
" Aakkhhh...!!!" pekik Syifa.
Tanpa melihat siapa yang memeluknya, Syifa terus meronta berusaha melepaskan diri. Dengan sekuat tenaga ia terus meronta dan berteriak namun tangan kekar itu langsung membekap mulutnya.
" Syifa, tenanglah." bisik pria itu.
Mendengar suara yang tidak asing itu, Syifa langsung terdiam kemudian menangis. Pria itu membalikkan tubuh Syifa kemudian membawanya ke dalam dekapannya.
" Rey_..." isak Syifa lirih.
" Maafkan aku, Sya." lirih Reyhan.
Reyhan mendekap Syifa semakin erat tak ingin gadis itu pergi lagi darinya.
Flashback Reyhan
Saat memasuki aula tempat diadakannya acara, Reyhan melihat seorang gadis tengah menimang bayi dalam gendongannya. Melihat postur tubuh dari belakang saja, Reyhan merasakan ada sesuatu yang menarik hatinya untuk semakin mendekat pada gadis itu.
" Stev, kalian masuk saja duluan nanti aku menyusul." bisik Reyhan.
" Baik, Boss." jawab Steven.
Reyhan semakin mendekat ke arah gadis itu dan terkejut saat tahu siapa gadis yang ada di hadapannya sekarang. Saat ingin menghampiri Syifa, Reyhan mendengar curahan hati gadis yang sudah berhari - hari ia cari.
Reyhan hampir saja ikut menangis mendengar ucapan gadis yang sangat dicintainya. Ternyata selama ini gadis itu hanya terlihat tegar diluar saja, hatinya begitu lemah.
Melihat Syifa yang berbalik dan berjalan kearahnya, Reyhan langsung bersembunyi di balik tiang besar. Dia terus mengikuti langkah Syifa hingga gadis itu masuk ke sebuah kamar.
Flashback off
Syifa memukul - mukul dada Reyhan untuk meluapkan kekesalan hatinya. Reyhan hanya diam seraya mengusap pelan rambut Syifa dengan lembut.
" Kenapa kau meninggalkanku, Rey?" isak Syifa.
" Maafkan aku, Fa. Aku yang salah," lirih Reyhan.
Reyhanpun ikut meneteskan airmatanya, kerinduannya seakan tumpah begitu saja saat mendekap gadis yang sangat dicintainya.
" Kita pulang, ya? Aku sangat merindukanmu, Fa." bisik Reyhan.
" Tapi, Rey_..."
" Ssttt... jangan bicara apapun dulu. Kita pergi sekarang."
" Tapi aku belum pamit pada pengurus panti, Rey?"
" Tidak apa - apa, nanti kesini lagi. Sony juga ada disini sekarang, dia ada di dalam bersama asisten dan sekretarisku."
" Ya udah, aku ambil barangku dulu di kamar dan berpamitan dengan pengurus di ruang bayi."
" Aku ikut! Aku tidak akan melepaskanmu lagi sampai hari pernikahanmu tiba."
Syifa langsung terdiam dan menatap tajam wajah Reyhan dengan heran.
" Menikah? Siapa yang mau menikah?" tanya Syifa dan mengurai pelukan Reyhan.
" Bukankah kau akan menikah dengan Ardan?"
" Siapa yang bilang aku dan Ardan akan menikah? Jadi kau pergi karena saat di kantor waktu itu dia menjemputku?" selidik Syifa.
" Bukan begitu, katanya Ardan akan menikah lusa dan dia meminta aku untuk mencarimu karena jika kamu tidak ada pernikahannya tidak akan terjadi."
" Aku saja tidak tahu kalau Ardan mau menikah, dia bahkan tidak mengundangku." ketus Syifa.
__ADS_1
" Jadi bukan kamu calon istri Ardan?"
" Apaan sih Rey! Aku tidak akan menikah dengan siapapun!"
Reyhan langsung mengembangkan senyumnya lalu menarik tubuh gadis itu ke dalam dekapannya lagi.
" Menikahlah denganku, aku sudah memenuhi semua permintaanmu dulu." bisik Reyhan.
" Lepas! Nanti kalau ada yang lihat gimana?" sungut Syifa.
" Jawab dulu baru aku lepaskan," seringai Reyhan.
" Aku tidak pernah meminta apapun padamu."
Saat Syifa sedang meronta minta dilepaskan, tiba - tiba nyonya Theresia datang menghampiri mereka.
" Syifa, Tuan Reyhan? Kalian saling kenal?"
Syifa langsung melepaskan diri dari dekapan Reyhan yang mengendorkan pelukannya. Akhirnya Syifa dapat bernafas lega setelah lepas dari Reyhan.
" Eh, iya nyonya. Dia adalah orang yang saya cari,"
" Oh, jadi Tuan Reyhan yang kau cari? Syukurlah kalian sudah bertemu."
" Nyonya Theresia, saya akan mengajak Syifa pulang ke rumahku sekarang juga. Tidak masalah, kan?" kata Reyhan.
" Tentu saja, Tuan Reyhan. Silahkan."
Setelah berpamitan dengan pengurus panti, Reyhan mengajak Syifa ke rumah pribadinya dengan menggunakan taksi. Sampai di halaman rumah Reyhan, Syifa sangat terkejut melihat betapa megahnya rumah itu. Di sekelilingnya ada taman bunga yang berjajar rapi membuat Syifa tanpa sadar tersenyum.
" Kau menyukainya, sayang?" Reyhan mengeratkan pelukannya dari belakang.
Syifa yang kaget dengan pelukan Rey itu langsung berteriak dan memukul tangan yang melingkar di perutnya.
" Tidak, aku tidak akan membiarkanmu pergi dariku lagi."
