
" Apa kau percaya dengan cintaku, sayang?" ulang Reyhan dengan lembut.
" Iya..." jawab Syifa dengan menundukkan pandangannya.
" Iya apa?" cecar Reyhan.
" Iya... terpaksa," ucap Syifa.
Cup!
" Itu baru kesayanganku." Reyhan mencium kening Syifa dengan lembut.
Reyhan tersenyum melihat wajah imut kekasihnya yang sangat menggemaskan. Rona kemerahan di pipinya membuat wajahnya semakin cantik.
" Sayang, jangan pernah meragukan cintaku. Apapun yang aku lakukan selama ini, semua itu untuk kamu. Aku bekerja keras di luar negeri, itu semua adalah milikmu. Kau tahu, S.A Properties adalah singkatan dari nama kamu. Hidupku bisa seberuntung ini karena selalu ada dirimu dihatiku." ucap Reyhan dengan lembut.
" Benarkah? Tapi Cathy_..."
" Dia itu ibaratnya kamu dan Sony. Mas percaya hubunganmu dengan Sony hanyalah sebatas persaudaraan. Begitu juga dengan Mas dan Cathy, dia sudah kuanggap seperti adikku sendiri. Kakaknya, Steven... dia menitipkan Cathy padaku selama gadis itu di negara ini. Mas hanya menjalankan amanah, sayang."
" Mas_..."
" Apalagi, sayang?"
" Katanya tadi mau suapin? Syifa lapar, Mas." rengek Syifa.
" Iya, sayang. Mas sampai lupa." sahut Reyhan sambil tersenyum.
Reyhan dengan telaten menyuapi Syifa dan sesekali untuk dirinya sendiri. Tanpa terasa sepiring nasi goreng porsi besar buatan Reyhan itu habis tak tersisa.
" Tidurlah, sayang. Biar Mas beresin bekas makan ini dulu." kata Reyhan.
" Syifa aja yang beresin, Mas?" sahut Syifa.
" Tidak usah, tunggu disini! Mas akan menemanimu tidur nanti."
Syifa hanya bisa pasrah dengan sikap keras Reyhan. Pria itu bisa berubah - ubah sikapnya dalam sekejap. Kadang sangat lembut, namun sebentar kemudian bisa menjadi sangat arogan.
Setelah mengembalikan bekas makan ke dapur, Reyhan segera kembali ke kamar Syifa.
" Sayang, kenapa belum pindah ke tempat tidur?"
" Katanya tadi disuruh diam dan nungguin disini, Mas?"
" Astaga... gadisku ini polos sekali sih."
Reyhan mengangkat tubuh Syifa kembali ke ranjang. Jika sedang akur, gadisnya itu terlihat sangat manja dan menggemaskan.
" Sekarang tidurlah, biar besok tidak bangun kesiangan."
" Mas, Syifa belum ngantuk."
" Sayang, ini sudah jam satu lewat."
" Mas temani Syifa sampai tidur, baru Mas boleh pergi."
" Baiklah, Tuan puteriku yang cantik."
Syifa berbaring menyamping dengan memeluk guling. Dia menatap wajah Reyhan dengan lekat lalu tersenyum.
" Sayang, kau sudah tidak marah lagi sama Mas?" tanya Reyhan sembari mengusap pelan kepala Syifa.
" Syifa nggak pernah marah sama Mas Reyhan." jawab Syifa.
__ADS_1
" Nggak marah gimana? Kamu pergi seharian tanpa kabar terus hampir bunuh diri gitu. Mas nggak mau kamu melakukan hal bodoh itu lagi."
" Siapa yang bunuh diri? Syifa cuma mau berendam aja, Danang aja tuh yang terlalu berlebihan."
" Jangan lakukan hal berbahaya lagi, Mas takut kehilangan kamu."
" Benarkah? Apa Mas juga akan khawatir seperti Mas mengkhawatirkan Cathy?"
" Sayang, kenapa bicara seperti itu? Kau adalah segalanya untukku."
" Seandainya aku dan Cathy berada di ujung jurang yang berlawanan dan butuh pertolongan? Siapa yang akan selamatkan?"
Reyhan berpikir sejenak lalu menatap lekat gadisnya lalu mencium keningnya sekilas.
" Mas akan menyelamatkan kalian berdua."
" Seandainya hanya satu saja yang bisa diselamatkan?"
" Tentu saja Cathy yang aku selamatkan."
" Jadi kau lebih mencintai dia daripada diriku?"
" Mas tidak bilang begitu, setelah menyelamatkan Cathy... Mas akan menyusulmu. Karena hidup dan matiku hanya bersamamu."
" Ish... pergi sana! Aku mau tidur," sungut Syifa.
" Mas tidur di sofa aja temenin kamu."
" Cathy sudah ketemu, Mas?"
" Sudah, dia menginap di Apartemen Ardan. Sudahlah, cepat tidur dan jangan bertanya apapun lagi." kata Reyhan.
" Hmmm..." sahut Syifa.
