
Sudah tiga bulan sejak pertemuan Syifa dengan Anton di hutan itu, sekarang Reyhan sudah menetap di Indonesia. Dia tak ingin meninggalkan kekasihnya lagi. Reyhan sangat posesif terhadap calon istrinya.
" Rey, kau itu terlalu sibuk dengan pekerjaan. Kapan kau akan mengurus pernikahanmu dengan Syifa?" tanya mama Salma.
" Kenapa nggak mama aja sih yang urus? Reyhan sama Syifa masih sibuk dengan pekerjaan kantor." jawab Reyhan.
" Kalian itu sudah mau menikah masih aja mikirin kerjaan. Mau jadi apa rumah tangga kalian nanti."
" Ma, Syifa hanya menyelesaikan satu proyek lagi. Setelah itu, semua proyek dipegang sama kak Deni."
" Terus kamu gimana?"
" Maksud, mama?"
" Pekerjaan kamu itu menguras waktu dan tenaga. Walaupun sudah menikah, pasti kalian jarang meluangkan waktu untuk mama."
" Ma, Reyhan sudah bilang dari dulu kalau setelah menikah dengan Syifa, Reyhan tetap tinggal disini dengan mama."
" Janji? Mama tidak mau jauh dari anak - anak mama."
Syifa yang baru turun dari kamarnya langsung duduk di samping calon ibu mertuanya. Sepertinya mereka berdua sedang berdebat sehingga tak sadar jika Syifa duduk disana.
" Ma, ada apa?" tanya Syifa.
" Tidak apa - apa, Mama cuma pengen kalian fitting baju nanti siang di butik. Jangan lupa sekalian beli cincinnya."
" Iya, Ma. Kalau Mas Rey nggak sibuk dengan pekerjaannya."
" Sayang, Mas selalu free kalau untuk kamu." ucap Reyhan.
" Iya, tapi ujung - ujungnya nanti belok di perempatan."
Reyhan menyadari sikapnya akhir - akhir ini terlalu mengabaikan calon istrinya karena pekerjaan. Perusahaannya masih baru di negara ini, jadi Reyhan harus bekerja keras untuk mencari investor dan juga klien untuk kerja sama.
" Tidak lagi, hari ini Mas hanya akan bersamaku sayang."
" Benarkah? Paling juga sebentar lagi Rendi datang sama sekretaris seksi kamu itu."
" Hei... apa kau sedang cemburu? Dina itu sudah bersuami, jangan aneh - aneh."
" Terserah!"
Syifa merebahkan kepalanya di pangkuan mama Salma sambil memejamkan matanya.
" Sudah, kalian jangan ribut lagi. Nanti mama pisah kalian sampai hari pernikahan." ujar Mama.
" Kok gitu, Ma? Rey nggak mau jauh dari Syifa." tolak Reyhan.
" Tidak boleh menolak, pokoknya mulai besok salah satu dari kalian pindah ke Apartemen."
" Syifa aja yang pindah, Ma. Nanti Syifa pulang ke rumah peninggalan orangtua Syifa."
" Jangan, sayang. Itu terlalu jauh, Mas nggak mau kamu tinggal disana sendirian."
" Tidak sendiri, Mas. Nanti Syifa ajak Clarissa buat tinggal disana sampai hari pernikahan."
Reyhan masih belum bisa terima jika harus berpisah dengan Syifa. Apalagi tidak ada yang menjaganya nanti, rasa khawatir terus saja menghinggap di hatinya.
" Sayang, biar Mas aja yang pindah ke Apartemen. Setiap kali kamu pergi sendiri pasti ada aja masalahnya."
__ADS_1
" Tapi Syifa pengen tinggal di rumah lama, Mas?" rengek Syifa.
" Nanti kalau kita sudah menikah, kita bisa menginap disana." bujuk Reyhan.
" Iya, sayang. Memang sebaiknya Rey yang pindah untuk sementara waktu." ujar mama Salma.
# # #
Reyhan dan Syifa kini berada di Salma Boutique milik mamanya. Mereka akan mencoba pakaian pengantin yang sudah disiapkan oleh sang mama.
" Sayang, kamu coba dulu gaunnya. Mas tunggu disini ya?"
" Mas nggak nyoba juga bajunya?"
" Nanti aja, Mas mau memeriksa kerjaan sebentar."
" Huhh... pekerjaan terus yang dipikirkan."
" Hey... jangan marah, nanti cantiknya semakin bertambah." goda Reyhan.
" Ish... menyebalkan!" sungut Syifa.
" Huft... baiklah, sini biar Mas yang bantuin ganti bajunya."
" Nggak! Pulang aja sana, urus itu pekerjaanmu!" teriak Syifa.
Semua pegawai menatap heran pada pasangan calon pengantin itu. Tidak ada romantisnya sama sekali malah ribut.
