ANTARA KAU DAN DIA

ANTARA KAU DAN DIA
Part 30


__ADS_3

Reyhan dan Sony sudah sampai di kediaman Ardan. Sony menghubungi ponsel Ardan agar pria itu keluar. Mereka berdua sungkan jika harus bertamu sepagi ini.


Tak lama Ardan keluar rumah hanya memakai celana pendek dan dan kaos tipis yang melekat di badannya. Matanya merah khas orang bangun tidur.


" Kalian ngapain pagi - pagi kesini?" kata Ardan entah sadar atau tidak.


" Kau tidak mabuk kan?" tanya Sony.


" Sialan kalian, di saat seperti ini malah ninggalin aku sendirian!" gerutu Ardan.


" Bukankah ini hari yang sangat membahagiakan untukmu, kenapa wajahmu kusut sekali?" ledek Reyhan.


" Diam kau! Mana Syifa?" sahut Ardan.


" Buat apa nanyain Syifa? Apa kita nggak boleh masuk?"


" Oh iya, lupa. Langsung ke kamarku saja, orangtuaku belum ada yang bangun."


Ardan mengajak Reyhan dan Sony langsung ke kamar supaya bisa mengobrol dengan leluasa. Sony merebahkan tubuhnya diatas tempat tidur untuk melepas penat.


" Kalian ngapain pagi - pagi buta kesini?" tanya Ardan.


" Ini baru jam lima, kami mau numpang sholat shubuh." kata Reyhan.


Ardan menyiapkan sajadah untuk mereka bertiga lalu sholat berjamaah. Ketiganya sangat khusyuk dengan do'a masing - masing. Usai sholat, mereka bertiga bersandar di tepi ranjang dengan berselonjor kaki di lantai.


" Dan, kau yakin wanita itu mengandung anakmu?" tanya Reyhan.


" Dia bilangnya begitu Rey, aku tidak bisa mengelak karena banyak saksi yang melihatku di Apartemen itu."


" Sudah berapa bulan kandungannya?"


" Aku tidak tahu, pernikahan ini mereka yang mengurusnya."


" Bodoh! Bagaimana jika itu bukan anakmu? Kau benar - benar melakukan itu dengannya?" seru Reyhan.


" Aku tidak yakin, Rey. Setelah minum teh itu tiba - tiba aku merasa pusing dan tak sadarkan diri hingga pagi. Semua pakaianku sudah terlepas semua."


" Harusnya kau menyelidikinya dulu!"


" Semua sudah terlambat, Rey. Nanti siang aku harus menikahinya,"


" Dimana rumah wanita itu? Kau jemput dia dan bawa ke rumah sakit. Aku akan menyiapkan semuanya di rumah sakit untuk pemeriksaannya."


" Kalau dia tidak mau?" tanya Ardan polos.


" Ish... kau kan bisa merayunya? Jangan bilang kalau mau ke rumah sakit!"


" Aku harus bilang apa padanya? Melihatnya saja aku merasa jijik."


" Kalau jijik kenapa ingin menikahinya?" cibir Sony.


" Aku terpaksa, Son."


Reyhan segera berdiri lalu duduk diatas ranjang. Dia begitu kesal dengan tingkah Ardan yang tampak bodoh.

__ADS_1


" Kita bergerak sekarang, aku dan Sony akan menunggu di rumah sakit. Kau harus bisa membawa perempuan itu keluar dari rumah apapun caranya." ujar Reyhan.


" Baiklah, kalian bawa mobilku saja biar cepat." ucap Ardan.


# # #


Ardan sampai di kediaman wanita yang akan dinikahinya. Rumah yang tidak terlalu besar, tak sebanding dengan penampilannya yang glamour. Setelah memarkirkan mobilnya di halaman rumah, Ardan segera turun lalu mengetuk pintu rumah itu.


" Permisi tante, saya mau bertemu dengan Anita." ucap Ardan setelah wanita paruh baya itu membukakan pintu.


" Eh, Ardan... ada apa ya? Bu... bukannya acaranya nanti siang?" tanya Ibunya Anita kaget melihat kedatangan Ardan secara tiba - tiba.


" Saya ada perlu dengan Anita, tante. Boleh saya masuk?" Ardan merasa curiga dengan ibunya Anita.


" Duduklah dulu, biar tante panggilkan Anita sebentar."


Ardan tidak dibiarkan masuk ke dalam rumah, dia disuruh menunggu di teras. Ardan melihat sekeliling rumah yang tampak sederhana itu.


" Rumahnya sangat sederhana tapi dia memiliki Apartemen dan gaya hidup glamour. Sungguh tidak masuk akal semua ini." batin Ardan.


Tak berselang lama, Anita keluar dengan dandanan yang sangat menor. Saat melihat Ardan, wanita itu langsung bergelayut manja di lengannya.


" Sayang, ada apa pagi - pagi udah kesini? Nggak sabar ya buat ketemu sama aku?" ucap Anita dengan manja.


" Iya, aku ingin mengajakmu pergi sebentar." kata Ardan.