Syifa melihat Reyhan yang sudah merebahkan diri di sofa. Dia tidak berniat membuat Reyhan mencemaskan dirinya. Saat di pantai, memang pikirannya benar - benar kosong. Syifa tidak menyadari bahwa dirinya masuk ke dalam air. Dia juga tidak marah pada Reyhan karena sadar posisinya saat ini bukanlah siapa - siapa. Reyhan bebas melakukan apapun yang dia mau karena mereka belum ada ikatan secara resmi.
" Eh... siapa yang menatapmu, aku hanya belum bisa tidur saja." kilah Syifa.
" Apa perlu Mas temani kamu tidur disitu?"
" Tidak!" seru Syifa lalu membalikkan tubuhnya membelakangi Reyhan.
# # #
Pagi - pagi sekali, Danang sudah datang untuk menjemput Syifa. Bahkan mungkin dia tak sempat sarapan karena takut terlambat menjemput atasannya.
" Danang, sepagi ini kau menjemputku?" tanya Syifa.
" Tidak apa - apa, Non. Biar tidak terlambat ke kantor nanti." jawab Danang.
" Sudah sarapan?"
" Nanti saja di kantor, Non."
" Ya sudah, saya masuk dulu." kata Syifa.
Syifa ke dapur dan mengambil sepiring nasi goreng dan air putih. Dia akan memberikannya kepada Danang di teras karena pria itu tidak akan mau diajak masuk dan sarapan bersama keluarga Aditama.
" Sayang, itu sarapan buat siapa? Kok dibawa keluar?" tanya Reyhan heran.
" Buat Danang, Mas. Dia ada diluar, Syifa takut dia merasa sungkan jika sarapan bersama kita di dalam."
" Hhh... calon suaminya aja belum diambilin malah udah ngurusin orang lain." gerutu Reyhan.
__ADS_1
" Apaan sih, Mas? Cathy belum turun?" tanya Syifa.
" Tadi sudah Mas ajak turun, mungkin sebentar lagi. Kamu belum mandi, sayang? Masih pakai piyama begitu sih?" Reyhan menarik lengan baju Syifa.
" Ini juga mau mandi, Mas." Syifa mencoba melepaskan diri dari Reyhan.
" Nggak mandi juga tetep cantik kok." bisik Reyhan.
" Tidak usah muji begitu, lagi nggak bawa recehan." cibir Syifa.
Syifa pergi begitu saja meninggalkan Reyhan yang sedari tadi mengganggunya. Tapi bukan Reyhan jika menyerah begitu saja. Dia mengikuti Syifa ke teras sambil merangkul bahu gadis itu.
" Maasss! Jangan aneh - aneh deh!" gerutu Syifa.
" Apa sih? cuma begini nggak boleh?" goda Reyhan.
" Nang, ini sarapan buat kamu. Habiskan, saya mau mandi dulu." kata Syifa.
" Terimakasih, Non. Jadi merepotkan." ucap Danang.
" Sayang, cepetan mandi sana! Sebentar lagi papa dan mama keluar sarapan." titah Reyhan.
" Iya, bawel...!" sahut Syifa.
Setelah Syifa masuk, Reyhan beranjak ke taman untuk melihat pohon mangga yang ia tanam saat umurnya tujuh tahun. Pohon itu ia tanam bersama kedua orangtuanya. Bayangan wajah cerianya di masa kecil menari - nari di ingatannya. Pohon itu adalah wujud kasih sayang ketiganya yang menyatu dalam satu nyawa.
Reyhan baru menyadari keegoisannya ini saat melihat pohon itu tertiup angin. Daunnya melambai - lambai mengikuti arah angin, kadang ke barat, utara, timur dan selatan. Seperti itu pula kehidupannya, Papanya sering pergi keluar negeri, Mamanya mengembangkan butiknya diluar kota dan dia sendiri tak pernah pulang. Walaupun begitu, mereka tetap berada di akar yang sama yaitu keluarga.
" Tuan, kenapa melamun pagi - pagi?" tanya Danang membuyarkan lamunan Reyhan.
" Ish... kau ini mengagetkanku saja!" sahut Reyhan datar.
" Maaf, Tuan."
" Ada apa?"
" Sebenarnya saya ingin memberitahu tentang keinginan terbesar dalam hidup non Syifa."
" Kau tahu?"
" Iya, Tuan."
" Bagaimana bisa dia mengatakan itu padamu sedangkan dia tidak pernah mau terbuka padaku?"
" Non Syifa sebenarnya tidak mengatakannya secara langsung, Tuan."
" Lalu?"
" Nona mengatakannya saat dirinya sedang bersedih. Tanpa sadar nona mengungkapkan keinginan hatinya itu."
" Katakan padaku apa yang menjadi keinginannya itu, sebisa mungkin saya akan mengabulkan keinginannya jika itu bisa membuatnya bahagia."
" Tuan yakin?"
" Tentu saja, apa saya terlihat seperti seorang pembohong?"
" Sebenarnya... Nona ingin_..."
.
.
TBC
__ADS_1
.
.