" Heh... kalian itu kenapa sih? Dari tadi mama dengan ribut terus!" seru mama Salma.
" Tidak apa - apa, Ma. Biasa, kalau ngambek seperti itu." sahut Reyhan.
" Kalian ini kalau nggak lihat sehari aja nyariin, sekarang ribut terus setiap hari." keluh mama.
" Sayang, coba ini. Mau bantuin?" goda Reyhan.
" Mas keluar sana, Syifa mau ganti."
" Mas pengen lihat, sesuai nggak ukurannya." bisik Reyhan seraya menarik pinggang gadisnya hingga mereka tanpa jarak.
" Mas jangan seperti ini, nanti dimarahi mama!" lirih Syifa.
" Berikan satu ciuman baru Mas keluar."
" Tidak, jangan macam - macam!"
" Please, honey... sekali saja." bisik Reyhan.
" Mas, keluarlah! Syifa nggak mau melakukan itu."
Reyhan semakin mempererat pelukannya seraya menenggelamkan wajahnya di ceruk leher sang kekasih.
" Mas nggak sabar nunggu sampai bulan depan, sayang." lirih Reyhan.
" Sudah, cepat keluar atau pernikahannya batal!" ancam Syifa.
" Ok, kali ini Mas kalah. Tapi Mas tidak akan melepaskanmu setelah pernikahan nanti."
Reyhan mencium kedua pipi Syifa lalu meninggalkan kekasihnya itu sendirian di ruang ganti. Sampai diluar, ia menyuruh pegawai untuk membantu Syifa mencoba gaun pengantinnya.
__ADS_1
" Rey, kamu apa - apaan sih! Nggak sopan, kalian itu belum menikah." omel mama Salma.
" Apa sih, Ma? Rey nggak ngapa - ngapain kok." sahut Reyhan.
Sepuluh menit kemudian, Syifa keluar dari ruang ganti dengan memakai gaun panjang berwarna putih. Reyhan menatapnya hanya sekilas lalu menyuruh Syifa melepasnya lagi.
" Ganti! Apa harus terbuka seperti itu." kata Reyhan datar.
Hingga satu jam lamanya, Syifa bolak - balik mengganti gaunnya hingga lututnya terasa sakit. Dia sudah mengeluh dengan sikap Reyhan yang semena - mena.
" Mas, udah dong. Syifa capek!" sungut Syifa.
" Ya udah sekali lagi, sayang." bujuk Reyhan.
" Nggak mau! Syifa udah nggak kuat jalan."
" Janji cuma ini aja, ini Mas ambil beberapa tahun lalu dan Mas simpan di Apartemen." bisik Reyhan.
" Mas curi gaun dari butik mama?"
" Ssttt... jangan keras - keras ngomongnya." bisik Reyhan.
Reyhan langsung menarik Syifa agar mengganti bajunya di ruang ganti. Gaun itu sudah sangat lama Reyhan ambil dari butik ibunya saat masih sekolah SMA dulu.
Tak lama Syifa keluar dari ruang ganti dengan gaun panjang warna biru muda dan sangat pas di tubuhnya. Gaun itu menutupi seluruh tubuhnya.
Reyhan tersenyum lalu menghampiri kekasihnya itu. Pandangannya tak pernah lepas dari gadisnya seakan tak rela jika tiba - tiba menghilang.
" Gadisku sangat cantik," bisik Reyhan.
" Syifa mau pulang, capek." keluh Syifa.
" Iya, kita akan pulang setelah kau ganti baju."
Saat Syifa mengganti gaunnya dengan pakaian biasa, Reyhan menyuruh designer yang bekerja di butik ibunya untuk membuat gaun yang sama namun berwarna putih untuk akad nikahnya.
" Ma, Reyhan pulang dulu tapi ke Apartemen. Syifa capek, kalau pulang ke rumah kejauhan." pamit Reyhan.
" Awas, jangan macam - macam sebelum halal...!" peringat mama.
" Cuma sedikit, Ma." sahut Reyhan nyengir.
" Ish... dasar anak nakal...!"
Akhirnya mereka berdua langsung pulang ke Apartemen karena Syifa terlihat sangat lelah. Reyhan hanya tersenyum melihat tingkah gadisnya yang seperti anak kecil. Dia minta gendong saat memasuki Apartemen.
" Sayang, mandi dulu apa langsung istirahat? Atau mau makan?" tanya Reyhan.
" Syifa mau istirahat dulu, Mas. Capek banget, Mas sih ngerjain Syifa."
" Hehehee... ya udah, sini Mas pijitin kakinya biar nggak pegel."
Reyhan langsung membaringkan tubuh Syifa di tempat tidur. Setelah itu, dia langsung memijit kaki gadis itu sampai batas lutut. Karena pijatan Reyhan yang enak, Syifa langsung terlelap hanya dalam waktu sekejap saja.
.
.
TBC
__ADS_1
.
.