ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
14


__ADS_3

Hari hari Arini semakin tidak karuan. Di rumah dia harus terus menghindar dari Candra yang gencar mendekatinya. Di sekolah ia harus menahan sakit hatinya karena melihat keromantisan Arian dan Cantika


"Apa aku menyerah saja ya... ? " kata Arini dalam hati berulang kali ia menarik nafas panjang sambil terus memandang Arian yang tersenyum bahagia sambil bersenda gurau dengan Cantika. Sepertinya mereka benar benar saling mencintai.


"Kamu kenapa Rin?" tanya Wati


"Tidak kenapa kenapa kok, kenapa emangnya? " Arini balik bertanya pada sepupunya itu


"Sekarang tolong kamu jujur sama aku! Sampai kapan kamu akan memendamnya sendiri Rin? Kamu suka kan sama Arian?"


"Gak, siapa yang bilang? " Elak Arini


"Matamu dan gerak tubuhmu yang bilang" kata Wati


"Itu perasaanmu saja Ti"


"Kalau begitu berani apa kamu kalau memang kamu tidak menyukai Arian? Berani kamu sumpah atas nama ibumu?? " ancam Wati


"Kamu kok kayak anak kecil sih? Isi sumpah sumpah gitu? "


"Ya, kalau gak gitu mana mau kamu ngaku? Gimana kamu suka Arian kan??? "

__ADS_1


"Ia" jawab Arini pasrah karena takut di sumpahin Wati


"Terus? " tanya Wati penasaran


"Terus apa? " tanya Arini yang tidak mengerti dengan pertanyaan yang di lontarkan oleh Wati


"Sekrang perasaanmu bagai mana? Arian sudah jadian sama Cantika kenapa kamu tidak berusaha menerima Candra saja Rin? Dia kan baik dan sangat perhatian sama kamu. Orang tuamu pun sudah setuju kurang apa lagi dia?? " kata kata Wati membuat Arini tertengun sejenak. Jika di fikir fikir apa yang sepupunya bilang memang sangat benar. Tamat SMP toh Wati dan Arini tidak bisa melanjutkan sekolah ke SMA. Sekolah SMP aja sudah sangat keteteran dengan biaya. Tapi masak ia Arini langsung menikah begitu tamat sekolah? Melihat Arini yang tertengun lama timbul rasa bersalah di hatinya Wati


"Maafkan aku Rin, aku tidak bermagsud menambah bebanmu tapi aku harus mengatakan ini. Ayahmu kemarin kerumah menanyakan kegiatanmu di sekolah dia menyelidiki kenapa sikapmu pada Candra begitu cuek dan dingin" kata Wati. Arini pun kaget dia tidak menyangka kalau ayahnya berbuat sejauh itu demi hubungannya dengan Candra


"Terus kamu bilang apa pada ayahku Ti? "


"Tidak ada Rin.. Aku tidak mungkin bilang kalau kamu suka pada Arian"


"Dia hanya ingin yang terbaik untukmu Rin, sama seperti ayahku yang sudah menjodohkanku dengan om Yudi. Kamu tau kan kalau om Yudi kaya, jadi untuk urusan masa depan aku dan keluargaku sudah tak perlu hawatir lagi"


"Tapi masak ia begitu lulus sekolah kita langsung nikah? Apa kamu tidak ingin mencari pengalaman kerja ke kota Ti?? "


"Enggak lagian aku juga udah terlanjur cinta sama om Yudi, dia sangat baik, dewasa dan sangat pengertian Rin" kata Wati


"Tapi aku ingin cari pengalaman dulu Ti, aku ingin punya uang dengan usahaku sendiri. Aku ingin merubah hiduku"

__ADS_1


"Aku tidak memaksamu untuk menikah sekarang, tapi setidaknya kasi Candra kesempatan untuk mengenalmu lebih dalam. Kamu juga cobalah belajar mencintainya jika kamu tidak mencobanya bagaimana kamu akan tau cintamu pada Arian cuma cinta monyet atau benar cinta sejati?"


"Tapi.... " Arini berusaha membantah temannya itu tapi kata katanya keburu di potong oleh Wati


"Ini juga salah satu cara untukmu memanas manasi Arian" kata Wati sambil tersenyum


"Magsudmu? " tanya Arini yang semakin bingung


"Astaga kamu polos sekali sih?? Magsudku bikin Arian cemburu" bisik Wati


"Tidak mungkin! Tidak mungkin dia cemburu padaku"


"Mungkin saja, buktinya kemarin pas aku gosipin kamu muka Arian berubah sedih gitu"


"Masak sih? Salah lihat kamu gak?? "


"Beneran, makanya kamu coba dulu biar tau" kata Wati


"Entahlah aku fikir fikir dulu! "


"Fikir apa lagi sih? Candra itu baik, ganteng, perhatian pula. Kurang apa lagi dia coba?" Wati mulai kesal dengan Arini yang mulai lemah karena cinta padahal dia di juluki siluman ular karena sifatnya yang sadis luar biasa

__ADS_1


"Entahlah Ti aku masih bingung"


"Ya sudah fikir dah dulu tapi jangan lama lama kasihan Candra lama menunggu tanpa kepastian" Akhirnya Watipun menyerah dan tidak berani memaksa Arini lagi.


__ADS_2