peduli padanya.
" Kau ini kenapa sih, Rey? Ribut lagi sama Syifa?" tanya mama Salma.
" Tidak, Ma. Mungkin Syifa hanya lelah saja setelah menempuh perjalanan jauh." jawab Reyhan.
" Sepertinya ada hal penting yang ingin kamu bicarakan dengan mama jika melihat gelagat kamu yang kayak begini," selidik mama Salma.
" Mama tahu aja kalau Reyhan lagi butuh bantuan mama." sahut Reyhan dengan tersenyum.
" Maafkan mama yang dulu mengabaikanmu, mama terlalu larut dalam pekerjaan sampai tidak mengurusmu dengan baik."
Mama Salma memeluk Reyhan sangat erat dengan air mata yang mengalir deras. Rasa bersalah itu tak pernah bisa ia hilangkan meskipun sudah berulang kali meminta maaf kepada putra semata wayangnya itu.
" Sudahlah, Ma. Reyhan tak pernah mempermasalahkan hal itu lagi. Dengan mama menjaga dan menyayangi Syifa, Reyhan sudah bahagia. Dulu, orangtua Syifa juga sangat menyayangi Reyhan. Mereka memberikan kasih sayang yang begitu besar pada Reyhan. Memberikan sesuap nasi dari tangan langsung bu Aisyah membuat Reyhan menjadi orang yang paling bahagia saat itu. Sayang sekali, Allah mengambil mereka lebih cepat." Reyhan tak bisa menahan air matanya.
" Mama janji tidak akan mengabaikan kalian berdua. Syifa sudah mama anggap sebagai putri mama juga."
" Ma, Reyhan ingin menikahi Syifa." ucap Reyhan.
" Asalkan kau bahagia dengan pilihanmu, mama pasti merestui. Mama tahu, Syifa juga sangat mencintaimu."
" Terimakasih, Ma. Reyhan sayang mama."
Ibu dan anak itu semakin dekat satu sama lain. Reyhan bercerita tentang awal mula mengenal Syifa hingga mereka bersahabat dan Reyhan yang sering datang ke rumah Syifa untuk meminta makan pada ibu Aisyah tanpa sepengetahuan Syifa. Tanpa Reyhan sadari, ia telah mencuri kasih sayang orangtua Syifa.
" Kau pasti sangat menyayangi orangtua Syifa, Rey?"
" Iya, Ma. Reyhan punya tanggung jawab untuk menjaga Syifa sesuai amanah kedua orangtuanya sebelum wafat."
__ADS_1
" Sekarang apa rencanamu?" tanya mama.
" Reyhan bingung, Ma. Reyhan punya tanggung jawab yang besar terhadap bisnis yang sudah Rey bangun dengan susah payah. Tapi Syifa, sepertinya dia tidak akan mengijinkan Rey pergi lagi. Dia juga tidak mau diajak tinggal di New York."
" Jadi, kamu ingin mama membujuk Syifa?"
" Iya, Ma. Tolonglah Reyhan."
" InsyaAllah, Mama akan berusaha semampu mama untuk membujuk Syifa."
" Rey berharap Syifa mengerti dengan keadaan yang saat ini bekum memungkinkan untuk Rey menetap disini."
# # #
Hampir satu jam Syifa menunggu, namun Reyhan tak juga muncul. Gadis itu semakin kesal saja dengan Reyhan yang cuek padanya.
Ceklek!
Pintu terbuka dan membuat Syifa sangat kaget. Ternyata Reyhan datang dengan seikat mawar putih di tangannya. Reyhan mendekati Syifa yang duduk diam di sofa.
" Sayang, Mas punya sesuatu untukmu." ucap Reyhan lembut.
Syifa hanya diam membelakanginya tanpa menoleh ke arah Reyhan. Syifa paling tidak suka diabaikan seperti itu.
" Hey... kenapa diam? Ada apa lagi sih?" tanya Reyhan seraya memeluk gadis itu dari belakang.
" Lepas! Pergi sana!" pekik Syifa.
" Ya Allah, sayang. Mas salah apa lagi sama kamu?" ucap Reyhan frustasi.
