
" Rendi... Rendi melamar aku dua bulan yang lalu." kata Bella.
" Terus?" tanya Syifa.
" Papa menerima lamarannya tapi dengan syarat,"
" Syarat apa?"
" Papa meminta mahar 500 juta untuk pernikahan. Kau tahu sendiri pekerjaan Rendi sekarang hanyalah seorang pegawai biasa di perusahaan kecil di Bandung."
" Kapan kalian menikah?"
" Rendi diberi waktu sampai bulan depan, jika maharnya tidak ada aku akan dijodohkan dengan orang lain." isak Bella.
" Huft... apa uang itu sangat penting daripada kebahagiaan anak!" gerutu Syifa.
Syifa mencari ide untuk membantu masalah Rendi dan Bella. Mereka adalah teman terbaiknya saat Syifa melewati hari - harinya sendiri tanpa Reyhan, Sony dan Ardan.
" Bell, kamu yakin Rendi sangat mencintai kamu kan?"
" Kenapa bertanya seperti itu? Kami saling mencintai, Fa."
" Ya sudah, aku akan membantu kalian berdua." kata Syifa.
Bella menatap tajam pada Syifa. Kira - kira bantuan apa yang akan diberikan Syifa kepadanya.
" Membantu apa, Fa?"
" Sudah, ayo kita temui Rendi dan yang lainnya." ajak Syifa.
Bella menurut saja dengan ajakan Syifa yang terus menarik lengannya. Sampai di depan Rendi, Syifa memulai rencananya.
" Ren, apa masih ada yang sakit?" Syifa menekan sudut bibir Rendi sedikit keras.
" Auwww! Sakit, Fa!" pekik Rendi meringis menahan sakit.
" Sayang, apa yang kau lakukan?" tegur Reyhan sembari menarik lengan Syifa agar lebih dekat dengannya.
" Aku hanya memastikan saja apakah Rendi sudah sembuh apa belum." sahut Syifa.
" Ya tidak secepat itu, Fa. Proses kesembuhannya butuh waktu." kata Sony.
" Aku tahu, justru karena Rendi belum sembuh kalian harus bertanggung jawab."
" Tanggung jawab apa? Kalau gadis tidak apa - apa, aku pasti langsung bawa ke KUA." seloroh Ardan.
" Yang kemarin aja gagal, sekarang pengen coba lagi." cibir Syifa.
Semua tertawa dengan ledekan Syifa kecuali Ardan yang nampak mengerucutkan bibirnya.
" Memangnya kami harus bertanggung jawab dengan apa, Fa?" tanya Sony.
" Kalian harus memberikan uang ganti rugi untuk temanku yang telah kalian aniaya!"
" Ganti rugi? Dia tidak apa - apa, sayang." kata Reyhan.
__ADS_1
" Mas pelit!" cibir Syifa.
" Hhh... ya sudah, berapa yang harus Mas bayar?"
" Kalian bertiga harus mengumpulkan uang 500 juta dan harus ada hari ini juga!"
" Apaa? 500 juta, dia saja dijual nggak laku 500 juta." sahut Ardan.
Rendi menatap Bella seakan meminta penjelasan dengan ucapan Syifa, namun gadis itu malah menggelengkan kepalanya.
" Fa, tidak usah. Aku tidak apa - apa." tolak Rendi.
" Diam! Mereka tetap harus bertanggung jawab." tegas Syifa.
Reyhan hanya bisa pasrah dengan tingkah gadisnya. Semua keputusan yang dibuat Syifa adalah kewajiban yang harus ia jalankan.
Reyhan merapatkan tubuh Syifa hingga berada dalam dekapannya. Reyhan menyandarkan dagunya di pundak gadisnya seraya tersenyum.
" Sayang, ada yang ingin kau jelaskan tentang ini?" bisik Reyhan.
" Nanti saja, Mas. Syifa akan ceritakan nanti," sahut Syifa.
" Ya sudah, kita ke hotel dulu istirahat. Nanti sore baru main ke pantai." kata Reyhan.
# # #
Sampai di kamar hotel, tiga pria itu bukannya masuk ke kamarnya malah mengikuti Syifa. Ada hal yang harus mereka bicarakan soal uang 500 juta itu.
" Sayang, Mas pengen kamu jelaskan soal uang 500 juta tadi. Kenapa mereka meminta uang sebanyak itu?" tanya Reyhan.
" Sebenarnya aku hanya ingin menyatukan cinta dua sahabatku itu dalam ikatan pernikahan. Rendi hanyalah seorang pegawai di perusahaan swasta di Bandung. Rendi dan Bella sudah lama berpacaran. Dua bulan lalu Rendi melamar Bella, namun orangtua Bella meminta mahar yang cukup besar untuk pernikahan mereka." kata Syifa.
" Jadi, uang 500 juta itu untuk mahar? Apa setelah menikah, orangtua Bella akan melepaskan anaknya dan tidak ikut campur lagi?" tanya Ardan.
" Tidak tahu juga, aku pernah beberapa kali ke rumah Bella. Sambutan orangtuanya tergantung dari apa yang aku bawa."
" Jadi orangtuanya Bella itu matrealistis?"
" Ya, begitulah."
Syifa bercerita banyak tentang dua sahabatnya. Keduanya memang dari keluarga biasa. Jika Syifa memberikan uang itu secara cuma - cuma, pasti Rendi akan menolaknya. Mungkin dengan kejadian ini, masalah yang Rendi dan Bella bisa diselesaikan.
