
" Semoga keinginanmu segera terkabul, sayang." gumam mama Salma.
Mama Salma merasa kehadiran Syifa dalam kehidupannya mampu membuatnya kembali bersemangat setelah kepergian Reyhan sejak masih SMP. Mereka sama - sama keras, mama Salma dengan bisnisnya yang sedang meroket membuatnya harus menitipkan Reyhan kepada para pelayan di rumahnya. Sedangkan Reyhan yang juga bersifat keras, lebih memilih tinggal sendiri di Apartemen dan belajar untuk hidup dalam kesendirian.
Mama Salma kembali ke kamarnya dan membuka laci meja riasnya. Dia mengamati hadiah yang diberikan putranya saat akan kembali ke New York. Satu set perhiasan yang sangat indah. Mama Salma tahu berapa harga hadiah dari putranya itu. Jika dirupiahkan mungkin sekitar satu Milyar.
Tapi bukan karena barang mewah itu yang membuat mama Salma bahagia, namun melihat putranya yang perlahan mulai menaruh perhatian padanya. Semua itu mungkin karena didikan orangtua Syifa yang kini telah tiada. Sebagai ungkapan terimakasihnya, mama Salma berjanji akan selalu menyayangi Syifa meskipun gadis itu tak berjodoh dengan putranya kelak.
# # #
Hari terus berganti, kini sudah waktunya Reyhan kembali ke Indonesia. Dia sudah tak sabar untuk bertemu gadis pujaannya. Rasa rindu seakan menyesakkan dadanya tatkala pesawat yang ia tumpangi mulai lepas landas.
" I'm coming, honey. I miss you so much." batin Reyhan.
Perjalanan panjang yang Reyhan lalui saat ini terasa sangat lambat. Berkali - kali Reyhan berdecak kesal karena pesawat sepertinya terbang semakin lambat saja.
" Sayang, aku akan memberikan kejutan untukmu. Semoga kau menyukai hadiah kecil dariku." batin Reyhan.
Sedari tadi Reyhan tidak menyadari jika disampingnya ada orang yang memperhatikannya. Seorang wanita cantik dengan tubuh ramping, mungkin ia seorang model.
" Are you oke, Mr?" tanya gadis itu.
" Oh... Sorry, I'm fine." jawab Reyhan.
" Apakah Anda orang Indonesia?" tanya gadis itu.
" Iya, apa Anda juga?" sahut Reyhan.
" Iya, Tuan. Saya asli dari Surabaya, sedang liburan di Amerika."
" Saya bekerja di Amerika." kata Reyhan singkat.
Gadis itu menatap Reyhan dengan lekat, terpesona dengan ketampanan pria di hadapannya.
" Jangan menatapku seperti itu, jaga pandanganmu!" kata Reyhan datar.
" Nama saya Carrisa, boleh tahu nama Anda?"
" Saya Reyhan."
" Maaf, saya terlalu banyak bicara. Saya hanya ingin berteman saja."
" Apa kau bekerja?" tanya Reyhan.
" Tidak... mmm... sebenarnya saya sempat bekerja di sebuah perusahaan besar di Surabaya sebagai sekretaris. Namun saya mengundurkan diri dua bulan yang lalu karena boss saya memaksa saya untuk dijadikan istri keduanya. Jadi saya memilih pergi daripada menjadi simpanan."
" Lalu? Bagaimana bisa kau sampai di Amerika?"
" Saya ikut dengan teman saya yang bekerja disana, katanya ada pekerjaan yang cocok untukku. Tapi setelah sampai disana, ternyata dia bekerja Club Malam. Saya tidak mau bekerja di tempat seperti itu, takut terjerumus dalam dosa. Untung saja saya bisa lari dari tempat itu dan mendatangi kantor KBRI untuk meminta bantuan. Saya beruntung, ada orang baik disana yang bersedia untuk membelikan tiket pulang ke Indonesia."
" Kau pernah jadi sekretaris?" tanya Reyhan memastikan.