" Mau kemana? Aku harus bersiap - siap untuk pernikahan kita."


" Justru itu, aku ingin membelikan kado untukmu sebelum pernikahan kita."


" Bukan kejutan kalau aku bilang sekarang. Nanti kau bisa memilih hadiah apapun yang kau suka. Sebanyak apapun itu, asalkan kau senang."


" Ok! Kita pergi sekarang juga. Waktu kita tidak banyak, sayang."


Anita langsung menarik Ardan ke mobil tanpa berpamitan dengan orangtuanya terlebih dahulu. Ardan hanya menurut lalu segera mengemudikan mobilnya. Saat sudah berada di dekat rumah sakit, Ardan menghentikan mobilnya di tepi jalan.


" Sayang, kenapa berhenti disini?" tanya Anita heran.


" Sebentar lagi kita sampai, jadi aku mau menutup wajahmu sebentar. Bolehkan?"


" Harus ditutup ya, sayang?"


" Iya, pakai kain ini untuk menutup wajahmu." kata Ardan lembut.


Anita segera memakai kain itu di wajahnya. Tidak sampai lima menit, wanita itu merasa lemah lalu tak sadarkan diri. Ardan tersenyum lalu segera mempercepat laju mobilnya menuju rumah sakit milik Sony.


Sony dan Reyhan sudah menunggu di depan ruangan untuk pemeriksaan Anita. Semua perlengkapan sudah di siapkan. Beberapa perawat mengangkat tubuh Anita ke atas brankar. Mereka bekerja sangat cepat sebelum Anita sadar dari pengaruh obat bius yang diberikan Ardan tadi pada kain penutup wajahnya.


" Bagaimana?" tanya Sony pada dokter kandungan yang memeriksa Anita.


" Kandungannya sudah sepuluh minggu dokter, dia merupakan pasien saya. Baru dua minggu kemarin. dia periksa bersama suaminya." kata dokter wanita itu.


" Kau yakin dia pasienmu?"


" Yakin, Dokter. Wanita ini bernama Anita, saya bisa memberikan laporan tentang jadwal periksa pasien ini. Dia sudah tiga kali datang ke rumah sakit ini untuk periksa kandungan."

__ADS_1


Ardan menatap wanita itu dengan penuh amarah. Sungguh sangat menjijikkan, bahkan mereka digerebek baru satu bulan yang lalu tapi wanita itu hamil dua bulan lebih.


" Sial...! Beraninya mereka mempermainkan aku!" teriak Ardan.


" Sudah, kita pergi sekarang. Tak ada gunanya ngurusin dia lagi. Hubungi keluarganya untuk menjemput dia pulang." kata Reyhan.


" Ya sudah, biar nanti keluarga wanita ini aku yang urus. Kalian pulang saja, aku masih ada urusan disini." sahut Sony.


" Terimakasih, kalian sudah menyelamatkanku hari ini." ucap Ardan.


# # #


Anita kaget saat terbangun, ia berada di ruangan sebuah rumah sakit. Beberapa security menjaga diluar pintu hingga keluarga wanita itu datang.


" Kenapa aku bisa disini? Dimana Ardan?" gumam Anita.


Anita bangkit dari brankar untuk keluar dari ruangan itu mencari keberadaan calon suaminya, Ardan.


" Anita, kenapa kau disini? Dimana calon suamimu?" bisik ibunya.


" Aku tidak tahu, Ma. Tadi Ardan mengajakku pergi untuk membeli hadiah, tapi tiba - tiba saja Nita merasa pusing dan pingsan." jawab Anita.


" Bagaimana kalau Ardan tahu kau hamil bukan dengan dia?"


Sony sedari tadi duduk diam di samping mereka namun tidak disadari oleh keduanya.


" Tidak mungkin, Ma. Darimana dia tahu, dia sangat bodoh."


Sony yang tidak terima sahabatnya disebut bodoh langsung berdiri menghampiri Anita dan ibunya.


" Sayangnya, Ardan sudah tahu semuanya nona. Pernikahan kalian batal...!" seru Sony dengan senyum mengejek.


" Siapa kau? Jangan ikut campur urusanku!" teriak Anita.


" Semua bukti sudah ada, nona! Kau hamil sepuluh minggu padahal penggerebekan kau dan Ardan baru sebulan yang lalu. Apakah semua itu masuk akal?" seringai Sony.


" Tidak! Kau hanya membual saja!"


" Ardan adalah saudaraku, takkan kubiarkan ada orang yang menjebaknya hidup dengan tenang!"


Sony juga membawa bukti laporan pemeriksaan Anita dari dokter specialis kandungan yang langsung dilemparkan ke wajah perempuan itu.


" Satu lagi, nona! Jangan pernah mengusik Ardan lagi atau hidupmu sendiri yang akan hancur!" ancam Sony lalu pergi meninggalkan Anita dan ibunya yang terdiam menahan amarah.


" Aku akan balas semua perbuatan kalian!" geram Anita.


.


.


TBC


.


.

__ADS_1


__ADS_2