ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 81


__ADS_3

" Dimana Syifa...!" hardik Reyhan dengan sorot mata penuh amarah.


Reyhan mencekik leher Diana hingga wanita itu sulit bernafas. Ardan dan Sony segera keluar dari mobil untuk memisahkan mereka.


" Rey, hentikan! Diana bisa mati, lepaskan dia." teriak Sony.


" Katakan dimana Syifa...!" ucap Reyhan dengan suara tertahan.


" Ak... aku... tidak tahu, Rey." kata Diana terbata.


" Kau bohong! Cepat katakan dimana Syifa!"


" Aku bersumpah tidak tahu keberadaan Syifa, Rey." Diana menangis tersedu - sedu.


" Aku akan membunuhmu jika kau tak mau bicara!"


" Rey, aku baru kemarin sampai di Indonesia. Aku tidak tahu apa - apa tentang Syifa."


Ardan menarik Reyhan keluar dari mobil dan menyuruh Sony untuk interogasi Diana di dalam. Emosi Reyhan sedang tak terkendali, Ardan tidak mau Reyhan sampai nekat menyakiti Diana.


" Sekarang katakan padaku apa yang telah kau lakukan pada Syifa." kata Sony pelan namun tegas.


" Aku... aku tidak... melakukan apa - apa." ucap Diana sambil menangis.


" Bagaimana dengan kecelakaan Syifa di Bali? Kau tidak mau mengakuinya?"


" Iya, memang kecelakaan itu aku yang merencanakannya. Tapi sungguh aku tidak berniat untuk membunuhnya."


" Apa yang sebenarnya kau inginkan, Diana!"


" Aku mencintai Reyhan, tapi Syifa selalu menghalanginya. Dia selalu dekat dengan Reyhan yang membuatku membencinya."


" Lalu? Sekarang kau sekap dimana Syifa?"


" Sony, aku tidak tahu soal itu. Setelah dari Bali waktu itu, aku langsung kembali ke Jepang. Percayalah aku tidak menculik Syifa."


" Bagaimana aku bisa mempercayai wanita ular sepertimu."


Diana hanya bisa menundukkan wajahnya yang terlihat semakin pucat karena takut dengan tatapan dingin Sony.


" Sony, jika memang Syifa diculik. Temukan Anton, dia satu angkatan dengan kita tapi beda kelas."


" Anton siapa? Jangan mencari kambing hitam!"


" Tidak, aku bicara jujur. Anton sangat mencintai Syifa, tapi cintanya tak pernah bisa ia ungkapkan karena Reyhan. Anton sangat membenci Reyhan, jadi dia ingin balas dendam."


" Kau jangan berbohong!"


" Tidak, tanyakan sendiri pada Reyhan. Dia pasti masih ingat dengan Anton."


Sony memanggil Reyhan dan Ardan agar masuk ke dalam mobil. Dia ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi.


" Rey, apa kau mengenal Anton?" tanya Sony.


" Anton? Anton siapa?"


" Dia satu sekolah dengan kita, Rey. Pria pendiam yang diam - diam menyukai Syifa. Kau yang sudah mengancamnya sehingga dia tidak berani mengungkapkan perasaannya pada Syifa." kata Diana.


Reyhan nampak berpikir untuk mengingat semuanya. Nama Anton memang tidak asing baginya, pria yang selalu bersama Syifa saat dirinya sedang ada kepentingan lain dan tidak bisa menemani Syifa.


Reyhan pernah menghajar Anton saat pria itu hendak datang ke rumah Syifa dengan membawa seikat bunga mawar merah.


" Iya, aku ingat pernah menghajarnya waktu itu." kata Reyhan.

__ADS_1


" Beberapa waktu yang lalu, aku bertemu dengan Anton di Cafe. Dia menanyakan tentang Syifa. Aku pikir dia hanya ingin bertemu dengan Syifa saja karena mereka berteman akrab. Aku hanya tahu tempat kerja Syifa saja, jadi aku memberitahu Anton."


" Apa kau sedang mencari kambing hitam?"


" Tidak, Rey. Cobalah kau cari ke Bogor, dia punya Villa di daerah puncak."


" Awas jika kau menipuku! Kupastikan hidupmu akan hancur!" ancam Reyhan.


# # #


Setelah menurunkan Diana dari mobilnya, Sony segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi menuju puncak. Reyhan terus melacak keberadaan Syifa lewat ponselnya.


" Rey, kau yakin alat pelacak itu berfungsi?" tanya Ardan.


" Iya, aku sudah pernah mencobanya." jawab Reyhan.


" Kita sudah berkeliling puluhan Villa, Rey. Apa Diana hanya menipu kita?"


" Kita cari lagi, coba masuk ke jalan itu" kata Reyhan.


" Jalannya masih tanah, Rey. Apa mungkin disana masih ada Villa?"


" Coba saja dulu, aku merasakan kehadiran Syifa di sekitar sini."


Reyhan terus menatap ke segala arah untuk mencari tempat penyekapan Syifa. Reyhan sangat yakin jika kekasihnya sudah semakin dekat dengannya.


" Sayang, Mas pasti akan menyelamatkanmu. Tetaplah bertahan demi cinta kita. Semua ini adalah kesalahanku, seharusnya aku selalu di sisi kamu." batin Reyhan.


" Rey, kita masuk semakin dalam ke hutan. Apa kita putar balik saja?" tanya Sony.


" Tidak, aku yakin Syifa ada di dalam sana." tegas Reyhan.


Setelah jam menyusuri jalan terjal berbatu itu, Reyhan tiba - tiba berseru dengan lantang. Ada binar bahagia dari sorot matanya.