" Iya, Tuan. Tapi tidak lama, belum ada satu tahun."
" Kau mau bekerja lagi, Nona?"
" Kerja untuk Anda, Tuan? Tidak, saya tidak mau kembali ke Amerika lagi. Saya takut dengan orang - orang yang mengejar saya waktu itu."
" Bukan, bekerjalah di Jakarta. Calon istriku sangat kerepotan jika harus mengurus perusahaan sendiri. Jika mau, kau akan diuji selama satu minggu. Jika pekerjaanmu memuaskan, kau bisa diterima kerja disana."
__ADS_1
" Benarkah, Tuan? Terimakasih, saya akan bekerja sebaik mungkin."
" Tapi nanti, jika calon istriku mau. Soalnya dia akhir - akhir ini sensitif banget kalau saya berdekatan dengan wanita lain."
" Tidak masalah, Tuan. Nanti tinggalkan saja alamat kantornya biar saya melamar sendiri. Anggap saja kita belum pernah bertemu, jadi calon istri Anda tidak akan berpikiran macam - macam."
" Ya sudah, nanti saya tuliskan alamatnya."
" Terimakasih, Tuan."
Cukup lama berbincang, merekapun lelah dan tidur. Perjalanan masih sangat panjang, Reyhan susah sekali untuk memejamkan matanya. Dia segera membuka laptopnya untuk memeriksa beberapa pekerjaan yang belum sempat ia baca.
Semua rencana yang disusun Reyhan sudah sangat matang, tinggal mencari tempat yang cocok saja. Ada beberapa tempat yang sudah ditawarkan papa Hendra padanya, Reyhan tinggal survei sendiri.
# # #
Malam hari, Reyhan sudah mendarat di Bandara Soetta. Sony dan Ardan sudah menunggu dari tadi untuk menjemputnya.
" Assalamu'alaikum," sapa Reyhan.
" Wa'alaikumsalam." jawab Sony dan Ardan.
" Semua sudah beres?" tanya Reyhan.
" Sudah, acaranya akan berjalan sangat meriah." jawab Ardan.
" Kau membawa wanita lagi, Rey?" seru Sony seraya menatap seorang gadis yang berdiri di belakang Reyhan.
" Wanita_...?" Reyhan menoleh ke belakang.
" Astaga... Carissa, kenapa kau mengikutiku?" kata Reyhan meninggikan suaranya.
" Maaf, Tuan. Saya tidak tahu harus pergi kemana, saya tidak mengenal siapapun disini kecuali Anda." ucap Carissa takut.
" Tuan tahu sendiri, saya tidak memiliki uang sedikitpun. Bagaimana saya bisa menyewa penginapan?"
" Jadi saya yang harus menanggung hidupmu?!"
" Ti... tidak, Tuan. Saya_..."
Ardan merasa kasihan terhadap gadis itu. Sepertinya dia gadis dari keluarga yang baik. Dia tak ingin jadi pusat perhatian orang - orang disana.
" Sudah, Rey. Malu dilihat orang, ayo kita pulang. Nona, ikutlah dengan kami." kata Ardan.
" Ardaannn...!" teriak Reyhan dan Sony kompak.
" Kenapa sih, aku hanya tidak mau kita jadi pusat perhatian orang - orang sekitar." sahut Ardan.
Akhirnya mereka mengijinkan Carissa ikut ke dalam mobil. Entah apa yang akan terjadi nantinya, jujur Carissa merasa sangat takut satu mobil dengan tiga pria yang tidak dikenalnya itu.
Carissa duduk di belakang bersama Ardan yang sedari tadi menatapnya dengan intens. Reyhan yang menyadari kelakuan sahabatnya yang satu itu langsung melempar wajahnya dengan gumpalan tissu dari depan.
" Lap tuh keringat! Udah panas dingin gitu." sindir Reyhan.
Sony hanya terkekeh sambil melirik dari kaca depan. Sedangkan Ardan, pria itu hanya nyengir setelah tertangkap basah menatap intens pada gadis disampingnya yang sedari tadi menundukkan wajahnya.