" Rey! Aku tidak suka kau seperti ini padaku!"
Melihat raut wajah Syifa yang ditekuk, Reyhan langsung mengurai pelukannya.
" Jangan marah, maafkan aku. Aku hanya takut kau pergi lagi." Reyhan berlutut di hadapan Syifa dengan wajah sendu.
Syifa tidak bisa menahan airmatanya lalu berlari ke sebuah bangku panjang di taman samping rumah. Bukannya Syifa ingin menolak cinta Reyhan, namun dia merasa semakin rendah melihat betapa suksesnya Reyhan saat ini. Syifa merasa kecil di hadapan Reyhan, merasa tak pantas berada di sisinya.
" Fa, apa tidak ada sedikit saja cinta untukku? Aku tidak bisa hidup tanpa dirimu."
" Bukan seperti itu, Rey. Aku yang merasa tidak pantas untukmu. Kau lihat, perbedaan kita sangat jauh. Aku merasa sangat rendah di hadapanmu."
" Apa yang kau pikirkan? Aku tidak pernah memandang rendah siapapun termasuk dirimu."
" Aku_..."
" Cukup, Fa! Kau pikir aku mendapatkan semua ini untuk siapa? Semua ini adalah milikmu."
" Maksud kamu apa, Rey?" tanya Syifa terkejut.
" Rumah ini, S.A Properties... semua ini adalah milikmu. Aku membangun semua ini sesuai permintaanmu."
" Aku tidak pernah meminta apapun, Rey."
" Kau ingat lima tahun lalu saat aku meninggalkanmu? Sebenarnya aku tidak ingin pergi, tapi karena kau yang meminta agar aku bisa sukses dan mandiri tanpa bergantung pada siapapun, inilah sekarang hasilnya. Semua ini aku lakukan demi dirimu. Bahkan sampai aku tidak sempat sekedar bertemu dengan orangtuaku."
Reyhan duduk di samping Syifa seraya menatap langit yang kian terik. Dia menghela nafas panjang lalu membuangnya kasar.
__ADS_1
" Pulanglah, Rey. Papa dan mama sangat mengkhawatirkanmu."
" Bukan aku, tapi kamu. Mama sangat cemas saat tahu kau menghilang di negeri orang."
" Kamu sudah pulang ke Indonesia?"
" Iya, saat aku menelfon papa katanya mama sedang sakit, jadi aku langsung pulang. Saat sampai disana, katanya kamu malah kesini mencariku. Ponselmu juga tidak aktif, aku takut terjadi sesuatu yang buruk padamu."
" Kupikir kau sudah tak peduli lagi padaku, Rey. Saat di depan kantor itu, aku melihatmu di dalam mobil. Aku berteriak memanggilmu tapi kau tidak mau berhenti."
Reyhan kembali mendekap tubuh Syifa dengan penuh kasih sayang. Sekali - kali Reyhan mendaratkan ciumannya di kening gadisnya.
" Maaf, saat itu aku terburu - buru karena ada meeting dan aku sedang menelfon seseorang."
" Aku takut, Rey. Takut tidak bisa bertemu denganmu lagi."
" Jangan takut lagi, mulai detik ini aku akan selalu menjaga dan melindungimu."
" Aku ingin pulang, Rey."
" Ini juga rumahmu, Sayang. Kita akan memulai kehidupan baru disini, aku janji tidak akan mengecewakanmu."
" Rey, mama sangat merindukanmu. Pulanglah, seperti apapun hubungan kalian dulu mereka tetaplah orangtua kandungmu."
" Aku sudah terbiasa tanpa mereka, Fa. Kehidupanku sudah terbangun disini, aku ingin kau mau menemaniku disini selamanya."
Syifa mengurai pelukannya lalu berdiri menjaga jarak dari Reyhan. Dia tahu Reyhan masih kecewa dengan sikap orangtuanya dulu. Namun seiring berjalannya waktu, setiap orang pasti bisa berubah.
" Rey, kita harus pulang. Mereka adalah orangtuamu, tidak sepantasnya kau bersikap seperti itu?"
" Jujur, aku masih kecewa dengan mereka, Fa. Aku belum siap untuk dekat lagi dengan mereka."
" Rey, seburuk apapun perlakuan mereka kepadamu tetap saja darahnya mengalir di tubuhmu."
" Iya, aku tahu. Tapi aku masih banyak pekerjaan disini."
" Pekerjaan saja yang kau pikirkan!" pekik Syifa.
" Sayang, kenapa jadi marah. Aku melakukan semua ini demi masa depan kita."
Syifa menatap Reyhan dengan lekat dan tajam. Ada sedikit kekecewaan dalam hatinya saat tak bisa membujuk Reyhan untuk kembali kepada orangtuanya.
" Baiklah jika kau tidak mau pulang, yang penting aku sudah bertemu denganmu dan menyampaikan permintaan kedua orangtuamu. Tugasku sudah selesai, kita tidak akan bertemu lagi." ucap Syifa dengan airmata yang perlahan menetes.
Syifa meraih tas yang ia letakkan di bangku lalu beranjak untuk meninggalkan kediaman Reyhan.
" Kau mau kemana?"
" Tugasku telah gagal, Tuan Reyhan. Itu artinya saya tidak bisa lagi melanjutkan pekerjaan ini. Saya permisi, Tuan." kata Syifa dengan ekspresi datar.
" Fa, jangan pergi. Aku tahu kau kecewa dengan sikapku selama ini. Tapi aku mohon, jangan pernah meninggalkanku."
" Tidak bisa, dari awal hidupku memang sudah sendiri dan selamanya tidak akan berubah."
" Kita pulang malam ini juga."
.
.
TBC
.
__ADS_1
.