Reyhan mengurai pelukannya lalu duduk bersandar sofa di samping Syifa yang masih membelakanginya.
" Mas cuma mau kasih tahu kalau pernikahan Ardan batal. Tadi pagi aku dan Sony membantu Ardan untuk menyelidiki kebenaran tentang kehamilan wanita itu. Semua sudah terbukti bahwa Ardan bukan ayah biologis anak dalam kandungan wanita itu. Sekarang kamu istirahat saja, pasti lelah." ujar Reyhan lalu beranjak untuk keluar dari kamar Syifa.
" Mas_..." panggil Syifa.
Reyhan yang hendak meraih handle pintu langsung berhenti dan berbalik badan. Dia tersenyum lalu menghampiri Syifa yang masih duduk di sofa.
" Istirahatlah, kamu sangat lelah. Mas mau mandi dulu, gerah."
" Syifa mau pergi keluar sebentar," ucap Syifa.
" Besok saja, hari ini jangan pergi kemana - mana." ujar Reyhan.
Syifa hanya diam dan semakin kesal karena tak diijinkan keluar padahal ia hanya ingin mengurus semua kartunya yang hilang dan juga membutuhkan ponsel yang baru.
Reyhan meninggalkan Syifa yang tak mau menatapnya sama sekali. Dia tidak ingin luluh dengan wajah Syifa yang seperti itu. Bagaimanapun juga, Reyhan tidak ingin Syifa sakit karena kelelahan.
# # #
Jam satu siang, papa Hendra pulang karena ingin makan siang bersama dengan anak dan istrinya. Pria paruh baya itu sangat bersemangat hari ini. Dia mengajak Deni untuk ikut makan siang di rumah.
" Assalamu'alaikum," ucap papa Hendra diikuti Deni di belakangnya.
" Wa'alaikumsalam, papa tumben pulang?" sahut mama Salma.
__ADS_1
" Papa ingin makan siang di rumah dengan Reyhan dan Syifa juga. Mereka belum pergi, kan?"
" Sepertinya belum, pa. Tunggu saja di ruang makan sama Deni, mama keatas dulu panggil mereka."
Mama Salma mengetuk pintu kamar Reyhan lalu masuk ke dalam karena tak ada jawaban. Ternyata Reyhan sedang sholat, jadi mama Salma menunggunya sampai selesai.
" Mama, ada apa?" tanya Reyhan saat melihat mamanya duduk di tepi ranjang.
" Ayo makan, papa dan Deni sudah menunggu di bawah." kata mama.
" Syifa udah turun, Ma? Sepertinya dia marah lagi sama Reyhan,"
" Kalian ini, baru ketemu udah marahan aja."
" Mama yang panggil Syifa aja, nanti Reyhan diamuk lagi."
" Kamu saja, sebagai calon suami harus peka dengan keinginan calon istri."
" Begitu ya, Ma?"
" Cepat panggil sana, papamu sudah menunggu."
" Iya, Ma."
Reyhan beranjak menuju kamar Syifa dan mengetuknya beberapa kali. Karena tak ada sahutan, Reyhan langsung masuk dan melihat gadis itu sedang tertidur lelap.
" Sayang, bangunlah. Sudah siang, papa nungguin di bawah untuk makan siang."
" Nanti saja, makan saja duluan!" ketus Syifa sambil menarik selimutnya kembali.
" Sayang, jangan seperti ini. Mas minta maaf, habis makan kita jalan - jalan." bujuk Reyhan.
" Syifa malas,"
" Kalau beli ponsel baru?"
" Yang sama kayak punya, Mas Rey?"
" Disini tidak ada, sayang. Sekarang beli aja dulu yang ada, besok Mas kirim dari sana."
" Lama dong?"
" Ya sudah, nanti Mas suruh Steven untuk mengirimnya kesini secepatnya."
Syifa tersenyum, lalu beranjak dari ranjang dengan menyibak selimutnya hingga mengenai wajah Reyhan. Gadis itu terlihat berlari kecil menuju kamar mandi dengan girang.
.
.
TBC
.
.
__ADS_1