" Nona, kau mau diantar kemana?" tanya Ardan.
" Saya tidak tahu, Tuan. Mungkin ke terminal saja, besok pagi saya akan kembali ke Surabaya." jawab Carissa.
__ADS_1
" Bahaya untuk wanita sepertimu malam - malam di terminal, banyak preman disana." ujar Sony.
" Saya tidak punya tujuan di kota ini, Tuan."
" Rey, bagaimana jika gadis ini menginap di Apartemenmu?" usul Sony.
" Tidak bisa, aku akan menginap disana sekarang. Syifa tidak tahu jika aku sudah pulang. Kalau nanti tiba - tiba dia ke Apartemen dan mendapati ada dia disana gimana? Kalian tahu sendiri akhir - akhir ini dia sangat sensitif sekali." kata Reyhan.
" Ya sudah, kalau begitu biar malam ini di Apartemenku saja. Aku jarang menempatinya, jadi dia boleh menginap malam ini." ujar Ardan.
" Terimakasih, Tuan." ucap Carissa dengan tersenyum.
Akhirnya mereka menuju Apartemen Ardan terlebih dahulu untuk mengantar Carissa kemudian menuju Apartemen Reyhan. Sampsi di Apartemen, Reyhan langsung merebahkan tubuh lelahnya ke tempat tidur diikuti Ardan dan Sony.
" Gimana, Dan? Apa semuanya sudah beres?" tanya Reyhan.
" Semua sudah beres, Rey. Tapi wanita itu meminta tiga kali lipat dari harga sebelumnya." jawab Ardan.
" Tidak apa - apa, yang penting semuanya sudah selesai. Lalu persiapan acaranya?"
" Besok pagi ada orang yang akan datang untuk membereskannya." ucap Sony.
" Baguslah, kuharap semua berjalan sesuai rencana. Tolong beritahu orangtuaku untuk bersiap - siap tapi jangan sampai dia tahu."
" Tenang saja, besok biar aku dan Sony yang menjemputnya." kata Ardan.
# # #
Siang ini Syifa memiliki banyak pekerjaan di kantornya. Tadi pagi Reyhan mengirimkan pesan bahwa hari ini dia sibuk jadi tidak bisa melakukan panggilan video.
Syifa sangat kesal dengan Reyhan yang tak membalas pesannya yang berkali - kali ia kirimkan.
" Kemana sih mas Reyhan? Masa' balas pesan saja tidak bisa, keterlaluan sekali dia. Awas saja nanti kalau dia telfon, tidak akan aku jawab!" geram Syifa.
" Fa, sudah malam! Ayo pulang?" ajak Deni.
" Sebentar kak, Syifa nungguin kak Sony dan bang Ardan jemput. Katanya tadi sudah di jalan." ucap Syifa.
" Ya sudah, kita ke bawah tunggu mereka di lobby." kata Deni.
" Syifa bereskan meja dulu, kak."
" Cepetan, udah jam setengah delapan sebaiknya sholat isya' dulu baru nanti pulang."
Usai sholat Isya', Syifa dan Deni turun ke bawah. Syifa berdiri di depan lobby, sedangkan Deni mengambil mobilnya di tempat parkir.
Saat Deni hampir mendekati mobilnya, tiba - tiba dia mendengar teriakan di depan lobby. Ada sebuah mobil hitam dengan dua pria yang menyeret kasar tubuh Syifa yang terus berteriak. Syifa di masukkan ke dalam mobil dan segera melesat meninggalkan tempat itu.
" Syifaaa...!" teriak Deni.
Sementara itu, di dalam mobil Syifa diikat dan dibekap mulutnya dengan kain. Gadis itu meronta dan berusaha untuk melepaskan diri. Pria yang ada disampingnya menelfon seseorang dengan suara datar.
" Target sudah ada ditangan kami, tinggal eksekusi."
.
.
TBC
__ADS_1
.
.