ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 19


__ADS_3

Syifa menunggu Danang di tempat parkir dengan memasang wajah cemberut. Sedangkan yang ditunggu belum juga datang dari tadi.


" Huft... tuh bocah lama banget sih!" geruru Syifa.


Deni yang baru datangpun meledeknya habis - habisan sambil tertawa terpingkal - pingkal.


" Eh... lagi nungguin pacar, Neng?" ledek Deni.


" Ish... kak Deni pergi aja daripada cuma ngledekin Syifa!" sungut Syifa.


" Iya - iya, memangnya kalian mau kemana sih?"


" Kuburan!"


" Astaghfirullah, Fa. Aku tanya serius kamu jawabnya begitu?"


" Lah, kakak gimana sih? Syifa juga serius jawabnya."


" Maksudnya?"


" Syifa mau ziarah ke makam ayah dan ibu. Sudah lama Syifa tidak kesana."


" Tapi, kenapa harus sama Danang?"


" Karena dia tidak bawel seperti kak Deni!"


" Huft... terserah, yang penting dia bisa dipercaya."


" Insya Allah, kak."


Tak lama, Danang datang dengan pakaian yang berbeda. Seragam OB yang dipakainya tadi sudah berganti dengan kaos hitam polos serta jaket putih yang membuatnya lebih terlihat bersih dan_... ( bayangin sendiri aja deh😁 ).


" Maaf, Non. Menunggu lama ya?" ucap Danang dengan senyum manisnya.


" Heh, Fa. Bernafas!" ledek Deni.


" Astaghfirullah...!" pekik Syifa membuat Deni terkekeh.


" Non Syifa kenapa?" tanya Danang.


" Huft... tidak apa - apa. Ayo pergi keburu malam." ucap Syifa.


Deni berbisik kepada Syifa yang membuat gadis itu melotot dan reflek memukul bahu Deni.


" Kakak apaan sih?" sungut Syifa.


" Baru lihat kayak gitu aja terpesona, padahal lebih perfect Reyhan, loh?"


" Bisa nggak sih, sebentar aja jangan bahas dia dulu!"


Syifa segera memberikan kunci mobil kepada Danang lalu duduk di kursi penumpang.


" Nang, jaga Syifa. Awas kalau sampai terjadi sesuatu padanya, kubunuh kau!" ancam Deni.


" Baik, Tuan. Saya akan menjaga nona Syifa dengan baik." jawab Danang.


# # #


Syifa sedari tadi hanya diam menatap jalanan di depannya dengan tatapan kosong. Danang sudah tahu tentang keadaan Syifa akhir - akhir ini karena gadis itu sering bercerita kepadanya tentang kehidupan pribadinya.


" Non, kenapa dari tadi diam?" tanya Danang.


" Eh, tidak apa - apa." jawab Syifa singkat.


" Kita mau kemana, Non?"

__ADS_1


" Ke makam orangtua saya dulu, tidak apa - apa kan?"


" Iya, Non."


Danang mempercepat laju mobilnya menuju ke pinggiran kota. Sejak kedatangan Reyhan enam bulan lalu, Syifa memang belum sempat ziarah lagi ke makam kedua orangtuanya.


" Non, kita sudah sampai." ucap Danang.


" Baiklah, kau tunggu disini saja."


Syifa keluar dari mobil dan memasuki gerbang pemakaman di sore hari yang hampir gelap. Sebentar lagi waktu maghrib tiba, Syifa mempercepat langkahnya. Karena kurang hati - hati, dia malah tersandung batu dan tersungkur ke tanah.


" Auwww!" pekik Syifa.


" Nona, Anda tidak apa - apa?"


Danang berlari lebih cepat menolong Syifa untuk berdiri. Tadi, setelah Syifa masuk ke area pemakaman, Danang merasa kasihan jika atasannya itu masuk sendirian sedangkan hari sudah senja dan sebentar lagi gelap.


" Danang, kau disini?" Syifa mengusap lututnya yang lecet.


" Saya tidak mungkin membiarkan nona masuk sendirian kesini. Memangnya nona tidak takut banyak mayat disini?"


" Astaga, Danang... yang namanya pemakaman ya pastilah banyak mayat!" ketus Syifa.


" Hehehee... berarti nona tidak takut hantu dong?"


" Tidak!"


" Yakin?"


" Danaanggg!"


Danang memapah Syifa menuju tempat pemakaman orangtua Syifa. Setelah sampai, mereka duduk sembari berdo'a dengan khusyuk.


" Ayah, ibu... Syifa datang lagi kesini. Syifa harap kalian tidak bosan mendengar curahan hati Syifa. Syifa tidak tahu lagi harus bersandar pada siapa sekarang. Sony dan Ardan memiliki kesibukan sendiri dan Syifa tak mau lagi terlalu bergantung pada mereka. Reyhan, dia bahkan sudah meninggalkan Syifa. Aku tahu ini kesalahanku sehingga membuat Reyhan pergi." batin Syifa.


" Iya, nanti kita cari mushola terdekat saja."


Danang kembali menjalankan mobilnya di jalan raya lalu mencari tempat yang ada musholanya.


