
Berawal dari sebuah keisengan kini gara gara keisengannya Arini menjadi sangat mencintai Arian. Kian hari rasa itu semakin dalam dan besar sampai Arini duduk di bangku kls tiga SMP.
Pagi itu Arini dan Wati bergegas mencari tempat duduk begitupun anak anak yang lain kecuali Arian, Yudha, Hendra dan Rico. Empat sekawan itu belum terlihat dari pagi.
" Ayo Rin kita duduk di sana saja" ajak Wati sambil menunjuk bangku paling pojok di sebelah barat. Kelas Arini yang sekarang menghadap ke utara. Sedangkan waktu kelas dua kelasnya menghadap ke selatan.
" Tidak mau... Aku mau duduk di sini" Arini pun duduk di bangku baris kedua dari timur dan nomer dua dari depan.
"Susah nyonteknya kalau dari sini Rin" bisik Wati
"Fokiranmu nyontek aja, makanya belajar tau!! Kalau kamu gak mau, duduk sama yang lain saja sana" Arini tetap bersikeras
"Ok.. Aku nurut" kata Wati sambil meletakkan tasnya dan duduk di sebelah Arini.
Arinipun tersenyum lega, menurut perkiraannya Arian pasti akan duduk di bangku pojok belakang paling timur itu artinya kalau keluar ataupun masuk kelas dia pasti akan melewati bangku Arini. Dia tidak sabar lagi menunggu pangeran hatinya itu muncul.
"Kemana perginya anak itu? " fikirnya. Arinipun mulai gelisah karena dia belum melihat cowok yang ia sukai dari satu jam yang lalu. Tak lama berselang akhirnya empat sekawan itupun memasuki kelas sesuai perkiraan Arini, Arian duduk di bangku paling pojok belakang.
"Tidak apa apa jika aku tidak bisa memilikimu, asalkan aku bisa melihatmu itu sudah lebih dari cukup" batin Arini.
Jam pelajaran pertama pun berbunyi tapi hari ini anak anak tidak belajar mekainkan cuma berkenalan dengan wali kelas yang baru dan memilih ketua kelas.
__ADS_1
Buk Amel adalah wali kelas nya Arini setelah dia berceramah panjang lebar selama satu setengah jam barulah ia berkata:
"Ok. Sekarang silakan ajukan calon ketua kelas yang cocok menjadi pemimpin kalian di tahun terakhir ini"
"Dika buk sahut" Ivan dan di barengi oleh Arya dan Agus yang merupakan teman satu geng Dika. Sedangkan teman teman yang lain hanya diam tidak berani bersuara. Dika pun tersenyum lebar karena merasa dirinya sudah menang
"Yudha buk, dia tegas lumayan disiplin dan yang paling penting dia pintar membaca dan menulis" usul Arini.
"Memang ada yang tidak bisa membaca dan menulis di kelas tiga ini?
"Ada buk" jawaban Arini membuat teman temannya menjadi tertawa pelan karena agak di tahan supaya tidak di ketahui oleh Dika
"Sialan Arini" umpat Dika dlm hati
"Kenapa kamu bilang Yudha lumayan di siplin apakah tidak ada yg lebih di siplin lg dari dia?
"Tidak ada buk, kelas kami terkenal nakal dan arogan. Semua orang di kelas ini tidak ada yg punya kedisiplinan jk punya tidak mungkin kls ini akan terkenal dengan reputasinya yg buruk"
Guru benar2 tercengang dengan ucapan Arini yang jujur dan menusuk tapi teman2nya pun hanya bisa diam tanpa menyangkal sedikitpun.
"Baik kita mulai pemilihannya siapa yg setuju sama Dika angkat tangannya!! " dengan cepat anak anak yang menyukai Dika langsung mengangkat tangannya tinggi tinggi bu Amel pun mulai menghitungnya.
__ADS_1
"1,2,3,4,5,,,,,,,,,, ada 14 orang yg angkat tangan. Yang memilih Yudha angkat tangannya!!!" perintah bu Amel lagi. Arini, Wati, Arian dan beberapa teman yang lain pun mengangkat tangannya. Dan bu Amel pun mulai menghitungnya.
" Ada 21 orang, dengan begitu Yudha yang jadi ketua kelas tahun ajaran terakhir ini" kata buk Amel. Anak anak pun bertepuk tangan dengan riuhnya sebagian besar merasa sangat senang karena tahun terakhir mereka di sekolah ini tidak akan perlu lagi di tindas oleh Dika.
"Ok, sekarang kita memilih wakilnya siapa menurut kalian yang cocok?" tanya bu Amel
"Arian buk!!! " jawab anak anak kompak.
" Sah ya Yudha dan Arian menjadi ketua kelas danbwakinya"
"Sah buk" jawab anak anak kompak.
Ada gurat kejengkelan di wajah dika dia benar benar merasa kesal pada arini.
"Kita harus bikin perhitungan sama Arini" Ajak Ivan.
"Ya terlalu lama sudah aku mendiamkannya sehingga dia semakin berani melunjak" bisik Dika.
__ADS_1
Arini pun sadar kalau sudah membuat dika marah tp dia tidk perduli, dia tidak ingin tahun terakhirnya disekolah berakhir memalukan. "Setidaknya Yudha lebih cerdas dari Dika pasti ia bisa membawa kelas ini ke arah yang lebih baik dan aku yakin pilihanku kali ini pasti tepat" kata Arini dalam hati