" Benarkah? Kau tidak bohong kan, Rey?" Sony menghentikan laju mobilnya.


" Ya sudah, kau pantau terus sinyalnya. Semoga sinyalnya tidak menghilang jika kita berjalan semakin ke dalam." ujar Ardan.


" Sayang, aku pasti menemukanmu." gumam Reyhan.


Mereka melajukan mobilnya semakin ke dalam. Namun baru dua kilometer perjalanan, sinyal pelacak di ponsel Reyhan menghilang. Untungnya tadi Reyhan sempat melapor ke pihak berwajib supaya menyusul mereka.


" Berhenti...! Sembunyikan mobilnya di sekitar sini. Kita akan menyusuri hutan ini dengan berjalan kaki." kata Reyhan.


" Apa kita sudah dekat, Rey?" tanya Ardan.


" Tiga kilometer lagi, tapi sinyalnya sudah menghilang. Kita tidak bisa membawa mobil ini masuk, Syifa sedang dalam bahaya. Jika penjahat itu tahu kita datang, Syifa bisa jadi korban."


" Ya sudah, kita harus siap jika nantinya harus melawan penjahat yang entah berapa jumlahnya."


# # #


Siang hari, suasana di dalam Villa Anton terasa dingin walaupun cuacanya sedang cerah. Banyaknya pepohonan yang lebat membuat tempat itu terasa dingin dan sejuk.


Syifa menatap keluar lewat kaca jendela yang terkunci rapat. Dia berharap ada seseorang yang akan menolongnya pergi dari tempat ini.


" Apa kau melamun lagi, sayang?" suara yang sudah tak asing di telinga Syifa membuyarkan lamunannya.


" Kenapa tidak kau bunuh saja aku, Ton?" ucap Syifa datar.


" Menikahlah denganku, maka kau bebas."


" Cihh...! Aku tak sudi menikah denganmu." ketus Syifa.

__ADS_1


" Kalau begitu, kau akan selamanya disini." seringai Anton.


Anton membawa nampan berisi makanan untuk Syifa makan siang. Anton sebenarnya tidak ingin melakukan ini karena rasa cintanya terhadap Syifa tidak pernah pudar.


" Makanlah, setelah itu mandi. Aku sudah menyiapkan pakaian untukmu, nanti aku bawakan kesini." kata Anton.


" Ton, apa tidak bisa kita bicarakan ini baik - baik?"


" Sudahlah, jangan memancingku berbuat kasar padamu. Mungkin rasa cintaku padamu menumbuhkan dendam yang sangat besar kepada Reyhan."


" Anton, ini hanya tentang kita berdua. Jangan bawa nama Reyhan dalam pembicaraan kita. Hanya antara kita, bukan antara kau dan dia."


Anton menghembuskan nafasnya dengan kasar. Pria itu semakin mendekat ke arah Syifa dan menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya. Hal yang sudah ia impikan sejak bertahun - tahun lamanya, kini baru terlaksana. Pelukannya semakin erat dengan matanya yang terpejam.


Syifa tak ingin membuat amarah Anton kembali berkobar. Dengan terpaksa, Syifa membalas pelukan Anton agar hati pria itu bisa luluh kembali.


" Apakah tidak ada sedikitpun cinta untukku, Fa?" lirih Anton.


" Maafkan aku, dari dulu sampai sekarang kau adalah temanku. Walau apapun yang sudah terjadi, tetaplah jadi temanku. Jangan pernah pergi dariku." ucap Syifa.


" Kamu tidak marah padaku, Fa?"


" Ton, tolong maafkan Reyhan. Dia hanya tidak tahu seberapa baiknya dirimu padaku."


" Tapi, Fa_..."


Syifa mengurai pelukannya dan menatap mata Anton dengan lembut dan sedikit senyuman di bibirnya.


" Meskipun waktu itu Reyhan tidak menghalangimu mengungkapkan perasaanmu padaku, belum tentu juga aku bisa menerimamu. Waktu itu, aku sudah berjanji pada diriku sendiri untuk tidak menerima cinta dari siapapun termasuk Reyhan dan Ardan."


" Ardan? Dia juga_..."


" Iya, walaupun Ardan dan Reyhan bersahabat... namun soal hati, mereka tetap tidak ada yang mau mengalah. Meskipun aku merasakan cinta Reyhan padaku sangat besar, tapi aku tidak mau melukai hati Ardan. Sony adalah satu - satunya teman yang tulus tanpa melibatkan perasaan. Dia selalu bisa jadi penengah untuk masalah kami."


" Jadi kau belum menikah dengan Reyhan?"


" Kami belum lama bertemu kembali semenjak lulus SMA. Banyak sekali rintangan yang harus kami lalui untuk bertemu lagi. Bahkan Reyhan sempat menyerah agar aku bisa bersama Ardan. Pengorbanan Reyhan cukup besar untukku, keluarganya yang menampungku selama ini. Memberikan kasih sayang seperti orangtua kandungku sendiri."


" Jadi kau sangat mencintai Reyhan?"


" Aku hanya menuruti kata hati, aku hanya merasakan getaran dalam jiwaku saat bersamanya."


" Maafkan aku, Fa. Ternyata selama ini aku egois, aku pikir kau merebut Reyhan dari Diana."


" Diana? Kau pernah bertemu dengannya?"


" Iya, beberapa waktu yang lalu aku sempat bertemu dengannya. Dia yang memberikan informasi tempat kamu bekerja."


Syifa sedikit mendorong tubuh Anton ke belakang dengan tatapan tajam.


" Jadi kamu bersekongkol dengan Diana untuk membunuhku?"


" Tidak Syifa, aku_..."


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2