
" Semoga usahaku kali ini berhasil." seringai papa Hendra dalam hati.
Syifa bergegas ke Bandara agar tidak ketinggalan pesawat. Biasanya jalanan pasti macet jika sudah agak siangan.
" Nang, lebih cepat sedikit ya?" kata Syifa.
" Baik, Non. Saya usahakan sampai Bandara tidak terlambat." ucap Danang.
Pukul tujuh kurang seperempat, mereka sampai di Bandara. Syifa meminta Danang menemaninya sampai ke ruang tunggu.
" Nang, selama saya pergi mobilnya kamu pakai saja tidak usah diantar ke rumah. Sekalian nanti buat acara lamaran, daripada menyewa di rental." kata Syifa.
" Tapi, Non... saya jadi merasa nggak enak dibantu terus sama non Syifa."
" Tidak apa - apa, nanti bisa buat jemput saya lagi saat pulang dari Amerika."
" Baik, Non. Terimakasih sebelumnya,"
" Ya sudah, saya berangkat dulu ya? Do'akan semoga saya bisa membawa pulang putra Tuan Aditama."
" Iya, Non. Semoga niat baik non disana dipermudahkan jalannya."
Syifa masuk ke dalam pesawat, begitu pula dengan Danang yang langsung bergegas kembali ke kantor untuk bekerja.
# # #
" Pa, gimana? Apa kita tidak keterlaluan pada Syifa?" ucap mama Salma.
" Biar saja, Ma. Mau sampai kapan mereka saling menghindar, papa mau mereka bertemu dan menyelesaikan masalahnya."
" Tapi kalau Syifa dan Reyhan tahu mama tidak sakit gimana?"
" Sudah, kita berdo'a saja semoga mereka kembali kepada kita secepatnya."
" Baiklah, kalau gitu mama mau pulang sekarang. Kasur di rumah lebih nyaman daripada disini." gerutu mama Salma.
" Ya sudah, papa beresin barang - barang mama dulu."
Saat mereka sedang beres - beres, Ardan dan Sony masuk berniat untuk membesuk. Mereka berdua heran melihat pasutri itu sedang merapikan barang - barangnya.
" Assalamu'alaikum," ucap Sony dan Ardan.
" Wa'alaikumsalam... ah, kebetulan ada kalian berdua disini." jawab papa Hendra.
" Tante sudah sembuh? Tapi_..."
" Sudah, jangan banyak bertanya! Antar kami pulang sekarang."
Sony dan Ardan segera membawa barang bawaan orangtua Reyhan. Ingin bertanya, namun mereka tak punya keberanian.
__ADS_1
" Kalian yakin tidak tahu alamat Reyhan di Amerika?" tanya papa Hendra.
" Tidak, Om. Biasanya Reyhan yang datang ke tempat kami. Reyhan tidak pernah bercerita apapun tentang pekerjaannya disana." jawab Sony.
" Semoga saja Syifa bisa bertemu dengan Reyhan.: ucap mama Salma.
" Jadi, Syifa sudah berangkat tante?"
" Iya, dia ambil penerbangan jam tujuh tadi."
Setelah mengantar orangtua Reyhan, Sony langsung mengantar Ardan ke Bandara kemudian pergi ke Bandung untuk seminar jam satu siang nanti.
"
# # #
Malam hari, Reyhan sedang berada di dalam kamarnya. Beberapa hari ini ia selalu bermimpi bertemu dengan Syifa. Gadis itu seakan memohon dan berlutut kepadanya entah apa yang dia minta.
" Syifa, semakin aku ingin membuang jauh pikiran ini tentangmu, bayanganmu malah semakin nyata dalam setiap tidurku. Takdir apa yang sebenarnya terjadi pada kita? Mengapa begitu sulit untuk melupakanmu." batin Reyhan.
Hampir satu jam Reyhan berguling - guling di tempat tidur untuk mencari posisi yang nyaman agar matanya bisa terpejam. Namun bayangan Syifa tak berhenti menghantui pikirannya.
" Masya Allah, Syifa... kenapa sulit sekali menghilangkan bayanganmu dari pikiranku!" pekik Reyhan.
Karena tak bisa tidur, Reyhan mengambil laptop ke ruang kerjanya lalu membawanya ke kamar. Reyhan membaca email dari klien yang belum sempat ia buka di kantor.
" Syifa, aku ingin bisa mengikhlaskan dirimu dengan Ardan. Tapi hatiku rasanya sakit sekali, apa aku salah masih menyimpan rasa ini untukmu?" gumam Reyhan.
" Sony kemana sih? Apa lagi menangani pasien ya?"
