ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 72


__ADS_3

" Mas Reyhaannn...!" teriak Syifa.


" Terimakasih untuk semangat paginya." sahut Reyhan dari dalam kamar mandi.


" Dasar mesum! Tidak ada sopan santunnya!" gerutu Syifa.


Setelah menyiapkan pakaian Reyhan, Syifa langsung keluar dari kamar kekasihnya itu lalu kembali ke kamarnya sendiri.


Tak lama, Reyhan sudah siap untuk berangkat ke masjid dengan papanya. Ini pertama kalinya mereka kembali berjalan beriringan nenuju masjid setelah bertahun - tahun mereka berpisah. Dulu, terakhir kali mereka ke masjid bersama saat Reyhan masih duduk di sekolah dasar.


" Papa senang bisa berjalan seperti ini lagi bersamamu, Rey. Semenjak kamu pergi, papa baru sadar jika sebenarnya kita itu saling membutuhkan. Papa tidak bisa tenzng saat kamu jauh dari kami."


" Tidak usah dipikirkan, Pa. Rey tidak mau mengulang masa lalu. Yang terpenting sekarang kita sudah berkumpul kembali menjadi keluarga yang utuh."


# # #


Usai sarapan, Reyhan mengajak Syifa ke suatu tempat. Tempat indah untuk dua sejoli yang sedang kasmaran, pantai. Ya, mereka sekarang sedang berada di pantai. Reyhan mengajak Syifa untuk bermain air dan pasir.


" Sayang, ke tepi yuk? Panas nih, udah mulai siang." ajak Reyhan.


" Sebentar lagi, Mas. Syifa masih pengen main pasir." rengek Syifa.


" Nanti sore kita main lagi, sekarang kita berteduh mencari tempat yang nyaman." ujar Reyhan.


Syifa mengangguk lalu menggandeng lengan Reyhan karena sudah lelah berlarian di sepanjang pantai.


" Mas, cari minum yuk? Haus nih, pengen minum yang dingin."


" Iya, kita cari cafe dekat sini sekalian istirahat dan ganti pakaian."


" Makan sekalian ya, Mas? Syifa lapar."


" Hmm... baiklah, apapun yang kamu mau pasti Mas turuti." kata Reyhan.


" Terimakasih, sayang." Syifa bergelayut manja di lengan Reyhan seraya tersenyum.


Saat mereka berjalan menuju ke mobil untuk mengambil pakaian ganti, tiba - tiba ada seorang gadis yang menghampiri mereka. Syifa merasa tidak asing dengan wajah gadis itu.


" Reyhaannn..." sapa gadis itu.


" Kamu siapa? Maaf, saya tidak mengenalmu." sahut Reyhan datar.


Nampak sekali wajah pria itu berubah drastis. Tadi dia terlihat sangat romantis dan perhatian pada Syifa. Tapi sekarang wajahnya terlihat dingin dan angkuh.


" Kamu... Diana?" ucap Syifa.


" Iya, kamu Syifa? Kok bisa sama Reyhan disini?" tanya Diana tak suka.


" Dia istriku, jangan ganggu kami!" kata Reyhan tanpa melirik sedikitpun pada Diana.


" Istri? Sejak kapan kalian menikah?"


" Bukan urusanmu! Minggir, menghalangi jalanku saja." seru Reyhan.


" Mas, jangan terlalu kasar." bisik Syifa.


" Rey, aku hanya ingin bicara sebentar denganmu." kata Diana memohon.


" Saya tidak ada waktu, pergilah dan jangan menampakkan diri lagi di hadapanku!" ucap Reyhan datar.


" Kau akan menyesal karena mengabaikanku, Rey!" teriak Diana.

__ADS_1


Syifa tahu jika dari dulu saat mereka masih sekolah, Diana selalu mengejar Reyhan. Gadis itu melakukan segala macam cara untuk bisa mendekati Reyhan.


" Ayo pergi, Mas lelah."


Reyhan merangkul bahu Syifa dan berjalan menuju penginapan. Dia merasa sangat kesal karena bertemu lagi dengan gadis tidak tahu malu itu.


" Mas, kita nggak jadi ke Cafe?" tanya Syifa.


" Mas pengen istirahat dulu, sayang. Nanti kita pesan makanan di penginapan saja, ya?" ujar Reyhan.


" Kenapa sih Mas ketus begitu sama Diana?"


" Mas tidak suka aja wanita yang agresif dan tidak tahu malu seperti dia."


" Kalau Syifa yang agresif, gimana?" goda Syifa.


" Jika kamu yang agresif, maka akan kulayani sampai pagi." bisik Reyhan tersenyum jahil.


" Ish... apanya yang sampai pagi!" sungut Syifa.


" Tunggu aja sampai kita menikah nanti, Mas akan membuatmu terjaga sampai pagi." seringsi Reyhan.


" Aakkhhh! Dasar mesum!" Syifa memberikan cubitan keras di pinggang Reyhan.


" Auwww... sakit, sayangku." rintih Reyhan.


Setelah mendapatkan kamar, Reyhan menyuruh Syifa untuk membersihkan diri. Sementara dirinya memesan makanan dan minuman supaya diantar secepatnya ke kamar. Reyhan sudah malas untuk keluar gara - gara bertemu dengan Diana, perempuan yang tidak punya malu mengejar cintanya. Reyhan merasa jijik melihat wanita seperti itu.


Sementara di tempat lain, Diana terus saja mengumpat karena kesal dengan sikap Reyhan. Obsesinya untuk mendapatkan Reyhan kembali bergejolak setelah lima tahun lebih tidak bertemu.