" Non, di Cafe depan ada mushola juga. Apa mampir disana saja?" tanya Danang.


" Terserah kamu saja, Nang. Yang penting deket nanti sekalian kita makan, saya lapar."


" Baik, Non."


# # #


Setelah sholat maghrib, syifa dan Danang duduk di cafe. Mereka memilih duduk di sudut ruangan agar tidak terlalu ramai. Mereka berdua makan dengan lahap seperti seminggu tidak makan saja.


" Nang, kamu jadi melamar pacar kamu itu?" tanya Syifa.


" Ya jadi dong, Non. Kami pacaran sudah dua tahun, mau nunggu apalagi kalau orangtua sudah merestui. Takut khilaf kalau kelamaan pacaran."


" Ish... malah ceramah."


" Non Syifa bisa temenin saya buat ke acara lamarannya?"


" Kapan?"


" Nanti hari sabtu pas libur kerja, Non."


" Maaf, sepertinya tidak bisa. Saya besok akan pergi."


" Ya udah, tidak apa - apa Non."

__ADS_1


" Udah beli cincinnya?"


" Belum, besok saja Non sekalian pulang kerja,"


" Kita beli sekarang saja!"


Danang heran dengan sikap Syifa hari ini. Gadis itu seperti tidak punya tujuan yang jelas malam ini. Biasanya dia yang selalu bercerita tentang masalah pribadinya, namun hari ini Syifa selalu melontarkan pertanyaan tentang kehidupan Danang.


" Non Syifa sedang ada masalah ya?" tanya Danang serius.


" Saya lelah, Nang. Takdir yang kujalani begitu rumit tak sesuai dengan harapan. Saya hidup sebatangkara, tak ada yang bisa aku jadikan bersandar saat sedang terpuruk. Sampai kapan aku bisa bertahan dengan semua ini?"


" Non Syifa harus sabar dan juga ikhlas menjalaninya. Kuasa Allah itu tak bisa diukur seberapa besarnya, Non. Hari ini kita mendapatkan ujian berat, namun dengan keikhlasan kita menjalankannya, suatu saat nanti kita akan memetik hasilnya. Allah itu Maha Adil, hanya orang - orang yang berada di jalanNya saja yang kelak akan mendapatkan kebahagiaan yang abadi."


" Astaghfirullah, seharusnya aku tidak mengeluh. Terimakasih ya, Nang kamu adalah teman terbaikku. Kau selalu membuat hatiku bisa menjadi tenang."


" Sekarang Nona mau cerita sama saya?"


Syifa hanya tersenyum lalu menceritakan semua masalah pribadinya kepada Danang. Pria itu mendengarkan dengan serius lalu sedikit memberi saran dan juga nasehat sehingga Syifa terlihat lebih bersemangat sekarang. Syifa sangat beruntung memiliki teman seperti Danang yang selalu bijaksana dalam menghadapi suatu masalah.


Kini mereka berdua berada di sebuah toko perhiasan untuk membeli cincin pertunangan Danang. Berulang kali Danang menolak karena dia belum membawa uangnya, namun Syifa tetap memaksanya. Syifa yang memilih cincin dan membayarnya serta mengambil satu perhiasan lagi yang langsung di bungkus rapi tanpa sepengetahuan Danang.


" Nih, simpan baik - baik jangan sampai hilang. Dan ini hadiah untuk calon istrimu, sampaikan permintaan maafku karena tidak bisa datang ke acara kalian."


" Nona, ini terlalu berlebihan. Nona terlalu baik pada saya." ucap Danang malu.


" Terima saja, saya ikhlas memberikan ini padamu."


" Terimakasih, Nona."


" Besok antar saya ke Bandara pagi - pagi sekali. Penerbanganku jam tujuh pagi."


" Baik, Non."


Mereka berdua memutuskan untuk pulang karena hari semakin larut. Syifa menyuruh Danang membawa mobilnya supaya besok bisa lebih cepat saat menjemputnya.


# # #


Pagi - pagi setelah Shubuh, Syifa di jemput Danang untuk berangkat ke Bandara. Sebelum itu, mereka mampir dulu ke rumah sakit untuk berpamitan dengan orangtua Reyhan.


" Assalamu'alaikum," ucap Syifa pelan.


" Wa'alaikumsalam, sayang. Kamu kesini pagi - pagi sekali?" tanya papa Hendra.


" Iya, pa. Syifa mau berpamitan sama papa dan mama untuk menjemput Reyhan. Gimana keadaan mama sekarang?"


" Sudah lebih baik, namun masih menunggu hasil lab dulu."


" Ya sudah, kalau begitu Syifa berangkat dulu Pa."


" Hati - hati, sayang. Cepat pulang dan bawa Reyhan."


" Iya, Pa. Syifa janji akan membawa Reyhan apapun caranya."


Papa Hendra memeluk Syifa dengan erat seraya tersenyum lalu membelai kepala gadis itu dengan lembut.


" Semoga usahaku kali ini berhasil." seringai papa Hendra dalam hati.


.


.


TBC


.

__ADS_1


.


__ADS_2