" Tapi, kita akan memberikan uang itu saat akad nikah dilaksanakan dan harus ada surat perjanjian." kata Ardan.
" Surat perjanjian apa?" tanya Syifa.
" Nanti kalau sudah jadi, abang kasih tahu sama kamu." sahut Ardan.
" Tapi kalian tidak akan ingkar janji, kan?"
" Sayang, uang segitu kecil buat kami. Tidak usah khawatir, nanti kalau kita menikah akan kuberikan mahar 10 M buat kamu." kata Reyhan dengan senyum manisnya.
" Ish... sombong! Aku tidak yakin jika Mas yang katanya pengusaha sukses di Amerika itu pernah memberikan uang untuk papa dan mama walau cuma selembar." cibir Syifa.
" Papa dan mama itu punya bisnis sendiri - sendiri, mereka tidak kekurangan uang." sahut Reyhan.
__ADS_1
Syifa menatap tajam pada calon suaminya itu. Dia tidak habis pikir dengan cara berpikir orang kaya.
" Hhh... apa semua orang kaya berpikir seperti Mas begitu?"
" Maksudnya apa?"
" Untuk kami yang hanya hidup pas - pasan, memberikan sedikit hasil kerja keras untuk orangtua itu adalah sebuah kewajiban. Mereka memang tidak meminta, tapi saat kita dengan ikhlas memberikannya sungguh betapa bahagianya mereka karena hasil jerih payahnya dulu telah menghasilkan anak yang sukses dan mandiri. Mereka tidak mengharapkan apapun dari anak, tapi kita sebagai anak harus memahami betapa beratnya perjuangan mereka dulu."
" Apa yang harus kami berikan, sedangkan hidup mereka serba berkecukupan?" tanya Sony.
" Di usia mereka saat ini, hanya perhatian dan kasih sayang anak yang mereka butuhkan. Walaupun harta melimpah, tapi tanpa anak hidup mereka seakan hampa."
" Jadi, apa yang harus kita lakukan sekarang?"
" Berikan perhatian - perhatian kecil yang tidak harus menggunakan uang. Dulu orangtuaku juga tidak pernah memberikan apapun pada kalian, tapi kalian terlihat sangat bahagia."
" Kau benar, Fa. Selama ini keluarga kami memang tidak pernah memikirkan hal itu. Yang penting materi cukup, kami mencari kehidupan sendiri diluar." kata Sony.
Reyhan beranjak dari Sofa lalu merebahkan dirinya di samping Syifa. Hari ini sungguh melelahkan baginya, gadisnya dari pagi marah - marah terus hanya karena masalah yang tidak penting.
" Sayang, hari ini paketan kamu sampai di rumah. Mau diambil atau besok saja?" tanya Reyhan.
" Besok saja, memangnya siapa yang mau ambil?" sahut Syifa.
" Kalau mau sekarang, suruh kak Deni bawa kesini sekalian ikut liburan dengan anak dan istrinya."
" Benar juga, mana ponsel Mas... aku mau telfon kak Deni."
Syifa segera menghubungi Deni untuk mengambil paketannya dirumah dan mengantarkannya ke Anyer.
# # #
Sore hari, selepas Ashar.
Seluruh keluarga sudah berkumpul untuk menikmati suasana pantai yang sangat indah. Setelah tadi mereka mendengarkan penuturan Syifa tentang pentingnya kebersamaan sebuah keluarga, kini semuanya seperti membuat kelompoknya masing - masing. Deni beserta anak dan istrinya juga sudah datang.
" Kenapa ucapanku tadi siang malah membuatku sedih sendiri? Harusnya aku senang melihat mereka bisa menghabiskan waktu dengan keluarganya seperti ini. Ya Allah, kuatkanlah hatiku ini dalam menjalani sisa hidupku. Jauhkan sifat iri dan dengki dalam hatiku ketika melihat orang lain bahagia." batin Syifa.
Karena tak ingin mengganggu kebersamaan ketiga sahabatnya dengan para orangtuanya, Syifa lebih memilih menjauh dari mereka. Syifa terus berjalan menyusuri pantai tak tahu arah dan tujuan. Dia hanya ingin sendiri untuk beberapa saat saja.
Saat ini dirinya sungguh sangat merindukan kedua orangtuanya. Airmatanya luruh begitu saja membasahi kedua pipinya. Meskipun ia sudah berusaha untuk tegar dan ikhlas, namun saat melihat kebersamaan sebuah keluarga, hatinya terasa perih dan sifat iri itu seakan muncul begitu saja.
Seandainya waktu bisa diulang, Syifa ingin sekali membahagiakan kedua orangtuanya sekuat yang ia bisa. Dia teringat saat dirinya pertama kalinya mendapatkan gajinya dari kerja part time'nya. Semua uang hasil kerjanya ia berikan semua untuk orangtuanya. Walaupun hanya sedikit, tapi orangtuanya sangat bahagia dan memeluknya dengan erat. Sungguh kejadian itu takkan pernah bisa ia lupakan seumur hidupnya.
Syifa sampai di sebuah batu karang yang besar. Gadis itu berusaha untuk bisa naik ke atasnya untuk melihat hamparan laut yang luas tanpa ujung. Batunya sedikit licin karena basah terkena ombak. Saat sedang memanjat batu itu tiba - tiba kakinya terpleset.
" Auwww...!"
.
.
TBC
.
__ADS_1
.