# # #
Syifa yang masih berada di dalam pesawat tak bisa tidur karena pikirannya sedang kacau. Apa yang akan dia katakan nanti jika ia bertemu dengan Reyhan. Apa Reyhan masih mau bertemu lagi dengannya? Bagaimana jika Reyhan sedang tidak ada di kantor? Bagaimana jika Reyhan mengusirnya?.
Pikiran buruk mulai menghinggapi Syifa. Untuk pertama kalinya ia merasa gugup dan takut akan bertemu dengan seseorang. Syifa selalu berdo'a dalam hati semoga Reyhan tidak mengusirnya.
Tak lama, Syifa tertidur karena lelah berpikir. Ingin rasanya ia loncat saja dari pesawat ini daripada harus menghiba pada pria yang telah disakitinya.
Tak terasa sudah belasan jam Syifa berada di dalam pesawat. Kini dirinya berada di Bandara negara itu dengan raut wajah lelahnya. Sampai disana sudah tengah hari, dengan berbekal alamat yang ia dapatkan dari google, Syifa mencari taksi yang akan mengantarnya menemui Reyhan.
" Pak, antarkan saya ke alamat ini ya?" kata Syifa sambil menyodorkan selembar kertas kepada sopir taksi.
" Nona ingin pergi ke S.A Properties?"
" Iya, pak. Memangnya kenapa?"
" Nona baru pertama kali ke kota ini? S.A Properties itu perusahaan baru yang sangat besar. Pemiliknya orang Asia, tapi dia sangat sulit untuk di expos media. Orangnya sangat tertutup dan anti dengan wanita."
" Anda bisa tahu sedetail itu soal dia?"
__ADS_1
" Hanya itu rumor yang bisa diberitakan oleh media, Nona. Apakah Anda akan melamar pekerjaan disana?"
" Tidak, pak. Saya ada urusan dengan pemilik perusahaan itu."
" Pantas saja, wajah nona memang mirip orang Asia."
" Bapak bisa saja, apakah perjalanannya masih jauh jauh?"
" Sekitar setengah jam lagi, nikmati perjalananmu. Oh ya, satu lagi nona. Tolong jaga diri baik - baik disini, banyak kejahatan di jalanan."
" Iya, terimakasih pak."
Syifa memandangi kota itu dari dalam taksi. Kota yang indah, pantas saja Reyhan sangat betah tinggal disini.
" Rey, kenapa aku sangat takut hanya ingin bertemu denganmu saja. Pasti kau sangat membenciku sekarang," batin Syifa.
Tanpa Syifa sadari, sopir taksi itu berhenti di depan gedung perkantoran yang menjulang tinggi. Mungkin sekitar lima belas lantai.
" Nona, kita sudah sampai di tempat tujuan," suara sopir taksi membuyarkan lamunan Syifa.
" Eh, iya pak. Terimakasih." sahut Syifa sedikit terkejut.
Syifa turun dari taksi lalu menenteng tas ransel yang berisi baju - bajunya. Dia hanya membawa sedikit baru karena hanya disana sebentar jadi tidak ingin repot dengan membawa koper. Mirip sekali dengan kebiasaan Reyhan ternyata yang lebih suka membawa ransel daripada koper.
Jarak jalan raya dengan gerbang keamanan gedung cukup jauh sekitar 30 meter. Syifa berjalan dengan menenteng ransel di punggungnya dan tas kecil di bahunya. Saat sedang berjalan, tiba - tiba ada sebuah motor dengan kecepatan tinggi menyambar tas kecilnya yang berisi kartu identitas dan kartu ATM serta uangnya. Semuanya raib dalam waktu beberapa detik saja tanpa dia sadari.
" Astaghfirullah...! Rampok...!" teriak Syifa.
Karena tempat yang sepi, tak ada seorangpun yang bisa ia mintai tolong apalagi ponselnya juga ikut hilang.
" Ya Allah, apakah ini awal dari penderitaanku?" lirih Syifa.
Ingin rasanya ia menangis saat ini juga, namun Syifa tak ingin dianggap orang gila. Kini harapan satu - satunya adalah Reyhan, jika dia menolak kehadirannya sudah bisa dipastikan Syifa akan menjadi gembel di negeri orang.
Syifa meraih tas ranselnya yang terjatuh saat sebuah mobil melintas di depannya yang baru keluar dari kantor Reyhan. Kaca mobil bagian belakang setengah terbuka dan Syifa dapat melihat dengan jelas siapa yang ada di dalamnya.
" Reyhaannn...!"
Syifa berteriak kencang, namun mobil itu tetap melaju dengan kecepatan pelan hingga semakin jauh ke jalan raya.
" Reyhaaannn...!"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.