" Aku pasti bisa mendapatkanmu, Rey. Apapun caranya, kau harus menjadi milikku. Aku akan menyingkirkan siapapun yang menjadi penghalangku untuk mendapatkanmu," seringai Diana.


Diana menghubungi seseorang untuk mengawasi Reyhan dan Syifa. Dia harus tahu dimana Syifa dan Reyhan tinggal.


# # #


Reyhan dan Syifa sedang menikmati makanannya di dalam penginapan. Reyhan bahagia melihat senyuman kekasihnya yang begitu mempesona.


" Mas_..."


" Apa, sayang?"


" Syifa takut, sepertinya Diana tidak akan berhenti mengejarmu."


" Tidak usah dipikirkan, percayalah... semuanya pasti baik - baik saja."


" Tapi, Mas... Syifa yakin Diana tidak akan ikhlas begitu saja melepasmu."


" Sayang, dia tidak akan bisa melakukan apapun untuk memisahkan kita. Kau harus tenang, cinta Mas hanya untuk kamu."


" Bukan itu, Mas. Syifa takut dia akan menyakiti keluarga kita. Syifa tahu sifat Diana itu seperti apa, dia bisa melakukan apa saja untuk mewujudkan keinginannya."


Reyhan nampak berpikir dan mengingat masa lalu. Dulu Diana sempat ingin menabrak Syifa saat di jalan. Jika saja Reyhan tak datang tepat waktu, mungkin kini Syifa tak ada di sampingnya.


" Tidak usah khawatir, Mas akan selalu menjagamu dan tak akan membiarkan siapapun menyakitimu." ucap Reyhan lembut.


Walaupun ucapan Reyhan itu benar, namun Syifa masih merasa takut dengan Diana yang seperti tak punya hati sedikitpun. Dia menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuannya.


Reyhan mendekap tubuh Syifa dengan penuh kasih sayang untuk menenangkan hati dan pikiran gadisnya itu. Reyhan harus segera bertindak sebelum Diana semakin nekat dengan obsesinya.


# # #

__ADS_1


Jam lima sore, Reyhan mengajak Syifa kembali ke pantai. Tempatnya sudah mulai dingin karena mentari sebentar lagi menghilang berganti dengan rembulan malam. Reyhan menuntun Syifa menuju karang untuk melihat keindahan ciptaan Tuhan. Sinar sang surya yang mulai merubah warna menjadi kuning kemerahan terlihat sangat memukau. Pemandangan yang sangat indah di sore hari menciptakan kedamaian di dalam hati siapapun yang melihatnya.


Syifa menyandarkan kepalanya di bahu Reyhan sambil tersenyum. Tangannya terus memainkan jemari kekasihnya yang terlihat menatap lautan tanpa berkedip.


" Mas, kenapa malah melamun sih? Lagi mikirin apa?" tanya Syifa.


" Tidak, sayang. Mas tidak mau menjadi matahari." ucap Reyhan dengan tersenyum.


" Kenapa?"


" Karena matahari hanya bisa menjaga bulan dari jauh tanpa bisa untuk menyentuhnya. Dia setia, namun tak berdaya... dia ada, namun tak bisa bersama."


" Mas bisa gombal juga... hehehee." Syifa menarik pipi Reyhan gemas.


" Kau yang membuatku jadi seperti ini." Reyhan mengecup kening Syifa dengan lembut.


Semakin hari Syifa semakin menggantungkan dirinya pada Reyhan. Cintanya semakin dalam sehingga takut kehilangan. Syifa tidak mau berpisah lagi dengan Reyhan, hatinya seperti sudah menyatu dengan pria di sampingnya itu.


" Mas, kapan kembali ke New York?"


" Kenapa bertanya begitu? Apa kamu tidak senang ada Mas disini?"


" Kenapa bicara begitu? Syifa tidak mau Mas pergi lagi." rengek Syifa.


" Sabar ya, sayang. Mas janji akan selalu ada bersamamu. Setelah semuanya beres, kita tidak akan pernah berpisah lagi."


" Maksudnya?"


" Mas berencana memindahkan kantor pusat ke Jakarta, sekarang Mas lagi cari tempat untuk membangun gedung S.A Properties di Jakarta."


" Benarkah? Mas tidak bohong, kan?"


" Iya, sayang. Mas tidak mau jauh dari kamu dan mama papa. Kalian bertiga adalah kehidupanku yang paling berharga."


" Mau Syifa bantu cari tempatnya?"


" Tidak usah, Mas sudah punya beberapa rekomendasi dari papa. Nanti kamu yang handle proyeknya saja membantu papa."


" Siap, Boss!" seru Syifa.


" Oh iya, sayang. Mas sebenarnya pengen bangun usaha yang berbeda dari bisnis yang sekarang. Tapi Mas butuh persetujuan kamu dulu, soalnya inikan untuk masa depan kita berdua."


" Memangnya mau usaha apa, Mas?"


" Hmmm... kasih tahu nggak ya?"


" Mas Reyhaannn...!"


" Hahahahaaa... cium dulu baru Mas kasih tahu." ucap Reyhan dengan senyum jahilnya.


Syifa sangat penasaran namun dia juga tidak mau melakukan permintaan Reyhan apalagi di tempat umum. Dia menatap lekat wajah Reyhan dengan tatapan sayu. Dengan menghembuskan nafasnya perlahan, Syifa mendekatkan wajahnya ke wajah Reyhan yang ada di hadapannya.


" Sudah siap...?"


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2